Ada sebuah fakta yang seharusnya mengguncang hati kita dan sekaligus membakar semangat kita untuk beristighfar. Nabi Muhammad ﷺ — manusia terbaik yang pernah ada, yang seluruh dosa-dosanya telah diampuni, yang shalatnya sampai membuat kaki beliau bengkak, yang membaca tiga surah panjang dalam satu rakaat — beristighfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari 70 kali bahkan 100 kali dalam sehari. Lalu bagaimana dengan kita?
Dua Hadits Pembuka Bab Taubat
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah membuka bab taubat dengan dua hadits yang saling melengkapi.
Hadits pertama — dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Demi Allah, sungguh aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali." — HR. Bukhari.
Hadits kedua — dari Al-Agharr bin Yasar al-Muzani radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan beristighfarlah kalian. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali." — HR. Muslim.
Mengenal Al-Agharr bin Yasar al-Muzani
Beliau adalah seorang sahabat Nabi ﷺ dari kalangan al-Muhajirin. Yang meriwayatkan hadits darinya adalah nama-nama besar seperti Umar bin Khattab, Muawiyah bin Qurrah, dan Abu Burdah putra Abu Musa al-Asy'ari. Ini menunjukkan kedudukan beliau yang mulia di sisi para sahabat senior.
Pelajaran Pertama: Betapa Seringnya Nabi ﷺ Beristighfar
Nabi ﷺ beristighfar dan bertaubat lebih dari 70 kali — bahkan 100 kali — dalam sehari. Ini adalah fakta yang harus kita hayati sungguh-sungguh.
Siapa Nabi ﷺ? Beliau adalah manusia yang paling mulia. Beliau shalat malam hingga kaki beliau bengkak. Beliau membaca surat al-Baqarah, an-Nisa, dan Ali Imran dalam satu rakaat. Beliau berpuasa dengan cara yang tidak mampu kita ikuti. Beliau adalah manusia yang telah dijamin Allah pengampunannya. Tapi beliau tetap beristighfar 100 kali sehari.
Lalu bagaimana dengan kita yang penuh dengan dosa, lalai, banyak hilaf, banyak meninggalkan kewajiban?
Ini adalah cambuk yang seharusnya membuat kita tidak pernah berhenti beristighfar.
Pelajaran Kedua: Nabi ﷺ Mendidik dengan Lisan dan Keteladanan
Dalam hadits kedua, Nabi ﷺ tidak hanya memerintahkan: "Wahai manusia, bertaubatlah dan beristighfarlah." Beliau langsung menambahkan: "Sesungguhnya aku sendiri bertaubat 100 kali dalam sehari."
Ini adalah teladan yang sempurna — mendidik dengan lisan sekaligus dengan amal nyata. Allah berfirman dalam Surah al-Ahzab ayat 21: "Dan sungguh telah ada dalam diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah."
Nabi ﷺ bukan sekadar pembicara yang baik — beliau adalah teladan yang hidup. Apa yang beliau ucapkan, beliau amalkan. Inilah yang membuat para sahabat rela meninggalkan segalanya demi mengikuti beliau. Mereka melihat bahwa apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan adalah satu kesatuan yang sempurna.
Pelajaran bagi kita: berusahalah mengamalkan apa yang kita ucapkan. Kita tidak akan pernah bisa menyamai Nabi ﷺ dalam hal ini, tapi setidaknya kita berusaha. Dan ketika tergelincir dan bersalah — istighfar, taubat, bangkit lagi.
Pelajaran Ketiga: Istighfar Harus Dilakukan dengan Kejujuran
Ini adalah poin yang sangat penting dan sering terabaikan. Beristighfar 100 kali, 200 kali, bahkan 1000 kali — tapi dilakukan tanpa kejujuran, tanpa kehadiran hati — itu belum istighfar yang sebenarnya.
Jujur artinya: apa yang diucapkan dan apa yang ada dalam hati serta kenyataan hidup kita itu sama. Kalau kita mengucapkan "Astaghfirullah wa atubu ilaih" — aku beristighfar dan aku bertaubat kepada Allah — tapi setelah itu kita kembali berbuat maksiat, ngobrol tidak jelas, membuang-buang waktu dengan hal yang tidak bermanfaat, maka di mana kejujurannya?
Nabi ﷺ ketika mengucapkan istighfar dan taubat, itu benar-benar tercermin dalam seluruh kehidupan beliau. Setiap langkah beliau adalah kembali kepada Allah. Itulah level istighfar dan taubat yang beliau lakukan 100 kali sehari.
Apa Itu Istighfar? Memahami Makna Maghfiroh
Istighfar artinya meminta maghfiroh — dan maghfiroh dari sisi bahasa berarti menutup dan memelihara. Para ulama dalam kitab-kitab bahasa seperti Lisanul Arab menjelaskan: ghafara bermakna menutup, juga bermakna menjaga dan memelihara dari terjadinya keburukan.
Maka secara istilah, istighfar adalah: meminta kepada Allah agar Dia menutup dosa-dosa kita dan menjaga kita dari keburukan yang disebabkan oleh dosa-dosa tersebut.
Ini dua hal yang berbeda — dan keduanya kita minta sekaligus:
Pertama, menutup dosa — artinya Allah tidak mempermalukan kita di hadapan manusia karena dosa-dosa kita, aib kita tidak terbuka.
Kedua, menjaga dari dampak buruk dosa — artinya Allah tidak membuat kita terkena keburukan, musibah, atau hukuman akibat dosa-dosa kita itu.
Para ulama menjelaskan — bisa dicek dalam al-Fatawa al-Kubra karya Imam Ahmad bin Abdul Halim — bahwa kedua hal ini berbeda. Bisa saja dosa seseorang ditutupi di hadapan manusia, tapi ia tetap dihukum secara batin: dibuat gelisah, paranoid, tidak tenang, depresi. Maka kita meminta keduanya kepada Allah.
Allah berfirman dalam Surah Syura ayat 30: "Dan apapun yang menimpa kalian itu ada faktor dari dosa-dosa kalian sendiri. Dan Allah memaafkan banyak dari dosa-dosa kalian."
Inilah mengapa istighfar itu sangat penting: karena banyak masalah dan kesulitan yang kita hadapi dalam kehidupan ini ada kaitannya dengan dosa-dosa kita sendiri. Dan dengan istighfar yang tulus, kita memohon kepada Allah agar menutup dan melindungi kita dari dampak buruk dosa-dosa itu.
Teladan al-Imam Abu Hanifah
Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah — imam madzhab Hanafi, salah satu dari empat imam besar — diriwayatkan bahwa ketika beliau menghadapi persoalan yang sulit dan rumit, beliau berkata kepada murid-muridnya: "Ini tidak terjadi kecuali karena ada faktor dosa yang aku lakukan." Lalu beliau beristighfar kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Beliau tidak menyalahkan murid-muridnya. Beliau tidak menyalahkan kondisi. Beliau segera melihat ke dalam dirinya sendiri dan beristighfar.
Itulah sikap orang yang 'arif billah — yang benar-benar mengenal Allah. Semakin tinggi maqam seseorang, semakin ia melihat bahwa setiap masalah ada kaitannya dengan kondisi dirinya sendiri di hadapan Allah.
Kita sebaliknya — ketika ada masalah, yang pertama kita cari adalah siapa yang salah di luar sana. Padahal para imam besar itu justru langsung beristighfar kepada Allah.
Sifat Allah: Al-Aziz Al-Ghaffar
Allah berfirman dalam Surah Shaad ayat 66: "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya — Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."
Para ulama menjelaskan: mengapa dua nama ini — al-Aziz (Yang Maha Perkasa) dan al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun) — disandingkan dalam satu ayat?
Pesan yang ingin disampaikan adalah: ketika Allah mengampuni dosa kita, itu bukan karena Allah tertekan, terdesak, atau takut kepada kita. Bukan karena kita menakutkan bagi-Nya. Bukan karena Allah tidak bisa menghukum kita. Allah adalah al-Aziz — Yang Maha Perkasa — dan dalam keperkasaan itulah Dia tetap mengampuni. Ini murni karena karunia, kebaikan, dan rahmat Allah kepada kita.
Inilah yang harus kita resapi saat beristighfar: bahwa Allah mengampuni kita bukan karena terpaksa, tapi karena Dia memang Maha Baik dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.
Cara Beristighfar yang Benar
Seorang jamaah bertanya tentang tata cara bertaubat. Jawaban ringkasnya: padukan antara lisan dan hati, lalu terapkan syarat-syarat taubat.
Redaksi yang mudah: "Astaghfirullah wa atubu ilaih" — aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Tapi saat mengucapkannya, resapilah maknanya: "Ya Allah, tutuplah dosa-dosaku. Dan jangan biarkan aku terkena keburukan dari dosa-dosaku sendiri."
Lalu terapkan dalam kehidupan nyata: tinggalkan maksiat itu, sesali perbuatan dosa itu, tekad untuk tidak kembali. Prosesnya mungkin bertahap — mungkin tidak bisa sekaligus. Yang penting ada progres, ada kemajuan menuju Allah setiap harinya.
Dan kalau jatuh lagi — istighfar lagi, taubat lagi, bangkit lagi. Jangan berputus asa dari rahmat Allah.
Penutup: Jangan Sia-siakan Waktu yang Tersisa
Kajian ini disampaikan menjelang masuknya sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ini adalah momen paling krusial — karena menjaga diri di hari-hari tengah Ramadhan lebih sulit daripada di awal, saat semangat masih tinggi.
Syaitan tidak akan membiarkan kita masuk ke sepuluh malam terakhir dengan tenang. Ia akan terus berusaha menggelincirkan kita — membuat kita jatuh, putus asa, merasa tidak layak, merasa tidak punya harapan.
Maka jawaban kita adalah: istighfar. Terus beristighfar. Seperti Nabi ﷺ yang beristighfar 100 kali sehari. Setiap kali jatuh, segera bangkit dengan istighfar dan taubat. Jangan beri setan ruang untuk membuat kita terpuruk.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menerima istighfar dan taubat kita, menutup dosa-dosa kita, dan melindungi kita dari keburukan yang disebabkan oleh dosa-dosa kita sendiri.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 33: Berapa Kali Nabi ﷺ Beristighfar? Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=W1aSIccXD38
0 Komentar