Pada sesi sebelumnya, kita sudah membahas bagian pertama kisah pembunuh 99 nyawa yang ingin bertaubat — bagaimana ia salah alamat ke seorang rahib yang bukan ahli ilmu, rahib itu menjawab tidak ada taubat baginya, dan akhirnya genap 100 korban. Kini kita melanjutkan kisah ini ke bagian yang paling mengharukan dan penuh pelajaran: apa yang terjadi selanjutnya, dan apakah taubatnya diterima?
Langkah Kedua: Menemukan Ulama yang Sesungguhnya
Setelah membunuh 100 orang, sang pembunuh tidak menyerah. Ia kembali mencari orang yang paling berilmu di muka bumi. Kali ini ia diarahkan kepada seorang ulama yang sesungguhnya — bukan ahli ibadah yang tidak punya ilmu, tapi orang yang benar-benar punya kapasitas ilmu agama yang dalam.
Dan ini pelajaran penting bagi kita: jangan pernah meremehkan seseorang walaupun dosanya luar biasa banyak. Pembunuh 100 nyawa ini masih bisa tergerak untuk bertaubat. Maka jangan pernah kita katakan kepada siapapun — apalagi dalam hati — bahwa orang itu sudah tidak punya harapan lagi untuk berubah.
Sang pembunuh datang kepada ulama itu dan berkata jujur: "Aku telah membunuh 100 nyawa. Apakah aku masih bisa bertaubat?"
Jawaban Ulama yang Benar: Ada Taubat Bagimu
Ulama itu menjawab tegas dan tanpa ragu: "Ada taubat bagimu! Siapa yang bisa menghalangimu dari taubat kepada Allah? Tidak ada yang bisa menghalangimu!"
Pengulangan kalimat "siapa yang bisa menghalangi" ini bukan tanpa makna. Para ulama menjelaskan: ini adalah cara memberikan optimisme dan harapan kepada seorang pendosa. Bukan hanya menjawab "ada" lalu diam — tapi dengan penuh semangat membuka pintu harapan selebar-lebarnya.
Inilah yang seharusnya kita lakukan ketika ada saudara, teman, atau siapapun yang ingin bertaubat dan berubah: kasih harapan. Dukung mereka. Jangan tanamkan keputusasaan. Allah sendiri berfirman dalam Surah az-Zumar ayat 53: "Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa."
Tiga Perintah Ulama: Tinggalkan, Pindah, dan Bergabung
Ulama itu tidak berhenti di situ. Ia memberikan arahan yang sangat konkret dan cerdas.
"Pergilah ke negeri yang penduduknya senantiasa beribadah kepada Allah. Beribadahlah bersama mereka. Dan jangan kembali ke negerimu — karena negerimu itu negeri yang buruk."
Ini menunjukkan kecerdasan para ulama: taubat yang benar membutuhkan perubahan lingkungan. Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang sesungguhnya harus memutus mata rantai yang bisa membuat kita kembali ke dosa-dosa lama. Dan salah satu mata rantai terkuat adalah lingkungan dan sahabat-sahabat yang buruk.
Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata: "Tidaklah seorang hamba diberikan kenikmatan yang lebih baik setelah Hidayah Islam melebihi sahabat yang shalih." Dan beliau melanjutkan: "Maka apabila salah seorang dari kalian mendapatkan cinta yang tulus dari sahabat yang shalih, pegang erat-erat orang itu. Jangan pernah dilepaskan."
Al-Imam Syafi'i rahimahullah berkata: "Apabila kamu memiliki sahabat yang membantumu untuk taat kepada Allah, pegang erat-erat orang itu." Karena mendapatkan sosok seperti itu susahnya minta ampun — dan melepaskannya sangat mudah terjadi karena satu kesalahpahaman.
Berangkat dengan Penuh Pengorbanan
Sang pembunuh berangkat. Ia tinggalkan negerinya — mungkin ada rumah, ada tanah, ada harta, ada yang ia kenal. Semuanya ditinggalkan. Ia pergi ke negeri yang tidak ia kenal, tidak ada keluarga di sana, tidak ada jaminan apa-apa. Hanya bermodalkan nasehat ulama dan tekad untuk berubah.
Di sini tersimpan pelajaran besar: taubat yang sungguh-sungguh membutuhkan pengorbanan. Kita yang tinggal di kota besar dan hanya perlu menghadiri majelis ilmu atau bergabung dengan komunitas shalih saja masih sering beralasan ini itu — sedangkan orang ini harus meninggalkan seluruh negerinya untuk berubah.
Meninggal di Tengah Jalan
Namun di pertengahan perjalanan, sang pembunuh meninggal dunia. Ia tidak sempat sampai ke negeri yang dituju.
Maka datanglah dua malaikat: Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Keduanya bersilang pendapat tentang nasib orang ini.
Malaikat Azab beragumen: "Orang ini belum memiliki amal kebaikan apapun. Ia belum sempat beribadah sama sekali."
Malaikat Rahmat beragumen: "Orang ini datang dalam keadaan bertaubat, kembali kepada Allah, dan menghadapkan hatinya kepada Allah."
Akhirnya datang malaikat ketiga sebagai penengah — hakim yang akan memutuskan. Dan keputusannya: ukur jarak. Mana yang lebih dekat dari tempat ia meninggal — negeri orang-orang shalih yang ia tuju, atau negeri asalnya yang buruk?
Diukurlah. Dan ternyata ia lebih dekat — walau hanya satu inci — ke negeri orang-orang shalih. Bahkan dalam salah satu riwayat, Allah subhanahu wa ta'ala mewahyukan agar jarak ke negeri yang baik didekatkan dan jarak ke negeri yang buruk dijauhkan. Maka Malaikat Rahmat menang, dan dosanya diampuni oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Pelajaran Pertama: Segera Bertaubat, Jangan Tunda
Bayangkan: jika orang ini terlambat lima menit saja untuk bertaubat, jika ia menunda satu hari lagi untuk memutuskan pergi — bisa jadi ia meninggal sebelum melangkah. Dan hasilnya mungkin berbeda.
Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 133: "Dan bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian." Bersegeralah. Kita tidak tahu kapan ajal datang. Beda satu inci saja — dan itu berarti segalanya.
Pelajaran Kedua: Yang Dilihat Allah adalah Hati
Argumen Malaikat Rahmat sangat penting untuk kita camkan: "Orang ini datang bertaubat, menghadapkan hatinya kepada Allah."
Al-Imam al-Qurthubi menjelaskan: Allah mengarahkan Malaikat Rahmat untuk melihat hati orang tersebut — kejujuran dan keikhlasannya dalam bertaubat. Dan itu yang melahirkan daya juang: meninggalkan seluruh negerinya, mengorbankan segalanya.
Banyak di antara kita berhijrah secara penampilan luar, tapi belum berani berkorban secara nyata. Sedangkan orang ini secara amal dzahir belum punya apa-apa — belum sempat shalat, belum sempat puasa, belum sempat membaca Al-Qur'an di negeri yang baru. Tapi hatinya jujur menghadap Allah. Dan kejujuran hati itulah yang menyelamatkannya.
Ini bukan berarti amal dzahir tidak penting. Tapi ini menunjukkan bahwa niat yang benar di dalam hati sering mendahului amal dzahir — dan ketika seseorang sudah punya hati yang benar-benar menghadap Allah, seluruh pengorbanan itu akan mengalir sendiri.
Pelajaran Ketiga: Besarnya Rahmat Allah
Ketika Allah mewahyukan agar jarak didekatkan ke negeri yang baik — itu menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah kepada orang yang bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 186: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat."
Al-Imam an-Nawawi dan para ulama mengutip: "Sesungguhnya dosa-dosa walaupun sebesar apapun, ingatlah ampunan Allah jauh lebih besar."
Masalah yang Tersisa: Bagaimana dengan Hak Korban?
Ini adalah pertanyaan yang sangat penting dan sering menghantui orang yang ingin bertaubat dari dosa yang berkaitan dengan hak orang lain: "Taubat saya diterima, tapi bagaimana dengan korban-korban saya?"
Para ulama menjelaskan bahwa dalam kasus ini, sang pembunuh berhadapan dengan tiga pihak:
Pertama, hak Allah — karena membunuh melanggar syariat-Nya. Ini bisa diselesaikan dengan taubat kepada Allah, dan Allah akan mengampuni.
Kedua, hak korban yang dibunuh — dan ini adalah hak manusia yang tidak gugur hanya dengan taubat kepada Allah. Korban berhak menuntut di hari kiamat.
Ketiga, hak wali dam (keluarga korban) — istri, anak, orang tua korban yang kehilangan tulang punggung mereka. Mereka pun punya hak yang akan diselesaikan di akhirat.
Nabi ﷺ bersabda dalam hadits Bukhari-Muslim: "Yang pertama kali Allah adili di hari kiamat adalah urusan darah — pembunuhan."
Dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu: "Barangsiapa yang mendzalimi saudaranya, baik menyangkut kehormatan atau apapun, selesaikanlah sekarang sebelum datang hari kiamat yang tidak berlaku Dinar dan Dirham."
Tapi Apakah Masih Ada Harapan?
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: adanya tuntutan di hari kiamat belum tentu berarti kita dihukum. Bisa jadi pelaku memiliki amal shalih yang cukup untuk diberikan kepada korban, dan masih ada sisa yang memasukkannya ke surga.
Dan jika sudah tidak ada sisa amal? Al-Imam Ahmad dan Muhammad bin Abdul Halim menjelaskan: jika pelaku taubat nasuha yang sungguh-sungguh, dan belum sempat menyelesaikan dengan korban di dunia — bukan karena tidak mau tapi karena tidak sempat seperti kasus pembunuh ini — maka Allah yang akan menggantikan dari karunia-Nya kepada korban. Allah tidak akan mendzalimi korban. Allah yang akan memuaskan korban dari perbendaharaan-Nya, dan tetap memasukkan si pelaku ke surga karena taubat nasuha-nya.
Tapi syaratnya jelas: harus ada usaha dulu. Jika kita masih hidup dan ada kesempatan untuk menyelesaikan, maka selesaikanlah. Minta maaf, kembalikan hak, minta dihalalkan. Baru kalau sudah benar-benar tidak bisa diselesaikan di dunia, maka Allah yang akan bantu di akhirat — dengan syarat taubat kita benar-benar nasuha.
Penutup: Jangan Putus Asa, Tapi Harus Ada Perjuangan
Kisah pembunuh 100 nyawa ini adalah salah satu bukti terbesar luasnya rahmat Allah. Tapi bukan untuk dijadikan alasan bermalas-malasan atau menunda taubat.
Dua hal yang harus kita bawa pulang: jangan pernah putus asa dari rahmat Allah — dan harus ada perjuangan dan kejujuran dalam bertaubat. Karena Allah melihat hati kita. Kalau hati kita jujur menghadap kepada-Nya, Allah akan membantu — bahkan mendekatkan jarak, bahkan menggantikan dari karunia-Nya apa yang belum sempat kita selesaikan.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubat kita semua, memurnikan hati kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang benar-benar menghadapkan hati kepada-Nya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 42: Taubatnya Sang Pembunuh Berdarah Dingin (Bagian 2) Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=eqIC2j4T4IA
0 Komentar