AM 01. Mengenal Kitab Al-Adab Al-Mufrad: Mengapa Adab Adalah Separuh dari Agama Kita

Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, sering kali kita mendapati diri kita terlibat dalam perselisihan yang sebenarnya tidak perlu — cekcok dengan tetangga, ketegangan dalam rumah tangga, atau kesalahpahaman antarsahabat. Pernahkah kita bertanya: dari mana muara dari semua pertikaian itu? Para ulama telah memberikan jawabannya sejak berabad-abad lalu: hilangnya adab dalam kehidupan kita.

Inilah yang mendorong kajian yang sangat penting ini — membedah sebuah karya monumental dari seorang ulama besar yang namanya sudah tidak asing di telinga setiap Muslim: Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Kitab yang akan kita pelajari bersama bukan Shahih Bukhari yang masyhur itu, melainkan sebuah karya tersendiri yang beliau susun khusus tentang adab, yang dikenal oleh para ulama dengan nama Al-Adab Al-Mufrad.

Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. membuka kajian ini dengan sebuah mukaddimah yang kaya — membahas urgensi belajar adab, makna adab itu sendiri, serta menjelaskan duduk perkara antara kitab Al-Adab Al-Mufrad dengan Kitabul Adab yang ada dalam Shahih Bukhari. Mari kita selami bersama.


Urgensi Belajar Adab: Hampir Dua Pertiga dari Agama

Salah satu pernyataan paling menggugah yang dikutip di awal kajian ini berasal dari seorang imam besar, Ibnul Mubarak rahimahullah. Beliau pernah berkata:

"Aku menuntut ilmu tentang adab selama 30 tahun, dan aku menuntut ilmu selama 20 tahun."

Pernyataan ini sungguh mengejutkan — seorang ulama sekaliber Ibnul Mubarak membutuhkan waktu 30 tahun hanya untuk mempelajari adab! Ini menunjukkan betapa luasnya cakupan adab, sekaligus betapa seriusnya para ulama Salaf dalam memprioritaskan pembelajaran adab sebelum mereka mendalami disiplin ilmu-ilmu yang lain.

Lebih jauh, Ibnul Mubarak rahimahullah juga berkata bahwa "hampir-hampir adab itu adalah dua pertiga dari agama." Sekilas, pernyataan ini terdengar berlebihan. Namun ketika kita telusuri cakupannya, kita akan memahami bahwa ini sama sekali bukan hiperbola.

Bayangkan saja: kita harus belajar adab kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala — bagaimana sikap hati dan lisan kita di hadapan-Nya. Kita harus belajar adab kepada Rasulullah ï·º — bagaimana kita mencintai, mengagungkan, dan meneladani beliau. Kemudian ada adab kepada sesama makhluk yang cakupannya amat luas: adab kepada orang tua, adab kepada anak, adab kepada suami atau istri, adab kepada tetangga, adab dalam persahabatan, adab ketika mengucapkan salam, adab ketika bertamu, adab ketika berbicara, bahkan adab dalam peperangan sekalipun. Belum lagi adab yang berkaitan dengan diri sendiri: adab makan, adab minum, adab tidur, adab buang hajat, dan seterusnya.

Ketika semua itu dijumlahkan, maka pernyataan Ibnul Mubarak tentang "dua pertiga agama" justru terasa sangat masuk akal. Adab bukan sekadar sopan-santun dalam pergaulan — ia menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan seorang Muslim.


Adab sebagai Obat Kemunduran Umat

Kajian ini juga menghadirkan sebuah analisis yang tajam dari Syekh Abdurrahman Al-Yamani Al-Mu'allimi rahimahullah. Beliau menyebut tiga sebab utama kemunduran kaum Muslimin:

Pertama, bercampurnya antara yang bukan agama dengan agama — banyak perkara yang dianggap sebagai bagian dari Islam, padahal sesungguhnya tidak. Kedua, lemahnya keyakinan terhadap ajaran Islam itu sendiri — umat yang kurang percaya diri dengan agamanya sendiri. Ketiga, tidak mengamalkan hukum-hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, apa solusinya? Syekh Abdurrahman Al-Mu'allimi memberikan jawaban yang mengejutkan sekaligus mencerahkan. Menurutnya, obat satu-satunya adalah:

"Mengenali adab-adab Nabi ï·º dalam ibadah, dalam muamalat, ketika mukim, ketika bersafar, ketika bergaul, ketika bersendirian, ketika bergerak, ketika diam, ketika terjaga, ketika tidur, ketika makan, ketika minum, ketika berbicara, ketika diam — dan semua yang terkait dengan kehidupan seseorang — disertai dengan berusaha mengamalkan adab-adab tersebut sedikit demi sedikit."

Ini adalah pernyataan yang sangat dalam. Kemunduran umat bukan pertama-tama diselesaikan dengan revolusi politik atau kekuatan ekonomi semata, melainkan dengan sesuatu yang lebih mendasar: setiap individu Muslim kembali kepada adab-adab Nabi ï·º dalam keseharian mereka.

Dan yang indah, banyak adab-adab tersebut mudah untuk diamalkan. Adab makan, adab tidur, adab berbicara — tidak ada yang membutuhkan biaya besar atau ilmu yang tinggi. Ketika seseorang mulai mengamalkan satu adab dengan istiqamah, ia akan merasakan ketenangan dan keindahannya, lalu terdorong untuk mempelajari dan mengamalkan adab-adab yang lain. Sedikit demi sedikit, ia akan menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.

Dari sini kita memahami mengapa pertikaian terjadi di mana-mana. Ribut antara suami dan istri? Karena keduanya tidak mengenal adab dalam hubungan rumah tangga. Cekcok dengan tetangga? Karena tidak mengenal adab bertetangga. Pecahnya persahabatan? Karena tidak mengenal adab dalam pertemanan. Mengenal dan mengamalkan adab adalah obatnya.


Makna Adab: Seruan kepada Kemuliaan

Sebelum masuk ke pembahasan kitab, Ustadz Firanda menjelaskan makna kata adab itu sendiri, baik secara bahasa maupun istilah.

Secara bahasa, menurut Ibnu Faris dalam kitabnya, kata adab berasal dari akar kata yang berarti "memanggil orang-orang menuju sesuatu" — seperti mengundang tamu ke sebuah jamuan. Dari sini lahirlah kata ma'dubah yang berarti jamuan makan, yakni ketika seseorang mengundang orang lain untuk hadir.

Secara istilah syar'i, para ulama merumuskan berbagai definisi yang semuanya kembali kepada satu inti: adab adalah seruan kepada perkara-perkara yang baik dan terpuji. Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya Fathul Bari mendefinisikan adab sebagai "melakukan sesuatu yang terpuji, baik dalam perkataan maupun perbuatan." Sebagian ulama mendefinisikannya sebagai mengamalkan akhlak-akhlak yang mulia. Ada pula yang merumuskannya sebagai sikap memuliakan orang yang lebih tua dan bersikap lembut kepada yang lebih muda.

Dengan demikian, adab dalam makna syar'i adalah seluruh sikap dan perilaku yang membuat seseorang terpuji — baik ketika ia sendirian maupun ketika berinteraksi dengan orang lain, siapa pun mereka.


Mengenal Kitab Al-Adab Al-Mufrad

Kini kita masuk ke pengenalan kitab yang akan dikaji. Nama lengkapnya, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama, sebenarnya hanyalah "Al-Adab" — bukan Al-Adab Al-Mufrad. Kata al-Mufrad (yang berarti "tersendiri") adalah tambahan dari para ulama kemudian, untuk membedakannya dari Kitabul Adab yang ada di dalam Shahih Bukhari. Jadi ketika disebut Al-Adab Al-Mufrad, maknanya adalah: kitab adab karya Imam Bukhari yang berdiri sendiri, bukan yang tergabung dalam Shahih-nya.

Mengapa kitab ini penting? Setidaknya ada beberapa alasan yang disebutkan dalam kajian ini:

Pertama, ini termasuk kitab tertua tentang adab. Kitab-kitab adab yang ditulis oleh ulama-ulama lain, seperti karya Ibnu Abi Dunya (wafat 281 H), Al-Khara'ithi (wafat 327 H), Al-Mawardi (wafat 450 H), Ibnu Hazm (wafat 456 H), Al-Baihaqi (wafat 458 H), dan yang lainnya — semuanya ditulis setelah Imam Bukhari yang wafat pada tahun 256 Hijriyah. Ini menjadikan Al-Adab Al-Mufrad sebagai salah satu karya pelopor dalam bidang adab.

Kedua, cakupannya sangat komprehensif. Kitab ini tidak membahas satu jenis adab secara spesifik, melainkan mencakup berbagai macam adab secara menyeluruh — dari adab kepada orang tua, adab bertetangga, adab bergaul, hingga adab-adab dalam ibadah.

Ketiga, kandungannya jauh lebih kaya dari Kitabul Adab dalam Shahih Bukhari. Perbandingannya sangat mencolok: Kitabul Adab dalam Shahih Bukhari hanya memiliki 128 bab dengan 256 hadits, sementara Al-Adab Al-Mufrad memiliki 644 bab dengan sekitar 1.322 hadits dan atsar — hampir lima kali lipatnya!

Keempat, banyak kandungannya yang tidak terdapat di tempat lain. Para ulama bahkan menulis buku khusus tentang zawaid Al-Adab Al-Mufrad — yakni hadits-hadits yang terdapat dalam kitab ini namun tidak ditemukan dalam Kutubussittah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan An-Nasa'i). Ini menunjukkan betapa berharganya konten ilmiah yang tersimpan di dalamnya.


Perbedaan Al-Adab Al-Mufrad dengan Kitabul Adab dalam Shahih Bukhari

Ustadz Firanda secara rinci menjelaskan perbedaan antara dua kitab ini meskipun penulisnya satu orang:

Dari sisi kualitas hadits, Shahih Bukhari hanya memuat hadits-hadits yang memenuhi standar kriteria yang sangat ketat. Imam Bukhari bahkan mandi dan shalat istikharah sebelum memasukkan sebuah hadits ke dalam Shahih-nya. Dari 200.000 hadits shahih yang beliau hafal, hanya sekitar 7.000 yang beliau pilih — dan tanpa pengulangan menjadi sekitar 4.000 hadits. Adapun Al-Adab Al-Mufrad tidak mensyaratkan standar seketat itu; di dalamnya terdapat hadits-hadits shahih, hasan, dan ada yang diperdebatkan para ulama — meskipun tidak ada hadits palsu di dalamnya. Syekh Al-Albani rahimahullah telah memilah kitab ini: sekitar 994 hadits beliau nilai shahih, dan sekitar 219 hadits beliau nilai dhaif.

Dari sisi cara penyebutan, ketika mengutip hadits dari Shahih Bukhari, cukup dikatakan "diriwayatkan Imam Bukhari." Tetapi ketika mengutip dari Al-Adab Al-Mufrad, wajib disebutkan lengkap: "diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitabnya Al-Adab Al-Mufrad" — agar tidak menimbulkan kesan bahwa hadits tersebut ada dalam Shahih Bukhari, yang standarnya jauh lebih tinggi.

Dari sisi pengulangan hadits, Imam Bukhari dalam Shahih-nya terkadang mengulang hadits yang sama dengan sanad berbeda, atau memotong-motong matan hadits sesuai dengan bab yang beliau buat — ini adalah salah satu kecerdasan Imam Bukhari yang terkenal, di mana fiqih beliau tampak pada judul-judul bab yang beliau susun. Adapun dalam Al-Adab Al-Mufrad, beliau tidak mengulang hadits dengan sanad yang sama.

Dari sisi kekayaan riwayat, Al-Adab Al-Mufrad jauh lebih kaya dalam memuat perkataan para sahabat (mauquf) dan perkataan para tabi'in (maqthu') — nukilan-nukilan berharga dari generasi terbaik umat Islam yang tidak banyak terdapat dalam Shahih Bukhari.


Kesimpulan

Kitab Al-Adab Al-Mufrad adalah warisan ilmiah yang luar biasa dari Imam Al-Bukhari rahimahullah — seorang ulama yang tidak hanya unggul dalam ilmu hadits, tetapi juga sangat memperhatikan pembentukan karakter dan akhlak umat Islam.

Mempelajari kitab ini bukan sekadar menambah wawasan, tetapi adalah sebuah perjalanan untuk menjadi Muslim yang lebih baik dalam setiap aspek kehidupan. Sebagaimana diingatkan oleh Syekh Abdurrahman Al-Mu'allimi, kemunduran umat bukan semata karena kurangnya ilmu atau kekuatan — melainkan karena jauhnya kita dari adab-adab yang diajarkan oleh Nabi ï·º. Dan obatnya ada di sini, dalam lembaran-lembaran kitab yang akan kita pelajari bersama.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kita taufiq untuk tidak sekadar mendengar dan membaca, tetapi juga mengamalkan adab-adab Islam sedikit demi sedikit dalam kehidupan kita sehari-hari. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. — https://www.youtube.com/watch?v=e5sOPv0mhIU



Posting Komentar

0 Komentar