Kita telah membahas dua kunci keberkahan Imam an-Nawawi: Taufik dari Allah dan peran seorang ayah yang shaleh. Kali ini kita akan membahas dua kunci berikutnya yang tidak kalah pentingnya — bahkan keduanya sangat relevan untuk kita terapkan hari ini juga: berguru dengan benar dan menjaga waktu.
Kunci Ketiga: Guru
Imam an-Nawawi sendiri pernah berkata tentang pentingnya guru:
"Sesungguhnya guru seseorang dalam ilmu ini adalah orang tua dalam agama."
Ini bukan sekadar ungkapan indah. Ini adalah kaedah yang dibangun di atas sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya aku ini kedudukannya seperti ayah bagi kalian — aku mengajarkan dan mendidik kalian." — HR. Abu Daud.
Para ulama menyimpulkan dari sini bahwa orang tua ada dua: orang tua kandung yang melahirkan kita ke dunia, dan orang tua agama yang membawa kita ke akhirat. Dan orang tua agama itu adalah guru kita. Bahkan sebagian ulama mengatakan orang tua agama lebih tinggi kedudukannya, karena orang tua kandung mengajarkan dunia, sedangkan guru mengajarkan jalan menuju akhirat.
Guru adalah jembatan antara kita dan Allah. Seorang yang awam tidak bisa begitu saja mendekat kepada Allah tanpa bimbingan, khususnya di awal-awal perjalanannya. Kita butuh seseorang yang menunjukkan jalan, meluruskan pemahaman, dan mengingatkan ketika kita menyimpang.
Jejak Perjalanan Guru Imam an-Nawawi
Perjalanan ilmu Imam an-Nawawi adalah perjalanan dari satu guru ke guru berikutnya, terus menerus tanpa berhenti. Dimulai dari Syaikh Yasin bin Yusuf yang pertama kali melihat potensi luar biasa dalam diri Nawawi kecil. Lalu dibawa ke Damaskus, bertemu dengan Jamaludin Abdul Kafiy, yang kemudian mengarahkannya kepada al-Imam Tajuddin. Dari al-Imam Tajuddin, diarahkan lagi kepada al-Imam Kamaludin Ishaq bin Ahmad al-Maghribi, yang ia dampingi selama bertahun-tahun.
Tentang gurunya yang satu ini, Imam an-Nawawi berkata: "Aku mendampingi guruku karena beliau melihat betapa semangatnya aku. Aku tidak suka menghabiskan waktu berkumpul dalam keramaian yang tidak bermanfaat."
Dan bagaimana adab beliau kepada gurunya? Beliau menyiapkan air untuk wudhu gurunya. Beliau berkhidmat — melayani gurunya — bukan karena terpaksa, tapi karena tahu itulah kunci mendapatkan ilmu yang berkah. Gurunya pun membalas dengan kasih sayang yang besar: "Guruku sayang sekali kepadaku, dan karena itulah beliau mengajarkan banyak hal kepadaku."
Adab kepada Guru: Kunci yang Sering Dilupakan
Imam an-Nawawi sendiri mengajarkan empat hal yang harus dilakukan seorang murid kepada gurunya:
Pertama, doakan guru. Doakan dalam sujud, di sepertiga malam terakhir, di Arafah jika berhaji, di antara safa dan marwa jika bertawaf. Kapanpun ada kesempatan, sebut nama guru kita dalam doa kita.
Kedua, berbuat baik kepada guru. Apapun yang bisa kita lakukan untuk mereka, lakukanlah. Tapi ingat — seberapapun yang kita beri, tidak akan pernah bisa membalas jasa mereka. Al-Imam Abu Hanifah pernah berkata kepada guru anaknya: "Maafkan aku, aku tidak bisa membalas jasamu. Satu huruf yang kau ajarkan kepada anakku itu nilainya lebih tinggi dari dunia dan seisinya."
Ketiga, ingat dan pujilah jasa guru. Jangan lupakan kebaikan mereka. Sebutkan jasa-jasa mereka, ceritakan kebaikan mereka di depan maupun di belakang. Ini adalah bentuk syukur — dan Allah berjanji dalam Surah Ibrahim ayat 7: "Jika kalian bersyukur, Aku akan tambah nikmat-Ku."
Keempat, bersyukur kepada mereka. Nabi ﷺ bersabda: "Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia." Salah satu bentuk syukur kita kepada Allah adalah bersyukur kepada guru yang telah Allah kirimkan untuk membimbing kita.
Al-Imam al-Mawardi mengatakan: "Jika kalian ingin mendapatkan ilmu dan manfaat sebesar-besarnya dari guru, maka muliakanlah mereka."
Manusia Hidup dengan Gurunya
Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: "Manusia itu hidup dengan gurunya. Kalau gurunya hilang, dengan siapa lagi mereka hidup?"
Lihatlah contoh paling nyatanya: mengapa para sahabat menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah? Karena guru mereka adalah Rasulullah ﷺ, manusia terbaik. Mengapa para tabi'in menjadi generasi terbaik kedua? Karena guru mereka adalah para sahabat. Mengapa atba'ut tabi'in berada di urutan ketiga terbaik? Karena guru mereka adalah para tabi'in.
Kualitas generasi berbanding lurus dengan kualitas guru mereka. Ini bukan kebetulan — ini adalah sunnatullah yang berlaku dari generasi ke generasi.
Kunci Keempat: Menjaga Waktu
Inilah kunci keberkahan Imam an-Nawawi yang keempat, dan mungkin yang paling mengejutkan kita: beliau menjaga waktunya dengan luar biasa ketat.
Imam as-Suyuthi mencatat: "Imam an-Nawawi tidak pernah membuang waktunya walaupun sesaat — untuk sesuatu yang bukan ketaatan kepada Allah."
Sesaat. Sedetik. Bukan hanya jam, bukan hanya menit.
Dua tahun tanpa rebahan. Imam an-Nawawi sendiri bercerita: "Aku menghabiskan dua tahun di Damaskus dan aku tidak pernah meletakkan sisi tubuhku ke atas permukaan tanah." Artinya, dua tahun penuh beliau tidak pernah rebahan dengan sengaja. Kalau tidur pun, karena sudah benar-benar tidak kuat — ketiduran sambil duduk, lalu bangun lagi dan belajar lagi.
Dua belas kajian setiap hari. Imam as-Suyuthi mencatat bahwa setiap harinya Imam an-Nawawi membaca 12 pelajaran di hadapan guru-gurunya — dari berbagai disiplin ilmu: fikih, hadits, bahasa Arab, nahwu, ushul fikih, dan lainnya. Dan setelah itu? Beliau tidak langsung istirahat. Beliau murojaah — mengulang kembali, membuat catatan, mengingat hal-hal yang belum dipahami, lalu mengamalkannya.
Bandingkan dengan kita: kajian seminggu sekali pun sering tidak kita murojaah. Pelajaran minggu lalu saja sudah lupa ketika ustaz bertanya pekan berikutnya.
Waktu di perjalanan pun tidak disia-siakan. Ketika berjalan dari satu tempat ke tempat lain, beliau sambil muroja'ah hafalan atau mengulang pelajaran yang baru didapat. Tidak ada waktu kosong. Tidak ada perjalanan yang dilewatkan begitu saja.
Waktu Lebih Mahal dari Uang
Kita sering mendengar ungkapan "time is money". Tapi itu bukan konsep kita sebagai Muslim. Konsep kita jauh lebih tinggi dari itu.
Al-Imam Ibnu Qayyim dan al-Imam Yahya bin Mu'adz mengatakan: "Menyia-nyiakan waktu itu lebih berbahaya dan lebih fatal daripada kematian."
Mengapa bisa lebih fatal dari kematian? Karena menyia-nyiakan waktu akan membuat kita gagal mendapatkan ridha Allah dan gagal di akhirat. Sedangkan kematian hanya memisahkan kita dari dunia — dan itu justru jalan menuju Allah. Maka yang paling mengerikan bukan kematian itu sendiri, melainkan datangnya kematian sementara kita belum mempersiapkan bekal yang cukup.
Al-Hasan al-Bashri berkata: "Aku pernah bertemu dengan generasi orang-orang yang menjaga waktunya melebihi semangat kalian menjaga uang dan harta kalian."
Kita beli brankas untuk menjaga uang. Kita kejar copet yang mengambil dompet kita. Tapi ketika waktu kita dicuri — oleh hiburan yang tidak bermanfaat, oleh obrolan yang tidak jelas, oleh scroll media sosial berjam-jam — kita diam saja. Bahkan kita yang mempersilakan waktu itu pergi.
Waktu Akan Menjadi Saksi di Hari Kiamat
Allah berfirman dalam Surah Fathir ayat 37 — ketika orang-orang yang dimasukkan ke neraka berteriak meminta dikembalikan ke dunia agar bisa beramal shaleh, Allah menjawab:
"Bukankah Kami sudah memberikan kalian umur yang cukup bagi orang yang mau mengambil pelajaran? Dan sudah datang kepada kalian pemberi peringatan?"
Allah sudah memberi waktu. Cukup. Yang kurang bukan waktu — yang kurang adalah kesungguhan kita dalam memanfaatkannya.
Qatadah ketika menjelaskan ayat ini berkata: "Ketahuilah, waktu itu akan menjadi hujjah pada hari kiamat — bisa menjadi saksi yang membelamu, atau bumerang yang menusukmu."
Pesan untuk Kita di Hari-Hari Ini
Hari-hari ini, ketika banyak dari kita lebih banyak berada di rumah, ketika mobilitas terbatas, ketika sebagian dari kita bahkan kehilangan pekerjaan — waktu yang kita punya justru lebih banyak dari biasanya.
Ini adalah nikmat yang mahal. Jangan sia-siakan.
Imam an-Nawawi makan hanya sekali sehari. Ia tidak mengeluh kekurangan. Ia tidak larut dalam kesedihan. Yang ia lakukan adalah mengisi waktunya: 12 kajian sehari, murojaah, berkhidmat kepada guru, shalat, membaca Al-Qur'an, berpuasa, dan menulis. Hasilnya — karya-karyanya masih kita baca dan kita kaji hingga hari ini, hampir delapan abad kemudian.
Kita yang kajiannya sekali sehari saja belum tentu istiqomah, kita yang makan tiga kali sehari dengan lauk yang lengkap — apa yang akan kita tinggalkan?
Mulailah sekarang. Bergurulah. Jaga waktu. Isi hari-hari ini dengan ilmu dan amal. Karena Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya:
"Barangsiapa yang bersungguh-sungguh di atas jalan Kami, Kami akan berikan petunjuk kepada jalan Kami." — QS. Al-Ankabut: 69.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk meneladani Imam an-Nawawi dalam berguru dan menjaga waktu. Dan semoga hari-hari kita yang tersisa menjadi hari-hari yang berkah, penuh ilmu dan amal yang bermanfaat.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 05: Kunci-Kunci Keberkahan #3 Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=VqGFjLFYfX4
Ringkasan Video: Meneladani Manajemen Waktu dan Adab kepada Guru
Video ini merupakan bagian ketiga yang mengupas rahasia di balik keberkahan hidup Imam an-Nawawi, penulis kitab legendaris Riyadhush Shalihin. Berikut adalah poin-poin utamanya:
- Guru sebagai Orang Tua Spiritual: Pentingnya peran guru dalam membimbing seseorang menuju jalan yang benar. Guru adalah "ayah" dalam urusan agama yang menjembatani hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta [
].10:46 - Adab dan Khidmat kepada Guru: Kunci keberkahan ilmu terletak pada adab. Imam an-Nawawi sangat menghormati, mendoakan, dan melayani guru-gurunya. Beliau bahkan terbiasa menyiapkan air wudhu untuk gurunya sebagai bentuk pengabdian (khidmat) [
,13:26 ].23:35 - Manajemen Waktu yang Ekstrem: Imam an-Nawawi dikenal sangat menjaga waktu. Selama dua tahun pertama menuntut ilmu di Damaskus, beliau tidak pernah sengaja merebahkan tubuhnya untuk tidur; beliau hanya tidur sejenak saat benar-benar kelelahan sambil tetap duduk atau belajar [
,40:10 ].41:12 - Kapasitas Belajar yang Luar Biasa: Dalam sehari, beliau menghadiri dan mempelajari 12 pelajaran (kajian) dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari hadis, fiqih, hingga bahasa. Setelah itu, beliau masih menyempatkan diri untuk mengulang (murojaah) dan mencatat poin-poin penting [
,48:48 ].52:17 - Waktu Lebih Berharga daripada Harta: Menyia-nyiakan waktu dianggap lebih fatal daripada kematian. Kematian hanya memisahkan manusia dari dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu memisahkan manusia dari kebenaran dan ridha Allah [
,01:01:02 ].01:02:49 - Peluang di Masa Sulit: Di masa-masa ketika aktivitas duniawi melambat, ini adalah kesempatan emas untuk mengevaluasi diri, memperbanyak ibadah, dan menuntut ilmu. Waktu yang Allah berikan akan menjadi saksi (hujjah) bagi kita di masa depan [
,01:06:43 ].01:07:32
0 Komentar