Pada kajian sebelumnya, kita telah membahas kunci keberkahan yang pertama dari kehidupan Imam an-Nawawi: Taufik dan Hidayah dari Allah subhanahu wa ta'ala. Kali ini kita akan membahas kunci yang kedua — sesuatu yang sering kita remehkan, namun ternyata memiliki peran yang sangat besar dalam melahirkan seorang Imam an-Nawawi: peran seorang ayah yang shaleh.
Ilmu itu Bukan Soal Banyak atau Sedikit
Sebelum masuk ke inti pembahasan, ada pengingat penting dari para ulama kita. Belajar itu bukan soal seberapa banyak ilmu yang kita tumpuk. Yang terpenting adalah bagaimana ilmu itu menancap, berkesan, dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan kita. Sedikit tapi menancap, lebih baik daripada banyak tapi meluber tanpa bekas.
Prinsip ini penting kita pegang, terutama di hari-hari seperti ini, ketika kita memiliki lebih banyak waktu untuk belajar namun juga lebih banyak distraksi yang mengalihkan perhatian.
Kunci Kedua: Seorang Ayah yang Shaleh
Imam an-Nawawi rahimahullahu ta'ala tumbuh bukan hanya karena Taufik dari Allah, tapi juga karena ia memiliki seorang ayah yang luar biasa. Para ulama yang menulis biografi beliau menyebutkan beberapa hal penting tentang sang ayah — Syaraf, ayahanda Imam an-Nawawi.
Pertama, ayahnya adalah orang shaleh yang rajin beribadah. Ketaqwaan seorang ayah bukan sekadar urusan pribadinya. Ia menular, ia menjadi atmosfer yang dihirup oleh seluruh anggota keluarga. Ketenangan, keyakinan, dan rasa dekat dengan Allah yang dimiliki seorang ayah yang bertaqwa akan meresap ke dalam jiwa anak-anaknya — bahkan sebelum si anak menyadarinya.
Kedua, ayahnya menjaga keluarganya dari harta yang haram. Sang ayah memiliki toko, namun beliau betul-betul menjaga agar tidak ada satu sen pun dari harta haram yang masuk ke dalam nafkah keluarganya. Ini bukan hal kecil. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surah Al-Mu'minun ayat 51:
"Wahai para rasul, makanlah dari yang baik dan halal, dan beramallah yang shaleh."
Para ulama seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ada hubungan langsung antara makanan yang halal dengan kualitas dan kuantitas amal ibadah seseorang. Anak yang diberi makan dari harta halal akan berbeda dengan anak yang tumbuh dari harta yang meragukan.
Ketiga, ayahnya mendukung penuh perjalanan ilmu anaknya. Masih ingat kisah Syaikh Yasin bin Yusuf yang melihat Nawawi kecil kabur dari teman-temannya sambil menangis sambil membaca Al-Qur'an? Setelah Syaikh Yasin menyampaikan hal itu kepada sang ayah, ayahnya langsung berubah. Beliau mendampingi anaknya dengan sungguh-sungguh hingga Imam an-Nawawi berhasil mengkhatamkan dan menghafal Al-Qur'an sebelum akil baligh.
Bukan sekadar memberi uang saku lalu merasa sudah selesai. Sang ayah hadir — mendampingi, memastikan, dan mengarahkan.
Dari Nawa ke Damaskus: Keputusan Besar Seorang Ayah
Ketika Imam an-Nawawi berusia 19 tahun, sang ayah membawa beliau ke Damaskus — kota ilmu saat itu — dan mendaftarkannya di Madrasah Ruhiyah. Biayanya ditanggung sang ayah. Perjalanannya pun ditemani sang ayah.
Bahkan dikisahkan bahwa ketika Imam an-Nawawi menunaikan ibadah haji, ia berangkat bersama ayahnya. Dan ketika di perjalanan haji beliau sakit hingga hari Arafah, sang ayah tetap ada di sisinya.
Inilah figur ayah yang membuka jalan bagi lahirnya seorang Imam an-Nawawi. Ia tahu ke mana harus membawa anaknya. Ia tahu kepada siapa anaknya harus berguru. Dan ia tidak membiarkan urusan toko dan dunia menyita waktu anaknya dari Al-Qur'an dan ilmu.
Ketika Anak Dibawa ke Toko, Tapi Al-Qur'an Tetap di Tangannya
Ada satu detail kecil yang sangat bermakna dari kisah ini. Sang ayah memang sering membawa Imam an-Nawawi ke tokonya. Tapi ia tidak menyibukkan anaknya dengan urusan jual-beli. Si anak tetap dekat dengan Al-Qur'an, bahkan di dalam toko sekalipun.
Mungkin ada tujuan di baliknya — agar si anak mengenal kehidupan, belajar melihat karakter manusia, memahami dinamika dunia. Tapi prioritasnya tidak bergeser: Al-Qur'an tetap yang utama.
Bandingkan dengan kondisi hari ini. Betapa banyak anak yang dibawa ke sana ke sini oleh orang tuanya, namun justru semakin menjauh dari Al-Qur'an. Bukan karena anaknya tidak mau — tapi karena atmosfer yang dibangun di rumah tidak mendukung ke sana.
Renungan untuk Para Ayah
Di hari-hari yang tidak mudah ini, ketika banyak dari kita lebih banyak berada di rumah, ada sebuah pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri:
Sudahkah kita menjadi ayah yang sesungguhnya?
Bukan sekadar ayah secara biologis. Bukan sekadar ayah yang mencari nafkah. Tapi ayah yang menjadi pemimpin — yang mengarahkan, yang menenangkan, yang punya visi ke mana keluarganya akan dibawa.
Nabi ﷺ bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya." — HR. Bukhari dan Muslim.
Dan dalam sabda yang lain: "Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia akan ditanya tentang mereka."
Ketika kondisi sulit seperti ini datang, seluruh keluarga membutuhkan figur pemimpin. Istri dan anak-anak butuh sosok yang bisa menenangkan, yang punya ilmu, yang bisa mengarahkan — bukan figur yang panik duluan dan menjadi sumber kekhawatiran baru.
Renungan untuk Para Ibu
Bagi para ibu — baik yang sudah punya anak maupun yang belum — ada pelajaran penting di sini juga.
Dukung suami untuk menjadi ayah yang sesungguhnya. Dorong beliau untuk memimpin. Jangan melemahkan otoritasnya di depan anak-anak, karena itu hanya akan membuat rumah tangga semakin rapuh di tengah ujian.
Dan bagi yang belum menikah: dalam memilih calon suami, jangan hanya mempertimbangkan tampan atau hartanya. Carilah laki-laki yang punya kemampuan memimpin — yang mengerti konsep, yang punya visi, yang tahu ke mana ia akan membawa keluarganya. Sebagaimana ayah Imam an-Nawawi tahu bahwa anaknya harus dibawa ke Damaskus, ke madrasah, ke para ulama.
Jaga Makanan yang Halal, Terutama di Masa Sulit
Kunci yang berkaitan erat dengan peran ayah ini adalah menjaga nafkah dari yang halal. Di masa-masa sulit seperti ini, godaan untuk mencari jalan pintas yang meragukan bisa datang kapan saja. Ingat: keberkahan anak kita tidak bisa dipisahkan dari kehalalan apa yang kita suapkan ke mulut mereka.
Imam an-Nawawi — yang hidupnya keras, yang kadang hanya makan sekali di malam hari — tumbuh dari nafkah yang halal. Dan lihat hasilnya: ilmunya mengubah dunia.
Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar kemampuannya. Pintu-pintu rezeki yang halal tidak pernah benar-benar tertutup bagi mereka yang bertawakkal dengan sungguh-sungguh. Nabi ﷺ bersabda:
"Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung — yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." — HR. Tirmidzi
Penutup: Rantai Keberkahan yang Tidak Boleh Putus
Imam an-Nawawi menjadi siapa yang ia jadikan bukan dalam ruang hampa. Ada Allah yang memberinya Taufik. Ada ayah yang memberinya arah. Ada guru yang memberinya ilmu. Ada lingkungan yang mendukungnya berkembang.
Kita mungkin tidak bisa mencetak seorang Imam an-Nawawi. Tapi kita bisa membangun rantai keberkahan yang sama — dimulai dari rumah kita, dari peran kita sebagai ayah, sebagai suami, sebagai orang tua — agar generasi berikutnya tumbuh lebih dekat dengan Allah, lebih kuat imannya, dan lebih bermanfaat bagi umat.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk bisa mengambil ibroh dari perjalanan hidup Imam an-Nawawi dan para ulama yang mengikuti jejak beliau.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 04: Kunci-Kunci Keberkahan #2
Muhammad Nuzul Dzikri - https://www.youtube.com/watch?v=ub79GhZ01NM
Ringkasan Video: Peran Orang Tua dan Integritas dalam Keberkahan
Video ini melanjutkan pembahasan mengenai rahasia keberkahan hidup Imam an-Nawawi, dengan fokus pada faktor eksternal dan prinsip hidup. Berikut adalah poin-poin utamanya:
- Keberkahan Karya yang Melintasi Zaman: Karya Imam an-Nawawi, seperti Riyadhush Shalihin, tetap relevan dan dicintai umat selama ratusan tahun. Hal ini bukan sekadar karena kepintaran, melainkan karena Taufik dari Allah yang membuat karyanya diterima secara luas [
].03:35 - Pintu Taufik Tetap Terbuka: Taufik (bimbingan Allah) adalah kunci kesuksesan para ulama. Kabar baiknya, pintu Taufik ini tidak pernah tertutup bagi siapa pun yang mau bersungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya dan memohon dengan tulus [
].11:10 - Peran Vital Sosok Ayah: Keberhasilan Imam an-Nawawi tidak lepas dari dukungan ayahnya yang shaleh. Sang ayah tidak hanya memberikan nafkah, tetapi juga mendampingi langsung proses belajar anaknya, mengarahkan ke guru-guru terbaik, dan memastikan anak tetap fokus pada ilmu meskipun sedang berada di lingkungan bisnis (toko) [
,17:52 ].23:29 - Menjaga Kehalalan Makanan: Salah satu rahasia besar keberkahan anak adalah ketegasan orang tua dalam menjaga makanan dari harta haram. Makanan halal berpengaruh langsung pada kualitas amal dan ketaatan seseorang [
,18:36 ].44:50 - Kepemimpinan dalam Keluarga: Di masa sulit, keluarga membutuhkan figur pemimpin (ayah/suami) yang tenang, berilmu, dan mampu memberikan arah yang benar. Kesulitan hidup Imam an-Nawawi (yang terkadang hanya makan sekali sehari) membuktikan bahwa keterbatasan materi bukan penghalang untuk menjadi pribadi yang luar biasa [
,31:20 ].47:46
0 Komentar