Kita sering menyebut kata fii sabiilillah — di jalan Allah. Kata ini terasa begitu familiar di telinga kita. Tapi pernahkah kita benar-benar merenungkan: apa syarat sebuah amal itu benar-benar berada di jalan Allah? Hadits kedelapan dalam Riyadhus Shalihin memberikan jawaban yang sangat tegas dan mengejutkan.
Hadits Kedelapan: Yang Mana yang Di Jalan Allah?
Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu ta'ala anhu, beliau menceritakan: suatu ketika Nabi ﷺ ditanya tentang tiga tipe orang yang berperang:
Seseorang yang berperang dengan motif unjuk keberanian. Seseorang yang berperang dengan motif fanatisme golongan. Dan seseorang yang berperang dengan motif ingin dipuji oleh manusia.
Pertanyaannya: yang mana di antara ketiganya yang berada di jalan Allah?
Nabi ﷺ menjawab:
"Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah berada di atas dan tinggi — itulah yang berada di jalan Allah." — HR. Bukhari dan Muslim
Mengenal Abu Musa al-Asy'ari: Pemimpin yang Tidak Berubah oleh Jabatan
Nama asli beliau adalah Abdullah bin Qais bin Sulaim, dan kuniyah-nya adalah Abu Musa al-Asy'ari — keduanya sama-sama dikenal luas di kalangan ulama.
Beliau masuk Islam di Mekkah, lalu kembali ke kaumnya di Yaman, kemudian berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), dan dari sana berhijrah ke Madinah. Ketika beliau tiba bersama rombongannya setelah pembukaan Khaibar, Nabi ﷺ menyambut mereka dengan sabda yang luar biasa: "Kalian telah berhijrah dua kali — ke Habasyah dan ke Madinah — sehingga kalian mendapatkan pahala dua hijrah."
Pahala dua hijrah. Satu hijrah saja sudah sangat prestisius, apalagi dua.
Beliau juga mendapatkan doa khusus dari Nabi ﷺ: "Ya Allah, ampunilah dosa dan kekhilafan Abdullah bin Qais, dan masukkanlah beliau ke dalam surga pada hari kiamat." Doa nabi langsung untuk beliau.
Yang sangat menarik dari sosok Abu Musa al-Asy'ari adalah: jabatan tidak mengubah dirinya. Beliau pernah diangkat sebagai gubernur oleh Umar bin Khattab, lalu dicopot di zaman Utsman bin Affan, lalu diangkat kembali. Turun-naik jabatan itu beliau jalani dengan lapang dada — ketika dicopot, beliau pergi ke Kufah untuk mendidik dan mengajarkan ilmu kepada masyarakat, tidak berlarut-larut dalam kekecewaan.
Ini pelajaran besar bagi kita di hari-hari ini. Kehilangan pekerjaan, dicopot dari jabatan, usaha yang tidak berjalan — jangan terpuruk. Pindah ke peluang lain, tetap bermanfaat bagi orang, tetap jalan. Allah masih memberi kita kehidupan dan umur untuk terus bergerak.
Al-Imam adz-Dzahabi mencatat bahwa beliau adalah sosok yang sangat luar biasa dalam ibadah — kuat dalam puasa, shalat malamnya luar biasa, imannya kokoh, dan hatinya bersih. Umar bin Khattab pun pernah meminta kepada Abu Musa: "Wahai Abu Musa, tolong ingatkan kami kepada Rabb kami — bacakanlah Al-Qur'an untuk kami." Sebuah permintaan yang sangat indah dari seorang khalifah kepada sahabatnya: "Buat kami kangen kepada Allah."
Abu Musa al-Asy'ari wafat di tahun 44 Hijriah.
Pelajaran Pertama: Pentingnya Bertanya kepada Ahli Ilmu
Hadits ini dibuka dengan adegan para sahabat yang bertanya kepada Nabi ﷺ. Ini pelajaran tentang pentingnya bertanya kepada ahli ilmu — sebuah perintah langsung dari Allah dalam Surah an-Nahl ayat 43 dan Surah al-Anbiya ayat 7: "Bertanyalah kepada ahlinya jika kalian tidak mengetahui."
Bahkan hanya dengan bertanya — walaupun pertanyaan kita tidak terjawab, walaupun ustadz kita tidak sempat membacanya — kita sudah mengamalkan dua ayat Al-Qur'an tersebut dan mendapat pahala karenanya. Dan kalau kita bersabar menunggu jawaban, kita dapat pahala sabar pula.
Para sahabat adalah contoh terbaik dalam hal ini. Mereka tidak sungkan bertanya. Mereka tidak merasa sudah tahu segalanya. Padahal mereka adalah generasi terbaik umat ini — khairunnasi qarni. Kalau mereka yang terbaik pun terus bertanya, bagaimana dengan kita yang ilmunya jauh di bawah mereka?
Pelajaran Kedua: Ikhlas Itu Tidak Semudah yang Kita Kira
Inilah inti dari hadits ini yang paling menggetarkan. Jihad — mempertaruhkan nyawa di jalan Allah — ternyata pun bisa dilakukan bukan karena Allah. Ada yang berperang demi unjuk keberanian. Ada yang berperang demi fanatisme golongan. Ada yang berperang agar dipuji manusia.
Coba bayangkan: seseorang rela mempertaruhkan nyawanya — bukan hanya harta, bukan hanya waktu, tapi nyawanya — namun tetap saja niatnya bisa melenceng dari Allah. Lalu bagaimana dengan kita yang bahkan tidak mempertaruhkan nyawa dalam amalan kita sehari-hari?
Al-Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya: apakah beliau pernah ikhlas dalam satu hari menuntut ilmu? Beliau menjawab sambil menunjukkan betapa beratnya mengklaim hal itu — seolah tidak berani berkata ya.
Lalu al-Imam adz-Dzahabi mengomentari sikap beliau: "Demi Allah, saya pun tidak berani mengklaim bahwa saya pernah ikhlas menuntut ilmu dalam satu hari."
Renungkan: al-Imam Ahmad dan al-Imam adz-Dzahabi — dua ulama raksasa sepanjang sejarah Islam — tidak berani mengklaim ikhlas bahkan untuk satu hari menuntut ilmu saja. Sementara kita yang baru belajar agama beberapa tahun, dengan ilmu yang jauh di bawah mereka, seringkali dengan mudah mengklaim ikhlas.
Ini bukan untuk membuat kita putus asa. Ini untuk membuat kita berjuang lebih sungguh-sungguh dalam menjaga keikhlasan. Karena ikhlas itu mahal. Ikhlas itu butuh perjuangan seumur hidup.
Pelajaran Ketiga: Syarat Amal Diterima — Ikhlas
Al-Imam al-Qurthubi menyatakan dari hadits ini: "Disyaratkan ikhlas dalam berjihad, dan syarat ini berlaku untuk seluruh ibadah-ibadah yang lain."
Artinya, ikhlas bukan hanya syarat untuk jihad. Ikhlas adalah syarat diterimanya seluruh amal ibadah. Shalat tanpa ikhlas. Sedekah tanpa ikhlas. Puasa tanpa ikhlas. Dakwah tanpa ikhlas. Semua amalan itu tidak akan sampai kepada Allah sebagaimana yang sudah kita pelajari dari ayat al-Hajj: "Yang sampai kepada Allah adalah ketaqwaan dan keikhlasan kalian."
Pelajaran Keempat: Beramal Agar Kalimat Allah yang Tinggi, Bukan Diri Kita
Nabi ﷺ menjawab dengan sangat jelas: yang berada di jalan Allah adalah orang yang berjuang agar kalimat Allah yang tinggi dan menjulang — bukan agar dirinya yang terlihat, bukan agar namanya yang disebut, bukan agar ia yang jadi pahlawan.
Inilah yang harus menjadi fondasi niat kita dalam setiap amal, setiap dakwah, setiap karya. Ketika kita berbagi kebaikan, ketika kita mendakwahkan agama, ketika kita berjuang dalam kondisi sulit ini — niatnya bukan agar kita yang dipuja, bukan agar kita yang terlihat sebagai pahlawan. Niatnya adalah agar Allah yang dimuliakan, agar agama Allah yang ditinggikan.
Ini yang membedakan amal yang berkah dari amal yang sia-sia. Dan ini pula yang membedakan para ulama besar dari yang lain. Imam asy-Syafi'i rahimahullah tidak suka mencari panggung. Imam an-Nawawi rahimahullah menolak gelar Muhyiddin karena khawatir merusak keikhlasannya. Tapi lihat hasilnya — nama-nama mereka justru dimuliakan oleh jutaan orang hingga berabad-abad kemudian.
Abu Nu'aim menyebutkan keterangan para ulama: "Barangsiapa yang tidak suka popularitas, nanti dia akan populer sendiri." Karena Allah menjanjikan dalam Surah Maryam ayat 96: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, Allah akan jadikan rasa cinta di dalam hati-hati manusia kepada mereka."
Kalimat Penutup: Untuk Siapa Kita Beramal?
Hadits ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: untuk siapa semua ini?
Untuk siapa kita mencari ilmu? Untuk siapa kita berdakwah? Untuk siapa kita bekerja keras? Untuk siapa kita berjuang di hari-hari yang tidak mudah ini?
Kalau jawabannya adalah Allah — agar kalimat-Nya yang tinggi, agar agama-Nya yang tegak, agar hamba-hamba-Nya yang mendapat hidayah — maka itulah fii sabiilillah yang sesungguhnya.
Dan insya Allah, amal itu tidak akan sia-sia. Karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan perjuangan hamba-hamba-Nya yang ikhlas.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memurnikan niat-niat kita dan menjadikan seluruh amal kita benar-benar di jalan-Nya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Fii Sabiilillah (Di Jalan Allah) Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=a5VSpLtEUmQ
0 Komentar