RS 09. Sebuah Perintah untuk Kita — Bab Pertama Riyadhus Shalihin: Ikhlas

Setelah perjalanan panjang mengenal Imam an-Nawawi dan mukadimah Riyadhus Shalihin, kini kita akhirnya masuk ke dalam bab pertama kitab ini. Dan bab pertama yang dipilih Imam an-Nawawi untuk membuka Riyadhus Shalihin bukanlah tentang shalat, bukan tentang puasa, bukan tentang zakat. Bab pertama yang beliau pilih adalah tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar dari semua itu: ikhlas.


Bab Pertama: Ikhlas dan Menghadirkan Niat

Imam an-Nawawi memberi judul bab pertama ini: "Bab keikhlasan dan menghadirkan niat di setiap amalan dan ucapan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi."

Sesuai metode beliau, bab ini dibuka dengan ayat-ayat Al-Qur'an sebelum hadits-hadits Nabi ﷺ. Ada tiga ayat yang beliau angkat. Kali ini kita akan membahas ayat yang pertama — sebuah ayat dari Surah al-Bayyinah yang mengguncang cara kita memandang seluruh ibadah kita.


Ayat Pertama: Bukan Sekadar Ibadah

Allah berfirman dalam Surah al-Bayyinah ayat 5:

"Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas, mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya, dengan lurus — dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus."

Berhenti sejenak di sini. Perhatikan kalimat ini: "tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas."

Selama ini kita mungkin berpikir: perintah Allah adalah shalat. Perintah Allah adalah puasa. Perintah Allah adalah bersedekah. Tapi ayat ini membuka mata kita bahwa perintah Allah bukan hanya mengerjakan amal-amal itu — melainkan mengerjakan amal-amal itu dengan ikhlas.

Bukan hanya shalat, tapi shalat yang ikhlas. Bukan hanya puasa, tapi puasa yang ikhlas. Bukan hanya berinfak, tapi berinfak yang ikhlas. Bukan hanya membantu orang di hari-hari sulit ini, tapi membantu dengan hati yang hanya mencari wajah Allah — bukan mencari pujian, bukan mencari pengakuan, bukan mencari panggung.

Inilah yang sering kita lupakan. Kita sibuk memperbanyak amal, tapi lupa memurnikan niat di baliknya.


Apa Itu Ikhlas? Dari Sisi Bahasa

Kata ikhlas memiliki akar makna yang sangat indah dalam bahasa Arab. Para pakar bahasa Arab terkemuka seperti al-Imam Ibnu Faris, al-Imam Ibnu Manzhur, dan al-Imam ar-Raghib al-Asfahani sepakat bahwa ikhlas secara bahasa bermakna: murni, bersih, dan jernih.

Salah satu dalil yang paling gamblang untuk makna ini ada dalam Surah an-Nahl ayat 66, ketika Allah menggambarkan susu yang keluar dari perut hewan ternak. Allah menyebutnya "labanan khalisan" — susu yang ikhlas, susu yang murni. Susu itu berada di antara kotoran dan darah — sangat rentan untuk terkontaminasi — tapi ia tetap keluar dalam keadaan murni, bersih, dan layak diminum.

Itulah ikhlas. Hati yang berada di tengah-tengah godaan dunia — pujian, popularitas, ambisi, pengakuan manusia — tapi tetap keluar dalam keadaan murni, hanya menuju Allah.


Apa Itu Ikhlas? Dari Sisi Istilah

Para ulama mendefinisikan ikhlas dengan berbagai redaksi, tapi substansinya sama. Tiga definisi yang paling komprehensif:

Al-Imam al-Izz bin Abdissalam dalam kitab Qawa'idul Ahkam mendefinisikan: "Ikhlas adalah ketika seseorang dalam mengerjakan ketaatan hanya menginginkan wajah Allah dan tidak menginginkan selain Allah."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Istiqamah mendefinisikan: "Ikhlas adalah hati itu steril dari selain Allah — karena ia tenang dan nyaman hanya menuju kepada Allah subhanahu wa ta'ala."

Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin mendefinisikan: "Ikhlas adalah menginginkan Allah semata dengan beribadah kepada-Nya."

Tiga definisi dengan redaksi berbeda, tapi isinya satu: hanya Allah. Hanya wajah Allah yang dicari. Hanya ridha Allah yang diinginkan. Hati steril dari segala keinginan selain itu.

Dan korelasi dengan makna bahasanya sangat jelas: kalau ikhlas secara bahasa adalah murni dan bersih, maka ketika kita masih mengharapkan pujian manusia saat beribadah, berarti ibadah kita belum murni — masih ada noda.


Orang yang Ikhlas: Tidak Terpengaruh Pujian Maupun Celaan

Al-Imam al-Baihaqi menyebutkan sesuatu yang sangat menarik: "Orang yang ikhlas itu lupa dengan pandangan-pandangan makhluk kepadanya — karena ia fokus tertuju pada sang Khalik, mencari wajah Allah."

Analoginya sederhana: ketika kita sedang fokus mengerjakan sesuatu yang sangat penting, lalu ada teman yang memuji kita selama lima menit — kita tidak mendengarnya. Bukan karena sombong, tapi karena fokus. Perhatian kita sepenuhnya ada di tempat lain.

Itulah gambaran orang yang ikhlas. Ketika ia beribadah, fokusnya ada pada Allah. Maka pujian manusia tidak membuatnya berbunga-bunga, dan celaan manusia tidak membuatnya goyah. Bukan karena ia keras hati, tapi karena hatinya sudah penuh dengan Allah — tidak ada ruang tersisa untuk pujian atau celaan makhluk.


Ini Tentang Motif, Bukan Pencapaian

Satu hal yang perlu kita pahami dengan benar: ikhlas itu bukan berarti kita tidak boleh dipuji. Bukan berarti orang yang ikhlas tidak akan mendapat pengakuan. Bukan berarti ibadah kita harus tersembunyi dari semua orang.

Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi khalifah — itu panggung tertinggi di dunia. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib — semuanya punya "panggung dunia." Imam Syafi'i dipuji oleh para ulama. Imam an-Nawawi dipuji hingga diberi gelar Muhyiddin. Tapi apakah mereka mencari pujian itu? Tidak.

Ikhlas itu tentang motif, bukan tentang pencapaian.

Yang ditanya bukan: apakah kamu dipuji? Yang ditanya adalah: apakah kamu menginginkan pujian itu?

Bahkan Nabi ﷺ pernah ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan lalu dipuji manusia, padahal ia tidak pernah menginginkan pujian itu. Jawaban Nabi ﷺ: "Itu adalah kabar gembira yang Allah segerakan untuk seorang mukmin — sebelum ia mendapatkan berbagai kenikmatan di alam barzakh dan akhirat." — HR. Muslim.

Jadi ketika kita benar-benar ikhlas, lalu Allah mengizinkan pujian datang kepada kita dari manusia — itu bukan masalah, bahkan itu adalah kabar gembira dari Allah. Syaratnya: kita tidak menginginkannya sejak awal.


Perintah yang Sesungguhnya

Kembali ke Surah al-Bayyinah ayat 5. Ayat itu ditutup dengan kalimat: "Itulah agama yang lurus."

Artinya, beribadah kepada Allah dengan ikhlas — tidak menoleh ke kanan, tidak menoleh ke kiri, hanya lurus kepada Allah — itulah sirathal mustaqim. Itulah jalan yang lurus. Bukan jalan yang berkelok mengikuti pujian manusia. Bukan jalan yang berbelok karena ingin diakui. Tapi jalan yang lurus, murni, hanya menuju Allah.

Inilah perintah yang sesungguhnya kepada kita. Bukan hanya mengerjakan amal — tapi mengerjakan amal dengan hati yang murni, bersih, jernih, dan steril dari segala sesuatu selain Allah.

Di hari-hari sulit seperti ini, ketika banyak di antara kita yang membantu sesama, berdonasi, berbagi makanan, mengedukasi — evaluasi selalu niat kita. Bukan untuk menghentikan amal, tapi untuk memurnikannya. Karena yang membedakan amal yang berkah dari amal yang tidak berkah seringkali bukan pada besarnya amal, melainkan pada murninya niat di balik amal tersebut.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk bisa mengikhlaskan seluruh amal kita hanya kepada-Nya, dan semoga Dia menerima ibadah kita yang penuh kekurangan ini dengan rahmat dan kemurahan-Nya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 09: Sebuah Perintah untuk Kita Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=P_ijHXF0nok




Posting Komentar

0 Komentar