RS 02. Berawal dari Keberkahan — Mengenal Imam an-Nawawi, Sang Penulis Riyadhus Shalihin

Pernahkah kita bertanya-tanya: bagaimana seseorang bisa menghasilkan karya yang dibaca oleh jutaan manusia selama berabad-abad? Bukan hanya satu karya, tapi puluhan karya yang semuanya menjadi rujukan dunia? Jawabannya bukan terletak pada kekayaan, bukan pada fasilitas mewah, dan bukan pula pada usia yang panjang. Jawabannya ada pada satu kata: keberkahan.

Siapakah Imam an-Nawawi?

Kitab Riyadhus Shalihin lahir dari tangan seorang ulama besar yang bernama lengkap Al-Imam Yahya bin Syaraf bin Murry Abu Zakaria an-Nawawi — atau yang lebih dikenal dengan sebutan Imam an-Nawawi rahimahullahu ta'ala. Beliau lahir pada tahun 631 Hijriyah dan wafat pada tahun 676 Hijriyah.

Beliau adalah ulama yang dipuji oleh hampir seluruh ulama dari berbagai mazhab, bukan hanya dari kalangan Syafi'iyah. Al-Imam adz-Dzahabi menggambarkan beliau dengan deretan pujian yang luar biasa: Imam al-Qudwah (teladan), al-Hafidz (penghafal hadits yang kuat), az-Zahid (yang zuhud dari dunia), al-'Abid (yang rajin beribadah), al-Faqih (pakar fikih), hingga al-Mujtahid ar-Rabbani — gelar untuk mereka yang mencapai maqam tertinggi dalam ilmu fikih.

Al-Imam as-Subki pun memberikan penilaian yang tidak kalah mengesankan. Beliau menyebut Imam an-Nawawi sebagai Syaikhul Islam, pemberi fatwa bagi seluruh umat manusia — lintas mazhab, lintas wilayah, lintas zaman.


Lautan yang Manfaatnya Dinikmati Semua Orang

Salah satu pujian paling indah datang dari al-Imam as-Syafi'i, yang menggambarkan Imam an-Nawawi sebagai "lautan ilmu yang manfaatnya bisa dinikmati oleh orang-orang yang dekat maupun yang jauh."

Ini bukan sekadar kiasan. Laut biasanya hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tinggal di dekatnya. Tapi ilmu Imam an-Nawawi — terbukti sampai hari ini, di tahun 1400-an Hijriyah — masih dinikmati oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, padahal beliau hidup di abad ke-7 Hijriyah. Hampir delapan abad telah berlalu, namun karya-karyanya tetap hidup dan terus dikaji.


Usia 45 Tahun, 60-an Kitab Masterpiece

Inilah yang benar-benar membuat akal kita berhenti sejenak: Imam an-Nawawi hanya hidup sekitar 45 hingga 46 tahun. Namun dalam rentang waktu yang singkat itu, beliau mewariskan sekitar 60 hingga 69 kitab — dan hampir semuanya menjadi karya masterpiece yang menjadi rujukan dunia hingga hari ini.

Sebagian ulama menghitung: jika karya-karya itu dibagi rata sejak hari beliau lahir, maka setiap harinya beliau seolah menghasilkan dua buku. Tentu saja beliau tidak mulai menulis sejak bayi — beliau baru mulai produktif menulis di usia 30-an tahun. Artinya, dalam sekitar 15 tahun, beliau menghasilkan puluhan kitab yang semuanya spektakuler.

Bagaimana ini bisa terjadi? Para ulama sepakat menyebut satu kata: berkah.


Karya-Karya Emas yang Mengubah Dunia

Riyadhus Shalihin hanyalah satu dari sekian banyak karya beliau. Mari kita lihat sekilas karya-karya besar lainnya:

Arbain Nawawiyah — Banyak ulama menyebutnya sebagai salah satu buku kaidah dasar agama terbaik di dunia. Bukan hanya ulama Syafi'iyah, bahkan ulama-ulama dari mazhab Hanbali di Timur Tengah pun mengatakan bahwa guru-guru mereka menasehati untuk mempelajarinya terlebih dahulu sebelum yang lain.

Al-Minhaj Syarah Muslim — Penjelasan atas kitab hadits Shahih Muslim karya Imam Muslim. Sampai hari ini, hampir tidak ada penuntut ilmu hadits yang belajar Shahih Muslim tanpa merujuk pada kitab ini.

Raudhatut Thalibin — Rujukan utama dalam fikih mazhab Syafi'i, dicetak dalam 9 hingga 12 jilid tebal — namun itu hanya satu kitab.

Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab — Karya terbesar beliau dalam ilmu fikih. Para ulama mengatakan: jika Imam an-Nawawi berhasil menyelesaikan kitab ini, tidak akan dibutuhkan kitab fikih lain selain Al-Majmu'. Sayangnya, beliau wafat sebelum sempat menyelesaikannya.

At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an — Kitab tentang adab para penghafal dan pembawa Al-Qur'an, yang juga menjadi rujukan penting dalam ilmu adab menuntut ilmu.


Hidupnya Keras, Tapi Berkah

Yang mengejutkan adalah: kehidupan Imam an-Nawawi sama sekali tidak mewah. Al-Imam adz-Dzahabi secara khusus mencatat bahwa beliau adalah sosok yang "sabar dalam menjalani kerasnya hidup."

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa di sebagian fase kehidupannya, beliau hanya makan satu kali sehari. Ada riwayat yang menyebut makanannya adalah roti yang keras. Bukan jamuan lezat, bukan fasilitas istimewa. Hidupnya keras secara materi.

Namun justru dari kondisi itulah mengalir keberkahan yang luar biasa. Karya-karya itu bukan dihasilkan dari kehidupan yang serba mewah — melainkan dari kesabaran, keikhlasan, dan taufik dari Allah subhanahu wa ta'ala.


Pelajaran untuk Kita di Masa Sulit

Kajian ini disampaikan di tengah kondisi yang berat — banyak yang kehilangan pekerjaan, usaha turun drastis, mobilitas terbatasi. Dan di sinilah relevansinya menjadi sangat kuat.

Ketika pintu-pintu dunia seolah tertutup satu per satu, ada satu pintu yang selalu terbuka: pintu keberkahan.

Imam an-Nawawi tidak masuk dari pintu kemewahan. Beliau tidak masuk dari pintu fasilitas lengkap. Beliau masuk dari pintu keberkahan — dan hasilnya mengubah dunia selama berabad-abad.

Kita yang hari ini menghadapi kesulitan pun bisa masuk dari pintu yang sama. Pintu itu tidak mensyaratkan uang yang banyak. Tidak mensyaratkan kondisi yang sempurna. Syaratnya, menurut al-Imam adz-Dzahabi yang merangkum kehidupan beliau, adalah: sabar dalam menjalani kerasnya kehidupan.


Belajar dari yang Terbaik

Islam mengajarkan kita untuk selalu belajar dari yang terbaik. Generasi terbaik adalah para sahabat, lalu para tabi'in, lalu atba'ut tabi'in. Dan di antara ulama-ulama yang mengikuti jalan mereka dengan sungguh-sungguh, Imam an-Nawawi adalah salah satu yang paling menonjol. Muridnya sendiri, al-Imam Ibnu al-Aththar, bersaksi bahwa gurunya ini konsisten menempuh jalan generasi terbaik — para sahabat, tabi'in, dan atba'ut tabi'in.

Logikanya sederhana: mengapa orang ingin masuk ke universitas terbaik? Karena kita tahu, belajar dari yang terbaik adalah satu-satunya cara untuk menjadi yang terbaik. Jika logika ini kita terapkan untuk urusan dunia, maka untuk urusan akhirat — yang jauh lebih kekal — mestinya kita jauh lebih serius memilih dari siapa kita belajar.

Hidup hanya sekali, dan hanya sebentar. Jangan sampai waktu yang terbatas ini habis tanpa kita pernah berinteraksi serius dengan ilmu terbaik dari ulama terbaik.


Penutup: Rahasia Keberkahan Itu Akan Dibahas

Pertanyaan yang tersisa adalah: apa konkretnya yang dilakukan Imam an-Nawawi sehingga Allah memberkahi hidupnya seperti itu? Kunci-kunci keberkahan itu akan dibahas pada pertemuan berikutnya — langsung dari penuturan para ulama dan murid-murid beliau sendiri, terutama al-Imam Ibnu al-Aththar rahimahullahu ta'ala.

Yang pasti, kunci-kunci itu bukan sesuatu yang mustahil untuk kita terapkan. Tidak perlu modal besar. Tidak perlu kondisi ideal. Buktinya, Imam an-Nawawi sendiri meraihnya justru di tengah kondisi yang serba terbatas.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk bisa mengambil pelajaran dari kehidupan beliau, dan semoga keberkahan itu juga mengalir ke dalam kehidupan kita.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 02: Berawal dari Keberkahan https://www.youtube.com/watch?v=4AdGaNVQt0c



Ringkasan Video: Rahasia di Balik Keberkahan Hidup

Video ini merupakan kelanjutan dari seri pembahasan kitab Riyadhush Shalihin. Berikut adalah poin-poin utamanya:

  1. Mengenal Penulis Kitab: Kitab Riyadhush Shalihin ditulis oleh Imam Yahya bin Syaraf bin Murry Abu Zakaria, yang lebih dikenal sebagai Imam an-Nawawi [04:43]. Beliau adalah tokoh besar dalam madzhab Syafi'i dan diakui sebagai "Mufti" bagi seluruh umat Islam karena kedalaman ilmunya [09:06].
  2. Pentingnya Belajar dari yang Terbaik: Islam mengajarkan kita untuk selalu belajar dari generasi terbaik (Para Sahabat, Tabi'in, dan ulama yang mengikuti jejak mereka) [11:34]. Imam an-Nawawi dikenal karena komitmennya mengikuti tradisi generasi salaf (terdahulu) dalam setiap karyanya [14:58].
  3. Fenomena Keberkahan Waktu: Imam an-Nawawi wafat dalam usia yang relatif muda (sekitar 45-46 tahun) [21:13]. Namun, dalam waktu sesingkat itu, beliau mampu menghasilkan sekitar 60 hingga 69 karya tulis yang hampir semuanya menjadi mahakarya (masterpiece) dunia, seperti Arbain Nawawiyah, Syarah Shahih Muslim, hingga Al-Majmu' [22:02].
  4. Hidup Keras Bukan Penghalang: Keberkahan hidup Imam an-Nawawi tidak lahir dari kemewahan. Sebaliknya, beliau menjalani kehidupan yang sangat keras, bahkan sering kali hanya makan sekali sehari dengan menu yang sangat sederhana [33:04, 36:38].
  5. Pintu Keberkahan di Masa Sulit: Di saat kondisi dunia sedang penuh keterbatasan (seperti krisis atau pandemi), kita diajak untuk "masuk dari pintu keberkahan" [33:56]. Jika pintu duniawi sedang menyempit, pintu keberkahan melalui ilmu dan amal tetap terbuka lebar bagi siapa saja yang mau meneladani kesabaran para ulama [39:42].


Posting Komentar

0 Komentar