RS 10. Yang Diterima oleh Allah — Bab Ikhlas dalam Riyadhus Shalihin (Bagian 2)

Pada kajian sebelumnya kita telah membahas ayat pertama dalam bab ikhlas — Surah al-Bayyinah ayat 5 — yang membuka mata kita bahwa perintah Allah bukan sekadar beramal, melainkan beramal dengan ikhlas. Kali ini kita melangkah ke ayat kedua yang dibawakan Imam an-Nawawi dalam bab yang sama. Dan ayat ini mengajarkan sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan: yang sampai kepada Allah bukanlah fisik amal kita, melainkan ketaqwaan dan keikhlasan di baliknya.


Kesimpulan Ayat Pertama: Bukan Sekadar Beramal

Sebelum masuk ke ayat kedua, mari kita ikat kesimpulan dari pembahasan sebelumnya.

Allah tidak hanya memerintahkan kita shalat — Allah memerintahkan shalat yang ikhlas. Allah tidak hanya memerintahkan sedekah — Allah memerintahkan sedekah yang ikhlas. Allah tidak hanya memerintahkan kita membantu sesama — Allah memerintahkan kita membantu dengan hati yang hanya mencari wajah-Nya.

Ikhlas adalah ketika hati kita steril dari keinginan dipuji manusia, steril dari ambisi mendapatkan harta dan tahta dunia, steril dari keinginan mendapatkan panggung — karena hati itu sudah begitu tenang dan nyaman hanya mengharapkan Allah subhanahu wa ta'ala.

Dan ikhlas bukan tentang pencapaian, tapi tentang motif. Orang yang ikhlas tidak menginginkan pujian — dan karenanya tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia.


Ayat Kedua: Yang Sampai kepada Allah

Imam an-Nawawi kemudian membawakan ayat kedua dalam bab ikhlas ini — Surah al-Hajj ayat 37:

"Daging-daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah. Tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan dari kalian."

Untuk memahami ayat ini, kita perlu tahu latar belakangnya. Para ulama tafsir seperti al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang-orang jahiliyah dulu memiliki kebiasaan ketika menyembelih hewan kurban: mereka mencipratkan darahnya ke Ka'bah dan menggantungkan daging-dagingnya di sana, dengan niat agar "sampai" kepada sesembahan mereka.

Ketika para sahabat melihat hal ini, ada di antara mereka yang bertanya: "Kita lebih berhak melakukan itu — kita yang beriman." Tapi Allah langsung meluruskan melalui ayat ini: daging dan darah itu tidak sampai kepada Allah. Yang sampai adalah ketaqwaan dan keikhlasan kalian.

Para ulama tafsir seperti al-Imam al-Baghawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "ketaqwaan" di sini adalah ketaqwaan yang di dalamnya terkandung keikhlasan — menjalankan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, lalu mengikhlaskan niat ketika menjalankannya.


Fokus pada Diterimanya Amal, Bukan Hanya Mengerjakannya

Inilah inti pelajaran dari ayat ini. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu — sahabat besar, sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ — pernah berkata:

"Jadilah kalian orang-orang yang lebih fokus memikirkan bagaimana amal ini diterima, dibanding fokus mengerjakan amalan itu sendiri."

Ini adalah cara berpikir yang sangat cerdas dan dalam. Bukan berarti kita berhenti beramal. Tapi maknanya adalah: jangan puas hanya karena sudah shalat — pikirkan apakah shalatmu diterima. Jangan bangga hanya karena sudah bersedekah — pikirkan apakah sedekahmu diterima.

Bagaimana caranya agar amal diterima? Ali bin Abi Thalib kemudian membawakan Surah al-Maidah ayat 27:

"Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa."

Jadi kuncinya adalah takwa — dan takwa itu mencakup dua hal: amalnya benar sesuai tuntunan Nabi ﷺ, dan dikerjakan dengan ikhlas hanya mengharapkan wajah Allah.


Bagaimana Para Sahabat Memandang Diterimanya Amal

Cara pandang Ali bin Abi Thalib ini bukan pengecualian — ini adalah cara pandang para sahabat Nabi secara umum. Mereka jauh lebih cemas tentang diterimanya amal daripada tentang banyaknya amal.

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berkata: "Seandainya aku bisa mengetahui bahwa Allah menerima satu amalanku saja, itu lebih aku cintai daripada emas sepenuh bumi."

Abu Darda radhiyallahu anhu berkata: "Seandainya aku bisa memastikan Allah menerima satu shalatku saja, itu lebih aku cintai daripada mendapatkan dunia dan seisinya."

Bahkan sebagian ulama salaf mengatakan: "Seandainya aku bisa memastikan Allah menerima satu amalanku saja, aku siap mati pada detik itu juga" — karena kalau amal diterima berarti ia orang yang bertakwa, dan kalau ia mati dalam keadaan bertakwa berarti ia mati dengan Khusnul Khatimah.

Inilah standar yang sangat tinggi — bukan tentang banyaknya amal, tapi tentang diterimanya amal.


Kisah Tiga Orang yang Pertama Masuk Neraka

Imam an-Nawawi membawakan ayat ini tidak lepas dari hadits yang sangat terkenal — hadits tentang tiga orang yang pertama kali diadili di hari kiamat, dan mereka semua masuk neraka. Padahal di dunia, ketiganya terlihat seperti orang-orang shaleh.

Yang pertama adalah seorang yang mati syahid di medan perang. Ia dihadirkan di hadapan Allah, lalu Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Ia pun mengaku: "Aku telah berjuang di jalan-Mu sampai aku mati syahid." Allah berkata: "Dusta! Engkau berjuang agar disebut pemberani — dan engkau sudah mendapatkannya di dunia." Lalu ia diseret ke neraka.

Yang kedua adalah seorang yang mempelajari ilmu, mengajarkan ilmu, dan membaca Al-Qur'an. Ia mengaku: "Aku melakukannya semata-mata hanya mencari wajah-Mu ya Allah." Allah berkata: "Dusta! Engkau belajar dan mengajar agar disebut ulama — dan engkau membaca Al-Qur'an agar disebut Qari. Dan engkau sudah mendapatkan semua itu di dunia." Lalu ia diseret ke neraka.

Yang ketiga adalah seorang yang kaya dan gemar bersedekah. Ia mengaku tidak pernah melewatkan satu pun pintu kebaikan kecuali ia donasikan hartanya ke sana. Allah berkata: "Dusta! Engkau melakukan itu agar disebut dermawan — dan engkau sudah mendapatkannya di dunia." Lalu ia pun diseret ke neraka.

Ketiganya beramal dengan amal yang benar secara fisik — jihad, menuntut ilmu, bersedekah. Tapi ketiganya gagal pada satu hal: niat dan keikhlasan. Dan itu cukup untuk menggugurkan seluruh amal mereka.


Satu Dirham yang Mengalahkan Seratus Ribu Dirham

Lalu bagaimana dengan kita yang kemampuannya terbatas? Yang tidak bisa banyak beramal? Yang hanya bisa menyumbangkan hal-hal kecil?

Nabi ﷺ bersabda: "Satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham." Para sahabat bertanya bagaimana bisa. Nabi ﷺ menjelaskan: ada seseorang yang hanya memiliki dua dirham — seluruh hartanya hanya dua dirham — lalu ia bersedekah satu dirham. Sementara ada orang lain yang hartanya melimpah, lalu mengambil dari simpanannya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.

Di sisi Allah, satu dirham tadi bisa lebih tinggi nilainya. Karena satu dirham itu adalah 50% dari seluruh harta orang pertama — menunjukkan tingkat pengorbanan dan ketulusan yang jauh lebih dalam. Sementara seratus ribu dirham orang kaya mungkin hanya 0,1% dari hartanya.

Yang sampai kepada Allah bukan angkanya — tapi ketaqwaan dan keikhlasan di balik angka itu.


Pesan untuk Kita di Hari-Hari Ini

Di hari-hari yang tidak mudah ini, ketika banyak di antara kita yang ingin berbuat dan membantu tapi merasa kemampuan kita sangat terbatas — inilah kabar baik dari Allah:

Jangan pernah meremehkan amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas. Satu masker yang kamu sumbangkan karena itu satu-satunya yang bisa kamu beli — bisa lebih tinggi nilainya di sisi Allah daripada seribu masker yang disumbangkan dengan niat mencari pujian.

Satu nasi bungkus yang hari ini adalah 50% dari uang yang kamu miliki — Allah Maha Tahu. Dan Allah Maha Adil.

Yang sampai kepada Allah bukan nominalnya. Yang sampai adalah ketaqwaan dan keikhlasan kalian — walakinnallaha yanalu at-taqwa minkum.

Maka fokuslah pada dua hal: pastikan amalmu benar sesuai tuntunan Nabi ﷺ, lalu jaga keikhlasanmu. Kawal niatmu agar tidak diserang syaitan yang menggoda kita untuk menginginkan pujian manusia.

Dan berlomba-lombalah dalam keikhlasan — karena di arena inilah siapapun bisa menang, yang kaya maupun yang miskin, yang sehat maupun yang sakit, yang banyak amalnya maupun yang sedikit.

Fastabiqul khairat — berlomba-lombalah dalam kebaikan. Dan rahasia perlombaan itu ada pada keikhlasan.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menerima seluruh amal-amal kita, memurnikan niat-niat kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 10: Yang Diterima oleh Allah Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=aAQvOysGV4M



Posting Komentar

0 Komentar