Setelah kita mengenal sosok Imam an-Nawawi dan kunci-kunci keberkahan beliau, tibalah saatnya kita membuka kitab Riyadhus Shalihin itu sendiri. Dan ternyata, pelajaran pertama yang kita dapatkan bukan dari isi kitabnya — melainkan dari cara Imam an-Nawawi memulai kitab tersebut. Sebuah pelajaran yang jika kita hayati dengan sungguh-sungguh, bisa mengubah cara kita memandang seluruh kehidupan ini.
Kitab yang Namanya Sesuai Kenyataannya
Al-Imam as-Suyuthi pernah berkata: "Barangsiapa yang mengikuti jejak langkah Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, maka ia akan berkumpul bersama orang-orang shaleh di sebuah taman yang mata airnya mengalir."
Al-Imam Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, pakar fikih besar abad ke-20, juga menyatakan bahwa kandungan dan kenyataan buku ini benar-benar seperti namanya — Riyadhus Shalihin, Taman Orang-Orang Shaleh.
Al-Imam adz-Dzahabi bahkan merekomendasikan kitab ini sebagai salah satu dari sedikit buku yang wajib dipelajari oleh siapapun yang ingin istiqomah dan menjadi orang yang lebih baik — setelah Al-Qur'an al-Karim. Dan seorang ulama abad ke-10 Hijriyah mengatakan: "Riyadhus Shalihin adalah buku mulia yang dibutuhkan oleh setiap muslim."
Empat Hal Pembuka: Budaya Para Ulama
Imam an-Nawawi membuka Riyadhus Shalihin dengan empat hal — dan ini bukan kebiasaan beliau seorang. Ini adalah budaya seluruh ulama dalam menulis kitab. Para ulama sepakat — bahkan sampai tahap ijma' — bahwa memulai sebuah karya dengan empat hal ini sangat dianjurkan:
Pertama: Basmalah — Bismillahirrahmanirrahim
Kedua: Hamdalah — memuji Allah subhanahu wa ta'ala
Ketiga: Syahadatain — Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah
Keempat: Shalawat dan salam kepada Nabi ﷺ
Ijma' para ulama bukan sesuatu yang lahir dari kebetulan. Ketika semua ulama dari berbagai zaman dan mazhab sepakat pada satu perkara, itu adalah sinyal bahwa perkara tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi dalam agama kita.
Basmalah: Simbol Ketergantungan Kepada Allah
Di antara empat hal itu, para ulama paling menekankan basmalah. Dan ada alasannya yang sangat dalam.
Ketika kita mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, artinya kita sedang meminta dua hal kepada Allah: pertolongan dan keberkahan. Kata bi dalam basmalah mengandung makna memohon pertolongan kepada Allah agar Dia tolong kita, berkahi kita, dan mudahkan segala urusan kita.
Inilah pengakuan yang paling jujur dari seorang hamba: "Ya Allah, aku lemah. Aku tidak mampu tanpa-Mu. Aku butuh pertolongan-Mu dan keberkahan-Mu."
Nabi ﷺ bersabda: "Setiap perkara yang baik yang tidak dimulai dengan bismillah, maka ia terputus dari keberkahan."
Lihatlah Imam an-Nawawi — beliau memulai Riyadhus Shalihin dengan basmalah bukan sekadar formalitas. Beliau melakukannya dari lubuk hati yang paling dalam, karena kita sudah tahu bagaimana beliau selalu menjaga hatinya. Hasilnya? Kitab itu berkah luar biasa, dibaca dan dikaji oleh jutaan manusia selama hampir delapan abad.
Sedangkan kita? Seringkali mengucap basmalah hanya dengan lisan, bahkan kadang disingkat, terburu-buru, sambil memegang gadget. Lalu kita heran mengapa hidup kita terasa tidak berkah.
Hamdalah: Simbol Rasa Syukur
Setelah basmalah, Imam an-Nawawi mengucapkan hamdalah — memuji Allah dengan panjang dan sungguh-sungguh. Ini adalah simbol rasa syukur yang tulus.
Allah berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7: "Jika kalian bersyukur, Aku akan tambah nikmat-Ku."
Ketika Imam an-Nawawi memulai kitabnya dengan alhamdulillahil wahidil Qahhar..., beliau sedang menyatakan dengan tegas: segala pujian hanya milik Allah. Bukan milikku. Kalau ada manfaat dari buku ini, yang berhak dipuji adalah Allah, bukan aku.
Ini bukan sekadar kata-kata pembuka. Ini adalah keyakinan yang beliau hidup-hidupkan — terbukti dari sikapnya yang menolak gelar Muhyiddin karena takut merusak keikhlasannya.
Bandingkan dengan kita yang mengucapkan alhamdulillah puluhan kali sehari, tapi begitu kesulitan datang langsung protes kepada takdir Allah. Kita memuji Allah saat sholat, tapi mengeluh terhadap kondisi yang Allah tetapkan begitu sholat selesai. Hamdalah kita hanya di bibir, belum sampai ke hati.
Syahadatain: Kembali ke Titik Paling Mendasar
Dengan mengucapkan syahadatain di awal kitabnya, Imam an-Nawawi menegaskan dua hal yang paling fundamental:
Pertama: Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Karya ini, ilmu ini, seluruh ikhtiar ini — semuanya hanya untuk Allah. Bukan untuk panggung, bukan untuk pujian, bukan untuk materi.
Kedua: Muhammad ﷺ adalah hamba dan rasul Allah. Bukan lebih dari itu. Kita memuliakan beliau sebagai manusia paling berjasa kepada kita, tapi kita tidak mengangkat beliau melebihi kedudukannya sebagai hamba yang beribadah kepada Allah.
Ini adalah pondasi dari seluruh bangunan kitab Riyadhus Shalihin.
Shalawat: Adab kepada Nabi ﷺ
Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali."
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, kita akan sangat sering bertemu dengan hadits-hadits Nabi ﷺ. Setiap kali nama Rasulullah ﷺ disebut dan menyapa telinga kita, bershalawatlah. Karena Nabi ﷺ bersabda bahwa orang yang mendengar namanya disebut lalu tidak bershalawat adalah orang yang bakhil — pelit. Jangan sampai kita termasuk ke dalamnya.
Inti Mukadimah: Mengapa Kitab Ini Ditulis
Setelah empat hal pembuka itu, Imam an-Nawawi menjelaskan gambaran global dari Riyadhus Shalihin. Dan titik tolaknya adalah satu ayat yang sangat agung — Surah adz-Dzariyat ayat 56:
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."
Inilah alasan mengapa kitab ini ditulis. Karena tujuan penciptaan kita adalah ibadah, maka kita butuh ilmu untuk bisa beribadah dengan benar. Riyadhus Shalihin hadir sebagai sarana — bukan untuk membuat penulisnya terkenal, bukan untuk menghasilkan uang, bukan untuk pamer keilmuan — melainkan semata-mata sebagai jalan menuju ibadah yang lebih baik kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Dan inilah yang membuat kitab ini begitu berkah sampai hari ini.
Ketika Tujuan Hidup Itu Jelas, Kita Tidak Akan Kecewa
Ada analogi yang sangat sederhana dan mengena. Bayangkan kita pergi ke rumah makan Padang dengan tujuan makan rendang. Begitu masuk, ternyata rendang habis. Kita kecewa.
Tapi kalau tujuan kita ke sana adalah makan ayam goreng dan tunjang, lalu disampaikan bahwa rendang habis — kita tidak akan kecewa, karena tujuan kita bukan rendang.
Kita kecewa ketika tujuan kita tidak terwujud. Sesederhana itu.
Nah, terapkan ini pada kehidupan kita sekarang. Jika tujuan hidup kita adalah uang, lalu kita di-PHK — kita akan hancur. Jika tujuan hidup kita adalah kesehatan, lalu kita sakit — kita akan putus asa. Jika tujuan hidup kita adalah kenyamanan, lalu kondisi serba terbatas datang — kita akan kecewa dan marah.
Tapi kalau tujuan hidup kita adalah ibadah kepada Allah — maka kondisi apapun tidak bisa menghancurkan kita. Karena ibadah bisa dilakukan dalam kondisi apapun.
Sedang di-PHK? Masih bisa shalat, masih bisa istighfar, masih bisa bersabar, masih bisa berdoa. Tujuan masih bisa diwujudkan — tidak ada alasan untuk kecewa.
Sedang sakit, bahkan diisolasi? Masih bisa shalat di ruang isolasi. Masih bisa bertaubat. Masih bisa berdzikir. Tujuan masih bisa diwujudkan.
Sedang diberikan banyak harta? Bisa bersyukur, bisa berbagi, bisa bersedekah. Tujuan masih bisa diwujudkan.
Allah berfirman dalam Surah an-Nahl ayat 97: "Barangsiapa yang beramal shaleh dalam keadaan beriman, baik laki-laki maupun perempuan, Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik."
Penutup: Kembali ke Tujuan Penciptaan
Kitab Riyadhus Shalihin dibuka dengan empat hal yang mengingatkan kita pada pondasi paling mendasar: kita butuh Allah (basmalah), kita harus bersyukur kepada Allah (hamdalah), kita hanya beribadah kepada Allah (syahadatain), dan kita mengikuti jalan Rasul-Nya (shalawat).
Dan semua itu bermuara pada satu titik: kita diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.
Ketika kita benar-benar menghayati tujuan penciptaan ini, hari-hari yang sulit tidak akan menghancurkan kita. Kita akan tetap tenang, tetap berjuang, dan tetap dekat kepada Allah — karena tujuan kita tidak pernah hilang, kondisi apapun yang datang.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk bisa menghayati setiap pelajaran dari Riyadhus Shalihin dan menjadikannya bekal dalam menghadapi seluruh hari-hari kehidupan kita.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 07: Tujuan-Nya Menciptakanmu Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=qxvTRoXoMqI
Ringkasan Video: Menemukan Intisari Kehidupan dalam "Taman Orang Shaleh"
Video ini menandai awal pembahasan isi kitab Riyadhush Shalihin setelah sebelumnya mengupas biografi penulisnya. Berikut adalah poin-poin utamanya:
- Makna Nama Kitab: Riyadhush Shalihin berarti "Taman Orang-Orang Shaleh". Para ulama sepakat bahwa isi kitab ini benar-benar menjadi "taman" yang menyejukkan bagi siapa saja yang ingin memperbaiki diri dan berkumpul bersama orang-orang baik [
].04:20 Kultur Penulisan Ulama (Empat Pilar Pembuka): Imam an-Nawawi membuka kitabnya dengan empat hal yang menjadi standar emas para ulama:
- Basmalah: Simbol ketergantungan mutlak hamba kepada Allah dan permohonan keberkahan [
].16:47 - Hamdalah: Simbol syukur dan penegasan bahwa hanya Allah yang berhak dipuji, bukan sang penulis [
].21:55 - Syahadatain: Pintu gerbang Islam dan penegasan tauhid [
].27:14 - Shalawat: Bentuk adab kepada Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah [
].29:26 - Tujuan Penciptaan Manusia: Fokus utama dari mukadimah kitab ini adalah mengingatkan kembali tujuan hidup manusia sebagaimana dalam surat Az-Zariyat ayat 56: semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Allah tidak butuh rezeki dari hamba-Nya; justru hambalah yang butuh beribadah agar hidupnya tenang dan bahagia [
,31:39 ].35:54 - Resep Anti-Kecewa: Kecewa muncul saat tujuan tidak tercapai. Jika tujuan hidup kita adalah dunia (harta, kesehatan, jabatan), maka saat hal itu hilang, kita akan hancur. Namun, jika tujuan hidup adalah ibadah, kita tidak akan pernah kecewa karena ibadah bisa dilakukan dalam kondisi apa pun—baik saat sehat maupun sakit, kaya maupun miskin [
,46:00 ].48:00 - Ibadah sebagai Solusi di Masa Sulit: Di masa krisis atau saat kehilangan pekerjaan, seseorang yang paham tujuan hidupnya akan tetap tenang. Ia akan mengubah kondisinya menjadi ibadah melalui sabar, syukur, doa, dan tawakal [
].46:33
0 Komentar