Alhamdulillah, akhirnya kembali ke tanah air — setelah dua pekan mengikuti training workshop di Beijing.
Training tersebut diikuti 19 peserta dari 11 negara: Belarus, Indonesia, Kazakhstan, Mesir, Mongolia, Pakistan, Polandia, Rumania, Rusia, Thailand, dan Yunani. Sebagian besar peserta adalah para praktisi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya aplikasi iptek untuk usaha kecil dan menengah. Penyelenggaranya adalah Beijing International Business Incubator. Jadwalnya cukup santai — materi dua jam di pagi hari, lalu siang harinya mengunjungi berbagai science park di Beijing.
Mencari Makan Halal di Niujie
Karena jadwal training tidak terlalu padat, hampir setiap hari saya manfaatkan untuk jalan-jalan. Tujuan favorit saya adalah kawasan Niujie — kantong komunitas Muslim di Beijing. Di sana ada masjid yang dibangun pada abad ke-9, supermarket Muslim, dan deretan restoran halal yang selalu ramai.
Urusan makan memang jadi tantangan tersendiri. Makanan di hotel tidak ada yang halal, dan meski panitia sudah menjamin bahwa restoran yang dikontrak selama training bebas dari daging babi, saya dan peserta Muslim lainnya dari Pakistan tetap memilih untuk tidak mengambil risiko — cukup mengambil nasi putih dan kentang rebus saat makan siang.
Alhasil, setiap sore begitu sampai di hotel, perut sudah berteriak minta diisi lagi. Hehehe.
Belanja di Beijing: Seni Menawar
Untuk urusan belanja, Beijing punya dua karakter yang sangat berbeda.
Di pusat kota, ada Xidan Street dan Wangfujing Street — ramai dan modern, tapi harganya sesuai nama: mall. Tidak bisa ditawar. Saya jarang ke sana.
Tujuan favorit saya adalah Qianmen dan Silk Street. Di dua tempat inilah harga bisa menjadi sangat murah — dengan syarat: jangan malu menawar. Kadang harus berani menawar hingga 10% dari harga awal. Kalau masih dirasa kemahalan, cukup pura-pura pergi meninggalkan toko. Hampir pasti si penjual akan memanggil kembali. Hehehe. Hasilnya lumayan — suvenir, mainan, jaket, dan tas bisa dibawa pulang dengan harga yang sangat terjangkau.
Transportasi Publik yang Membuat Iri
Selama keliling Beijing, saya hampir selalu mengandalkan transportasi umum. Bus hanya 1 yuan — murah sekali. Kalau perlu lebih cepat, ada subway dengan tarif 3 yuan. Taksi baru saya naiki kalau sudah benar-benar tersesat — tarif awal 10 yuan, dan biasanya total perjalanan tidak lebih dari 15 yuan.
Yang membuat saya kagum adalah kualitas layanannya. Bus-busnya bersih, armadanya banyak, dan berhenti hanya di halte — tidak seperti di Jakarta yang bisa berhenti sembarangan. Ada jalur khusus bus, dipisahkan hanya dengan garis kuning di aspal tanpa pembatas fisik. Tapi anehnya, tidak ada satu pun kendaraan pribadi yang berani menyerobot. Kemacetan memang ada, tapi jauh dari hiruk-pikuk Jakarta.
Satu hal lagi yang menarik: hampir tidak ada sepeda motor di jalanan Beijing. Yang ada hanya sepeda dengan motor listrik. Entah karena warganya memang tidak membutuhkan motor dengan transportasi publik yang sudah sangat memadai, atau memang ada kebijakan pembatasan dari pemerintah kota.
Forbidden City, Great Wall, dan Summer Palace
Panitia training juga mengajak seluruh peserta mengunjungi dua ikon sejarah dunia: Forbidden City dan Great Wall. Dua tempat yang selama ini hanya saya lihat di buku dan layar televisi — dan melihatnya langsung terasa luar biasa.
Keduanya ramai luar biasa — wisatawan lokal dan mancanegara berbaur menjadi lautan manusia. Tiongkok jelas meraup pemasukan besar dari sektor pariwisata.
Sehari sebelum pulang ke tanah air, saya menyempatkan diri ke Summer Palace — naik taksi 30 yuan dari hotel, tapi pulangnya naik bus turun di Qianmen hanya 2 yuan. Sayang, cuaca hari itu kurang bersahabat sehingga pemandangannya tidak bisa diabadikan dengan optimal.
Ramadan di Beijing
Dua pekan di Beijing kebetulan bertepatan dengan bulan Ramadan — pengalaman yang tersendiri.
Jadwal imsak dan buka puasa saya dapatkan dari Masjid Niujie. Untuk sahur, biasanya saya rebus mie di kamar. Kalau tidak sempat, McD di depan hotel yang buka 24 jam jadi penyelamat — burger, nugget, dan french fries menjadi menu sahur dan buka puasa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Yang membikin saya menyesal: baru di hari terakhir saya tahu bahwa tepat di belakang McD itu ada restoran Muslim. Dua pekan saya tidak menyadarinya.
Tidak semua peserta memahami apa itu bulan Ramadan. Martin, peserta dari Polandia, mendatangi saya dengan bingung: "Kenapa kamu tidak makan siang? Tadi pagi juga tidak minum kopi?" Setelah saya jelaskan konsep puasa, ekspresinya berubah menjadi kagum. "Luar biasa," katanya. "Kamu tidak makan dan minum dari pagi sampai jam enam sore — selama sebulan penuh?" Hehehe.
Farewell Iftar Bersama Saudara Baru
Setelah seremoni penutupan, panitia mengadakan farewell party untuk seluruh peserta. Tapi saya dan tiga peserta Muslim lainnya sudah sepakat sejak awal untuk tidak hadir — namanya juga Ramadan.
Kami memilih untuk berbuka puasa bersama di restoran Muslim di belakang McD — restoran yang baru saya temukan di hari terakhir itu. Makan malam itu ditraktir oleh dua peserta dari Pakistan yang luar biasa ramahnya: Muhammad Raza Ahmad Khan dan Abdul Qayyum.
Pak Muhammad sempat terkejut ketika saya ceritakan bahwa nama ayah saya juga Razak Ahmad. Kebetulan yang membuat kami tertawa bersama.
Selama dua pekan training, saya dan Pak Yani — rekan sesama peserta dari Indonesia — banyak berdiskusi dengan Pak Raza dan Pak Qayyum tentang konstelasi politik Pakistan dan dinamika dunia Islam secara umum. Diskusi yang hangat dan membuka wawasan.
Dua pekan di Beijing, dan saya pulang dengan oleh-oleh yang jauh lebih berharga dari suvenir Silk Street: perspektif baru, dan persaudaraan yang melampaui batas negara.
8 Komentar
dari beijing...
BalasHapusasik-asik...
huuu.. senangnya... eh gaya banget siy ttd kesepakatan apa tuh.. ckckckck.. hebat kali calon bapa pejabat kita ini.. (amiiin)
BalasHapustawwa..
BalasHapusBeijing dan Narsis
Itu dari kanan no 3 paling depan pake baju abu2 itu lagi hamil ya? Kok lebih ‘lebar’.. hehehe… Pejabat yg satu ini cm crita2 doank.. mana oleh2nya.. :p
BalasHapusNi hao ma?
BalasHapusoleh-oleh mana donk..
Aya oleh2 yang bisa dikirim ke Bandung teu?
BalasHapusWahhh.....seru bgt...pulang dari cina.mau donggg...!!!!kapan ya???
BalasHapusora ono oleh2 ne yo?
BalasHapus