Menanti Kelahiran Anak ketiga

Pukul dua dini hari, saya terbangun oleh suara Thia memanggil dari luar kamar.

Begitu membuka pintu, jantung saya langsung berdegup kencang. Thia sudah berdiri di depan kamar — dan lantai di bawahnya basah oleh air ketuban bercampur darah.

Usia kehamilan baru 36 minggu. Saat kontrol dengan dokter Sabtu pagi kemarin, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Operasi caesar bahkan sudah dijadwalkan tanggal 14 April. Tapi malam ini, tubuh Thia rupanya punya rencana sendiri.


Bergegas di Tengah Malam

Tidak ada waktu untuk berpikir terlalu panjang. Saya menggendong Uqi dan Lana yang masih terlelap ke dalam mobil, sementara Thia bersiap semampunya. Sejenak saya tergoda untuk langsung belok ke RS Hermina yang letaknya persis di depan kompleks — tapi melihat kondisi Thia yang masih cukup stabil, saya putuskan untuk terus melaju ke RS Bunda DaLima di Sektor XIV BSD.

Sebenarnya Thia belum pernah sekalipun kontrol di sana. Selama ini kami rutin ke RSIA Permata Sarana Husada di Pamulang, di bawah pengawasan Dokter Hera. Tapi minggu lalu Dokter Hera resign, dan per 1 April RS tersebut juga tidak lagi bekerja sama dengan BPJS. Kami pun terpaksa mencari alternatif. Bahkan Sabtu malam kami sudah sempat survey ke RS Bunda DaLima dan sudah berencana kontrol perdana dengan Dokter Julita hari Kamis depan.

Ternyata Allah merencanakan lebih cepat dari itu.


Di IGD

Kami tiba di IGD dan langsung diarahkan ke ruang tindakan kebidanan. Saya kembali sebentar ke mobil untuk menjemput Uqi dan Lana — dan begitu kembali ke ruang kebidanan, saya mendapati Thia masih duduk menunggu, sementara perawatnya sibuk menelepon mencari kamar kosong begitu tahu kami pasien BPJS.

Saya tidak bisa diam. Saya tegur perawatnya: tolong periksa kondisi Thia dulu, baru urusan kamar belakangan.

Setelah diperiksa, alhamdulillah — air ketuban masih ada dan detak jantung janin terdengar dengan baik. Tapi kemudian muncul alasan lain: sebaiknya kami kembali ke RS Permata Sarana Husada saja, karena kontrol sejak awal di sana, dan ada IUD yang masih tertinggal di rahim yang perlu diketahui dokter sebelum operasi.

Saya tidak habis pikir. Membawa Thia kembali dalam kondisi seperti ini — di jam dua pagi, dengan air ketuban sudah pecah — bukan pilihan yang masuk akal. Saya tidak mau berprasangka bahwa semua ini karena status BPJS kami. Tapi kalau memang itu alasannya, saya sampaikan dengan tegas: saya siap membayar penuh sebagai pasien umum, yang penting Thia ditangani sekarang, dengan profesional.

Saya minta perawatnya menghubungi dokter terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan apapun.


Kabar Baik

Dokter Daniel Richard yang dihubungi bersedia melakukan operasi. Awalnya dijadwalkan pukul 6 pagi, tapi karena usia kandungan baru 36 minggu, janin perlu mendapat suntikan penguat paru-paru terlebih dahulu — sehingga operasi diundur ke pukul 1 siang.

Perawat yang tadi terasa kurang welcome kini tiba-tiba bersikap ramah. Saya memilih tidak mempermasalahkan itu lebih jauh.

Saya segera menghubungi keluarga di Makassar untuk mengabarkan kondisi Thia. Insya Allah pagi ini pukul 11, Mama Ima sudah tiba di Jakarta.


Mohon doanya ya — semoga proses kelahiran si kecil berjalan lancar, ibu dan bayi sehat, dan semuanya dalam lindungan Allah.

Aamiin.


Posting Komentar

0 Komentar