Di tengah zaman yang begitu terobsesi dengan penampilan fisik, ada sebuah hadits singkat namun sangat mengguncang cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Hadits ini seakan menjadi jawaban langsung dari Allah untuk setiap orang yang keliru dalam menentukan parameter keberhasilan hidupnya.
Hadits Ketujuh: Yang Allah Lihat Bukan Fisikmu
Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sahar radhiyallahu ta'ala anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat jasmani kalian dan tidak melihat bentuk kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati kalian dan amal-amal kalian." — HR. Muslim
Dalam riwayat yang lain: "...hati kalian dan amal kalian." — dan riwayat kedua ini memperkuat serta menyempurnakan hadits pertama.
Mengenal Abu Hurairah: Start Terlambat, Hasil Luar Biasa
Nama asli beliau adalah Abdurrahman bin Sahar. Adapun Abu Hurairah adalah kuniyah — panggilan kehormatan — yang berasal dari kisah bahwa beliau suka bermain dengan kucing kecil (hurairah artinya kucing kecil). Nama ini lebih dikenal daripada nama aslinya.
Yang luar biasa dari Abu Hurairah adalah sebuah fakta yang sering membuat kita terkagum-kagum sekaligus tersadar: beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi ﷺ — yaitu 5.374 hadits. Tidak ada sahabat lain yang meriwayatkan lebih banyak dari beliau.
Padahal — dan inilah yang mengejutkan — beliau baru masuk Islam di awal tahun ke-7 Hijriah. Sedangkan Nabi ﷺ wafat di tahun ke-10 Hijriah. Artinya, beliau hanya mendampingi Nabi ﷺ sekitar tiga tahun. Tapi dalam tiga tahun itu, beliau mampu mengalahkan periwayatan sahabat-sahabat yang sudah lebih lama bersama Nabi ﷺ.
Rahasianya satu: mulazamah — menempel dan mendampingi Nabi ﷺ ke mana pun beliau pergi. Beliau sendiri mengatakan: "Aku ini orang miskin dari ahli Shuffah (orang-orang yang tinggal di masjid karena tidak punya rumah). Tapi aku senantiasa mendampingi Rasulullah ﷺ."
Kemiskinan bukan alasan. Start yang terlambat bukan halangan. Yang menentukan adalah kesungguhan dan bagaimana kita memaksimalkan setiap peluang yang ada.
Bahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu mengakui hal ini: "Wahai Abu Hurairah, engkaulah yang paling banyak mendampingi Rasulullah ﷺ, dan yang paling hafal hadits-hadits beliau di antara kami."
Ini pelajaran besar: jemput bola, kejar ilmu, jangan menunggu. Kalau kita menunggu peluang datang sendiri, mungkin peluang itu sudah diambil orang lain.
Abu Hurairah wafat di kota Madinah pada tahun 57 Hijriah. Semoga Allah merahmati beliau.
Pelajaran Pertama: Apa yang Dimaksud "Allah Tidak Melihat"?
Jangan salah pahami hadits ini. Bukan berarti Allah tidak mengetahui fisik kita — karena Allah adalah al-Bashir, Yang Maha Melihat segala sesuatu. Yang dimaksud "tidak melihat" di sini adalah dalam konteks parameter pahala dan kedekatan dengan Allah.
Al-Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan: yang dimaksud "melihat" dalam hadits ini adalah tolok ukur dan parameter. Apa yang menjadi ukuran Allah dalam memberikan pahala, kasih sayang, ampunan, dan kedekatan kepada hamba-Nya? Bukan fisik, bukan penampilan, bukan bentuk tubuh. Yang menjadi parameternya adalah hati dan amal.
Pelajaran Kedua: Kita Keliru dalam Menentukan Parameter
Hadits ini hadir untuk meluruskan sebuah kekeliruan besar yang sering terjadi. Ada orang-orang yang begitu fokus memperindah, memperbaiki, dan menyempurnakan fisik dan penampilan mereka — tapi lupa untuk memperbaiki hati dan amal shalehnya.
Jaga kesehatan itu bagus. Olahraga itu baik. Para sahabat Nabi ﷺ pun aktif secara fisik. Bukan itu yang dipermasalahkan.
Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang bisa sangat disiplin untuk urusan fisik — menolak makanan tertentu, konsisten olahraga, menjaga pola tidur — tapi ketika diajak menjaga shalat, menjaga lisan dari ghibah, menjaga hati dari hasad dan riya', semuanya terasa berat.
Bisa tegas menolak gula dalam minuman, tapi tidak bisa tegas menolak ghibah yang ditawarkan di majelis ngobrol. Bisa istiqomah latihan fisik bertahun-tahun, tapi tidak bisa istiqomah dalam satu waktu shalat. Ini yang perlu kita evaluasi.
Parameternya bukan fisik. Parameternya bukan penampilan yang terlihat manusia. Parameternya adalah hati dan amal yang Allah lihat.
Pelajaran Ketiga: Pentingnya Menata Hati
Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah menyatakan: "Memperhatikan kejernihan hati dan sifat-sifat hati yang positif itu harus diprioritaskan lebih dulu dibanding amalan-amalan fisik dan anggota tubuh."
Hati dulu, baru amalan. Ini bukan berarti amalan fisik tidak penting — tapi karena kalau hati baik, amalan fisik akan ikut baik dengan sendirinya. Sebaliknya, amalan fisik yang terlihat baik belum tentu mencerminkan hati yang baik.
Inilah inti dari sabda Nabi ﷺ yang sudah kita hafal: "Ketahuilah, di dalam jasad ada segumpal daging. Kalau ia baik, seluruh jasad akan baik. Kalau ia buruk, seluruh jasad akan buruk. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati." — HR. Bukhari dan Muslim
Maka memegang hati sama dengan memegang segalanya. Ini adalah paket lengkap.
Hati Itu Susah Dijaga — Pengakuan Para Ulama
Tapi jangan berpikir menata hati itu mudah. Justru inilah yang paling menantang dalam kehidupan seorang muslim.
Al-Imam Sufyan ats-Tsauri, ulama besar yang sangat dalam ilmunya, berkata: "Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati jiwa dan hatiku. Karena suatu waktu hati dan jiwaku mendukungku, tiba-tiba berubah jadi menyerangku."
Inilah mengapa hati disebut qalbu — dari kata taqallub yang berarti bolak-balik, berubah-ubah. Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu anhu berkata: "Perumpamaan hati seorang mukmin adalah seperti seekor burung kecil — tidak bisa diam, loncat ke sana, terbang ke sini, hinggap lagi, terbang lagi."
Para ulama besar pun menghabiskan waktu yang sangat lama untuk menata hati mereka. Yusuf bin Asbath membutuhkan sekitar 20 tahun. Al-Imam Muhammad bin al-Munkadir berkata: "Aku menghadapi dan mendisiplinkan jiwa dan hatiku selama 40 tahun, baru setelah itu hatiku bisa istiqomah mengharapkan ridha Allah."
Kalau ulama sekaliber itu membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menata hati — bagaimana dengan kita yang bahkan belum mulai berjuang dengan sungguh-sungguh?
Kenapa Hati Susah Dijaga? Dan Apa Solusinya?
Justru karena hati itu sulit dijaga, kita perlu terus-menerus merawatnya. Beberapa hal yang membantu menjaga hati:
Pertama, terus memohon kepada Allah. Salah satu doa Nabi ﷺ yang sering beliau ucapkan adalah: "Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" — Wahai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
Kedua, menjauhi hal-hal yang merusak hati — ghibah, hasad, riya', cinta dunia yang berlebihan, dan dosa-dosa yang menghitamkan hati.
Ketiga, memperbanyak ilmu yang benar — karena ilmu adalah cahaya yang menerangi hati.
Keempat, konsisten beramal shaleh — karena amal shaleh dan hati yang baik saling menguatkan satu sama lain.
Pelajaran Keempat: Hati yang Baik Melahirkan Amal yang Baik
Al-Imam Ibnu Muflih membawakan keterangan para ulama: "Baiknya hati mengandung konsekuensi akan baiknya seluruh jasad. Dan rusaknya hati mengandung konsekuensi akan rusaknya seluruh jasad."
Inilah mengapa Allah menyebut hati terlebih dahulu dalam hadits ini, baru kemudian amal. Karena hati adalah asal muasal dari segala amal. Hati yang baik akan melahirkan shalat yang khusyu', sedekah yang ikhlas, lisan yang terjaga, dan seluruh aktivitas yang diwarnai dengan ketaatan kepada Allah.
Dan ketika hati dan amal terjaga dengan baik, Allah menjanjikan sesuatu yang luar biasa. Allah berfirman dalam Surah an-Nahl ayat 97: "Barangsiapa yang beramal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan ia beriman — Kami akan anugerahkan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan balas mereka dengan ganjaran yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan."
Kehidupan yang baik di dunia. Ganjaran yang lebih besar di akhirat. Itulah buah dari hati yang baik dan amal yang shaleh.
Penutup: Mulai dari Sekarang
Tidak ada kata terlambat — sebagaimana Abu Hurairah membuktikannya. Baru masuk Islam di tahun ketujuh, tapi hasilnya mengalahkan siapapun dalam meriwayatkan hadits Nabi ﷺ. Yang menentukan bukan kapan kita mulai, tapi seberapa sungguh-sungguh kita dalam memaksimalkan waktu yang tersisa.
Mulailah menata hati hari ini. Evaluasi: apa yang selama ini kita jadikan parameter dalam hidup? Apakah penampilan fisik yang terlihat manusia, atau hati dan amal yang dilihat Allah?
Karena pada akhirnya, bukan manusia yang akan menghisab kita. Yang menghisab kita adalah Allah — dan Allah tidak melihat fisik kita, bentuk kita, atau penampilan kita. Yang Allah lihat adalah hati kita dan amal-amal kita.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memperbaiki hati kita, memurnikan amal-amal kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 21: Yang Dilihat Allah Darimu Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=DzC6Tzw_l2U
0 Komentar