Akhirnya — saya menginjakkan kaki di Nanggroe Aceh Darussalam.
Ini bukan hanya pertama kali saya ke Aceh, tapi juga pertama kali saya menginjakkan kaki di Pulau Sumatera. Perjalanannya cukup panjang — pesawat Sriwijaya Air yang saya tumpangi harus transit di Medan terlebih dahulu sebelum melanjutkan penerbangan ke Banda Aceh.
salah satu sudut kota Aceh
Kunjungan Kerja
Tujuan utama saya ke Aceh adalah mengunjungi Balai Pengembangan Teknologi Pertanian, di mana saya disambut hangat oleh Bapak Nasir Ali. Dari diskusi bersama beliau, saya mendapat gambaran yang lebih jelas tentang tantangan pertanian di Aceh pasca bencana — prioritas utamanya adalah restorasi lahan pertanian yang mengalami peningkatan kadar garam akibat terjangan tsunami dua tahun silam. Dampaknya ternyata masih terasa hingga kini, jauh melampaui kerusakan fisik yang terlihat di permukaan.
Rumah Aceh di kawasan Museum
Berkeliling Banda Aceh
Hari Jumat, saya manfaatkan penuh untuk berkeliling kota. Rencana awal naik labi-labi — sebutan lokal untuk angkot — terpaksa dibatalkan karena hujan turun cukup deras. Saya akhirnya menyewa mobil dan menyetir sendiri, menikmati kota dengan cara yang lebih leluasa.
Sebelum salat Jumat, saya sempat mampir ke Museum Aceh dan melihat-lihat Aceh Expo yang sedang berlangsung selama sepekan di Gedung Sosial.
Salat Jumat — sudah pasti di Masjid Raya Baiturrahman. Ada perasaan yang sulit diungkapkan saat akhirnya bisa sujud di masjid yang selama ini hanya saya saksikan lewat layar televisi, terutama saat liputan tsunami dua tahun lalu. Megah, tenang, dan penuh dengan aura yang terasa berbeda.
Mejeng di depan Masjid Baiturrahman :)
Menara Masjid Baiturrahman
Luka yang Belum Sembuh
Selepas salat Jumat, saya melanjutkan perjalanan keliling kota. Di beberapa sudut, sisa-sisa tsunami masih terlihat jelas — rongsokan kendaraan, bangkai kapal nelayan yang terdampar di halaman rumah warga, seolah waktu berhenti di titik tertentu dan belum mau beranjak.
Saya mengunjungi PLTD Apung — kapal pembangkit listrik raksasa yang kini "diparkir" di tengah permukiman warga, jauh dari laut yang seharusnya menjadi tempatnya. Melihatnya dari dekat, saya baru benar-benar bisa membayangkan betapa dahsyatnya kekuatan gelombang yang mampu memindahkan benda sebesar itu sejauh ini.
Dari sana saya melanjutkan ke Pantai Ulee Lheue — salah satu titik yang paling parah dihantam tsunami. Sepanjang perjalanan, deretan rumah bantuan untuk korban masih tampak setengah jadi. Dua tahun setelah bencana terbesar itu, kondisi di lapangan masih jauh dari kata pulih. Saya teringat perkataan yang sering muncul di televisi — bahwa proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh masih berjalan sangat lambat. Melihat sendiri, saya tidak bisa membantahnya.
PLTD Apung yang kini berada di tengah daratan kota Aceh
puing-puing sisa Tsunami di Pantai Ulele
Pintu Gerbang Kuburan Massal Korban Tsunami
Menutup Hari di Ulee Kareng
Salat Asar saya tunaikan di kawasan Darussalam — sambil sekalian mampir melihat kompleks kampus IAIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala yang berada dalam satu kawasan yang asri.
Menjelang malam, saya mengakhiri hari di kawasan Ulee Kareng — nongkrong di sebuah kafe dekat Simpang Tujuh, menikmati secangkir cappuccino di tengah derasnya hujan yang kembali turun.
Banda Aceh menyimpan banyak hal sekaligus — sejarah, luka, ketangguhan, dan keindahan yang pelan-pelan sedang bangkit kembali. Satu hari tidak cukup untuk mengenal semua itu. Tapi setidaknya hari ini, saya pulang membawa lebih banyak pemahaman dari yang saya bawa saat berangkat.
Pasar Atjeh (pas di samping Masjid Baiturrahman)
Nampang di Prasasti "Selected Emergency Repair Work of the Floodway Dyke in Aceh" dari Pemerintah Jepang
19 Komentar
Salam kenal, senang sekali melihat foto-foto Anda di (Banda) Aceh. Jadi rindu nih pengen pulang.
BalasHapusdek, biar ga nomer 1 komennya, yang penting mbakmu seneng kamu dah pulang dengan selamat hehehe....
BalasHapusweh tawwa ke Aceh :)
BalasHapushmm sudah lumayan banyak ya perubahannya.. terakhir saya ke Aceh tahun 2005 bulan Agustus..
bagus mi tawwa masjidnya, waktu sa ke sana masih blum segitu asri..
tapi itu puing2 sisa tsunami masih ada di'? padahal 2 tahun mi ini e..
dek, salam dung buat J-Rocks, suka nih ama lagunya....hehehe, ada poto bareng mereka ga? halah halah *ganjen mode on*
BalasHapusmelihat daerah yang baru memang menyenangkan ya.. jadi pengin jalan-jalan ke aceh deh.
BalasHapusAwee...souvenir buat saya satu nah...sekalian kalau ada baju yamg muat untuk saya,hehehe...
BalasHapusKakak Awi.. yiiihaaa.. ternyata janji sama adeknya ditepatin..... yihaaaa potona bole aku ambil ya... *sesama sodara dolarang melarang* hihiii... keren keren.. liat aja.. potona Kak Awi ada di indhyputri.design... huiihuiii yihaaaa...
BalasHapusWadduh kog sb-nya kog forbidden yah...
BalasHapusKlo ke aceh lagi ajak ajak yah hehehehe
daeng ada ji oleh2 pesananku..awas klo nd ada..!.
BalasHapuswah..asik banget perjalanan di aceh nya.. masjid Baiturrahman nya masih kokoh yah..subhanallah..
BalasHapuskepikir, parah mana sih antara aceh ama kobe jepang. tapi kobe dalam waktu 6 bulan sudah bagus kembali. aceh 2 tahun berlalu tapi tidak signifikan. siapa yang lambat ?
BalasHapuskepikir, parah mana sih antara aceh ama kobe jepang. tapi kobe dalam waktu 6 bulan sudah bagus kembali. aceh 2 tahun berlalu tapi tidak signifikan. siapa yang lambat ?
BalasHapussahabat baruku.. potomu bagus-bagus banget.... turut sedih lihat pembangunan di aceh -_-!
BalasHapusi'm back... btw, asik jg poto2nya, tp rada emot neh uploadnya k/ gede n kebanyakan...
BalasHapusBtw, tadi malem si Abang SMS gue "Aishiteru", lagi, hihihi... maluuu...
Waaahhh, seru jg yaaa....
BalasHapusMasih ada sisa oleh2 gak???
Sapa yang bikin lambat rekonstuksi di aceh?
BalasHapusAtjeh,, Investigation,, lagunya slank,,,
Nice pic mas, salam kenal :)
BalasHapusSalam kenal ya Bang..saya juga udah lama gak pulang ke Aceh
BalasHapussalam kenal bang keren juga foto-fotonya
BalasHapus