Kisah anak muda dalam hadits Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu 'anhu terus berkembang dan semakin kaya dengan pelajaran. Kita tinggalkan sesi sebelumnya ketika anak muda itu, yang sejatinya diproyeksikan untuk menjadi tukang sihir, justru menemukan hatinya terpikat oleh seorang rahib — ahli ibadah yang ditemuinya di tengah jalan.
Kali ini, kisah sampai pada momen yang mengejutkan: seekor binatang besar menghalangi jalan manusia. Dan dari sini, sebuah doa, sebuah keajaiban, dan sebuah pesan yang akan mengguncang cara pandang kita tentang keutamaan dan ujian.
Ketika Ragu, Minta Petunjuk Allah
Anak muda itu melihat binatang besar yang menghalangi orang-orang untuk melewati jalan. Dalam hatinya masih tersisa satu pertanyaan yang belum terjawab: mana yang lebih baik — ajaran sang rahib atau ilmu tukang sihir?
Maka ia melakukan sesuatu yang sederhana namun penuh keimanan. Ia mengambil sebuah batu, lalu berdoa:
"Ya Allah, jika ajaran sang rahib lebih Engkau cintai daripada tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga manusia bisa lewat kembali."
Ia melempar. Binatang itu pun mati. Jalan terbuka kembali.
Para ulama menjelaskan: walaupun secara substansi jawabannya sudah jelas — ahli ibadah yang beribadah kepada Allah tentu lebih baik dari tukang sihir — namun ilmu manusia itu terbatas dan berbeda-beda. Maka ketika kita ragu tentang sesuatu, langkah terbaik bukan mengandalkan logika semata, melainkan meminta petunjuk kepada Allah.
Inilah hakikat dari istikharah yang Rasulullah ï·º ajarkan kepada kita. Bukan hanya untuk urusan pernikahan — tetapi untuk setiap keputusan penting dalam hidup: memilih bidang ilmu yang akan dipelajari, menentukan pekerjaan, memilih lingkungan, memutuskan langkah berikutnya. Rasulullah ï·º bersabda: "Barang siapa beristikharah kepada Allah dengan penuh kejujuran dan keimanan, maka Allah pasti akan memberikan petunjuk."
Petunjuk itu tidak selalu berupa mimpi. Bisa jadi berupa kemudahan yang Allah hadirkan, atau hambatan yang Allah pasang. Bisa berupa nasihat dari orang yang kita percayai, atau ketenangan hati yang datang setelah doa. Allah punya banyak cara, dan tugas kita hanyalah meminta dengan sungguh-sungguh.
"Hari Ini Engkau Lebih Baik dari Aku"
Setelah kejadian itu, anak muda pergi menemui sang rahib dan menceritakan apa yang baru saja ia alami. Sang rahib menatapnya dan berkata:
"Anakku, hari ini kedudukanmu lebih baik dari aku. Aku telah melihat bagaimana perjalananmu. Dan engkau pasti akan diuji."
Lalu sang rahib menambahkan satu pesan yang sangat bijaksana: "Jika ujian itu datang, jangan sekali-kali engkau menunjukkan orang kepadaku. Jangan sebut namaku."
Perhatikan kearifan sang rahib. Ketika muridnya mendapat keutamaan yang bahkan melebihi dirinya, ia tidak memuji berlebihan. Ia tidak membuat sang pemuda terbang dalam euforia. Justru yang pertama ia katakan adalah: engkau akan diuji.
Inilah perbedaan antara nasihat orang yang berilmu dan orang yang tidak. Orang yang tidak mengerti hanya akan memuji: "Kamu hebat! Kamu luar biasa! Kamu berbakat!" Sementara orang yang punya hikmah tahu bahwa setiap keutamaan membawa tanggung jawab, dan setiap tanggung jawab membawa ujian.
Setiap Kenikmatan Adalah Ujian
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 2-3:
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan 'kami beriman' dan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka..."
Tidak ada keutamaan yang datang tanpa ujiannya. Kecerdasan adalah ujian — apakah kita gunakan untuk Allah atau untuk keangkuhan. Kekayaan adalah ujian — apakah kita syukuri atau kita kufuri. Popularitas adalah ujian — apakah kita tetap rendah hati atau kita lupa diri. Fisik yang baik, jaringan yang luas, skill yang mumpuni — semuanya adalah ujian.
Dan ujian terbesar dari semua keutamaan itu adalah satu: apakah kita bersyukur?
Rasulullah ï·º adalah manusia yang paling banyak mendapat keutamaan dari Allah. Beliau sabar ketika berdiri dalam shalat malam sampai kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab: "Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang bersyukur?" Inilah cara terbaik merespons kenikmatan — dengan menambah ibadah, bukan dengan merasa cukup apalagi sombong.
Jangan Tenggelam dalam Pujian
Ada bahaya yang sering mengintai orang-orang yang mendapat keutamaan dari Allah, terutama anak muda: tenggelam dalam euforia pujian. Ketika semua orang berkata "kamu hebat, kamu berbakat, kamu beruntung" — ada risiko besar bahwa hati perlahan lupa bahwa semua itu datang dari Allah, bukan dari diri sendiri.
Sang rahib dalam kisah ini adalah contoh teladan orang yang mengerti pola Allah. Ia mengingatkan muridnya bukan dengan pujian berlanjut, melainkan dengan peringatan yang menyelamatkan: "Engkau akan diuji."
Maka bagi kita yang mungkin dianugerahi berbagai keutamaan — atau bagi kita yang memiliki anak, murid, atau orang-orang muda di sekitar kita yang berbakat dan cerdas — jangan hanya hadirkan pujian. Hadirkan pula kesadaran: setiap keutamaan adalah amanah, dan amanah itu akan ditanya.
Minta Kemudahan kepada Allah
Menghadapi ujian yang datang bersama keutamaan, seorang mukmin tidak sendirian. Ada Allah yang selalu bisa dimintai pertolongan. Rasulullah ï·º mengajarkan doa yang sangat indah:
"Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau bisa menjadikan yang sulit menjadi mudah jika Engkau menghendakinya."
Dan Allah sendiri berfirman dalam Surah Al-Mu'min: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan."
Maka jangan biarkan keutamaan yang kita miliki menjadi tirai yang menghalangi kita dari Allah. Justru sebaliknya — semakin banyak yang Allah berikan, semakin besar rasa syukur kita, semakin sering kita kembali kepada-Nya, dan semakin kita sadari bahwa tanpa pertolongan-Nya, semua keutamaan itu tidak berarti apa-apa.
Kisah anak muda ini belum selesai. Perjalanannya masih panjang, ujiannya masih akan datang. Namun dari titik ini, kita sudah mendapat dua pelajaran besar yang bisa langsung kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari:
Pertama, ketika ragu — minta petunjuk Allah, bukan hanya mengandalkan akal. Kedua, ketika mendapat keutamaan — ingatlah bahwa ujian pasti menyertai. Dan cara terbaik menghadapi keduanya adalah kembali kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, dan tidak pernah berhenti bersyukur atas setiap nikmat yang Dia titipkan kepada kita.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 83. ENGKAU AKAN DIUJI | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar