Di masa sebelum kita, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang. Bukan karena perang, bukan karena membela diri. Ia pembunuh berdarah dingin. Tapi suatu saat, hatinya tergerak — muncul kegelisahan yang mendalam, sebuah keinginan untuk berubah, sebuah pertanyaan yang menghantui: "Apakah saya masih bisa bertaubat?"
Kisah ini diabadikan Nabi ﷺ dalam hadits yang sangat terkenal dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu anhu. Dan dari kisah ini, lahirlah pelajaran-pelajaran besar yang berkaitan dengan taubat, ilmu, fatwa, dan luasnya rahmat Allah subhanahu wa ta'ala.
Mengenal Abu Sa'id al-Khudri
Perawi hadits ini adalah Sa'd bin Malik bin Sinan al-Anshari al-Khudri — lebih dikenal dengan kunyahnya: Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu anhu. Ini adalah pertama kalinya kita berkenalan dengan beliau dalam kajian Riyadhus Shalihin ini.
Beliau adalah tokoh besar di kalangan para sahabat — bukan sahabat biasa. Ia adalah ulama sekaligus pakar fikih, salah satu Mufti Madinah, dan meriwayatkan sekitar 1.170 hadits dari Nabi ﷺ. Beliau dikenal sebagai seorang yang cerdas, akalnya tajam, dan termasuk orang-orang mulia di kalangan sahabat.
Kunci keberhasilan beliau adalah mulazamah — mendampingi Nabi ﷺ secara konsisten, berusaha selalu menempel dan tidak jauh dari beliau. Ini sama dengan benang merah yang kita lihat pada Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhum. Mereka semua menjadi tokoh besar karena totalitas mendampingi Nabi ﷺ — bukan hanya di saat senang dan lapang, tapi juga berjuang bersama beliau di medan peperangan.
Abu Sa'id pernah ingin ikut Perang Uhud tapi masih dianggap terlalu muda. Akhirnya beliau berjuang bersama Nabi ﷺ dalam dua belas peperangan. Beliau wafat di Madinah dan dimakamkan di Baqi'.
Pentingnya Kisah Masa Lalu sebagai Pelajaran
Sebelum masuk ke isi hadits, ada pelajaran metodologis yang penting. Nabi ﷺ tidak menyebutkan identitas sang pembunuh dalam kisah ini. Bukan karena tidak tahu, tapi karena yang terpenting bukan siapa orangnya — melainkan ibrah dan pelajarannya.
Allah berfirman dalam Surah al-Ahzab ayat 62: "Itulah sunatullah yang telah berlaku pada umat-umat yang terdahulu. Dan kamu tidak akan mendapati sunatullah itu berubah." Dan dalam Surah al-Fath ayat 23: "...dan kamu tidak akan mendapati perubahan pada sunatullah itu."
Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah berkata: "Tidaklah ada kejadian di zaman ini kecuali ada kejadian yang serupa di masa lalu." Sejarah berulang — tokohnya berbeda, konteksnya berbeda, tapi benang merahnya sama. Maka kisah-kisah masa lalu adalah peta untuk memahami kehidupan saat ini.
Kisah: Pembunuh 99 Nyawa yang Ingin Bertaubat
Nabi ﷺ bersabda: "Di masa sebelum kalian, ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa."
Tidak dijelaskan siapa, tidak dijelaskan bagaimana. Yang penting: ia telah membunuh 99 orang. Ia pembunuh berdarah dingin. Tapi di satu titik dalam hidupnya, hatinya terusik. Ia ingin bertaubat.
Dan inilah pertanyaan yang menghantui orang-orang yang banyak dosa: "Apakah saya masih bisa bertaubat? Apakah Allah masih mau menerima saya?"
Langkah Pertama yang Benar: Mencari Ulama
Sang pembunuh melakukan sesuatu yang benar: ia mencari orang yang paling berilmu di muka bumi untuk ditanya. Ia tahu ia harus bertanya — dan ia tahu harus bertanya kepada siapa: ahli ilmu.
Ini mengamalkan Surah al-Anbiya ayat 7: "Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui." Maka ia mencari. Dan ia diarahkan kepada seorang rahib — seorang ahli ibadah yang rajin beribadah dan punya rasa takut kepada Allah.
Di sini ada pelajaran penting: rahib bukan ulama. Rahib adalah ahli ibadah — orang yang rajin beramal, tapi belum tentu punya kapasitas ilmu yang mumpuni. Ini berbeda dengan ulama yang punya kapasitas ilmu yang dalam dan bisa dipertanggungjawabkan.
Dan inilah yang sering terjadi: banyak orang yang ingin berubah, ingin hijrah, ingin mencari kebenaran — tapi belum langsung bertemu dengan ahli ilmu yang tepat. Mereka salah alamat dulu. Bukan karena niat mereka buruk, tapi karena belum tahu atau karena yang mengarahkan pun tidak tahu.
Maka bersyukurlah jika Allah mempertemukan kita dengan guru atau ustadz yang punya kapasitas ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan. Itu bukan hal kecil — itu nikmat besar yang berkaitan dengan keselamatan kita di dunia dan akhirat.
Fatwa yang Fatal: Rahib Menjawab dengan Salah
Sang pembunuh bertanya kepada rahib: "Aku telah membunuh 99 jiwa. Apakah aku bisa bertaubat?"
Rahib itu menjawab: "Tidak ada taubat bagimu."
Subhanallah. Inilah akibat berfatwa tanpa ilmu yang memadai.
Dan dari sini, sisa insting pembunuh si laki-laki itu bekerja: "Kalau 99 saja tidak ada taubat, apa bedanya 99 dengan 100?" Lalu ia membunuh rahib itu — genap 100 korban.
Ini adalah pelajaran yang sangat keras bagi kita semua: hati-hati dalam menyampaikan hukum agama. Berfatwa tanpa ilmu bukan hanya merugikan diri sendiri — bisa berakibat fatal bagi orang lain. Al-Imam Bukhari menyatakan kaidah emas: "Ilmu sebelum berbicara dan beramal."
Allah berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 169: "Sesungguhnya setan itu memerintahkan kalian untuk mengerjakan hal-hal buruk dan keji, dan kalian berbicara atas nama Allah tentang hal yang kalian tidak ketahui." Berfatwa tanpa ilmu adalah seruan setan — bukan seruan Allah.
Jangankan menjawab hukum agama, menjelaskan masalah agama kepada orang lain pun butuh ilmu. Kalau kita tidak tahu, jawabnya sederhana: "Saya tidak tahu, tanyakan kepada yang lebih berilmu." Al-Imam Ahmad rahimahullah — yang menghafal satu juta hadits — sering menjawab "saya tidak tahu" sampai kumpulan jawaban itu dijadikan disertasi pascasarjana karena begitu banyaknya. Tidak tahu bukan aib. Yang aib adalah berfatwa tanpa ilmu.
Pertanyaan yang Menggantung: Apakah Taubatnya Diterima?
Sekarang sang pembunuh sudah membunuh 100 orang. Tapi keinginan untuk bertaubat itu masih ada. Ia masih belum menemukan jawaban yang benar.
Apakah taubatnya masih bisa diterima?
Kisah ini akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. Tapi dari apa yang sudah kita pelajari hari ini, kita sudah bisa merasakan arah jawabannya: Allah subhanahu wa ta'ala adalah ar-Rahman ar-Rahim, al-Ghaffar, al-Ghafur. Pintu taubat itu lebar — lebarnya 40-70 tahun perjalanan. Dan Nabi ﷺ sudah bersabda: "Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah."
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kita ilmu yang bermanfaat, memelihara lisan kita dari berbicara tentang agama tanpa ilmu, dan menjaga hati kita agar selalu terbuka untuk kembali kepada-Nya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 41: Taubatnya Sang Pembunuh Berdarah Dingin (Bagian 1) Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=Vv4du7vrqGw
0 Komentar