Kita sering mendengar istilah taubat nasuha. Kita sering menyebutnya, kita sering mengajak orang lain untuk bertaubat nasuha. Tapi pernahkah kita benar-benar memahami apa maknanya? Al-Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan ada 23 keterangan dari para ulama tentang pengertian taubat nasuha. Wajar jika banyak di antara kita bingung — karena memang pembahasannya sangat luas dan dalam.
Dasar Perintah Taubat Nasuha
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah membawakan tiga ayat sebagai landasan wajibnya taubat.
Pertama, Surah an-Nur ayat 31: "Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung."
Ini adalah perintah yang sangat luas — ditujukan kepada seluruh orang yang beriman, bukan hanya kepada orang-orang yang bermaksiat besar. Orang beriman pun tetap diperintah untuk bertaubat. Dan yang sangat menarik: beruntung di dunia dan akhirat dikaitkan langsung dengan taubat kepada Allah. Bukan dikaitkan dengan angka tertentu, bukan dengan posisi tertentu — tapi dengan taubat.
Banyak orang ingin menjadi orang yang beruntung. Mereka belajar kebiasaan orang sukses, mencari formula keberuntungan. Tapi Allah sudah memberikan jawabannya: "Bertaubatlah kepada Allah, agar kalian beruntung." Kalau mau beruntung di dunia dan akhirat, bertaubatlah kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Kedua, Surah Hud ayat 3: "Beristighfarlah kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya."
Ketiga, Surah at-Tahrim ayat 8: "Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha."
Inilah ayat yang menjadikan istilah taubatan nasuha begitu populer di kalangan umat Islam.
Taubat Nasuha: Level Tertinggi dari Sebuah Pertobatan
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: taubat nasuha adalah taubat yang paling sempurna dari sebuah pertobatan — level tertinggi dan paling puncak dari sebuah taubat. Itulah mengapa keterangannya begitu banyak dan beragam — karena ini bukan sembarang taubat, ini adalah taubat pada tingkatan tertinggi.
Keterangan-keterangan para ulama yang tampak berbeda itu sebenarnya tidak kontradiksi — mereka saling melengkapi, seperti orang-orang yang melihat satu benda dari sudut yang berbeda-beda namun substansinya sama.
Makna Kata Nasuha
Untuk memahami taubat nasuha dengan benar, kita perlu kembali ke akar katanya. Kata nasuha memiliki dua makna dasar yang saling berkaitan.
Makna pertama: Murni. Dalam bahasa Arab, "asal nafah" artinya madu yang murni — madu yang tidak dicampuri apapun. Maka taubat nasuha adalah taubat yang murni, tulus, jujur, tanpa kepentingan apapun selain mencari wajah Allah.
Makna kedua: Jahitan. Nasuha atau nafaha juga berarti menjahit — proses yang mengikat dan menyatukan dua kain menjadi satu. Maka taubat nasuha adalah taubat yang menjahit — menyatukan hubungan seorang hamba dengan Allah melalui amal shaleh dan ketaatan, dan menjahit hubungan seorang hamba dengan wali-wali Allah, yaitu orang-orang shaleh.
Dua makna inilah yang menjadi kunci untuk memahami seluruh keterangan para ulama tentang taubat nasuha.
Keterangan Para Ulama tentang Taubat Nasuha
Al-Imam al-Qurthubi menjelaskan: taubat nasuha adalah Taubat yang jujur dan ikhlas, karena makna nasuha adalah murni. Taubat ini murni — bukan karena pangsa pasar, bukan karena ikut-ikutan, bukan karena kepentingan dunia apapun. Murni semata-mata karena Allah.
Beliau juga menyebutkan bahwa taubat nasuha memiliki empat unsur: istighfar dengan lisan, meninggalkan dosa dengan fisik, bertekad tidak kembali dengan hati, dan meninggalkan teman-teman serta lingkungan buruk yang mengajak kepada maksiat.
Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata: taubat nasuha adalah taubat di mana seseorang tidak kembali lagi ke maksiatnya — sebagaimana susu yang sudah diperah tidak bisa dikembalikan lagi ke sumbernya. Begitulah tekad orang yang taubat nasuha: tidak ada jalan kembali.
Sebagian ulama mengatakan: taubat nasuha adalah taubat di mana seseorang senantiasa menghadapkan wajahnya kepada Allah — sebagaimana dulu ketika bermaksiat ia membelakangi Allah, kini ia berbalik dan selalu mengarah kepada Allah. Setiap langkah, setiap keputusan, setiap jalan yang diambil — semuanya mengarah kepada Allah.
Al-Imam Animethaliya al-Saqoti mengatakan: taubat nasuha tidak akan terwujud kecuali dengan selalu memberikan nasihat kepada diri sendiri untuk tetap di jalan Allah, dan menasihati orang-orang beriman. Ini berkaitan dengan makna jahitan — karena taubat nasuha akan menjahit hubungan kita dengan wali-wali Allah. Dan caranya adalah dengan saling menasihati, saling menguatkan, membangun ikatan yang kuat dengan orang-orang shaleh.
Al-Imam Abu Bakar al-Wasithi mengatakan: taubat nasuha adalah taubat yang bukan karena kehilangan sesuatu lalu mencari penggantinya. Bukan karena bisnis lama rusak lalu pindah ke bisnis baru yang lebih menguntungkan. Tapi murni karena Allah subhanahu wa ta'ala.
Tiga Unsur Taubat Nasuha Menurut Al-Imam Ibnu Rajab
Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah merangkum taubat nasuha dalam tiga unsur yang sangat komprehensif.
Pertama, mencakup seluruh dosa — tidak pilah-pilih. Taubat nasuha bukan taubat dari zina tapi masih minum khamar. Bukan meninggalkan riba tapi masih meninggalkan kewajiban menuntut ilmu. Taubat nasuha mencakup seluruh dosa secara komprehensif — meskipun prosesnya bisa bertahap, tapi tekadnya harus menyeluruh. Ini berkaitan dengan makna "murni" — kalau murni, tidak ada yang tersisa, tidak ada yang dikecualikan.
Kedua, penuh tekad yang bulat dan kejujuran — untuk meninggalkan semua dosa dan beralih kepada ketaatan. Tidak maju-mundur, tidak setengah hati. Ini level tertinggi taubat, maka tekadnya pun harus sekuat-kuatnya. Orang yang taubat nasuha memiliki mental juara — tekad yang besar dan kejujuran yang total kepada Allah.
Ketiga, membersihkan seluruh obsesi dan keinginan yang bukan karena Allah — yang bisa merusak kemurnian taubat. Taubat harus benar-benar murni karena takut kepada Allah, karena mengharapkan rahmat Allah, karena takut akan siksa Allah. Bukan karena ikut-ikutan suami hijrah, bukan karena istri ngaji, bukan karena ada keuntungan duniawi di baliknya.
Kesimpulan: Taubat Nasuha dalam Satu Gambar
Ketika kita mendengar kata taubat nasuha, ingatlah dua kata kuncinya: murni dan jahitan.
Murni berarti tulus, jujur, ikhlas karena Allah semata. Tidak ada kepentingan lain di baliknya. Tidak ada campuran motif dunia.
Jahitan berarti taubat itu menjahit dua hubungan: hubungan kita dengan Allah melalui amal shaleh dan ketaatan yang semakin kuat, dan hubungan kita dengan orang-orang shaleh — karena orang yang benar-benar taubat akan otomatis mengubah lingkungannya, meninggalkan teman-teman yang buruk dan membangun ikatan yang kuat dengan orang-orang yang bertakwa.
Dan taubat nasuha itu mencakup seluruh dosa, dilakukan dengan tekad yang bulat, dan murni karena Allah — bukan karena kepentingan apapun selain wajah-Nya.
Momentum Terbaik: Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
Kajian ini disampaikan di hari ke-18 Ramadhan, tepat menjelang masuknya sepuluh hari terakhir — malam-malam terbaik dalam setahun, yang salah satunya mengandung Lailatul Qadar.
Kalau kita merasa Ramadhan ini belum maksimal, masih ada waktu. Hari ke-18, 19, 20 — gunakan untuk pemanasan. Lalu ketika masuk malam ke-21, tunjukkan amal terbaik kita.
Jangan sia-siakan momen ini. Jadikan sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai momentum taubat nasuha yang sesungguhnya — murni, menyeluruh, penuh tekad, dan hanya karena Allah subhanahu wa ta'ala.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubat kita, menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertaubat nasuha, dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 32: Apa Itu Taubat Nasuha? Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=uey8_-vtFY0
0 Komentar