Sarana-sarana Untuk Mencapai Ketegaran Dalam Islam


Disarikan dari ceramah Syaikh DR. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr hafizhahullah, Masjid Sulaiman Fauzan Al-Fauzan, Lombok Timur — 8 Maret 2015


Pendahuluan

Pernahkah kita bertanya, mengapa seseorang yang dulu tampak begitu taat bisa berubah jauh dari agamanya? Atau sebaliknya, mengapa ada orang yang di tengah gempuran fitnah zaman tetap kokoh berdiri di atas kebenaran? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar renungan. Ia adalah persoalan yang menyentuh inti kehidupan setiap Muslim — sebuah pergulatan yang tidak pernah benar-benar berakhir selama kita masih menghirup udara di dunia ini.

Syaikh DR. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr hafizhahullah pernah menyampaikan sebuah kajian yang sangat berharga tentang tema ini — tentang sarana-sarana untuk menggapai ketegaran (istiqamah) di atas Islam. Kajian ini relevan untuk semua kalangan: tua, muda, laki-laki maupun perempuan. Karena, sebagaimana ditegaskan Syaikh, tidak ada seorang pun yang benar-benar aman dari fitnah.

Kita hidup di zaman di mana pintu-pintu keburukan terbuka lebar: media sosial, televisi, internet — semua menawarkan konten yang berpotensi menggerus aqidah, merusak akhlak, dan menjauhkan kita dari jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka, mengetahui sarana-sarana untuk tetap tegar menjadi kebutuhan yang mendesak, bukan kemewahan. Mari kita telusuri bersama delapan sarana yang dipaparkan Syaikh dalam kajian mulia ini.


Memahami Bahaya: Permisalan Jalan yang Lurus

Sebelum memasuki sarana-sarana istiqamah, ada baiknya kita merenungi sebuah permisalan agung yang Nabi Muhammad ﷺ sampaikan — sebagaimana diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad. Beliau ﷺ menggambarkan shiratal mustaqim sebagai sebuah jalan, di mana kanan dan kirinya terdapat pagar, dan di balik pagar terdapat pintu-pintu yang hanya tertutupi oleh tirai. Ada yang menyeru di depan jalan, "Wahai hamba Allah, masuklah dan jangan serong ke kiri dan ke kanan!" Dan ada pula yang menyeru di tengah jalan, "Wahai hamba Allah, jangan engkau buka tirai itu, karena jika engkau membukanya, engkau akan terjerumus!"

Syaikh kemudian menjelaskan tafsir permisalan ini secara menyeluruh: shiratal mustaqim adalah Islam itu sendiri; pagar di kanan kiri adalah batasan-batasan Allah; pintu-pintu bertutup tirai adalah larangan-larangan Allah; penyeru di depan jalan adalah Al-Qur'an al-Karim; dan penyeru di tengah jalan adalah peringatan Allah yang ditanamkan dalam hati setiap Muslim.

Yang menakutkan dari permisalan ini adalah sifat tirai itu: mudah dibuka. Berbeda dengan pintu yang bergembok dan terkunci, tirai hanya butuh satu gerakan kecil untuk tersingkap. Inilah gambaran betapa gampangnya seseorang tergelincir dari jalan yang lurus — tidak perlu usaha besar, cukup satu pandangan yang tidak dijaga, satu langkah kecil yang tidak diperhatikan.

Syaikh mengingatkan bahwa langkah-langkah syaithan bermula dari pandangan, kemudian melangkah, kemudian maju, dan akhirnya terjerumus ke dalam maksiat. Para ulama mengibaratkan hal ini seperti seseorang berbaju bersih yang melewati jalan berlumpur. Pertama-tama ia sangat berhati-hati, mencari pijakan agar tidak terciprat. Lama-kelamaan, ia mulai terkena sedikit. Lalu semakin banyak. Dan akhirnya, ketika sudah terlanjur kotor, ia tidak peduli lagi. Begitulah seseorang yang tenggelam dalam dosa — dari waspada total, perlahan kehilangan kepekaan terhadap kemaksiatan.


Hati yang Mudah Berbolak-Balik: Sebuah Kesadaran Awal

Sebelum berbicara tentang sarana-sarana istiqamah, kita perlu mengenali terlebih dahulu hakikat hati kita sendiri. Nabi Muhammad ﷺ bersabda dalam hadits yang shahih:

"Sesungguhnya hati lebih cepat berbolak-balik daripada air yang mendidih di dalam panci."
Dalam riwayat lain, hati diumpamakan seperti sehelai bulu di padang pasir yang terbang tertiup angin. Begitu mudahnya hati berpaling dari kebenaran. Itulah mengapa Nabi ﷺ sangat sering memanjatkan doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ "Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu."

Ketika Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal ini, beliau menjelaskan bahwa setiap hati berada di antara dua jari Allah Subhanahu wa Ta'ala — Dia membolak-baliknya sesuai kehendak-Nya. Jika Allah menghendaki kebaikan, hati itu akan condong kepada kebaikan; jika sebaliknya, ia akan menyimpang dan celaka.

Imam Muslim juga meriwayatkan bahwa fitnah akan masuk ke dalam hati seperti tikar yang ditenun sedikit demi sedikit. Hati yang menyerap fitnah akan ditempeli satu titik hitam, sementara hati yang mengingkarinya mendapat satu titik putih — hingga hati itu terpolarisasi menjadi dua. Hati yang hitam bagaikan gelas yang terbalik: tidak dapat menerima apa pun; tidak mengenal yang ma'ruf dan tidak mengingkari yang mungkar.

Kesadaran akan rapuhnya hati inilah yang seharusnya mendorong kita untuk serius menjaga istiqamah — bukan menganggapnya sudah otomatis kita miliki.


Delapan Sarana untuk Menggapai Ketegaran

1. Memperbanyak Doa dan Kembali kepada Allah

Sarana pertama dan paling mendasar adalah doa — karena seluruh hati kita ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan hanya Dia yang mampu menetapkannya di atas kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman bahwa Dia akan meneguhkan orang-orang beriman dengan kalimat laa ilaaha illallah di dunia dan akhirat (QS. Ibrahim: 27).

Syaikh menyebutkan beberapa doa yang sangat dianjurkan. Selain doa yaa muqallibal quluub yang telah disebutkan, Nabi ﷺ juga mengajarkan doa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ أَضِلَّ

"Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku mengadu, dan dengan-Mu aku berjuang. Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu — tiada ilah selain Engkau — dari kesesatan..."

Ada pula doa yang sangat menyentuh dari Al-Qur'an, yang patut kita hafalkan dan panjatkan:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi." (QS. Ali Imran: 8)

Doa adalah pengakuan bahwa kita lemah, dan bahwa kekuatan sejati hanya ada pada Allah. Barang siapa jujur dalam berdoa kepada-Nya, Allah akan menjaga dan meneguhkan agamanya.


2. Memberi Perhatian kepada Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah kitab petunjuk, kitab ketenangan, kitab istiqamah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus." (QS. Al-Isra': 9)

Namun Syaikh mengingatkan agar kita tidak menjadi bagian dari mereka yang disebutkan dalam QS. Al-Furqan: 30 — orang-orang yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang ditinggalkan (mahjuran). Al-Qur'an diturunkan bukan sekadar untuk dibaca tanpa direnungkan, melainkan untuk di-tadabburi — diresapi dan dipahami dengan sungguh-sungguh.

"Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayat-Nya." (QS. Shad: 29)

Allah secara langsung mengaitkan tadabbur Al-Qur'an dengan keselamatan dari kesesatan. Dan dalam QS. Al-Anfal: 2-3, disebutkan bahwa orang-orang beriman yang mendengar ayat-ayat Allah, iman mereka akan bertambah dan hati mereka semakin kokoh. Allah bahkan berfirman kepada Nabi ﷺ:

"...dan demikianlah agar Kami meneguhkan hatimu dengannya (Al-Qur'an)." (QS. Al-Furqan: 32)

Maka Al-Qur'an adalah sarana terbesar yang menegarkan hati — bagi mereka yang diberi taufiq oleh Allah untuk sungguh-sungguh men-tadabburi-nya.


3. Membaca Sejarah Para Nabi dan Rasul

Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan kisah-kisah para nabi dalam Al-Qur'an bukan sekadar sebagai cerita. Ada hikmah besar dan obat jiwa di baliknya. Dia berfirman:

"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal." (QS. Yusuf: 111)

Dan dalam QS. Hud: 120, Allah secara eksplisit menyebutkan tujuannya:

"Dan semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu."

Manusia adalah makhluk yang mudah terpengaruh oleh lingkungan dan tokoh-tokoh di sekitarnya. Jika seseorang mengisi hari-harinya dengan membaca kisah para nabi dan orang-orang saleh, ia akan terpengaruh oleh akhlak mulia mereka. Sebaliknya, jika ia jauh dari kisah-kisah itu, ia rentan terpengaruh oleh tokoh-tokoh yang rendah. Para nabi dan rasul adalah pilihan Allah di atas seluruh makhluk-Nya — maka jadikanlah mereka cermin dan kompas dalam perjalanan hidup kita, sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-An'am: 90 dan penegasan-Nya dalam QS. Al-Ahzab: 21 bahwa pada diri Nabi ﷺ terdapat suri teladan yang baik bagi kita semua.


4. Introspeksi Diri dan Mengingat Hari Kebangkitan

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr: 18)

Mengingat bahwa kita akan berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas setiap amal perbuatan adalah salah satu pendorong terkuat untuk terus taat dan menjauh dari maksiat. Ketika seorang hamba menyadari bahwa setiap gerak-geriknya dicatat dan setiap bisikan hatinya diketahui, ia akan lebih berhati-hati dalam melangkah.

Allah menggambarkan kegembiraan orang-orang yang menerima catatan amalnya dari tangan kanan dalam QS. Al-Haqqah: 19 — mereka itu adalah orang-orang yang di dunia hidup dengan keyakinan akan perjumpaan dengan Allah. Begitu pula dalam QS. Ath-Thur: 26, digambarkan bagaimana orang-orang yang senantiasa khawatir dan penuh kesadaran akan bertemu Allah, akhirnya diselamatkan dari azab-Nya. Khauf yang lahir dari kesadaran akhirat bukanlah beban — ia adalah bahan bakar istiqamah.


5. Menjadikan Syaithan sebagai Musuh

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan dengan tegas:

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu)." (QS. Fatir: 6)

Syaithan adalah musuh yang tidak tampak oleh mata kita, namun ia melihat kita. Ia menyerang dari segala penjuru — dari depan, belakang, kanan, dan kiri — sebagaimana ia sendiri bersumpah kepada Allah dalam QS. Al-A'raf: 16-17. Syaikh mengingatkan bahwa ada sebagian manusia yang begitu patuh mengikuti bujukan syaithan, hingga seolah-olah syaithan memegang remote control dan mereka hanya mengikuti ke mana diarahkan.

Cara terbaik melawannya adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah. Karena barang siapa yang lalai dari mengingat Allah, Dia akan kirimkan syaithan sebagai temannya — sebagaimana firman-Nya dalam QS. Az-Zukhruf: 36. Sebaliknya, orang yang senantiasa berdzikir akan terlindungi dari tipu daya iblis, sebagaimana Allah nyatakan dalam QS. Al-Hijr: 39-42 bahwa hamba-hamba Allah yang mukhlish tidak memiliki jalan bagi syaithan untuk mencederainya. Maka perbanyaklah isti'adzah — berlindung kepada Allah — dan jadikanlah dzikir sebagai tameng harian kita.


6. Memilih Teman dan Kawan yang Baik

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

"Seseorang itu beragama sesuai dengan agama temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Pengaruh lingkungan pertemanan sangat luar biasa dalam membentuk karakter dan keteguhan iman seseorang. Nabi ﷺ mengibaratkan teman yang baik seperti penjual minyak wangi — kita pasti akan mendapat harum darinya, baik karena membeli maupun sekadar dekat dengannya. Sementara teman yang buruk bagaikan pandai besi — pakaian kita bisa terbakar, atau minimal kita akan terciprat bau asap dan kotoran.

Bahaya berteman dengan orang-orang buruk begitu nyata, sehingga Allah menggambarkan penyesalan orang-orang zalim di hari kiamat dalam QS. Al-Furqan: 27-29 — mereka menyesal karena salah memilih pergaulan di dunia. Maka, bersabarlah dalam menjaga pertemanan yang baik. Allah memerintahkan dalam QS. Al-Kahfi: 28 agar kita tetap bersama orang-orang yang senantiasa berdoa dan mengingat Allah, dan tidak berpaling dari mereka demi mengejar keindahan dunia.


7. Melaksanakan Kewajiban Agama, Terutama Shalat

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut: 69)

Di antara semua kewajiban agama, shalat menempati posisi paling istimewa. Allah menyebutnya sebagai ma'unah — bantuan bagi kita dalam menghadapi kehidupan:

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu." (QS. Al-Baqarah: 45)

Dan shalat pula yang menjadi benteng dari perbuatan keji dan mungkar:

"Sesungguhnya shalat mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar." (QS. Al-Ankabut: 45)

Namun Syaikh menekankan: bukan sembarang shalat yang dimaksud. Ia adalah shalat yang dilakukan dengan penuh khusyu' — seorang hamba yang benar-benar menghadap Allah, bermunajat, merasakan dirinya sedang berdiri di hadapan Rabb-nya. Shalat seperti inilah yang benar-benar menjadi penegak jiwa dan benteng dari fitnah. Shalat yang dikerjakan sekadar menggugurkan kewajiban, tanpa kehadiran hati, tidak akan memberikan pengaruh yang berarti terhadap kualitas keteguhan iman seseorang.


8. Mendalami Ilmu Syar'i

Nabi Muhammad ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan menjadikannya faham dalam agama ini."

Ilmu agama adalah cahaya yang menerangi jalan — ia membedakan antara hidayah dan kesesatan, antara sunnah dan bid'ah, antara ketaatan dan kemaksiatan. Tanpa ilmu, seseorang akan mudah disambar oleh syubuhat (kesamaran) dan syahawat (hawa nafsu), lalu terjerumus ke dalam lembah kesesatan tanpa sadar.

Syaikh mengingatkan bahwa setiap hari kita membutuhkan porsi ilmu agama — bukan hanya sesekali. Nabi ﷺ setiap pagi setelah shalat Subuh berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima."

Perhatikanlah urutan doa ini: ilmu didahulukan sebelum rezeki dan amal. Ini adalah isyarat yang sangat dalam — ilmu adalah prioritas pertama setiap hari. Tanpanya, rezeki yang kita kejar bisa jadi tidak membawa berkah, dan amal yang kita lakukan bisa jadi tidak diterima karena tidak berlandaskan pemahaman yang benar.


Kesimpulan

Delapan sarana yang dipaparkan Syaikh DR. Abdurrozzaq Al-Badr hafizhahullah di atas bukanlah daftar yang harus kita centang sekali lalu dilupakan. Ini adalah manhaj kehidupan — jalan yang perlu kita tempuh setiap hari, di tengah gempuran fitnah yang tidak pernah berhenti.

Kita hidup di zaman di mana godaan begitu mudah dijangkau — hanya sejauh layar yang kita genggam. Pintu-pintu berlayar tipis itu ada di mana-mana, dan hati kita, sebagaimana Nabi ﷺ ingatkan, lebih cepat berbolak-balik dari air mendidih. Namun Allah tidak membiarkan kita berjuang sendirian. Dia menurunkan Al-Qur'an sebagai peneguh, mengutus para rasul sebagai teladan, mengajarkan doa-doa sebagai senjata, dan menitipkan peringatan di dalam setiap hati yang beriman.

Maka berdoalah setiap hari, ber-tadabbur dengan Al-Qur'an, bacalah kisah para nabi, renungi hari kebangkitan, waspadai tipu daya syaithan, jaga pergaulan, tegakkan shalat dengan khusyu', dan teruslah menimba ilmu agama. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan hati kita di atas agama-Nya, mengakhiri hidup kita dalam keadaan ridha-Nya, dan mempertemukan kita dengan-Nya dalam keadaan Dia meridhai kita.

Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.

Posting Komentar

0 Komentar