Ada sebuah hadits yang seharusnya menghapus semua keputusasaan dari hati kita. Sebuah hadits yang menggambarkan betapa Allah subhanahu wa ta'ala tidak pernah menutup pintu-Nya — siang maupun malam, tanpa terkecuali — bagi siapapun yang ingin kembali kepada-Nya. Ini adalah hadits tentang luasnya ampunan Allah yang tidak bertepi.
Hadits Ketiga Bab Taubat
Dari Abu Musa Abdillah bin Qais al-Asy'ari radhiyallahu ta'ala anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang-orang yang melakukan kesalahan di waktu siang bertaubat kepada-Nya. Dan Allah membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang-orang yang melakukan kesalahan di waktu malam bertaubat kepada-Nya. Dan itu terus terjadi sampai matahari terbit dari barat." — HR. Muslim
Pelajaran Pertama: Allah Sangat Mencintai Taubat Seorang Hamba
Hadits ini menegaskan kembali apa yang sudah kita pelajari di hadits sebelumnya: Allah subhanahu wa ta'ala sangat mencintai taubat seorang hamba. Tidak pernah, tidak satu pun saat, Allah menutup pintu-Nya.
Siang hari — Allah membentangkan tangan-Nya untuk orang yang berbuat dosa di malam hari. Malam hari — Allah membentangkan tangan-Nya untuk orang yang berbuat dosa di siang hari. Terus-menerus, tanpa henti, tanpa jeda — sampai matahari terbit dari barat.
Bandingkan dengan manusia: kita sering menutup diri, menolak memaafkan, meminta orang yang bersalah untuk menunggu dulu, atau bahkan pura-pura tidak melihat. Allah tidak demikian. Allah yang Maha Kaya, Maha Agung, ar-Rahman ar-Rahim — selalu membentangkan tangan-Nya.
Pelajaran Kedua: Allah Memiliki Tangan
Hadits ini menetapkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala memiliki tangan — sebagaimana yang Nabi ﷺ sabdakan dengan jelas. Dan ini selaras dengan apa yang Allah sendiri firmankan dalam Surah al-Maidah ayat 64, ketika meluruskan anggapan yang sangat tidak pantas dari sebagian orang yang berkata bahwa "tangan Allah terbelenggu." Allah menjawab: "Bahkan kedua tangan Allah terbuka dan terbentang."
Maka kita tetapkan bahwa Allah memiliki tangan — sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan — dengan kemahakesempurnaan Allah, dan tanpa menyerupakan dengan tangan makhluk-Nya. Allah berfirman dalam Surah asy-Syura ayat 11: "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Pelajaran Ketiga: Membuka Pintu Harapan
Hadits ini adalah pembuka pintu harapan yang sangat lebar. Tidak ada alasan untuk berputus asa. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk ditaubati. Tidak ada masa lalu yang terlalu kelam untuk bisa kembali kepada Allah.
Bayangkan: seseorang tadi malam melakukan kesalahan. Lalu di siang harinya, Allah membentangkan tangan-Nya — mengatakan secara kiasan: kembalilah, Aku terima kamu. Dan seseorang tadi siang melakukan kesalahan — di malam harinya Allah membentangkan tangan-Nya lagi.
Tidak ada jendela waktu yang ditutup. Tidak ada shift istirahat bagi Allah untuk menerima taubat. Setiap siang dan setiap malam, tangan Allah terbentang.
Inilah mengapa harapan itu penting. Manusia yang kehilangan harapan bisa membunuh dirinya sendiri, bisa jatuh ke dalam keputusasaan yang menghancurkan. Islam hadir untuk memberikan harapan itu — bahwa selalu ada jalan kembali, selalu ada pintu yang terbuka, selalu ada Rabb yang menerima.
Pelajaran Keempat: Segera Bertaubat, Jangan Tunda
Hadits ini juga mengajarkan kita untuk segera bertaubat ketika melakukan kesalahan — tidak menunda.
Idealnya: begitu melakukan kesalahan, langsung bertaubat. Tidak perlu menunggu malam jika salahnya di siang hari. Tidak perlu menunggu pagi jika salahnya di malam hari. Segera, saat itu juga.
Para ulama menyebutkan: "Jangan biarkan dosa bermalam dalam dirimu." Karena semakin lama dosa itu dibiarkan tanpa taubat, semakin mengkarat, semakin sulit dihilangkan. Seperti noda di pakaian putih — kalau langsung dicuci mudah hilang, tapi kalau dibiarkan berhari-hari semakin sulit dibersihkan.
Menunda taubat adalah salah satu tipu daya setan. Setan berbisik: "Nanti saja, besok aja, tunggu kondisi lebih baik, tunggu lebih siap." Dan semakin kita menunda, semakin noda itu mengkarat dan semakin sulit untuk berubah.
Namun — dan ini penting — hadits ini juga mengajarkan bahwa walaupun sudah agak terlambat, Allah tetap menerima. Bukan berarti kita harus menunggu malam untuk taubat dari dosa siang. Tapi kalau memang sudah terlambat, jangan putus asa. Allah tetap menerima taubat, walaupun waktunya agak telat.
Pelajaran Kelima: Gambaran Tangan Terbuka — Rasa Diterima
Ada sesuatu yang sangat dalam dari gambaran "tangan terbuka" atau "tangan terbentang" dalam hadits ini. Dalam kehidupan manusia, tangan terbuka memberikan rasa nyaman, rasa diterima, rasa aman.
Seorang guru yang berkata kepada muridnya: "Kapanpun kamu butuh, aku selalu menerimamu dengan tangan terbuka." Seorang ibu yang berkata kepada anaknya yang melakukan kesalahan fatal: "Separah apapun kesalahanmu, kamu adalah anakku dan ibu selalu menerimamu dengan tangan terbuka." Seorang ayah yang berkata: "Seburuk apapun namamu di masyarakat, ayahmu selalu menerimamu dengan tangan terbuka."
Kita tahu bagaimana perasaan seseorang yang mendengar kata-kata itu — hatinya mencair, air matanya jatuh, semangatnya bangkit kembali.
Nah, Allah subhanahu wa ta'ala — ar-Rahman ar-Rahim, al-Ghaffar, al-Ghafur — membentangkan tangan-Nya siang dan malam untuk setiap hamba yang mau kembali kepada-Nya. Tidak hanya untuk orang-orang baik. Tidak hanya untuk orang yang sedikit dosanya. Tapi untuk siapapun yang mau bertaubat — termasuk orang yang mungkin sudah dibuang oleh keluarganya, dicampakkan oleh pasangannya, dianggap sampah oleh masyarakatnya.
Ketika semua pintu manusia tertutup, pintu Allah tetap terbuka dengan tangan terbentang.
Penutup: Jangan Tunggu Lagi
Dari hadits ini, pesannya sangat jelas: bertaubatlah sekarang. Jangan nunggu malam jika baru berbuat dosa siang ini. Jangan nunggu pagi jika baru berbuat dosa malam ini. Jangan nunggu kondisi lebih baik. Jangan nunggu lebih siap.
Allah membentangkan tangan-Nya siang dan malam. Pintu itu terbuka. Yang perlu kita lakukan hanyalah melangkah dan kembali.
Dan ketika kita sudah kembali, Allah menerima dengan kegembiraan yang — sebagaimana hadits sebelumnya — lebih besar dari kegembiraan orang yang selamat dari kematian. Allah tidak marah-marah. Allah tidak mengungkit-ungkit. Allah menerima dengan penuh kegembiraan dan kasih sayang.
Maka tidak ada alasan untuk menunda taubat. Tidak ada alasan untuk berputus asa. Pintu itu selalu terbuka — sampai matahari terbit dari barat.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubat kita semua, membentangkan rahmat-Nya kepada kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa kembali kepada-Nya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 35: Luasnya Ampunan Allah Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=L2DvfT5AS1Q
0 Komentar