WAQAF BUKU ABBA

Salah satu hal yang sudah saya rencanakan untuk mengisi liburan kali ini adalah menyortir koleksi buku almarhum Abba.

Tidak kurang dari 500 buku tersimpan rapi di beberapa lemari di rumah — diam, berdebu, menunggu. Sayang rasanya membiarkan mereka hanya menjadi pajangan. Setelah meminta izin kepada Mama, saya pun memutuskan untuk mewaqafkan sebagian besar koleksi itu agar bisa kembali bermanfaat. Selepas salat Asar, saya mulai membuka lemari demi lemari — dan baru tuntas sesaat sebelum azan Maghrib berkumandang.


Hampir tiga jam itu terasa seperti perjalanan ke masa lalu.

Di setiap halaman pertama, hampir tanpa kecuali, selalu ada tanda tangan Abba — disertai tanggal pembelian dan harga buku. Kebiasaan kecil yang rupanya Abba lakukan konsisten sepanjang hidupnya. Dari kebiasaan itulah saya bisa menelusuri jejak Abba sebagai seorang pembaca: buku-buku paling awal dibeli di tahun 1960-an, ketika Abba masih menjadi mahasiswa di Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makassar. Yang paling akhir dibeli tahun 2010 — setahun sebelum beliau berpulang.

Harga-harga yang tertera di halaman depan itu sendiri sudah seperti kapsul waktu. Ada yang hanya 700 rupiah. Ada yang ratusan ribu. Ada buku terbitan tahun 1950-an yang halamannya menguning dan ejaannya masih menggunakan ejaan lama — jang, dengan, oemoem. Ada kamus Al-Munjid yang tebalnya lebih dari 2.000 halaman, berat di tangan tapi penuh catatan di sela-selanya.


Koleksi Abba ternyata lebih beragam dari yang saya bayangkan.

Kitab-kitab berbahasa Arab didominasi oleh fiqih, tafsir, dan hadits. Buku-buku berbahasa Indonesia sebagian besar bertema hukum — khususnya hukum Islam, selaras dengan profesi Abba sebagai seorang hakim. Ada juga buku-buku tentang birokrasi, manajemen, dan pemerintahan. Puluhan jurnal hukum. Dan beberapa buku berbahasa Inggris yang tampak sudah lama tidak disentuh siapa pun selain Abba.

Yang paling membuat saya terhenti adalah saat menemukan kertas-kertas kecil yang terselip di antara halaman. Tulisan tangan Abba — catatan-catatan tentang poin penting dari buku yang sedang beliau baca. Saya ingat betul sejak kecil hampir selalu melihat Abba duduk dengan buku di tangan. Rupanya membaca bukan sekadar hobi bagi beliau. Itu adalah cara beliau berpikir.


Dari ratusan buku itu, sekitar 60 judul saya bawa pulang untuk masuk ke perpustakaan kecil saya — terutama yang relevan dengan minat saya atau yang tampaknya punya nilai historis tersendiri. Beberapa buku lagi sudah saya sisihkan untuk ponakan yang masih kuliah di bidang yang sama dengan Abba. Sisanya — jumlahnya paling banyak — akan saya waqafkan ke kampus tempat Abba dulu menimba ilmu: IAIN Alauddin Makassar.

Mudah-mudahan buku-buku itu bisa kembali dibuka, dibaca, dan dimanfaatkan oleh mahasiswa-mahasiswi di sana. Dan mudah-mudahan setiap halaman yang terbuka menjadi pahala jariyah yang terus mengalir untuk Abba.

Al-Fatihah.










Posting Komentar

0 Komentar