Ada dosa yang pelakunya tidak hanya menanggung dosa biasa — ia mendapat laknat Allah Subhanahu wa Ta'ala secara langsung. Laknat berarti terusir dari rahmat dan kasih sayang-Nya. Dan di antara perbuatan yang mendapat laknat tersebut adalah sesuatu yang mungkin tidak terlintas dalam benak kita: melaknat kedua orang tua.
Bagaimana mungkin seorang anak mendoakan keburukan bagi orang yang telah menanggungnya dalam kandungan, melahirkannya dengan pertaruhan nyawa, dan membesarkannya dengan penuh pengorbanan? Namun kenyataannya, ini terjadi — bahkan dalam dua bentuk, langsung maupun tidak langsung. Itulah yang menjadi pembahasan utama sesi kedelapan Kitab Al-Adab Al-Mufrad bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. ini, yang juga menghadirkan sembilan wasiat Nabi ï·º dan dua hadits penting tentang mendahulukan bakti kepada orang tua di atas jihad.
Empat Perbuatan yang Mendapat Laknat Allah
Kajian ini dibuka dengan sebuah riwayat yang sangat penting, yang disimpan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu di dalam sarung pedangnya. Ketika ada yang bertanya apakah Rasulullah ï·º pernah memberikan ilmu atau wahyu khusus kepada Ali yang tidak disampaikan kepada sahabat lainnya, Ali menjawab tegas: tidak ada. Semua yang beliau terima dari Rasulullah ï·º adalah ilmu yang juga tersebar kepada umat secara umum.
Hanya satu catatan khusus yang beliau simpan dalam sarung pedangnya — selembar wasiat Nabi ï·º yang berisi empat perbuatan yang mendapat laknat Allah Subhanahu wa Ta'ala:
Pertama, menyembelih untuk selain Allah. Ini adalah kesyirikan yang nyata — mengorbankan hewan kepada jin, arwah nenek moyang, penjaga laut, penjaga gunung, atau makhluk apapun selain Allah. Dosa ini mengeluarkan pelakunya dari Islam karena ia telah mengarahkan ibadah kepada selain Allah. Di tanah air kita, praktik seperti ini masih ada — dibungkus dengan berbagai dalih seperti "sedekah untuk ikan" atau "menghormati penunggu laut". Namun dalih apapun tidak bisa menutupi hakikat kesyirikan yang ada di dalamnya.
Kedua, memindahkan atau menggeser patok batas tanah orang lain. Rasulullah ï·º bersabda bahwa siapa yang mengambil tanah satu jengkal saja dengan kezaliman, pada hari kiamat ia akan dikalungkan tanah tujuh lapis bumi di lehernya. Ini bukan perkara kecil — satu sentimeter tanah yang diambil dengan kezaliman akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Di zaman kita, trik-trik seperti menanam pohon di batas tanah agar akarnya menggeser batas, membuat sertifikat ganda, atau memanipulasi dokumen kepemilikan — semuanya masuk dalam dosa ini.
Ketiga, melaknat kedua orang tua. Ini bisa terjadi secara langsung — seorang anak mendoakan keburukan kepada orang tuanya sendiri. Atau secara tidak langsung — ia melaknat orang tua orang lain, sehingga orang tersebut membalas dengan melaknat orang tuanya. Keduanya sama-sama dosa besar. Betapa anehnya perbuatan ini — orang yang paling banyak berjasa dalam kehidupan kita, yang jasanya tidak mungkin kita balas, justru dibalas dengan laknat yang mendoakan mereka terjauh dari rahmat Allah.
Keempat, melindungi atau mengayomi pelaku zalim atau pelaku bid'ah. Ketika seseorang yang jelas-jelas berbuat zalim — korupsi, merampas hak orang, membunuh tanpa hak — malah dilindungi dan diayomi alih-alih ditegakkan hukum kepadanya, maka si pengayom pun ikut terlaknat. Demikian pula melindungi pelaku bid'ah yang menyebarkan kerusakan dalam agama.
Catatan penting dari riwayat ini: Ali bin Abi Thalib dengan tegas membantah klaim kaum Syiah bahwa Ahlul Bait memiliki ilmu agama khusus yang tidak dimiliki umat lainnya. Beliau sendiri — yang paling dekat dengan Nabi ï·º baik secara nasab maupun sebagai menantu — berkata bahwa tidak ada ilmu khusus yang beliau terima. Agama Islam disampaikan secara terbuka kepada seluruh umat, bukan hanya melalui jalur Ahlul Bait.
Sembilan Wasiat Rasulullah ï·º kepada Abu Darda
Kajian kemudian menghadirkan sebuah hadits penting — sembilan wasiat yang Rasulullah ï·º sampaikan kepada Abu Darda radhiyallahu 'anhu. Meskipun sanadnya memiliki sedikit kelemahan karena salah satu rawinya, maknanya benar dan dikuatkan oleh banyak dalil lain.
Pertama: "Jangan kau berbuat syirik kepada Allah, meskipun kau dipotong-potong atau dibakar."
Ini adalah prinsip tertinggi. Syirik adalah dosa yang tidak diampuni jika pelakunya mati dalam keadaan tersebut. Namun para ulama menjelaskan bahwa jika seseorang benar-benar terpaksa mengucapkan kata-kata kufur karena ancaman pembunuhan yang nyata — sementara hatinya tetap beriman — maka hal itu dimaafkan Allah, sebagaimana yang dialami Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu. Namun yang lebih utama adalah bertahan seperti Imam Ahmad rahimahullah yang memilih disiksa daripada mengucapkan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk.
Kedua: "Jangan sekali-sekali kau tinggalkan satu shalat pun dengan sengaja."
Meninggalkan shalat dengan sengaja berarti terlepasnya perlindungan Allah dari dirinya — isyarat keluar dari Islam. Ini bukan urusan sepele.
Ketiga: "Jangan sekali-sekali kau minum khamar, karena ia adalah kunci dari segala keburukan."
Khamar — dari kata khamara yang berarti menutup — menutup akal manusia. Ketika akal tertutup, setan bebas menggiring manusia ke mana saja yang ia kehendaki. Orang dalam pengaruh khamar bisa melakukan hal-hal yang di luar nalar normalnya — berzina dengan keluarganya sendiri, membunuh sahabatnya, menghilangkan rasa malu sepenuhnya. Itulah mengapa khamar disebut ummul khaba'its — induk dari segala perbuatan keji.
Keempat: "Taatlah kepada kedua orang tuamu, meskipun keduanya menyuruhmu meninggalkan kekayaan duniawimu — keluarlah dari kemewahan itu menuju mereka berdua."
Ini adalah wasiat yang sangat dalam. Jika orang tua meminta kita untuk meninggalkan pekerjaan, jabatan, atau kenyamanan duniawi demi kebersamaan dengan mereka — dan kita mampu melakukannya — maka lakukanlah. Karena pintu surga yang paling mudah dimasuki adalah berbakti kepada orang tua. Tentu dengan catatan para ulama: selama ketaatan itu tidak menimbulkan mudarat bagi istri, anak, atau orang-orang yang menjadi tanggungan kita.
Kelima: "Jangan kau berusaha merebut atau menjatuhkan penguasa, meskipun kau merasa dirimulah yang lebih berhak."
Memberontak kepada penguasa Muslim adalah dosa besar yang mudharatnya menimpa seluruh umat. Sejarah membuktikan — di berbagai negeri yang terjadi pemberontakan atas nama keadilan, yang menanggung akibatnya adalah rakyat biasa: jutaan jiwa melayang, wanita dinodai, anak-anak kehilangan orang tua. Selama penguasa masih Muslim, masih shalat, maka jalan yang benar adalah nasihat — bukan pemberontakan.
Keenam: "Jangan kabur dari medan pertempuran, meskipun kau akan binasa dan teman-temanmu semua kabur."
Lari dari peperangan adalah dosa besar, kecuali dalam tiga kondisi: mundur untuk menyusun strategi kembali, mundur untuk bergabung dengan pasukan yang lebih kuat, atau ketika musuh terlalu tidak seimbang — lebih dari dua kali lipat jumlah kaum Muslimin.
Ketujuh: "Berinfaklah dari hartamu untuk keluargamu."
Infak kepada keluarga adalah infak yang paling besar pahalanya — lebih besar dari sedekah kepada orang miskin yang tidak dikenal, bahkan lebih besar dari infak fisabilillah, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi ï·º. Jangan ragu-ragu berinfak untuk istri, anak, dan kebutuhan keluarga.
Kedelapan: tentang mendidik keluarga — para ulama menyebutkan dua riwayat yang perlu dikaji: satu riwayat mengatakan "jangan kau tidak memukul keluargamu" (yakni pukul mereka jika perlu demi pendidikan), dan riwayat lain mengatakan "jangan kau pukul keluargamu." Keduanya memiliki sanad yang shahih namun perlu diteliti lebih lanjut. Yang jelas, hukum asal adalah mendidik dengan cara yang baik — nasihat, kemudian boikot, dan pukulan hanya jika benar-benar diperlukan, dalam batas yang tidak melukai dan tidak meninggalkan bekas.
Kesembilan: "Jadikanlah mereka takut kepada Allah."
Ketika mendidik istri atau anak, jangan hanya menakuti dengan "nanti apa kata orang" atau "nanti malu". Tanamkan rasa takut kepada Allah — "Allah Maha Melihat apa yang kau lakukan. Bagaimana nanti di hadapan-Nya?" Bacakan ayat, bacakan hadits, sehingga mereka benar-benar merasakan pengawasan Allah dalam setiap langkahnya.
Berbakti kepada Orang Tua adalah Jihad Itu Sendiri
Dua hadits terakhir yang dibawakan Imam Bukhari dalam kajian ini kembali menegaskan prinsip yang sudah berulang kali disebutkan — namun tidak pernah bosan untuk diingat kembali.
Seorang lelaki datang kepada Nabi ï·º meminta izin untuk berjihad. Rasulullah ï·º bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Lelaki itu menjawab: "Masih, ya Rasulullah." Nabi ï·º bersabda: "Fafihima fajahid — maka berjihadlah dalam rangka berbakti kepada keduanya."
Sabda Nabi ï·º yang menyebut bakti kepada orang tua sebagai jihad bukan sekadar perbandingan biasa. Ini adalah pengakuan bahwa berbakti kepada orang tua membutuhkan pengorbanan yang nyata — pengorbanan harta, waktu, tenaga, dan perasaan. Terkadang kita sudah berbakti dengan sepenuh hati, namun orang tua tidak menyadarinya atau tidak mengakuinya. Terkadang kita harus menanggung kata-kata yang menyakitkan dengan sabar. Terkadang kita harus melepaskan kenyamanan dan karir demi menemani mereka.
Semua itu adalah jihad. Dan jihad membutuhkan kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan bahwa setiap tetes keringat yang kita curahkan demi orang tua sedang dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala — dengan pahala yang lebih besar dari pahala jihad fisabilillah itu sendiri.
Ustadz Firanda menghadirkan sebuah kisah nyata yang sangat menginspirasi: seorang yang membangun rumah untuk orang tuanya lebih dahulu sebelum rumahnya sendiri — dan rumah yang ia bangun untuk orang tuanya pun lebih besar dari rumahnya sendiri. Di zaman serba individual seperti ini, kisah seperti itu terasa seperti mimpi. Namun itulah yang dilakukan orang yang benar-benar memahami nilai berbakti kepada orang tua.
Kesimpulan
Empat perbuatan yang dilaknat Allah dan sembilan wasiat Nabi ï·º yang dibahas dalam kajian ini semuanya bermuara pada satu tema besar: bagaimana seorang Muslim menjalani hidupnya dengan benar — dalam hubungannya dengan Allah, dengan orang tua, dengan penguasa, dengan keluarga, dan dengan sesamanya.
Di antara semua itu, pesan tentang orang tua terus berulang dengan penekanan yang semakin kuat: jangan pernah melaknat mereka, jangan durhaka kepada mereka, taatilah mereka selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan jadikan bakti kepada mereka sebagai jihad yang kita perjuangkan setiap hari — dengan sabar, dengan ikhlas, dan dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan satu pun pengorbanan yang kita lakukan untuk mereka.
Selama orang tua kita masih hidup, pintu surga itu masih terbuka. Jangan biarkan ia tertutup sebelum kita sempat masuk melaluinya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan yang mendatangkan laknat-Nya, menganugerahi kita lisan dan hati yang selalu memuliakan orang tua, dan menjadikan bakti kita kepada mereka sebagai bekal terbaik menuju surga-Nya. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. — https://www.youtube.com/watch?v=90afuVsudJg
0 Komentar