Kita melanjutkan pembahasan hadits Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu. Pada sesi sebelumnya kita telah membahas tentang batas infak bagi orang yang sakit mengarah kepada kematian, pentingnya bertanya kepada ahli ilmu sebelum beramal, dan sabda Nabi ﷺ bahwa nafkah yang diniatkan karena Allah — bahkan suapan makanan ke mulut istri — bernilai pahala. Kali ini kita akan menggali lebih dalam pelajaran-pelajaran luar biasa yang tersisa dari hadits yang sama.
Pengingat: Adab dalam Menuntut Ilmu
Sebelum masuk ke inti pembahasan, ada pengingat penting dari para ulama: "Bil adab tafhamul 'ilm" — hanya dengan adab seseorang bisa memahami hakikat ilmu.
Di era kajian online seperti sekarang, justru inilah ujian keikhlasan yang sesungguhnya. Ketika ada di majelis langsung, kita mungkin duduk tertib karena ada ustadz yang melihat, ada jamaah di sebelah kanan dan kiri. Tapi ketika di rumah, tidak ada yang mengawasi selain Allah. Apakah kita tetap menjaga adab? Apakah kita benar-benar hadir dengan hati dan pikiran? Atau kita ikut kajian sambil tiduran, bahkan tertidur sebelum kajian selesai?
Ini adalah ujian nyata dari apa yang selama ini kita klaim — bahwa kita belajar karena Allah, bukan karena manusia.
Mental Pantang Menyerah: Pelajaran dari Sa'ad
Salah satu pelajaran yang sangat penting dan sering terlewat dari hadits ini adalah mental pantang menyerah Sa'ad bin Abi Waqqash dalam mencari kebenaran dan kebaikan.
Ia mengajukan pertanyaan: boleh infak dua pertiga? Ditolak. Lalu setengah? Ditolak lagi. Lalu sepertiga? Baru diizinkan.
Kalau bukan dari kejujuran dan niat yang tulus, orang akan mundur di penolakan pertama. "Ah sudahlah, nggak diizinkan." Tapi Sa'ad maju lagi, maju lagi, sampai menemukan jawaban yang benar.
Ini pelajaran besar bagi kita yang sedang menghadapi hari-hari sulit. Di-PHK? Coba lagi. Usaha tutup? Bangkit lagi. Jatuh dalam kekeliruan? Perbaiki dan maju lagi. Seorang mukmin tidak larut dalam kegagalan — ia bangkit, bertaubat, dan mencoba kembali.
Nabi ﷺ bersabda: "Bersungguh-sungguhlah dalam mengejar yang bermanfaat bagimu, minta pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah." — HR. Muslim
Dan ingat: Sa'ad bin Abi Waqqash adalah satu dari sepuluh sahabat terbaik yang dijamin surga. Ia pun pernah salah. Pernah mengajukan angka yang tidak tepat. Tapi beliau tidak malu memperbaiki. Itulah yang membuat orang-orang terbaik menjadi terbaik — bukan karena tidak pernah salah, tapi karena tidak berhenti bangkit.
Berinfak dan Berbuat Baik Pun Butuh Ilmu
Hadits ini mengajarkan bahwa kebaikan hati saja tidak cukup. Berinfak dengan penuh semangat tanpa ilmu bisa menghasilkan kesalahan. Sa'ad ingin berinfak dua pertiga — niatnya mulia, tapi tidak tepat dalam kondisinya.
Nabi ﷺ justru mengingatkan tentang prioritas: ahli waris lebih berhak. Meninggalkan mereka dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga bergantung kepada orang lain.
Inilah yang dimaksud dengan ilmu prioritas — yang dalam istilah fiqih disebut fiqhul awlawiyyat. Para ulama seperti Ibnu Taimiyah menyatakan: ulama yang sejati bukan hanya tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Ulama sejati adalah yang tahu mana kebaikan terbaik di antara dua kebaikan yang berhadapan, dan mana keburukan yang paling harus dihindari ketika terpaksa memilih.
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berkata: "Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya." Karena niat baik harus dikawal dengan ilmu yang benar.
Mutiara Terbesar: Nafkah Diniatkan Karena Allah Mendapat Pahala
Nabi ﷺ bersabda kepada Sa'ad:
"Dan apapun yang engkau nafkahkan dengan niat mengharapkan wajah Allah, engkau akan mendapat pahala darinya — sampai pun suapan makanan yang kau masukkan ke mulut istrimu." — HR. Bukhari dan Muslim
Ini adalah kabar gembira yang luar biasa. Aktivitas yang paling biasa — memberi makan istri, menafkahi keluarga, bahkan menafkahi diri sendiri agar tidak menjadi beban orang lain — semua itu bisa bernilai pahala jika diniatkan karena Allah.
Mu'adz bin Jabal radhiyallahu anhu berkata: "Aku tidur dengan mengharapkan pahala dari Allah sebagaimana aku beraktivitas dengan mengharapkan pahala dari Allah." Para ulama menjelaskan dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar: amalan yang mubah (boleh), jika dikerjakan dengan niat agar mendukung pelaksanaan ibadah dan ketaatan kepada Allah, maka amalan tersebut dinilai sebagai ibadah dan mendapat pahala.
Maka praktisnya:
- Tidur yang diniatkan untuk menyiapkan tenaga beribadah esok hari — bernilai pahala.
- Mencari nafkah yang diniatkan agar keluarga tidak bergantung kepada orang lain dan agar bisa beribadah dengan tenang — bernilai pahala.
- Makan yang diniatkan untuk menjaga kesehatan demi bisa beribadah — bernilai pahala.
- Macet di jalan dalam perjalanan mencari nafkah yang diniatkan karena Allah — bisa bernilai pahala.
Bayangkan: dari 24 jam waktu kita, shalat lima waktu beserta sunnahnya mungkin menghabiskan 4-5 jam. Lalu 8 jam kerja, 4 jam perjalanan, tidur 7-8 jam. Semuanya bisa jadi ladang pahala — jika diniatkan karena Allah.
Jangan Pelit Menafkahi Keluarga
Al-Imam Muhammad bin Miskeen menyampaikan sebuah kekeliruan yang sering terjadi: sebagian orang merasa sedang melakukan ketaatan dan mendapat pahala ketika memberikan kepada fakir miskin, tapi ketika menafkahi istri dan anak-anak, hatinya berat dan merasa tidak sedang beribadah. Ini adalah kekeliruan yang perlu diluruskan.
Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya seorang muslim apabila menafkahi keluarganya dengan niat mengharapkan pahala dari Allah, maka ia mendapatkan pahala sedekah." — HR. Bukhari dan Muslim
Jadi memberi nafkah kepada keluarga dengan niat yang benar adalah sedekah. Bahkan Nabi ﷺ bersabda: "Dinardari sabilillah, dinar untuk memerdekakan budak, dinar yang kau sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang kau infakkan kepada keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah dinar yang kau infakkan kepada keluargamu." — HR. Muslim
Niat yang Ikhlas Mengangkat Derajat di Mana pun Kita Berada
Lanjutan hadits ini menyampaikan sesuatu yang sangat menyentuh. Sa'ad bertanya kepada Nabi ﷺ: "Ya Rasulullah, apakah aku akan ditinggal oleh para sahabat sementara aku meninggal di sini di Mekkah?"
Nabi ﷺ menjawab: "Sesungguhnya engkau tidak akan ditinggal di sini sambil beramal shaleh mengharapkan wajah Allah kecuali itu akan mengangkat derajat dan kedudukanmu di sisi Allah."
Kemudian Nabi ﷺ melanjutkan: "Insya Allah engkau tidak akan wafat di sini. Bahkan akan ada banyak orang yang mendapatkan manfaat dari keberadaanmu, dan ada pula yang akan merasa terganggu."
Dua pelajaran besar di sini.
Pertama: Di mana pun kondisi kita berada — diisolasi, terbatas, jauh dari yang kita cintai — selama kita beramal shaleh dengan niat yang ikhlas, Allah akan mengangkat derajat kita. Kondisi yang tidak nyaman bukan penghalang untuk meraih ketinggian derajat di sisi Allah. Kondisi isolasi bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan ketaatan.
Kedua: Seorang mukmin yang berprestasi selalu berada di hadapan dua kelompok: mereka yang mendapatkan manfaat darinya — dan itu umumnya orang-orang beriman yang tulus — dan mereka yang merasa terganggu olehnya — dan itu umumnya orang-orang yang hatinya penuh dengki dan hasad.
Al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata: "Ridha seluruh manusia adalah tujuan yang tidak mungkin terwujud." Selama kita sudah berusaha berbuat baik dengan benar dan ikhlas, jangan risau jika masih ada yang tidak suka. Pohon berbuah selalu ditimpuki batu. Itu sunnatullah.
Pelajaran Terakhir: Jangan Kembali ke Kondisi Sebelum Hijrah
Ada satu pelajaran lagi yang sangat penting dari hadits ini. Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kekhawatiran Sa'ad meninggal di Mekkah bukan karena ia tidak suka kota Mekkah — sebaliknya, ia sangat mencintai kota itu. Tapi karena kota Mekkah adalah kota yang sudah ditinggalkannya dalam rangka hijrah. Dan ada kekhawatiran: jangan sampai ia kembali menetap di tempat yang sudah ia tinggalkan dalam rangka hijrah kepada Allah.
Inilah pelajaran bagi kita yang sedang berhijrah. Doa Nabi ﷺ yang terkenal: "Ya Allah, langgengkanlah hijrah para sahabatku dan jangan buat mereka kembali ke kondisi sebelum mereka hijrah."
Kalau Sa'ad bin Abi Waqqash — sahabat terbaik, dijamin surga — begitu berhati-hati tentang masalah ini, bagaimana dengan kita?
Kalau dulu kita meninggalkan maksiat, jangan kembali. Kalau dulu kita meninggalkan pergaulan buruk, jangan kembali. Kalau dulu kita meninggalkan hal-hal yang melalaikan dari Allah, jangan kembali. Karena kembali ke kondisi sebelum hijrah adalah kemunduran yang sangat berat.
Penutup: Jadikan Setiap Detik Ladang Pahala
Hadits Sa'ad bin Abi Waqqash ini mengajarkan kita bahwa Islam adalah agama yang komprehensif. Tidak ada momen yang sia-sia bagi seorang mukmin yang paham tentang niat. Setiap nafkah, setiap suapan, setiap langkah dalam mencari rezeki — semua bisa menjadi ibadah jika diniatkan karena Allah.
Di hari-hari yang sulit ini, ketika banyak dari kita terbatas secara fisik dan materi, inilah yang perlu kita pegang: mainkan niat, jaga keikhlasan, dan jadikan setiap momen sebagai ladang pahala.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk senantiasa memurnikan niat dan meraih pahala dari setiap aktivitas sehari-hari kita.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 20: Panen Pahala dari Aktivitas Sehari-hari #2 Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=iDIH15Z_sxw
0 Komentar