Pasukan sudah berangkat. Tiga puluh ribu pejuang berjalan menuju Tabuk bersama Nabi ﷺ. Dan Ka'ab bin Malik berdiri di kota Madinah yang tiba-tiba terasa sunyi, menelusuri jalan-jalan yang kosong, merasakan sesuatu yang menghancurkan hatinya. Ia melihat siapa yang tertinggal — dan pemandangan itu menyayat-nyayat hatinya.
Rangkuman: Mengapa Ka'ab Tertinggal
Ka'ab bin Malik radhiyallahu anhu sudah kita ikuti kisahnya dari awal: ia punya semua faktor untuk ikut Perang Tabuk — kesehatan prima, dua tunggangan, pengalaman 20-an peperangan. Tapi setiap hari ia keluar untuk mempersiapkan diri dan pulang tanpa mengerjakan apapun, sambil berkata kepada dirinya: "Aku mampu melakukan ini kalau aku mau."
Kalimat itulah yang menghancurkannya. Mengandalkan kemampuan diri sendiri tanpa meminta taufik dari Allah. Menunda terus-menerus sampai hari H tiba dan ia belum mempersiapkan apapun. Dan ketika pasukan berangkat, ia masih berkata: "Aku akan menyusul." Tapi penyusulan itu tidak pernah terjadi.
Di sinilah dua pelajaran terpenting dari bagian ini: jangan andalkan diri sendiri, dan jangan tunda pintu kebaikan. Allah berfirman dalam Surah al-Kahfi ayat 23-24: "Jangan sekali-kali kalian mengatakan tentang sesuatu 'aku pasti akan melakukannya besok' — kecuali dengan mengucapkan Insya Allah." Dan Surah at-Takwir ayat terakhir: "Kalian tidak akan bisa mewujudkan apapun yang kalian inginkan, kecuali dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta'ala."
Ka'ab Menelusuri Kota Madinah yang Sunyi
Setelah pasukan berangkat, Ka'ab bin Malik keluar dari rumahnya dan berjalan menelusuri kota Madinah. Dan apa yang ia lihat benar-benar menyayat-nyayat hatinya.
"Aku tidak melihat sosok apapun di kota Madinah kecuali orang-orang munafik atau orang-orang lemah yang memang tidak mampu ikut."
Itulah tiga golongan yang tersisa di Madinah setelah keberangkatan Nabi ﷺ.
Golongan pertama — orang-orang lemah yang memang tidak mampu: orang sakit, orang tua, wanita, anak-anak, dan dhuafa yang tidak punya kendaraan atau perbekalan. Mereka inilah yang pernah datang kepada Nabi ﷺ dengan mengemis agar dibawa serta — dan ketika ditolak karena keterbatasan kendaraan, mereka pulang sambil menangis. Allah mengabadikan kisah mereka dalam Al-Qur'an sebagai orang-orang yang tidak berdosa.
Golongan kedua — orang munafik. Inilah golongan yang paling tidak suka dengan perjuangan. Orang munafik selalu mencari aman, selalu menginginkan yang enak, tidak pernah mau keluar dari zona nyaman. Bahkan sebelum keberangkatan, mereka aktif menggembosi semangat para sahabat dengan menyebarkan narasi: "Kondisi sangat panas, jangan berangkat! Kalian akan menghadapi 40.000 pasukan Romawi!"
Allah langsung membungkam narasi mereka. Nabi ﷺ diperintahkan menjawab: "Katakan kepada mereka — api neraka jauh lebih panas, jika mereka mengetahuinya." Orang yang mengeluhkan panas 50 derajat tapi tidak takut neraka jahanam — itulah orang yang tidak paham hakekat kehidupan.
Golongan ketiga — Ka'ab bin Malik dan dua sahabatnya. Bukan munafik, bukan orang lemah. Mereka melakukan blunder tanpa alasan syar'i — dan inilah yang membuat Ka'ab sangat sedih melihat kondisi tersebut.
Melihat Diri Sendiri di Antara Orang-Orang yang Salah
Ketika Ka'ab berjalan menelusuri Madinah dan hanya melihat orang munafik dan orang-orang lemah — ia sadar: ia salah golongan. Ia bukan orang lemah. Ia bukan orang yang tidak mampu. Tapi kini ia berdiri di antara golongan yang tidak seharusnya ia berada di dalamnya.
Ini adalah kepekaan hati yang sangat penting. Ketika kita melakukan kesalahan, ketika kita salah alamat, ketika kita menemukan diri kita berada di lingkungan yang salah — hati nurani kita harus merasakan ada yang tidak beres. Harus ada rasa "Ini bukan tempat saya. Ini bukan golongan saya."
Ka'ab merasakan itu. Dan rasa sedih itu — rasa tidak nyaman itu — adalah tanda bahwa iman masih ada, kepekaan masih hidup. Berbeda dengan orang munafik yang santai-santai saja, yang tidak merasakan apapun ketika tertinggal dari perjuangan.
Ali bin Abi Thalib dan Kisah Musa-Harun
Di antara yang tersisa di Madinah ada golongan keempat yang Ka'ab sebutkan: orang-orang yang sengaja ditugaskan oleh Nabi ﷺ untuk menjaga kota Madinah. Dan salah satunya adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu.
Al-Hafizh al-Iraqi menjelaskan dalam biografi Ali bin Abi Thalib: "Ali tidak pernah absen dari satu pun peperangan bersama Nabi ﷺ — kecuali Perang Tabuk."
Tapi ketidakhadiran Ali di Perang Tabuk sangat berbeda dengan ketidakhadiran Ka'ab. Ali ditugaskan secara khusus oleh Nabi ﷺ untuk menjaga Madinah.
Dan Ali bin Abi Thalib — dengan semangat juangnya yang luar biasa — tidak serta merta menerima penugasan itu dengan lapang dada. Beliau bertanya kepada Nabi ﷺ: "Apakah engkau meninggalkan aku di sini bersama anak-anak kecil dan para wanita?"
Ini bukan ketidakpatuhan. Ini adalah semangat seorang pejuang sejati yang tidak ingin melewatkan momen berjuang bersama Nabi ﷺ. Ia ingin pergi, ia ingin berjuang, ia ingin memberikan yang terbaik.
Lalu Nabi ﷺ menjawab dengan kalimat yang sangat indah dan sangat memotivasi: "Apakah engkau tidak ridha jika posisimu terhadapku seperti posisi Harun terhadap Musa? Hanya saja tidak ada nabi setelahku."
Subhanallah. Nabi ﷺ mengangkat Ali ke level Harun as — nabi yang dipercaya oleh Musa as untuk menjaga dan memimpin kaumnya ketika Musa pergi. Ini bukan tugas kecil. Ini adalah amanah besar yang diemban oleh seorang nabi kepada nabi lainnya. Dan kini Nabi ﷺ menitipkan hal yang sama kepada Ali.
Seketika semangat Ali bangkit kembali. Ia menerima tugas itu dengan penuh kebanggaan dan tanggung jawab.
Pelajaran tentang Kepemimpinan dan Komunikasi
Dari interaksi Nabi ﷺ dengan Ali bin Abi Thalib ini, tersimpan pelajaran besar tentang kemampuan komunikasi seorang pemimpin.
Nabi ﷺ tidak sekadar memberi perintah: "Kamu jaga Madinah, titik." Beliau memahami perasaan Ali, lalu memberikan frame yang berbeda — bukan sebagai yang ditinggalkan, tapi sebagai yang dipercaya dengan amanah besar. Dan itu mengubah segalanya.
Inilah kemampuan yang sering hilang dalam kehidupan kita — sebagai suami yang tidak bisa memotivasi istri, sebagai ayah yang tidak bisa membakar semangat anak, sebagai pemimpin yang tidak bisa mengangkat moril timnya. Nabi ﷺ mencontohkan: kenali perasaan orang yang kamu pimpin, lalu berikan sudut pandang yang tepat yang membuat mereka semangat menjalankan tugasnya.
Semangat yang Luar Biasa: 30.000 Pasukan
Ka'ab bin Malik juga mencatat: jumlah pasukan yang berangkat ke Tabuk adalah 30.000 orang — rekor terbanyak dalam seluruh sejarah perjuangan Nabi ﷺ. Tidak pernah sebelumnya Nabi ﷺ memimpin pasukan sebanyak itu.
Padahal kondisinya sangat berat: panas 50 derajat, perjalanan 600-an kilometer, medan Mafaza yang mematikan, dan musuh yang 40.000 pasukan Romawi — kekuatan superpower dunia. Semua faktor itu seharusnya membuat orang mundur.
Tapi justru sebaliknya — 30.000 orang berangkat. Ini menunjukkan betapa kuatnya iman para sahabat dan betapa dalamnya cinta mereka kepada Nabi ﷺ. Bukan hanya tidak takut — mereka justru antusias, bahkan yang tidak bisa ikut pun menangis karena tidak bisa berjuang bersama beliau.
Kabar dari Tabuk: Nabi ﷺ Bertanya tentang Ka'ab
Dan ketika Nabi ﷺ sudah tiba di Tabuk — 600-an kilometer jauhnya dari Madinah — beliau bertanya kepada para sahabat: "Apa yang dilakukan Ka'ab bin Malik?"
Beliau teringat kepada sahabat yang dicintainya. Dari jarak ratusan kilometer, Nabi ﷺ menanyakan kabar Ka'ab. Dan apa jawaban para sahabat? Jawabannya akan kita simak di seri berikutnya.
Penutup
Kisah Ka'ab bin Malik terus bergerak — dari blunder yang ia lakukan, kepada kesedihan yang ia rasakan, kepada pertanyaan Nabi ﷺ dari kejauhan. Setiap bagian dari kisah ini menyimpan pelajaran berharga.
Yang paling penting dari sesi ini: kepekaan hati adalah tanda iman. Ka'ab sedih melihat dirinya berada di antara orang-orang yang salah. Itu adalah tanda bahwa masih ada cahaya di dalam hatinya — dan dari cahaya itulah nanti akan lahir taubat yang luar biasa.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kita hati yang peka, yang merasa tidak nyaman ketika salah alamat, yang segera kembali begitu tergelincir — dan yang tidak pernah mengandalkan kemampuan diri sendiri tanpa meminta taufik dan pertolongan dari-Nya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 47: Yang Tertinggal di Kota Madinah
Muhammad Nuzul Dzikri
https://www.youtube.com/watch?v=UDaeORj9CjI
0 Komentar