Kisah anak muda dalam hadits Shuhaib bin Sinan ar-Rumi radhiyallahu 'anhu terus menyimpan kejutan demi kejutan. Di pertemuan sebelumnya, kita menyaksikan bagaimana sang rahib — guru anak muda itu — mengingatkan: "Engkau akan diuji." Dan kini ujian itu mulai datang, satu per satu.
Namun sebelum ujian itu, ada satu peristiwa indah yang menjadi inti dari sesi ini: pertemuan antara anak muda dengan orang dekat sang raja yang buta matanya — dan dari sana, sebuah pengakuan tauhid yang menggetarkan.
Bukan Aku yang Menyembuhkan
Seiring waktu, kemampuan anak muda ini untuk mendoakan orang-orang sakit sehingga Allah sembuhkan mereka mulai dikenal luas. Kabar itu menyebar dari mulut ke mulut — tanpa iklan, tanpa publikasi — sampai akhirnya terdengar oleh seorang pejabat dekat sang raja yang mengalami kebutaan.
Pejabat itu mendatangi anak muda dengan membawa hadiah yang sangat banyak. Ia berkata: "Semua ini untukmu, jika engkau bisa menyembuhkan penglihatanku."
Di sinilah karakter anak muda ini terbentang jelas. Ia tidak tergoda oleh hadiah. Ia tidak silau oleh kedudukan si pejabat. Dan yang paling penting, ia tidak mengambil kehormatan yang bukan miliknya.
Jawabnya: "Aku tidak bisa menyembuhkan siapapun. Sesungguhnya yang menyembuhkan adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan mendoakanmu kepada-Nya."
Inilah tauhid yang hidup — bukan sekadar pengakuan di lidah, tetapi keyakinan yang mengatur setiap kata dan sikap. Allah berfirman dalam Surah Asy-Syu'ara ayat 80 — kata-kata yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam:
"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku."
Bukan tabib, bukan obat, bukan dokter — walaupun semua itu adalah sebab yang diizinkan Allah. Yang menyembuhkan adalah Allah. Sebab hanya alat; kesembuhan adalah milik-Nya.
Dakwah Lewat Keyakinan yang Mengkristal
Pejabat itu akhirnya beriman kepada Allah. Lalu anak muda mendoakannya, dan Allah pun mengembalikan penglihatannya.
Imam Muhammad bin Wasi' rahimahullahu ta'ala pernah berkata: "Nasihat, jika disampaikan dari lubuk hati, akan masuk ke dalam hati."
Inilah mengapa kalimat sederhana dari anak muda ini begitu menembus. Bukan karena ia seorang orator ulung. Bukan karena kalimatnya tersusun indah. Melainkan karena ia berbicara dari keyakinan yang telah mengkristal dalam dirinya — hasil berguru bertahun-tahun kepada sang rahib, menanggung dipukul, berjalan jauh, dan bersabar dalam ujian.
Ada pelajaran bagi kita semua di sini, termasuk bagi para tenaga medis dan siapa pun yang bekerja di bidang pelayanan manusia: sebelum mengobati fisik, ajaklah hati untuk kembali kepada Allah. Ingatkan pasien tentang siapa yang sesungguhnya menyembuhkan. Sampaikan dengan santun, tanpa paksaan — karena "tidak ada paksaan dalam agama" — tetapi sampaikan, karena kesehatan hati jauh lebih menentukan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
"Engkau Punya Rabb Selain Aku?"
Setelah sembuh, pejabat itu kembali ke istana dan duduk di sisi raja sebagaimana biasa. Raja melihat sesuatu yang berbeda dan bertanya: "Siapa yang mengembalikan penglihatanmu?"
Pejabat itu menjawab dengan jujur dan polos: "Rabbku."
Raja terkejut. Ia bertanya dengan nada tajam: "Engkau punya Rabb selain aku?"
Pejabat itu tidak mundur: "Rabbku dan Rabbmu adalah Allah."
Kalimat itu mengguncang sang raja. Tapi kalimat itu benar. Dan pejabat itu mengucapkannya dari hati yang baru saja merasakan langsung keajaiban kuasa Allah — penglihatannya yang hilang kembali bukan karena keterampilan manusia, melainkan karena doa yang dijawab oleh Yang Maha Menyembuhkan.
Inilah efek domino dari satu tindakan tauhid yang jujur: anak muda berkata benar kepada pejabat, pejabat beriman, pejabat berkata benar kepada raja, dan kebenaran itu terus bergerak — walaupun konsekuensinya berat.
Ujian yang Dinubuatkan Pun Tiba
Raja murka. Pejabatnya disiksa. Dan dalam penyiksaan itu, nama anak muda pun akhirnya disebut.
Anak muda dipanggil ke hadapan raja. Raja berkata: "Ilmu sihirmu sudah setinggi ini — kau bisa menyembuhkan orang buta, orang sopak, dan berbagai penyakit lainnya."
Sekali lagi, anak muda menjawab dengan penuh keyakinan: "Aku tidak bisa menyembuhkan siapapun. Yang menyembuhkan adalah Allah."
Lalu penyiksaan pun dimulai. Pertanyaan demi pertanyaan tentang dari mana ia mendapat ilmu ini, siapa gurunya, siapa yang mengajarkan konsep seperti ini — semua ditanya, semua ditekan.
Dan kita pun dibiarkan berhenti di titik yang menggantung: apakah anak muda ini akan menyebut nama sang rahib, gurunya yang sudah berpesan keras agar tidak disebutkan?
Sebelum kisah ini dilanjutkan, ada satu hal yang harus kita bawa pulang hari ini.
Keyakinan bahwa Allah yang menyembuhkan bukan hanya kalimat untuk diucapkan di bibir. Ia adalah tauhid yang mengatur cara kita bersikap ketika sakit — ke mana kita pertama kali menengadah, kepada siapa kita pertama kali memohon, dan kepada siapa kita akhirnya berserah.
Berobatlah — itu perintah Rasulullah ï·º. Ikhtiar itu wajib. Tapi yakinkan hati bahwa dokter, obat, dan semua ikhtiar itu hanya perantara. Yang menyembuhkan adalah Allah. Yang menahan penyakit adalah Allah. Yang mengizinkan sembuh adalah Allah.
Dan ketika yakin demikian, hati tidak akan bergantung kepada manusia. Ia hanya akan bergantung kepada Allah — Rabb yang tidak pernah tidur, tidak pernah lengah, dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 84. ALLAH YANG MENYEMBUHKAN | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar