RS 19. Panen Pahala dari Aktivitas Sehari-hari — Hadits Keenam Riyadhus Shalihin (Bagian 1)

Ada seorang sahabat Nabi ﷺ yang sedang sakit parah, punya harta yang banyak, dan hanya memiliki satu orang ahli waris. Ia ingin menginfakkan sebagian besar hartanya di jalan Allah. Pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan kepada Nabi ﷺ — dan jawaban-jawaban yang diberikan Nabi ﷺ — mengandung pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana kita bisa meraih pahala dari aktivitas sehari-hari yang sering kita anggap biasa saja.


Hadits Keenam: Sa'ad bin Abi Waqqash dan Wasiat Harta

Dari Abu Ishaq, Sa'ad bin Malik bin Uhaib, yang biasa dikenal sebagai Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ta'ala anhu, ia berkata:

Rasulullah ﷺ menjengukku pada hari-hari Haji Wada' karena aku sedang sakit parah. Aku berkata: "Ya Rasulullah, sakitku ini sangat parah sebagaimana yang engkau lihat sendiri. Aku orang yang banyak hartanya, tapi tidak ada yang mewarisi dariku kecuali satu orang anak perempuanku. Bolehkah aku bersedekah dengan dua pertiga hartaku?"

Nabi ﷺ menjawab: "Tidak."

Aku bertanya: "Bagaimana kalau setengah?"

Nabi ﷺ menjawab: "Tidak."

Aku bertanya: "Bagaimana kalau sepertiga?"

Nabi ﷺ menjawab: "Sepertiga boleh, tapi sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka bergantung kepada orang lain. Dan sesungguhnya apapun yang engkau nafkahkan dengan niat mengharapkan wajah Allah, engkau akan mendapat pahala darinya — sampai pun suapan makanan yang kau berikan ke mulut istrimu." — HR. Bukhari dan Muslim


Mengenal Sa'ad bin Abi Waqqash: Satu dari Sepuluh yang Dijamin Surga

Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu adalah sosok yang sangat istimewa. Beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga — yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai al-'asyarah al-mubasysyarun bil jannah — sepuluh orang yang disebutkan langsung oleh Nabi ﷺ dalam satu kali penyebutan.

Beliau termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Beliau pernah berkata: "Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi yang masuk Islam kecuali di hari dimana aku masuk Islam." Artinya, beliau termasuk orang pertama yang memeluk Islam.

Usia beliau saat masuk Islam baru sekitar 17 tahun. Di usia yang sangat muda itu, ia telah memilih jalan yang penuh risiko — bukan jalan kesenangan. Penentangan paling keras terhadap beliau justru datang dari ibunya sendiri. Tapi Sa'ad tetap berjalan di jalan kebenaran, sambil tetap berusaha berbakti kepada ibunya.

Satu kisah yang menggambarkan betapa besar cintanya kepada Rasulullah ﷺ: suatu malam Nabi ﷺ tidak bisa tidur dan berkata: "Andai ada salah satu sahabat yang shaleh menjagaku malam ini." Tidak lama kemudian terdengar suara langkah dan gemerincing senjata. Nabi ﷺ bertanya: "Siapa di luar?" Ternyata Sa'ad bin Abi Waqqash. Ia menjawab: "Aku datang untuk menjagamu malam ini, ya Rasulullah."

Orang kaya, sahabat terbaik, dijamin surga — tapi tetap mau jaga malam, jadi "satpam" untuk Nabi ﷺ. Tanpa disuruh, tanpa menunggu diperintah. Itulah kepekaan dan kecintaan yang lahir dari iman yang kokoh.

Beliau adalah sahabat Muhajirin yang paling akhir wafat di Madinah, sekitar tahun 55 Hijriah di usia sekitar 73 tahun.


Pelajaran Pertama: Sunnah Menjenguk Orang Sakit

Hadits ini dibuka dengan Nabi ﷺ yang menjenguk Sa'ad yang sedang sakit. Dan ini terjadi di momen yang sangat sibuk — hari-hari Haji Wada', haji terakhir Nabi ﷺ sebelum beliau wafat. Namun tetap saja, ketika ada sahabat yang sakit, Nabi ﷺ menyempatkan diri untuk menjenguknya.

Al-Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' Syarah Muhadzdzab menukilkan ijma' ulama bahwa menjenguk orang sakit hukumnya tidak wajib 'ain — tidak wajib bagi setiap individu. Tapi ini bukan berarti tidak penting. Ini adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan Nabi ﷺ memberikan teladan langsung.

Di hari-hari seperti ini, ketika banyak kondisi yang membatasi kunjungan fisik, maka minimal kita bisa menghubungi melalui telepon atau pesan. Yang penting, jangan biarkan saudara kita yang sakit merasa sendirian dan terlupakan.


Pelajaran Kedua: Boleh Menceritakan Kondisi Sakit Jika Ada Maslahat

Sa'ad menceritakan kondisi sakitnya kepada Nabi ﷺ — bukan untuk mengeluh, bukan untuk meminta belas kasihan, tapi untuk mendapatkan ilmu dan hukum yang tepat atas kondisi yang ia hadapi. Inilah yang dibolehkan: menceritakan kondisi sakit jika ada maslahat yang jelas di baliknya.

Yang tidak diperbolehkan adalah menjual penyakit — menceritakannya berulang-ulang untuk mendapat simpati, atau bahkan sampai mengeluhkan takdir Allah. Seorang muslim hendaknya memiliki sifat ta'affuf — berusaha menjaga agar musibah yang ia alami tidak terus-menerus ia tampakkan keluar, kecuali ada keperluan yang nyata.


Pelajaran Ketiga: Sampaikan Kondisi Secara Lengkap Saat Meminta Fatwa

Perhatikan bagaimana Sa'ad menyampaikan pertanyaannya kepada Nabi ﷺ. Ia tidak langsung bertanya boleh atau tidak. Ia terlebih dahulu menyampaikan tiga kondisi penting: pertama, ia sedang sakit parah; kedua, ia memiliki harta yang banyak; ketiga, ia hanya memiliki satu orang ahli waris.

Baru setelah itu ia mengajukan pertanyaan tentang berapa banyak yang boleh ia infakkan.

Inilah adab dalam meminta fatwa atau bertanya kepada ulama. Kaidah dalam ilmu ushul fiqih menyebutkan: "Menghukumi sesuatu dalam fatwa harus dilakukan setelah mengetahui masalahnya secara komprehensif." Kalau kita menyampaikan masalah sepotong-sepotong, jawaban yang kita dapatkan pun bisa tidak tepat sasaran.


Pelajaran Keempat: Batas Infak bagi yang Sedang Sakit Menuju Kematian

Salah satu hukum penting yang diajarkan dalam hadits ini adalah: seseorang yang sedang sakit parah dan arahnya menuju kematian tidak boleh menginfakkan lebih dari sepertiga hartanya — baik dalam bentuk sedekah, hadiah, wasiat, maupun infak lainnya.

Kenapa? Karena hak ahli waris sudah mulai tampak dalam kondisi seperti itu. Dua pertiga harta adalah hak mereka. Adapun sepertiga adalah hak sang pemilik harta untuk diinfakkan sesuai keinginannya.

Para ulama bahkan menyebutkan bahwa lebih afdhal dari sepertiga adalah seperempat, dan yang paling afdhal adalah seperlima — sebagaimana pilihan Abu Bakar ash-Shiddiq. Karena meninggalkan ahli waris dalam keadaan berkecukupan adalah lebih utama.

Namun perlu dicatat: ketentuan ini berlaku khusus dalam kondisi sakit yang mengarah ke kematian. Dalam kondisi normal dan sehat, seseorang boleh menginfakkan hartanya lebih dari sepertiga — bahkan seluruhnya, seperti yang dilakukan Abu Bakar ash-Shiddiq — dengan syarat ia tidak kemudian bergantung kepada orang lain dan imannya sekuat Abu Bakar.


Pelajaran Kelima: Tanya Kepada Ahli Ilmu Sebelum Beramal

Lihat bagaimana Sa'ad — satu dari sepuluh sahabat terbaik yang dijamin surga — tetap bertanya kepada Nabi ﷺ sebelum menginfakkan hartanya. Tidak ada sikap: "Saya sudah tahu, saya sudah senior, tidak perlu tanya lagi."

Justru orang yang benar-benar berilmu adalah orang yang paling sadar tentang batas pengetahuannya. Dan inilah yang diajarkan Al-Qur'an: "Bertanyalah kepada ahlinya jika kalian tidak tahu." — QS. an-Nahl: 43.

Betapa banyak orang yang niatnya baik ingin beramal, tapi karena tidak bertanya dan tidak tahu ilmunya, amalnya justru tidak tepat sasaran atau bahkan salah secara hukum. Sebagaimana dikatakan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu: "Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya." Karena ilmu itu syarat diterimanya amal.


Pelajaran Terpenting: Setiap Nafkah yang Ikhlas Bernilai Pahala

Inilah mutiara terbesar dari hadits ini — yang sering kita lewatkan. Nabi ﷺ bersabda kepada Sa'ad:

"Sesungguhnya apapun yang engkau nafkahkan dengan niat mengharapkan wajah Allah, engkau akan mendapat pahala darinya — sampai pun suapan makanan yang kau berikan ke mulut istrimu."

Subhanallah. Suapan makanan ke mulut istri — aktivitas yang mungkin kita anggap paling biasa dan tidak ada nilainya — ternyata bisa bernilai pahala di sisi Allah, kalau diniatkan karena Allah.

Ini bukan hanya tentang Sa'ad. Ini berlaku untuk kita semua. Setiap aktivitas yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, jika diniatkan karena Allah dan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya, bisa menjadi ladang pahala yang luar biasa.

Suami yang mencari nafkah untuk keluarga — kalau diniatkan sebagai ibadah, sebagai pemenuhan kewajiban kepada Allah — setiap langkah kakinya menuju tempat kerja bernilai sedekah. Ibu yang memasak, mengurus anak, memberikan makan — kalau diniatkan sebagai ibadah — itu semua bernilai pahala. Bahkan tidur yang kita niatkan untuk menyiapkan diri beribadah kepada Allah pun bisa bernilai ibadah.

Inilah yang dimaksud dengan "panen pahala dari aktivitas sehari-hari."


Penutup: Mainkan Niat dalam Setiap Aktivitas

Pelajaran dari hadits ini menguatkan apa yang sudah kita pelajari sejak awal bab ikhlas ini: niat adalah kunci. Aktivitas yang sama bisa bernilai pahala besar atau tidak bernilai sama sekali — tergantung niat di baliknya.

Maka mulai sekarang, dalam setiap aktivitas yang kita lakukan — mencari nafkah, mengurus keluarga, memasak, belajar, bahkan tidur — niatkan karena Allah. Jangan biarkan momen itu berlalu tanpa nilai. Karena Allah Maha Dermawan — Dia tidak akan menyia-nyiakan sekecil pun niat yang tulus dari hamba-Nya.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk senantiasa memperbarui dan memurnikan niat kita dalam setiap langkah kehidupan.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Catatan: Pembahasan lanjutan hadits Sa'ad bin Abi Waqqash — khususnya tentang balasan bagi amal yang dikerjakan dengan niat yang ikhlas — akan dilanjutkan pada kajian berikutnya, insya Allah.


Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 19: Panen Pahala dari Aktivitas Sehari-hari Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=qkD2YvKebPw



Posting Komentar

0 Komentar