Kita sudah tahu tujuan hidup kita: beribadah kepada Allah. Tapi mengetahui tujuan saja tidak cukup. Pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana cara menggapainya? Inilah yang dijelaskan Imam an-Nawawi dalam kelanjutan mukadimah Riyadhus Shalihin — sebuah pengantar yang ternyata menyimpan pelajaran luar biasa tentang cara hidup, cara berkarya, dan cara menolong sesama.
Cara Terbaik Menggapai Tujuan: Ikuti Rasulullah ﷺ
Setelah menjelaskan bahwa tujuan penciptaan kita adalah ibadah kepada Allah, Imam an-Nawawi langsung menunjukkan jalan menuju tujuan tersebut. Beliau menyebutnya dengan kata-kata yang indah: "Meniti jalannya orang-orang pilihan, yang beradab dan berkarakter sesuai dengan ajaran shahih yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ — karena beliau adalah pemimpin seluruh manusia dari yang awal hingga yang akhir."
Satu kalimat itu sudah cukup sebagai pegangan hidup. Cara terbaik untuk beribadah kepada Allah adalah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Bukan mengikuti tren. Bukan mengikuti logika semata. Bukan menuruti keinginan nafsu. Tapi mengikuti sosok yang paling sempurna pola hidupnya, paling teruji cara menghadapi kesulitan, dan paling tahu jalan menuju Allah.
Nabi ﷺ sudah pernah merasakan lapar berhari-hari. Sudah pernah menghadapi pemboikotan. Sudah pernah melewati hari-hari peperangan yang jauh lebih berat dari apa yang kita hadapi hari ini. Dan semua itu beliau lalui dengan satu pola yang sama: ketakwaan kepada Allah. Ketika kita mengikuti beliau, kita sebenarnya sedang menggunakan peta yang sudah terbukti benar.
Dua Hal yang Sering Dilalaikan
Seorang ulama besar dunia hari ini mengingatkan bahwa ada dua hal yang sering dilalaikan orang, padahal keduanya sangat menentukan kualitas ibadah kita: adab dan dzikir serta doa.
Ketika dua hal ini diabaikan, ibadah kita bermasalah. Bisa jadi gerakannya benar, tapi tidak ada ruh di dalamnya. Bisa jadi rajin shalat, tapi tidak ada perubahan dalam akhlak dan kesabaran. Karena adab adalah pintu masuk ke setiap kebaikan, dan dzikir serta doa adalah tali yang menghubungkan hati kita dengan Allah.
Inilah yang menjadikan Riyadhus Shalihin berbeda dari sekadar kumpulan hadits. Kitab ini dirancang untuk mengajarkan keduanya — adab batin dan adab dhahir, ibadah hati dan ibadah anggota tubuh.
Mengapa Kitab Ini Ditulis: Niat yang Mengubah Segalanya
Imam an-Nawawi kemudian membawakan dua dalil yang menjelaskan mengapa beliau menulis kitab ini. Pertama, Allah berfirman dalam Surah al-Maidah ayat 2: "Dan saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan."
Kedua, sabda Nabi ﷺ: "Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya."
Dengan dua dalil ini, Imam an-Nawawi menyampaikan pesan yang sangat jelas: kitab ini ditulis untuk menolong kalian — karena aku berharap Allah menolong aku.
Beliau tidak menulis karena ingin terkenal. Tidak menulis untuk mendapatkan royalti atau penjualan yang tinggi. Beliau menulis karena ingin membantu umat Islam bisa beribadah dengan lebih baik, beradab dengan adab Nabi ﷺ, dan sampai ke tujuan hidup yang sesungguhnya. Dan sebagai imbalannya, beliau berharap Allah menolong beliau — bukan berharap pujian dari manusia.
Nabi ﷺ juga bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu: "Demi Allah, jika Allah memberikan hidayah kepada satu orang melalui perantaramu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah." — HR. Bukhari dan Muslim.
Unta merah adalah simbol kekayaan tertinggi pada masa itu. Artinya: satu orang yang mendapat hidayah melalui kita, pahalanya lebih besar dari dunia dan seisinya. Inilah yang diincar Imam an-Nawawi — pahala dari setiap jiwa yang mendapat manfaat dari kitab ini.
Dan kita bisa memahami mengapa kitab ini begitu berkah: penulisnya tidak menginginkan apapun dari kita. Tidak mengharapkan pujian, tidak mengharapkan imbalan materi. Yang beliau incar hanya satu — pertolongan dan pahala dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Gambaran Isi Kitab: Komplit dari Dalam ke Luar
Dalam mukadimahnya, Imam an-Nawawi menjelaskan apa yang akan kita temukan di dalam Riyadhus Shalihin. Beliau menyebutnya dengan sangat terstruktur:
Kitab ini mengumpulkan hadits-hadits shahih yang mencakup semua yang dibutuhkan seorang hamba dalam perjalanan menuju akhirat. Di dalamnya terdapat adab-adab batin — ikhlas, sabar, ridha, tawakal, rasa takut kepada Allah, dan cinta kepada-Nya. Juga adab-adab dhahir — tata cara ibadah, muamalah, dan hubungan dengan sesama manusia. Ditambah dengan motivasi berupa janji-janji surga, dan peringatan berupa ancaman bagi yang bermaksiat.
Beliau juga menjelaskan bagaimana cara menggerakkan jiwa, memperbaiki akhlak, membersihkan hati, mengobati penyakit hati, dan menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa.
Jadi kitab ini bukan hanya mengajarkan adab dhahir yang terlihat dari luar. Banyak orang bisa beradab secara profesional — sopan di depan atasan, ramah kepada pelanggan — tapi begitu tidak dalam konteks kerja, karakternya berubah total. Riyadhus Shalihin mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: karakter yang lahir dari dalam, dari hati yang bersih, yang tidak berubah tergantung siapa yang melihat.
Komitmen Hadits Shahih
Imam an-Nawawi juga berkomitmen dalam mukadimahnya: "Aku tidak akan membawakan hadits kecuali hadits-hadits yang shahih."
Ini adalah komitmen besar dari seorang pakar hadits sekaliber beliau. Dan memang, Riyadhus Shalihin dibangun di atas hadits-hadits yang sudah diseleksi dengan sangat ketat.
Namun para ulama menjelaskan bahwa ada beberapa hadits dalam kitab ini yang mendapatkan catatan dari sebagian ulama hadits lainnya — ada yang dianggap kurang kuat derajatnya. Tapi jumlahnya sangat sedikit. Kitab Riyadhus Shalihin memuat sekitar 1.897 hadits, dan yang mendapat catatan hanya sekitar 40 hingga 64 hadits menurut berbagai ulama. Artinya, lebih dari 96% haditsnya tidak bermasalah sama sekali.
Dan para ulama yang memberikan catatan itu pun tidak ada yang menjatuhkan Imam an-Nawawi. Sebaliknya, mereka sangat menghormati beliau — karena hasil yang beliau capai sudah luar biasa. Ini mengajarkan kita bahwa tidak ada karya manusia yang sempurna. Allah sengaja tidak menyempurnakan kitab manapun selain kitabullah al-Qur'an al-Karim. Dan setiap ulama, bagaimanapun hebatnya, tetap bisa memiliki kekeliruan — karena maksum hanyalah para nabi dan rasul.
Metode Penulisan: Ayat Dulu, Baru Hadits
Imam an-Nawawi juga menjelaskan metode penulisannya: setiap bab akan dibuka dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema bab tersebut, baru kemudian diikuti hadits-hadits Nabi ﷺ yang relevan.
Ini adalah metode yang sangat elegan. Kita tidak hanya belajar hadits — kita belajar bagaimana hadits itu berhubungan dengan Al-Qur'an. Kita melihat bagaimana sunnah Nabi ﷺ menjelaskan dan menghidupkan firman Allah. Bab tentang ikhlas akan dibuka dengan ayat-ayat tentang ikhlas. Bab tentang sabar akan dibuka dengan ayat-ayat tentang sabar. Dan seterusnya.
Penutup Mukadimah: Permintaan yang Mengharukan
Di penghujung mukadimahnya, Imam an-Nawawi mengungkapkan harapan beliau dengan kata-kata yang sangat tulus:
"Aku berharap buku ini bisa menjadi panduan bagi orang-orang yang ingin berbuat kebaikan, dan menjadi pintu yang membatasi kita dari keburukan dan dosa-dosa."
Lalu beliau menutupnya dengan permintaan yang sangat sederhana — bukan meminta uang, bukan meminta pujian. Beliau meminta: "Tolong doakan aku. Tolong doakan kedua orang tuaku. Tolong doakan guru-guruku. Tolong doakan sahabat-sahabatku. Dan tolong doakan seluruh umat Islam."
Subhanallah. Seorang ulama yang karyanya telah mengubah jutaan jiwa, yang nama besarnya dikenal seluruh dunia Islam — permintaannya hanya: doakan aku dan orang-orang yang aku cintai.
Beliau menutup dengan kalimat yang menjadi pegangan hidupnya: "Cukuplah Allah menjadi penolongku. Ia sebaik-baik penolong. Dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah al-Aziz al-Hakim."
Memenuhi Permintaan Imam an-Nawawi
Kita tidak bisa membalas jasa Imam an-Nawawi dengan harta apapun. Kita tidak bisa membayar nilai ilmu yang beliau wariskan. Tapi ada satu hal yang bisa kita lakukan — dan beliau sendiri yang memintanya:
Doakanlah beliau. Setiap kali nama beliau disebut, ucapkanlah rahimahullah — semoga Allah merahmati beliau. Doakan orang tua beliau yang telah mendidik dan mengarahkannya. Doakan guru-guru beliau yang telah membentuk ilmu dan karakter beliau. Doakan sahabat-sahabat beliau. Dan doakan seluruh umat Islam.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala merahmati Imam an-Nawawi, merahmati orang tua dan guru-guru beliau, memasukkan beliau ke dalam Firdaus bersama para nabi dan rasul. Dan semoga kita diberi taufik untuk mengambil manfaat dari kitab ini, mengamalkan ilmunya, dan suatu hari bertemu dengan beliau di surga.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 08: Cara Menggapai Tujuan Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=VaVL6Op8uUc
Ringkasan Video: Cara Menggapai Tujuan Hidup
Video ini membahas bagian Mukadimah dari kitab monumental Riyaadhushshaalihiin. Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri menjelaskan poin-poin penting yang ditekankan oleh Imam An-Nawawi dalam memulai karyanya:
- Empat Pilar Pembuka: Para ulama memiliki tradisi memulai karya dengan Basmalah (memohon pertolongan Allah), Hamdalah (memuji Allah), Syahadatain (persaksian tauhid), dan Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW [
].04:57 - Kekuatan Basmalah: Segala aktivitas positif yang dimulai dengan bismillah akan mendapatkan keberkahan. Kitab Riyaadhushshaalihiin adalah bukti nyata; meski penulisnya wafat di usia muda (45 tahun), karyanya abadi dan paling banyak dibaca setelah Al-Qur'an [
].06:47 - Tujuan Penciptaan: Mengutip Surat Adz-Dzariyat ayat 56, ditegaskan bahwa manusia dan jin diciptakan hanya untuk beribadah. Ibadah adalah kebutuhan manusia, bukan karena Allah butuh disembah [
].14:03 - Metode Menuju Tujuan: Cara terbaik untuk beribadah adalah dengan mengikuti jalan Rasulullah SAW, sosok manusia sempurna yang telah melewati berbagai ujian hidup, mulai dari kemiskinan hingga kejayaan [
].23:54 - Misi Membantu Sesama: Imam An-Nawawi menulis kitab ini dengan niat tulus untuk menolong umat manusia (Tolong-menolong dalam kebaikan) agar memiliki panduan adab zahir dan batin dalam menuju akhirat [
].34:14 - Permintaan Terakhir: Di akhir mukadimah, Imam An-Nawawi tidak meminta imbalan materi atau pujian, melainkan hanya meminta pembaca mendoakan dirinya, orang tuanya, guru-gurunya, dan seluruh umat Muslim [
].01:01:08
0 Komentar