Pengantar: Antara Konten Viral dan Perubahan Nyata
Zaid Elomar adalah seorang content creator Islam dengan puluhan juta penayangan di berbagai platform online. Namun jika kamu mengira podcast ini akan membahas strategi konten atau tips membangun audiens — kamu salah besar. Percakapan ini jauh lebih penting dari itu.
Dalam satu sesi yang panjang dan jujur, Zaid berbagi tentang apa yang benar-benar membentuk hidupnya: rutinitas harian yang membangun kedekatan dengan Allah, bagaimana cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengubah seseorang dari dalam, apa yang paling ia takuti, dan apa yang ia anggap paling berbahaya bagi umat Islam saat ini.
Bagian 1: Membangun Rutinitas yang Mendekatkan kepada Allah
Shalat adalah Matahari, Bukan Salah Satu Planet
Zaid memulai dengan sesuatu yang tampak sederhana namun sering disalahpahami: shalat lima waktu. Allah berfirman dalam Al-Quran bahwa shalat diwajibkan atas orang-orang beriman pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Ini bukan sekadar kewajiban ritual — ini adalah sistem manajemen waktu yang Allah rancang sendiri.
“Shalat adalah matahari. Semua hal lain dalam harimu — pekerjaan, makan, olahraga, keluarga — adalah planet-planet yang harus berputar mengelilinginya. Bukan sebaliknya.” — Zaid Elomar
Ia menceritakan seorang saudaranya yang sengaja shalat sebelum waktunya karena khawatir ketinggalan. Zaid langsung meluruskan: hal itu tidak sah. Shalat hanya diterima ketika dikerjakan pada waktunya — bukan sebelumnya. Fakta sederhana ini ternyata belum diketahui banyak orang.
Dan tentang shalat berjamaah di masjid: ketika adzan dikumandangkan, siapa yang diharapkan datang ke masjid kalau bukan kaum Muslimin? Ini bukan beban — ini adalah kehormatan. Allah mengizinkan kita untuk berdiri di hadapan-Nya, bersujud kepada-Nya. Tidak semua orang mendapat izin itu.
Tiga Pilar Rutinitas Harian
Zaid menyebutkan tiga hal yang menurutnya tidak boleh ditinggalkan, berapapun kesibukanmu:
- Shalat lima waktu di awal waktunya, diutamakan berjamaah di masjid. Ini fondasi dari segalanya.
- Porsi harian Al-Quran. Mulai hari dengan Al-Quran — bukan media sosial, bukan berita. Al-Quran penuh dengan keberkahan. Jika kamu memulai hari dengan keberkahan, seluruh harimu akan terasa lebih ringan. Tidak perlu banyak — 10 menit pun sudah berarti, asalkan konsisten.
- Dzikir pagi dan petang. Ini adalah perisai harian. Banyak aplikasi dan dokumen yang bisa diunduh. Jika sibuk, dengarkan saat perjalanan ke tempat kerja.
Kuncinya adalah konsistensi, bukan kuantitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ambillah amal sebanyak yang bisa kamu tanggung, karena amal terbaik adalah yang kecil namun terus-menerus.” Jangan tiba-tiba membaca Al-Quran tiga jam sehari selama seminggu lalu berhenti total. Lebih baik 15 menit setiap hari tanpa terputus.
“Islam itu mudah. Allah sendiri yang berkata demikian. Siapa pun yang mempersulit agamanya sendiri, agama itu akan mengalahkannya. Ia akan kelelahan dan menyerah.” — Zaid Elomar, mengutip hadits Nabi
Menemukan Kekhusyukan di Sela-Sela Kesibukan
Pertanyaan yang sering muncul: bagaimana merasakan manisnya iman ketika shalat terasa seperti daftar tugas yang harus dicentang?
Zaid menjawab dengan perspektif yang segar. Shalat bukan sekadar ritual — ia adalah pertemuan. Kamu yang sepanjang hari menghadiri rapat dengan sesama manusia, kini diundang untuk rapat dengan Tuhan semesta alam. Allah yang memiliki langit dan bumi. Allah yang berkata kepada hamba-Nya: “Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.”
Jika ada tawaran rapat dengan seseorang yang akan memberi kamu satu juta dolar, kamu tidak akan terlambat satu detik pun. Maka bagaimana dengan rapat bersama Raja di atas segala raja?
Kekhusyukan dimulai jauh sebelum shalat: dari bagaimana kamu mempersiapkan tempat shalat, bagaimana kamu berwudhu dengan tenang dan penuh kesadaran. Semakin baik wudhumu, semakin besar kemungkinan khusyukmu di dalam shalat.
Bagian 2: Cinta kepada Nabi ﴾ﷺ﴿ — Pintu yang Mengubah Segalanya
Mengapa Cinta kepada Nabi Adalah Kewajiban
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”
Anak adalah manusia yang paling dicintai oleh orang tua. Namun Nabi mengatakan: kecintaan kepadaku harus melampaui itu semua. Ini bukan pernyataan sombong. Ini adalah konsekuensi logis dari siapa beliau: ia adalah jalan kita menuju Allah. Semakin dekat kita kepada ajaran dan sunnah beliau, semakin dekat kita kepada Allah, dan semakin besar peluang kita masuk surga — bahkan ke tingkatan tertingginya.
Allah berfirman (QS. Ali Imran: 31):
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah (wahai Nabi): jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..”
Rantainya jelas: cinta kepada Nabi → mengikuti sunnah → Allah mencintaimu → surga. Memutus mata rantai pertama berarti memutus seluruh rantai.
Bagaimana Membangun Cinta kepada Nabi
Kamu tidak bisa mencintai seseorang yang tidak kamu kenal. Solusinya sederhana: pelajari kehidupan beliau.
Zaid menyebutkan beberapa sumber yang bisa dimulai:
- Buku: Ar-Rahiq Al-Makhtum (The Sealed Nectar) oleh Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri — salah satu biografi Nabi paling komprehensif yang telah diterjemahkan ke banyak bahasa.
- Konten video: Ada banyak serial sirah Nabi di YouTube dari berbagai ulama yang bisa diakses secara gratis.
- Konsistensi: Jadikan belajar tentang Nabi sebagai kebiasaan, bukan hanya aktivitas Ramadan atau momen tertentu.
“Benar-benar membingungkan bagiku ketika orang dewasa — yang sudah mengaku Muslim — belum pernah sekalipun mempelajari kehidupan nabinya sendiri. Bagaimana kamu tahu cara hidup yang benar kalau kamu tidak tahu bagaimana manusia terbaik yang pernah hidup menjalani hidupnya?” — Zaid Elomar
Zaid berbagi pengalaman pribadinya: titik balik terbesar dalam hidupnya bukan ketika ia mulai rajin shalat, bukan ketika ia mulai berpuasa lebih banyak — melainkan ketika ia pertama kali serius mempelajari sirah Nabi. Ketika ia memahami apa yang beliau korbankan, apa yang beliau tanggung, betapa besar cinta beliau kepada umatnya — sesuatu dalam hatinya berubah. Shalat Subuh menjadi mudah. Al-Quran menjadi rindu, bukan beban.
Bagian 3: Yang Paling Menakutkan dan Yang Paling Penting
Apa yang Membuat Zaid Tidak Bisa Tidur?
Ketika ditanya apa yang paling ia takuti, Zaid menjawab tanpa ragu dan tanpa kepura-puraan:
“Aku benar-benar takut. Aku takut tidak masuk ke tingkatan tertinggi surga — Al-Firdaus. Itu tujuan utamaku. Jika aku tidak mencapainya karena kemalasanku sendiri, itu akan menjadi penyesalan terbesar yang abadi.”
Ia menjelaskan: surga itu selamanya. Setiap detik di dunia ini punya konsekuensi di akhirat. Setiap kata yang terucap dicatat. Setiap pilihan meninggalkan jejak. Dan begitu kita mati, tidak ada lagi kesempatan untuk menambah amal. Satu-satunya yang bisa diharapkan adalah apa yang sudah dilakukan.
Bukan kematian yang ia takuti. Yang ia takuti adalah kematian sebelum mencapai tingkatan iman yang ia inginkan.
Siapa Muslim Paling Cerdas?
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya Ibnu "Umar: siapa Muslim yang paling cerdas dan bijaksana? Para sahabat menduga jawabannya adalah yang paling banyak ilmunya, atau yang paling banyak ibadahnya.
Nabi menjawab:
“Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas.”
Mengingat kematian bukan untuk menjadi depresi atau pesimis. Justru sebaliknya: mengingat kematian membuat kita hidup lebih terarah. Kita tidak lagi membuang waktu untuk hal-hal yang tidak bermakna. Kita tidak lagi menunda kebaikan.
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.
Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”
Bagian 4: Kebodohan tentang Allah — Akar dari Semua Masalah
Zaid menyebut satu hal sebagai kalamitas terbesar yang menimpa manusia: ketidaktahuan tentang siapa Allah sebenarnya.
Allah berfirman dalam Al-Quran: “Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya.” Kita tidak benar-benar mengerti siapa Allah. Seluruh bumi pada hari kiamat ada di “genggaman” Allah, seluruh langit digulung seperti selembar kertas di tangan-Nya — dan kita masih menganggap masalah-masalah kita terlalu berat untuk diserahkan kepada-Nya?
Zaid menceritakan sebuah kisah: seorang Badui datang kepada seorang ulama dan meminta sesuatu. Sang ulama berkata dengan tegas: “Celakalah kamu! Apakah kamu tidak tahu siapa Allah? Pergilah dan minta kepada-Nya — Pencipta langit dan bumi!”
Semakin dalam kita mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang agung, semakin mustahil kita bermaksiat kepada-Nya. Karena kita tahu Siapa yang melihat. Kita tahu kepada Siapa kita akan kembali. Dan kita tahu betapa besar kasih sayang-Nya kepada hamba yang sungguh-sungguh berpaling kepada-Nya.
Bagian 5: Bahaya Sektarianisme dan Perpecahan Umat
Ketika ditanya tentang ancaman terbesar bagi komunitas Muslim saat ini, Zaid menjawab tanpa ragu: sektarianisme — sikap “akulah yang benar dan semua orang yang berbeda denganku adalah sesat.”
Allah berfirman (QS. Ali Imran: 103): “Berpeganglah kalian semua pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” Bersatu itu kuat, bercerai itu lemah. Setan paling bahagia ketika melihat dua orang Muslim yang menghabiskan energi mereka saling mencaci atas perbedaan-perbedaan kecil.
Yang paling rentan terjebak dalam pola ini, menurut Zaid, adalah mereka yang baru saja mendapat sedikit ilmu dan merasa sudah menguasai segalanya. Padahal semakin dalam seseorang belajar, semakin ia sadar betapa banyak yang tidak ia ketahui. Para ulama besar — yang berbeda pendapat satu sama lain dalam berbagai masalah — tetap saling menghormati, makan bersama, dan belajar satu dari yang lain.
“Ada orang yang menghabiskan siang dan malamnya berdakwah, berusaha membantu orang kembali kepada Allah, namun ia punya perbedaan pendapat kecil denganmu — lalu kamu benci dia? Relakan. Kalian masih akan makan di satu meja jika diundang. Santai saja.” — Zaid Elomar
Tentang Konten Islam di Media Sosial
Zaid juga memberikan pandangan jujur tentang dunia konten Islam di media sosial. Pesannya sederhana namun tajam:
- Jangan berfatwa jika tidak berkualifikasi. Hampir tidak ada content creator online yang punya kualifikasi untuk mengeluarkan fatwa. Tinggalkan urusan hukum kepada para ulama yang benar-benar kompeten.
- Fokus pada yang menyatukan, bukan yang memecah. Jadilah jembatan yang membantu seseorang mulai shalat lagi, mulai berhijab, mulai baik kepada orang tua. Bukan platform untuk debat fiqih.
- Saring sumber ilmumu. Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang punya banyak pengikut itu layak diikuti. Tanyakan: apakah konten ini mendekatkanku kepada Allah?
Bagian 6: Pernikahan, Generasi Muda, dan Tantangan Zaman
Mengapa Banyak yang Kesulitan Menikah?
Zaid mengidentifikasi beberapa faktor utama yang mempersulit pernikahan di kalangan Muslim muda:
- Mentalitas keliru para orang tua. Islam memerintahkan agar pernikahan dipermudah. Namun banyak orang tua yang menjadikan perbedaan suku, ras, atau negara asal sebagai penghalang utama — menempatkan identitas budaya di atas agama. Nabi bersabda: jika datang seorang laki-laki yang kalian ridha dengan agama dan akhlaknya, nikahkanlah. Jika tidak, akan ada kerusakan besar di muka bumi.
- Mahar dan pesta pernikahan yang berlebihan. Nabi bersabda bahwa pernikahan yang paling berkah adalah yang paling mudah. Dua orang, dua keluarga, masjid, tanda tangan, selesai. Pesta besar yang membebankan secara finansial bukan sunnah — dan justru sering menjadi penghalang.
- Standar yang tidak realistis akibat media sosial. Seseorang bisa membuka Instagram dan melihat kehidupan seseorang dari belahan dunia lain yang tampak sempurna. Lalu membandingkan pasangan nyatanya dengan standar yang tidak ada dalam kenyataan. Ini racun bagi hubungan dan pernikahan.
“Jika kamu membuat yang haram mudah dan yang halal sulit, umat Islam akan memilih yang haram. Itu bukan kelemahan iman — itu hukum alam. Mudahkan pernikahan, sebelum generasi muda kita jatuh ke dalam dosa karena jalan kehalalan ditutup untuk mereka.” — Zaid Elomar
Nasihat untuk Diri Sendiri di Masa Muda
Ketika ditanya apa nasihat yang ingin ia berikan kepada dirinya yang lebih muda, Zaid menjawab: gunakan waktumu lebih baik dan mulailah mencari ilmu agama lebih awal.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia lalai darinya: kesehatan dan waktu luang.”
Zaid mengakui ia menghabiskan banyak waktu masa mudanya untuk hal-hal yang tidak akan memberikan manfaat di hari kiamat. Bukan karena hal itu haram — tapi karena ada yang jauh lebih berharga yang bisa dilakukan dengan waktu yang sama.
“Wahai anak Adam, kamu hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap hari yang berlalu, berlalu pula sebagian darimu. Manfaatkan setiap detik untuk mendekat kepada Allah, karena itulah yang benar-benar bermakna.”
Penutup: Mulai dari Mana?
Obrolan panjang ini bermuara pada satu kesimpulan yang sederhana namun berat maknanya: kenali Allah-mu, kenali Nabi-mu, dan mulailah hari ini juga.
Tidak perlu menunggu sampai sempurna. Tidak perlu menunggu sampai punya waktu yang cukup. Tidak perlu menunggu Ramadan berikutnya. Mulai dengan satu hal kecil yang konsisten. Mulai dengan 10 menit Al-Quran di pagi hari. Mulai dengan membaca satu halaman sirah Nabi sebelum tidur. Mulai dengan meluangkan lima menit untuk menghayati makna bacaan shalatmu.
Karena perjalanan menuju Allah tidak dimulai ketika kamu sudah siap. Ia dimulai ketika kamu mulai melangkah.
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Podcast Muslim Founder | Bersama Ustaz Zaid Elomar
Sumber: youtube.com/watch?v=2IURTdushss
0 Komentar