Ada sebuah hadits yang seharusnya membuat kita tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Sebuah hadits yang menggambarkan kegembiraan Allah ketika seorang hamba bertaubat kepada-Nya dengan gambaran yang sangat nyata dan sangat menyentuh. Hadits ini adalah bahan bakar bagi setiap jiwa yang merasa terlalu kotor, terlalu kelam, terlalu berdosa untuk bisa kembali kepada Allah.
Hadits Kedua Bab Taubat: Kegembiraan Allah yang Luar Biasa
Dari Abu Hamzah — yaitu Anas bin Malik al-Anshari radhiyallahu anhu, asisten Rasulullah ﷺ — bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sungguh Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hamba daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang terjatuh dari untanya lalu kehilangan untanya di padang pasir, kemudian menemukannya kembali." — HR. Bukhari dan Muslim.
Dan dalam riwayat Imam Muslim dengan redaksi yang lebih detail:
"Sungguh Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hambanya ketika hamba itu bertaubat kepada-Nya, dibandingkan salah seorang dari kalian yang mengendarai untanya di padang pasir lalu untanya kabur dan menghilang — dan di atas unta itu ada makanan dan minumannya — lalu ia berputus asa karena unta itu, lalu ia mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya. Dan ketika ia dalam kondisi demikian, tiba-tiba untanya muncul di hadapannya. Ia memegang tali kekangnya, lalu karena sangat gembiranya ia mengucapkan: 'Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu' — ia salah ucap karena sangat gembiranya." — HR. Muslim.
Mengenal Anas bin Malik
Anas bin Malik radhiyallahu anhu adalah asisten Rasulullah ﷺ yang sudah kita kenal dalam kajian-kajian sebelumnya. Ibunya dengan kecerdasannya yang luar biasa menyerahkan beliau semenjak kecil untuk berkhidmat kepada Rasulullah ﷺ. Kunci keberhasilan beliau adalah berkhidmat — melayani, mendampingi, dan senantiasa berada di sisi Rasulullah ﷺ. Dan hasilnya, beliau menjadi salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi ﷺ.
Pelajaran Pertama: Allah Memiliki Sifat Gembira
Hadits ini menetapkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala memiliki sifat gembira. Ini adalah pembahasan yang berkaitan dengan iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Al-Imam Ibnu Abil 'Izz rahimahullah — salah satu ulama besar madzhab Hanafi — menyatakan kaidah yang sangat penting: apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita tetapkan. Dan apa yang ditiadakan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita tiadakan.
Nabi ﷺ menyatakan bahwa Allah bergembira dengan taubat hamba-Nya. Maka kita tetapkan bahwa Allah memiliki sifat gembira — dengan kemahakesempurnaan Allah, dan tanpa menyerupakan dengan kegembiraan makhluk-Nya. Allah berfirman: "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." — QS. asy-Syura: 11.
Pelajaran Kedua: Nabi ﷺ Mendidik dengan Permisalan
Hadits ini menunjukkan metode pengajaran Nabi ﷺ yang sangat efektif: memberikan contoh, analogi, dan permisalan agar pesan lebih mudah dipahami dan lebih menghujam ke dalam hati.
Dan ketika digunakan untuk menjelaskan sifat Allah, para ulama menggunakan istilah qiyas al-aula — bahwa kalau makhluk saja bisa memiliki sifat baik seperti itu, maka Allah yang sempurna tentu memiliki sifat itu di level yang jauh lebih tinggi dan lebih sempurna.
Nabi ﷺ pernah bersabda: "Allah lebih sayang kepada hamba-Nya dibandingkan sayangnya seorang ibu kepada anaknya." Kalau ibu saja bisa sesayang itu, apalagi Allah yang memiliki sifat sayang yang sempurna dan tak terbatas.
Pelajaran Ketiga: Menghayati Kegembiraan Allah
Bayangkan gambaran yang Nabi ﷺ lukiskan: seseorang sedang berjalan dengan untanya di padang pasir yang panas menyengat. Untanya tiba-tiba kabur dan menghilang. Di atas unta itu ada seluruh bekal — makanan dan minumannya. Ia mencari ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang. Tidak ada tanda-tanda untanya sejauh mata memandang.
Akhirnya ia menyerah dan berbaring di bawah pohon. Putus asa, menunggu ajal. Bukan putus asa dari Allah — tapi putus asa dengan kehidupannya. Ia berpikir inilah akhir hayatnya.
Lalu tiba-tiba — di detik-detik putus asa itu — untanya muncul berdiri tepat di hadapannya.
Gembiranya seperti apa? Seperti penumpang pesawat yang baru selamat dari turbulensi yang luar biasa dahsyat. Seperti awak kapal yang baru diselamatkan dari ombak setinggi gedung. Seperti orang yang baru keluar dari ruang gawat darurat setelah divonis selamat dari penyakit yang hampir membunuhnya. Gembiranya sampai-sampai salah ucap: "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu" — keceplosan karena sangat amat gembiranya.
Nabi ﷺ bersabda: Allah lebih gembira dari itu ketika seorang hamba bertaubat kepada-Nya.
Subhanallah. Bayangkan itu. Ketika kita mengucapkan "Rabbighfirli" — Ya Allah, ampunilah aku — dengan tulus, dengan penyesalan yang sungguh-sungguh, dengan tekad untuk berubah — Allah lebih gembira dari semua momen kegembiraan terbesar yang pernah kita bayangkan.
Pelajaran Keempat: Allah Merespon Taubat dengan Cepat
Al-Imam al-Qurthubi menjelaskan: hadits ini menggambarkan bagaimana Allah langsung merespon taubat seorang hamba dengan menerima taubat tersebut — sebagaimana pemilik unta yang begitu melihat untanya langsung meraih tali kekangnya tanpa menunggu, tanpa menunda.
Bandingkan dengan pengalaman kita ketika meminta maaf kepada sesama manusia: sering ditunda, sering dianggurin, sering harus menunggu berminggu-minggu. Bahkan ada yang sudah meminta maaf tapi masih diserang balik, masih diungkit-ungkit, masih dimarahin. Atau maafnya ada tapi tetap tidak hangat, tetap dingin, tetap menjaga jarak.
Tidak demikian dengan Allah. Begitu kita bertaubat kepada-Nya, Allah langsung menerimanya dengan penuh kegembiraan. Tidak ada penundaan. Tidak ada syarat menunggu dulu seminggu. Tidak ada "besok aja dibicarakannya." Allah al-Ghaffar, al-Ghafur — langsung merespon, langsung menerima.
Pelajaran Kelima: Memberikan Harapan kepada Para Pendosa
Ini adalah pelajaran yang sangat penting dan sangat relevan bagi siapapun yang merasa sudah terlalu kotor untuk bisa kembali kepada Allah.
Allah berfirman dalam Surah az-Zumar ayat 53: "Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Seluruh dosa. Tidak ada pengecualian. Selama belum terlambat, selama nyawa belum di kerongkongan, selama matahari belum terbit dari barat — pintu taubat selalu terbuka.
Inilah mengapa hadits ini begitu penting: ia membuka pintu harapan selebar-lebarnya. Separah apapun kesalahan kita. Sekelam apapun masa lalu kita. Sekotor apapun dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Allah tetap gembira ketika kita bertaubat. Allah tetap menerima. Allah tidak marah. Allah tidak mencaci. Allah tidak mengungkit-ungkit.
Orang bunuh diri kebanyakan karena sudah tidak punya harapan. Islam hadir untuk memberikan harapan itu. Pintu harapan selalu ada, selalu terbuka. Dan bukan harapan kosong — tapi harapan yang bersandar kepada Allah Yang Maha Pengampun, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Gembira ketika hamba-Nya kembali kepada-Nya.
Pelajaran Keenam: Keceplosan yang Dimaafkan
Ada satu pelajaran yang menarik dari hadits ini yang sering terabaikan. Orang yang menemukan untanya itu salah ucap: "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu." Secara harfiah, itu adalah kalimat yang sangat keliru — menukar posisi dirinya dan Allah.
Tapi Nabi ﷺ menyebutkan ini bukan untuk mengecam orang itu — beliau menyebutkannya untuk menggambarkan betapa dahsyatnya kegembiraan orang itu. Dan para ulama menjelaskan: kalimat seperti itu, yang keluar bukan karena ada maksud buruk tapi karena keceplosan di saat sangat gembira — dimaafkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Kalau kalimat yang sangat keliru seperti itu dimaafkan karena keceplosan dan tanpa niat — maka betapa luasnya rahmat Allah untuk kalimat-kalimat lain yang kita ucapkan tanpa maksud.
Pelajaran bagi kita dalam berinteraksi dengan sesama: teladanilah sikap ini. Ketika ada orang yang keceplosan ngomong sesuatu yang tidak pantas tapi jelas bukan karena ada maksud buruk — maafkanlah. Kita semua banyak salah, banyak hilaf, banyak keceplosan.
Penutup: Hadiah di Sepuluh Malam Terakhir
Kajian ini disampaikan tepat menjelang masuknya sepuluh malam terakhir Ramadhan — malam-malam terbaik dalam setahun, yang salah satunya mengandung Lailatul Qadar. Dan hadits ini adalah bahan bakar yang sangat tepat untuk mengisi malam-malam itu.
Tidak ada alasan untuk berputus asa. Tidak ada alasan untuk merasa tidak layak bertaubat. Tidak ada alasan untuk menunda. Allah menunggu taubat kita dengan kegembiraan yang jauh melebihi kegembiraan orang yang menemukan untanya di padang pasir yang terik.
Maka bertaubatlah. Beristighfarlah. Kembalilah kepada Allah. Dan yakinlah bahwa Allah menerima taubat itu dengan penuh kegembiraan yang sempurna.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubat kita, mengampuni seluruh dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu kembali kepada-Nya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 34: Akhir yang Gembira Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=bJJF3TRtWIY
0 Komentar