RS 40. Sebuah Gerbang dari Maghrib — Penutup Hadits Kesembilan Belas Riyadhus Shalihin

Ini adalah pertemuan terakhir bersama hadits ke-19 — hadits Zirr bin Hubaisy dan Sofwan bin Assal yang panjang dan kaya pelajaran. Di bagian penutup ini, Nabi ﷺ menyebutkan sebuah gerbang yang sangat besar, yang selalu terbuka, yang tidak pernah tertutup sejak diciptakan — dan gerbang itu adalah pintu taubat yang Allah bukakan bagi seluruh hamba-Nya.


Ringkasan Pelajaran Sebelumnya: Berkumpul dengan Orang-Orang Shalih

Sebelum masuk ke pelajaran inti sesi ini, kita menyempurnakan pembahasan tentang tips berkumpul dengan orang-orang shalih di akhirat — yaitu mencintai mereka dengan tulus karena keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah.

Nabi ﷺ bersabda: "Seseorang akan bersama orang yang ia cintai pada hari kiamat." Ini adalah kabar gembira yang membuat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata ia tidak pernah bergembira setelah keislamannya melebihi kegembiraannya saat mendengar sabda ini.

Namun ada beberapa hal penting yang perlu kita camkan agar cinta ini bisa terwujud dengan benar.

Pertama, jangan jadikan hadits ini sebagai justifikasi untuk bermalas-malasan. Anas bin Malik mengatakan: "Aku tidak mampu beramal seperti mereka" — bukan "aku tidak mau" atau "aku malas". Kemampuan orang memang berbeda-beda. Ada yang tidak bisa berdiri lama ketika shalat tarawih karena sakit — itu beda dengan yang bisa tapi memilih tidak. Yang dimaksud adalah ketidakmampuan, bukan kemalasan yang dicari-carikan pembenaran.

Kedua, untuk bisa benar-benar mencintai orang-orang shalih, kita perlu sabar menghadapi mereka dan punya ilmu maklum — kemampuan untuk memaklumi kekurangan dan kekhilafan mereka. Orang shalih pasti punya kekurangan. Mereka bukan malaikat. Allah berfirman tentang malaikat dalam Surah at-Tahrim ayat 6: "Mereka melakukan seluruh perintah Allah" — itu malaikat, bukan manusia. Manusia pasti tergelincir.

Para ulama mengingatkan: orang mukmin itu hobinya memaklumi. Kasih 70 maklum dulu sebelum menghukumi. Kalau melihat kekeliruan sahabat kita, cari 70 alasan yang memaklumkan — pertama mungkin dia tidak tahu, kedua mungkin dia sedang tidak enak badan, dan seterusnya. Kalau semua 70 alasan tidak cocok, baru boleh menyimpulkan dia salah.

Orang yang hobinya mencari kesalahan orang lain, nyinyir, dan siap menyerang begitu ada yang tergelincir — itulah karakter munafik. Sedangkan orang beriman hobinya memaklumi.

Seperti perumpamaan kayu gaharu: untuk mendapatkan wanginya yang sangat mewah, kayu itu harus dibakar dan ada asapnya. Kalau mau wanginya tapi tidak mau asapnya, itu tidak mungkin. Demikian berteman dengan orang shalih — ada "asap"-nya, ada karakternya yang mungkin tidak selalu nyaman, ada prinsipnya yang kadang berbenturan dengan keinginan kita. Tapi justru di situlah nilai persahabatan itu.


Sebuah Gerbang yang Luar Biasa Besar

Sofwan bin Assal melanjutkan haditsnya — Nabi ﷺ tidak berhenti setelah menyampaikan kabar gembira tentang dikumpulkannya seseorang dengan yang ia cintai. Beliau melanjutkan dan menyebutkan sebuah gerbang.

Nabi ﷺ bersabda tentang sebuah pintu atau gerbang dari arah maghrib — dari arah barat. Dan lebarnya? Jika seseorang menunggangi kendaraan dan menyusuri lebarnya, ia akan menempuh perjalanan 40 hingga 70 tahun.

Subhanallah. Bayangkan lebar itu. Bukan 40-70 meter. Bukan 40-70 kilometer. Tapi 40-70 tahun perjalanan.

Sofwan bin Assal menambahkan: ada yang menyatakan gerbang itu berada di arah Syam — wilayah yang kini mencakup Palestina, Lebanon, Suriah, dan Yordania. Negeri para nabi dan rasul. Dan Allah menciptakan gerbang itu sejak hari Allah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi. Sudah ada sejak awal penciptaan.

Lalu apa fungsi gerbang ini? Gerbang itu selalu terbuka — tidak pernah tertutup — untuk menerima taubat hamba-hamba Allah. Dan ia tidak akan tertutup sampai matahari terbit dari arah barat — yang merupakan salah satu tanda besar kiamat.


Pintu yang Terbuka tapi Banyak yang Tidak Masuk

Bayangkan sebuah rumah yang pemiliknya sangat baik, sangat mulia. Pintunya terbuka lebar, ia sudah mengatakan: "Masuk saja, kapanpun kamu datang, pintunya terbuka untukmu." Tapi banyak orang yang duduk di luar, tidak masuk-masuk. Bahkan ada yang berpikir: "Kayaknya aku tidak pantas masuk."

Itulah gambaran pintu taubat. Allah subhanahu wa ta'ala sudah membukanya sejak langit dan bumi diciptakan. Allah sudah menyatakan Dia menerima taubat hamba-Nya — bahkan dengan penuh kegembiraan yang melebihi kegembiraan orang yang selamat dari kematian di padang pasir. Allah sudah membentangkan tangan-Nya siang dan malam.

Tapi banyak di antara kita yang tidak masuk. Bukan karena pintunya tertutup. Bukan karena Allah tidak mau menerima. Tapi karena kita sendiri yang membuat alasan, yang terjebak dalam tipu daya setan.

Setan berbisik: "Kamu tidak pantas bertaubat." Setan berbisik: "Kamu sudah terlalu kotor." Setan berbisik: "Allah tidak akan menerima taubatmu." Semuanya dusta. Pintu itu terbuka. Gerbangnya lebar 40-70 tahun perjalanan. Masuki saja.


Mengapa Taubat Ditutup Ketika Matahari Terbit dari Barat?

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam kitabnya at-Tadzkirah memberikan keterangan yang sangat menarik untuk melengkapi apa yang sudah kita bahas sebelumnya.

Kata beliau: ketika matahari terbit dari barat, seluruh syahwat dan nafsu yang buruk dalam diri manusia telah sirna. Seluruh kekuatan dan tenaga badan turun ke tingkat yang paling rendah. Pada saat itu, ketika seseorang melihat matahari terbit dari barat, mereka yakin bahwa kiamat sudah terjadi — dan mereka berhadapan langsung dengan kenyataan akhirat.

Kondisi ini persis seperti kondisi sakratul maut: faktor pendorong untuk bermaksiat hilang sepenuhnya. Tidak ada lagi hasrat untuk berbuat dosa. Tidak ada lagi hawa nafsu yang menggoda. Semua orang, sejahat apapun, pada saat itu tidak punya keinginan untuk bermaksiat lagi karena semua pendorong maksiat sudah hilang.

Inilah yang menjadi alasan taubat tidak diterima lagi: taubat yang terjadi di kondisi itu adalah taubat dhoruri — taubat terpaksa, taubat tanpa opsi. Sedangkan Allah ingin kita bertaubat di saat faktor pendorong maksiat masih ada, di saat hawa nafsu masih bercokol, di saat kita punya opsi untuk bermaksiat tapi memilih untuk tidak.


Inilah Waktu Kita: Sekarang

Dari sini kita memahami mengapa perjuangan taubat itu berat. Karena kita bertaubat di saat hawa nafsu kita masih kuat. Di saat godaan masih nyata. Di saat faktor pendorong dosa masih ada. Dan justru itulah yang Allah inginkan dari kita — perjuangan melawan nafsu itu sendiri yang bernilai tinggi di sisi Allah.

Maka jangan berkecil hati ketika taubat terasa berat. Jangan putus asa ketika jatuh lagi setelah bangkit. Justru di kondisi itulah pintu taubat masih terbuka selebar-lebarnya. Justru di kondisi itulah Allah gembira dengan taubat kita.

Begitu faktor pendorong maksiat itu hilang — begitu semua sudah tersingkap — taubat sudah ditutup. Maka manfaatkan sekarang, selagi faktor pendorong itu masih ada dan kita masih punya pilihan.


Penutup: Imani yang Ghaib, Masuklah Melalui Pintu yang Terbuka

Gerbang taubat dari arah barat itu nyata. Kita tidak melihatnya, tapi ia ada. Ini adalah bagian dari hal-hal ghaib yang wajib kita imani — sebagaimana Allah berfirman di awal Surah al-Baqarah tentang ciri orang bertakwa: "Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib."

Gerbang itu sudah ada sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Lebarnya 40-70 tahun perjalanan. Selalu terbuka. Tidak pernah tertutup. Dan Allah menunggu kita di sana dengan penuh kegembiraan.

Satu-satunya yang diperlukan: langkah kita sendiri untuk masuk.

Maka bertaubatlah. Sekarang. Selagi gerbang itu masih terbuka. Selagi matahari belum terbit dari barat. Selagi nyawa belum di kerongkongan.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kita taufik untuk memasuki pintu taubat itu dengan tulus, menerima taubat kita, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang shalih yang kita cintai di surga-Nya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 40: Sebuah Gerbang dari Maghrib Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=TVKcm97KX1E



Posting Komentar

0 Komentar