Ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan dalam-dalam: bagaimana seseorang bisa menjadi seperti Imam an-Nawawi? Usia hanya 45 tahun, namun mewariskan puluhan karya yang masih dikaji jutaan orang hingga hari ini. Hidupnya keras, makannya sederhana, tapi ilmunya mengubah dunia. Apa rahasianya?
Jawabannya bukan terletak pada kecerdasan semata. Bukan pada fasilitas. Bukan pula pada kondisi yang serba mudah. Rahasianya adalah keberkahan — dan keberkahan itu berawal dari satu kunci utama yang akan kita bahas pada kesempatan ini.
Ilmu yang Sedikit tapi Menancap
Sebelum masuk ke kunci keberkahan, ada prinsip penting yang perlu kita pegang dalam belajar. Para ulama kita menyatakan:
"Sedikit tapi langgeng, sedikit tapi menancap, sedikit tapi berkesan dan merubah — itu lebih baik daripada banyak ilmu yang hanya meluber keluar dan akhirnya tidak memberikan manfaat sama sekali."
Terlalu banyak ilmu yang masuk sekaligus bisa membuat kita justru tidak memegang apa-apa. Yang terpenting bukan seberapa banyak atau seberapa komplit ilmu kita, tapi seberapa besar ilmu itu memberikan manfaat bagi kita di dunia dan di akhirat. Prinsip inilah yang hendaknya kita bawa sepanjang perjalanan mengkaji Riyadhus Shalihin.
Sosok yang Disebut "Sempurna" oleh Para Ulama
Al-Imam Ibnu Fadhlillah, salah satu ulama besar dalam Mazhab Syafi'i, memberikan penilaian yang sangat jarang diberikan kepada seseorang: beliau menyebut Imam an-Nawawi sebagai sosok yang sempurna — tentu saja dengan standar manusia, bukan maksum seperti para nabi.
Al-Imam as-Suyuthi menambahkan dengan ungkapan yang luar biasa: "Alimul Ubad — jika dibandingkan dengan para ulama yang lain, beliau adalah yang paling menonjol dari sisi ibadah. Dan jika dibandingkan dengan para ahli ibadah, beliau adalah yang paling menonjol dari sisi ilmu."
Artinya, beliau menggabungkan dua hal yang jarang bersatu dalam diri seseorang: ilmu yang sangat dalam sekaligus ibadah yang sangat kuat. Makanya para ulama menggelarinya Muhyiddin — Penghidup Agama.
Lalu al-Imam as-Suyuthi menambahkan sesuatu yang membuat kita berhenti sejenak: "Hadirnya Imam an-Nawawi di dunia ini membuktikan bahwa tidak sulit bagi Allah untuk mengumpulkan segala macam kebaikan di dalam diri seorang anak manusia — yang bukan nabi dan bukan rasul."
Kunci Pertama: Taufik dari Allah
Inilah kunci keberkahan yang pertama dan paling mendasar: Taufik dan Hidayah dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Al-Imam Ibnu Fadhlillah menyatakan bahwa Imam an-Nawawi "diberikan taufik untuk mencintai ilmu, memiliki ilmu, dan dimudahkan jalannya untuk sampai kepada ilmu tersebut."
Perhatikan tiga hal ini: diberikan kecintaan, diberikan taufik, lalu dimudahkan jalannya. Betapa banyak orang yang cinta kepada ilmu, tapi susah sekali mendapatkannya. Susah ketemu guru, tidak ada akses, tidak ada fasilitas. Namun Imam an-Nawawi diberikan ketiganya sekaligus — dan itu semua adalah pemberian dari Allah, bukan hasil usahanya semata.
Tanda Taufik itu Terlihat Sejak Usia 10 Tahun
Taufik Allah kepada Imam an-Nawawi sudah terlihat sangat jelas sejak beliau kecil. Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh dari masa kecil beliau.
Ketika Imam an-Nawawi berusia 10 tahun, teman-teman sepantarannya mengajaknya bermain. Mereka bahkan memaksanya ikut. Tapi si Yahya kecil — demikian nama beliau — berusaha melarikan diri dari ajakan itu. Bukan dengan marah, bukan dengan sombong. Ia lari sambil menangis, sambil terus membaca Al-Qur'an.
Ia menangis karena dipaksa meninggalkan Al-Qur'an. Di usia 10 tahun.
Pemandangan inilah yang disaksikan oleh seorang ulama besar bernama Syaikh Yasin bin Yusuf. Melihat anak kecil itu, spontan dalam hatinya muncul rasa kagum dan sayang yang luar biasa. Beliau kemudian mendatangi guru ngaji Imam an-Nawawi dan berkata:
"Anak ini — insya Allah — akan menjadi orang paling alim di masanya, yang paling zuhud, dan seluruh manusia akan mendapatkan manfaat darinya."
Guru ngajinya terkejut. "Kamu ini dukun?" tanyanya. Syaikh Yasin bin Yusuf menjawab: "Bukan. Tapi Allah yang menggerakkan lisanku untuk bicara demikian." Itu adalah firasat orang shaleh — dan para ulama menjelaskan bahwa firasat orang-orang bertakwa itu nyata adanya.
Syaikh Yasin kemudian mendatangi ayah Imam an-Nawawi di pasar dan menceritakan hal yang sama. Sang ayah — Pak Syaraf — menangkap pesan itu dengan serius. Ia benar-benar menjaga dan mengawal anaknya hingga Imam an-Nawawi berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an sebelum akil baligh.
Taufik Itu Bisa Diminta oleh Siapa Saja
Inilah poin yang paling penting untuk kita camkan: taufik yang diberikan Allah kepada Imam an-Nawawi bukan eksklusif milik beliau seorang.
Allah tidak pernah menutup pintu taufik-Nya. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 186, Allah berfirman:
"Apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, katakanlah: Aku dekat. Aku kabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Ku ketika mereka berdoa. Maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk."
Al-Imam Tajuddin as-Subki mencatat tentang Imam an-Nawawi: "Allah senantiasa memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada Imam an-Nawawi sepanjang hidupnya, sehingga beliau terus berjalan di atas jalan Ahlussunnah wal-Jamaah."
Pertanyaannya: apakah Allah hanya menawarkan ini kepada Imam an-Nawawi saja? Tidak. Allah menawarkan hal yang sama kepada kita semua. Kepada siapa pun yang mau berdoa, meminta, dan kembali kepada-Nya.
Pelajaran untuk Kita di Hari-Hari Sulit Ini
Kondisi kita hari ini mungkin berat. Banyak yang kehilangan pekerjaan, penghasilan menurun, mobilitas terbatas. Tapi justru di sinilah relevansi pelajaran ini sangat kuat.
Jangan pernah pesimis. Jangan pernah malas berdoa. Mintalah kepada Allah agar kita diberikan taufik — kecintaan terhadap ilmu, kemudahan dalam mengamalkannya, dan kesabaran dalam menjalani hari-hari yang tidak mudah ini.
Imam an-Nawawi pun hidupnya keras. Di sebagian fase kehidupannya, beliau hanya makan satu kali sehari. Tapi beliau tidak kehilangan imannya, tidak kehilangan semangatnya, dan tidak berhenti menuntut ilmu. Mengapa? Karena beliau terus meminta taufik dari Allah, dan Allah terus memberikannya.
Kita yang saat ini menghadapi kesulitan pun bisa meminta hal yang sama. Pintunya tidak pernah tertutup. Allah sendiri yang menjanjikan: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan." — Surah Ghafir ayat 60.
Penutup: Kunci Selanjutnya Akan Segera Dibahas
Taufik dari Allah adalah kunci pertama keberkahan Imam an-Nawawi. Namun tentu saja ada kunci-kunci lainnya — hal-hal konkret yang beliau lakukan dalam kehidupan sehari-harinya, yang langsung diceritakan oleh murid-murid dan para ulama yang mengenal beliau.
Kunci-kunci itu bukan hal yang mustahil untuk kita terapkan. Tidak butuh modal besar. Tidak butuh kondisi yang sempurna. Dan yang terpenting — semua itu bisa dimulai hari ini, di tengah kondisi kita yang serba terbatas sekalipun.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk bisa mengambil ibroh dari perjalanan hidup Imam an-Nawawi, dan semoga keberkahan itu juga mengalir dalam kehidupan kita.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 03: Kunci-Kunci Keberkahan #1 Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=hHn8Od5_oqs
Ringkasan Video: Menelusuri Jejak Keberkahan yang Abadi
Video ini merupakan bagian ketiga dari seri kajian Riyadhush Shalihin yang mendalami rahasia di balik sosok fenomenal di dunia Islam. Berikut adalah poin-poin utamanya:
- Pentingnya Ilmu yang Bermanfaat: Ilmu bukan sekadar soal seberapa banyak atau lengkapnya, melainkan seberapa besar ia memberikan manfaat dan perubahan positif dalam diri kita [
]. Lebih baik sedikit ilmu yang menancap kuat dan diamalkan daripada banyak ilmu yang hanya menguap tanpa bekas [01:54 ].02:26 - Jaminan Menjadi Orang Shaleh: Terdapat kutipan ulama besar yang menyatakan bahwa barangsiapa yang dengan ikhlas mengikuti langkah-langkah dalam kurikulum Riyadhush Shalihin, ia akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang shaleh di sisi Allah [
].08:27 - Kunci Utama Keberkahan: Taufik dari Allah: Kehebatan seorang tokoh bukan semata karena kerja kerasnya, melainkan karena Taufik—yaitu pertolongan dan bimbingan langsung dari Allah [
]. Allah-lah yang menumbuhkan kecintaan pada ilmu dan memudahkan jalannya [23:04 ].24:44 - Firasat dan Kecintaan Sejak Dini: Dikisahkan bagaimana tanda-tanda kebesaran seorang calon ulama terlihat sejak usia 10 tahun. Di saat anak-anak lain sibuk bermain, ia justru menangis karena dipaksa bermain dan lebih memilih untuk terus membaca serta menjaga hafalan Al-Qur'annya [
].31:02 - Optimisme di Masa Sulit: Keberkahan yang diberikan Allah kepada para ulama terdahulu juga ditawarkan kepada kita semua hari ini [
]. Allah itu dekat dan selalu mengabulkan doa hambanya yang meminta Taufik, kesabaran, dan kemudahan di masa-masa sulit [47:01 ].43:03
0 Komentar