RS 37. Untuk Ilmu — Hadits Kesembilan Belas Bab Taubat Riyadhus Shalihin

Ada seorang laki-laki dari Kufah yang rela berjalan jauh ke Madinah hanya untuk satu tujuan: menuntut ilmu. Bukan untuk berdagang. Bukan untuk berwisata. Bukan untuk urusan dunia apapun. Hanya untuk ilmu. Kisah ini diabadikan dalam hadits ke-19 bab Taubat Riyadhus Shalihin, dan di dalamnya tersimpan pelajaran besar tentang mengapa ilmu adalah kunci segala kebaikan — di dunia maupun di akhirat.


Hadits Kesembilan Belas: Zirr bin Hubaisy dan Sofwan bin Assal

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah membawakan hadits dari Zirr bin Hubaisy — seorang ulama Kufah yang sangat bersemangat dalam menuntut ilmu — yang mendatangi Sofwan bin Assal al-Muradi radhiyallahu anhu, seorang sahabat Nabi ﷺ yang mulia.

Zirr bin Hubaisy adalah sosok yang luar biasa. Beliau bermulazamah — benar-benar mendampingi dan melekat — kepada para sahabat besar, di antaranya Abdurrahman bin Auf dan Ubay bin Ka'ab radhiyallahu anhuma. Mulazamah bukan sekadar kenal atau sesekali bertemu, tapi mendampingi terus-menerus, sebagaimana dijelaskan Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala.

Adapun Sofwan bin Assal al-Muradi radhiyallahu anhu adalah sahabat Nabi ﷺ yang terkenal dengan semangat berjuangnya. Beliau sendiri menyatakan: "Aku berperang bersama Nabi ﷺ sebanyak dua belas peperangan." — HR. Ahmad. Selain punya mental pejuang, beliau juga sangat bersemangat dalam menuntut ilmu dan pernah langsung mendatangi Nabi ﷺ untuk belajar.

Ketika Sofwan bin Assal bertanya kepada Zirr: "Engkau datang ke sini dalam rangka apa?" — Zirr menjawab dengan tegas: "Aku datang semata-mata untuk mencari ilmu."


Sambutan Nabi ﷺ kepada Penuntut Ilmu

Sofwan bin Assal kemudian menceritakan bahwa ketika beliau pernah mendatangi Nabi ﷺ dan menyampaikan tujuannya menuntut ilmu, Nabi ﷺ bersabda dengan penuh sambutan: "Marhaban bi thalibil ilmi — Selamat datang wahai penuntut ilmu."

Lalu Nabi ﷺ menjelaskan: "Penuntut ilmu itu dikelilingi dan dinaungi oleh malaikat-malaikat, mereka memayungi dengan sayap-sayap mereka, lalu mereka bertumpuk-tumpuk ke atas sampai ke langit dunia — karena betapa cintanya mereka terhadap ilmu yang dituntut."

Gambaran ini sangat luar biasa. Malaikat yang tugasnya bertasbih siang dan malam tanpa pernah bosan dan jenuh — mereka antusias kepada penuntut ilmu. Mereka turun, mengelilingi, memayungi, bahkan bertumpuk ke atas sampai langit dunia.

Dan kita tahu: di mana malaikat antusias, di sana ada keberkahan dan rahmat. Ini bukan sekadar keramaian — ini adalah tanda kebaikan yang nyata.


Ilmu adalah Kunci Segala Sesuatu

Mengapa ilmu sepenting ini? Karena semua hal berawal dari ilmu.

Allah berfirman dalam Surah al-An'am ayat 155 tentang Al-Qur'an: "Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan, mubarokun — penuh berkah." Berbicara tentang ilmu agama berarti berbicara tentang Al-Qur'an — kitab yang diberkahi, yang ayat-ayatnya adalah Syifa (obat) dan Rahmat bagi orang-orang beriman sebagaimana Surah al-Isra ayat 82.

Allah mengangkat nikmat terbesar kepada Nabi Daud dan Sulaiman bukan dengan menyebut harta atau kekuasaan — tapi ilmu. Allah berfirman dalam Surah an-Naml ayat 15: "Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Daud dan Sulaiman ilmu."

Al-Imam Syafi'i rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang menginginkan dunia maka dengan ilmunya. Dan barangsiapa yang menginginkan akhirat maka dengan ilmunya."

Al-Imam Bukhari rahimahullah menyatakan kaidah emas: "Ilmu sebelum berbicara dan beramal." Dengan ilmu kita tahu bagaimana shalat yang benar. Dengan ilmu kita tahu bagaimana berpuasa. Dengan ilmu kita tahu bagaimana berdoa, berzikir, beribadah kepada Allah. Dengan ilmu kita tahu bagaimana menyikapi keluarga, bagaimana berkomunikasi, bagaimana menata hati, bagaimana menghadapi kondisi yang berat.


Mengapa Banyak yang Berhijrah lalu Berguguran?

Ini adalah realita yang kita saksikan di sekitar kita. Seseorang berhijrah dengan semangat yang luar biasa, tapi tiga bulan kemudian hilang. Lima tahun kemudian tidak tampak lagi jejaknya. Apa yang terjadi?

Mereka punya kesamaan: tidak menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan konsisten.

Allah berfirman dalam Surah al-Kahfi ayat 68: "Bagaimana engkau bisa sabar sedangkan engkau tidak tahu ilmu dari masalah yang engkau hadapi?"

Masalah kehidupan datang setiap hari — bahkan berkali-kali dalam sehari. Bagaimana mungkin kita bisa bertahan jika kajian kita hanya sebulan sekali? Sedangkan para ulama terdahulu rela berjalan kaki dari Kufah ke Madinah hanya untuk bertemu seorang sahabat dan menimba ilmu.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah — ketika sudah menjadi ulama besar, sudah tua — masih terus memegang pena dan belajar. Ketika ditanya: "Sampai kapan engkau belajar?" Beliau menjawab dengan kalimat yang sangat terkenal: "Ma al-misbahu ila al-maqbarah — Saya akan bersama pena ini sampai masuk ke dalam kubur."

Istiqomah dalam belajar itulah kunci. Dan para sahabat serta tabi'in menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah umat Islam salah satunya karena mereka adalah pencinta ilmu yang sejati.


Malaikat Ridha kepada Penuntut Ilmu

Ketika Zirr menjawab bahwa ia datang semata-mata untuk mencari ilmu, Sofwan bin Assal berkata kepadanya: "Sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu karena mereka ridha terhadap ilmu yang dituntut."

Dan kalau malaikat ridha — itu tanda kebaikan. Itu tanda keberkahan. Itu tanda rahmat Allah subhanahu wa ta'ala.


Rahasia Sukses dalam Menuntut Ilmu: Memuliakan Ilmu

Ada satu rahasia besar yang para ulama wariskan kepada kita: memuliakan ilmu. Bukan hanya belajar, bukan hanya memahami — tapi benar-benar memuliakan ilmu itu.

Para ulama mengatakan: "Sesungguhnya bagian seorang hamba dari sebuah ilmu itu tergantung sedalam apa hatinya memuliakan dan mengagungkan ilmu tersebut."

Ini yang membedakan para ulama besar dengan yang lain. Bukan semata-mata kecerdasan — tapi kemuliaan mereka terhadap ilmu. Al-Imam Syafi'i, al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik, al-Imam Ahmad — mereka memuliakan ilmu.

Bagaimana bentuknya dalam kehidupan kita? Beberapa contoh konkret:

Pertama, mencatat. Nabi ﷺ bersabda: "Ikatlah ilmu dengan catatan." Ini sunnah yang nyata. Walaupun tidak ada yang melihat kita mencatat, Allah melihat. Dan ilmu yang dicatat lebih mudah bertahan dan berkembang.

Kedua, posisi belajar yang memuliakan. Kajian online adalah ujian muraqabatullah yang sesungguhnya — ujian apakah kita merasa diawasi oleh Allah atau hanya merasa diawasi oleh guru. Kalau di masjid kita duduk tegak dan serius karena ada ustadz di depan, tapi ketika online kita berbaring dan santai — itu tanda adab kita karena manusia, bukan karena Allah.

Para ulama terdahulu harus berjalan kaki dari Irak ke Madinah untuk menuntut ilmu. Kita hanya duduk manis di rumah dengan kajian online — effort yang jauh lebih ringan. Masa dengan kemudahan seperti itu kita masih tidak bisa memuliakan ilmu?

Ketiga, ingat bahwa kita berinteraksi dengan Allah. Ketika belajar ilmu agama, pada dasarnya kita berinteraksi dengan Rabbal Alamin — bukan hanya dengan ustadz. Ilmu itu milik Allah. Maka beradablah karena Allah, bukan karena dilihat manusia.


Penutup: Mulailah dari Ilmu

Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi ﷺ adalah "Iqra' — Bacalah." Bukan ayat tentang jihad. Bukan tentang harta. Bukan tentang kekuasaan. Ilmu dulu.

Karena peradaban yang kuat dibangun di atas ilmu. Karena perubahan yang nyata dan bertahan lama dimulai dari ilmu. Karena kita tidak bisa sabar menghadapi ujian kehidupan tanpa ilmu. Karena kita tidak bisa beribadah dengan benar tanpa ilmu.

Maka mari kita jadikan menuntut ilmu sebagai prioritas. Bukan sebulan sekali, tapi konsisten setiap hari. Tidak hanya menghadiri kajian, tapi benar-benar memuliakan ilmu yang kita pelajari. Karena bagian kita dari ilmu itu tergantung sedalam apa kita memuliakan dan mengagungkannya.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kita ilmu yang bermanfaat, keberkahan dalam setiap ilmu yang kita pelajari, dan menjadikan ilmu sebagai jalan kita menuju ketakwaan kepada-Nya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 37: Untuk Ilmu Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=yvxR85SU3iM



Posting Komentar

0 Komentar