AM 16. Mulai dari yang Terdekat: Prioritas, Konsekuensi, dan Ancaman Memutus Silaturahim

Ada sebuah kekeliruan yang sering terjadi tanpa kita sadari: kita bersemangat membantu orang yang jauh — berdonasi untuk korban bencana di negeri lain, bersedekah kepada anak yatim yang tidak kita kenal — namun melupakan kerabat yang tinggal satu kota, atau bahkan satu atap, yang sudah lama tidak kita sapa. Islam tidak melarang kebaikan kepada siapa pun, namun Islam mengajarkan adanya urutan prioritas yang tidak boleh kita abaikan. Dan di sisi lain, Islam memberikan peringatan yang sangat serius kepada siapa pun yang memutuskan silaturahim — ancaman yang seharusnya membuat bulu kuduk kita berdiri.

Kajian kali ini membahas tiga pokok penting: bagaimana Islam menetapkan prioritas dalam menyambung silaturahim dan berinfak, apa yang terjadi ketika seseorang memutuskan silaturahim hingga amalnya tidak diterima, dan seberapa besar ancaman yang Allah dan Rasul-Nya sampaikan bagi pemutus silaturahim.


Prioritas dalam Silaturahim: Dari yang Terdekat, Baru yang Berikutnya

Rasulullah ï·º berwasiat dalam sebuah hadits yang dibawakan Imam Bukhari: "Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian, kemudian kepada ibu-ibu kalian, kemudian kepada ayah-ayah kalian, kemudian kepada yang terdekat, kemudian yang terdekat."

Pengulangan wasiat kepada ibu bukan tanpa alasan. Ada tiga sebab mengapa perhatian kepada ibu ditekankan lebih kuat. Pertama, potensi untuk bersikap kasar kepada ibu lebih besar — seorang anak lebih berani membentak ibunya yang lemah lembut daripada ayahnya. Kedua, kebaikan ibu sering terlupakan karena sebagian besarnya terjadi saat kita masih dalam kandungan, saat dilahirkan, dan saat disusui — masa-masa yang sama sekali tidak kita ingat — sementara kebaikan ayah yang kita saksikan langsung saat sudah besar lebih mudah diingat dan dihargai. Ketiga, seorang anak cenderung lebih banyak berharap kepada ayah dalam urusan materi, sehingga perhatian kepada ayah secara alamiah lebih besar — dan ini membuat ibu berisiko terlupakan.

Setelah ibu dan ayah, wasiat Nabi ï·º bergerak kepada "al-aqrab al-aqrab" — yang terdekat kemudian yang terdekat. Inilah prinsip ring satu yang penting untuk selalu kita ingat: anak-anak kita, kakak dan adik kandung, kakek dan nenek, paman dan bibi — mereka semua adalah prioritas utama yang haknya paling kuat. Adapun sepupu dan kerabat yang lebih jauh, mereka berada di ring berikutnya — tetap harus disambung, namun dengan penekanan yang lebih ringan.

Prinsip yang sama berlaku dalam berinfak dan bersedekah. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma menyebutkan — dan maknanya didukung oleh hadits-hadits shahih — bahwa seseorang yang berinfak untuk dirinya sendiri, untuk anak istrinya, dan untuk kerabatnya dengan mengharap pahala dari Allah, maka Allah akan memberikan pahalanya. Dan urutan yang beliau sebutkan pun mencerminkan prioritas: mulailah dari dirimu, kemudian anak istrimu, kemudian kerabat terdekat, baru kemudian yang lain.

Rasulullah ï·º sendiri bersabda dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim: "Mulailah sedekah dengan dirimu. Jika ada kelebihan, untuk anak istrimu. Jika masih ada kelebihan, untuk kerabatmu. Jika masih ada lagi, maka untuk selain mereka."

Yang menarik, sedekah kepada kerabat memiliki pahala ganda: pertama pahala sedekah itu sendiri, dan kedua pahala silaturahim. Sementara sedekah kepada orang asing hanya mendatangkan satu pahala. Rasulullah ï·º bahkan bersabda bahwa infak yang paling besar pahalanya di antara segala macam infak adalah infak kepada keluarga — karena hukumnya wajib pada kebutuhan-kebutuhan primer dan sekunder. Maka jangan sampai kita terbalik: semangat bersedekah kepada orang jauh yang tidak kita kenal, sementara keluarga dan kerabat dekat kita abaikan.

Kuncinya adalah niat. Rasulullah ï·º bersabda bahwa tidaklah seseorang berinfak — bahkan untuk dirinya sendiri, atau sekadar menyuapkan makanan ke mulut istrinya — kecuali ia mendapat pahala, selama ia mengharapkan ridha Allah. Maka niatkan setiap pengeluaran untuk keluarga sebagai ibadah, bukan sekadar kewajiban sosial. Ketika kita meniatkannya karena Allah, kita tidak akan merasa berat, tidak akan pelit, dan tidak akan menghitung-hitung terlalu ketat.


Amal yang Tidak Diterima: Peringatan dari Abu Hurairah

Imam Bukhari membawakan sebuah kisah yang sangat berkesan. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu suatu hari hadir di sebuah majelis pada petang hari Kamis — menjelang malam Jumat. Beliau berkata dengan tegas: "Kepada orang yang memutuskan silaturahim, aku minta ia berdiri dan meninggalkan majelis kami."

Tidak ada yang bergerak.

Beliau mengulangi untuk kedua kalinya. Tidak ada yang berdiri.

Pada kali ketiga, barulah seorang pemuda bangkit dan pergi. Rupanya ia telah memutuskan hubungan dengan tantenya — saudari ayahnya — selama dua tahun penuh, tanpa tegur sapa, tanpa kunjungan.

Pemuda itu menemui tantenya. Sang tante pun bertanya dengan heran, "Putra saudaraku, apa yang membawamu kemari?" Pemuda itu jujur menceritakan apa yang ia dengar dari Abu Hurairah. Sang tante pun berkata, "Pergilah tanyakan kepada Abu Hurairah, mengapa beliau berkata demikian."

Maka Abu Hurairah menjawab: "Sesungguhnya aku mendengar Nabi ï·º bersabda: 'Amalan-amalan anak Adam dipaparkan kepada Allah setiap Kamis petang, di malam Jumat. Maka amal orang yang memutuskan silaturahim tidak diterima.'"

Hadits ini derajatnya hasan, dikuatkan oleh hadits-hadits lain yang semakna. Di antaranya sabda Rasulullah ï·º dalam Sunan Abi Dawud: "Pintu-pintu surga dibuka setiap hari Senin dan hari Kamis. Allah mengampuni setiap hamba yang tidak berbuat syirik kepada-Nya — kecuali dua orang yang saling bertikai dan memboikot satu sama lain. Ditundanya pengampunan untuk keduanya sampai mereka berdamai."

Bayangkan: hadits terakhir berbicara tentang dua orang yang bermasalah, meskipun bukan kerabat — hanya sesama muslim biasa. Bonus ampunan yang Allah berikan setiap Senin dan Kamis pun ditangguhkan dari mereka berdua sampai mereka rukun kembali. Lalu bagaimana jika yang bermasalah adalah kerabat sendiri? Tentu ancamannya jauh lebih besar.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tidak suka duduk di majelis yang ada orang yang memutuskan silaturahim di dalamnya. Ada kekhawatiran bahwa amalnya yang sedang diangkat bercampur dalam satu momen pengangkatan bersama orang yang amalnya tertolak. Ini menunjukkan betapa seriusnya para sahabat menyikapi urusan silaturahim — bukan sekadar anjuran sosial, melainkan perkara yang bisa membuat seluruh amal ibadah seseorang tidak diterima.

Renungkanlah: dua tahun si pemuda itu mungkin sudah bersedekah, sudah shalat berjamaah, mungkin sudah shalat malam — namun amal-amal itu diangkat dalam kondisi tertolak, hanya karena ia memutuskan silaturahim dengan tantenya. Inilah yang dimaksud kerugian besar yang sering tidak kita sadari.


Ancaman Keras: Tidak Masuk Surga

Imam Bukhari kemudian membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan bersama dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim — muttafaqun 'alaih — sabda Rasulullah ï·º yang sangat tegas:

"Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahim."

Para ulama menjelaskan hadits ini memiliki dua kemungkinan makna, tergantung kondisi pelakunya.

Pertama, jika seseorang memutuskan silaturahim sambil meyakini bahwa perbuatan itu halal — tidak ada dosa, tidak masalah — maka ia telah melakukan istihläl, yaitu menghalalkan apa yang Allah haramkan. Dan menghalalkan yang haram dengan keyakinan adalah bentuk kekufuran. Orang seperti ini tidak masuk surga dalam arti yang sesungguhnya — ia kafir dan kekal di neraka.

Kedua, jika seseorang memutuskan silaturahim sebagai perbuatan maksiat — ia tahu itu dosa, namun hawa nafsunya mengalahkannya — maka "tidak masuk surga" bermakna ia tidak langsung masuk surga bersama orang-orang shalih. Ia akan singgah terlebih dahulu di neraka, dibersihkan dari dosa-dosanya, lalu masuk surga belakangan. Surga tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa-jiwa yang bersih — dan mereka yang masih memiliki noda dosa besar belum bisa langsung memasukinya.

Inilah yang harus membuat kita waspada. Banyak orang yang merasa aman karena sudah shalat, sudah berhaji, sudah berpuasa — namun tetap memiliki permasalahan dengan kakak, adik, orang tua, atau kerabat lainnya. Dalam sebuah hadits digambarkan bagaimana penghuni surga memohon syafaat untuk teman-teman mereka yang masih di neraka, seraya berkata: "Ya Allah, mereka dulu shalat bersama kami, haji bersama kami, puasa bersama kami." Artinya, shalat dan puasa tidak otomatis menjamin seseorang bebas dari neraka jika ia masih membawa dosa-dosa besar seperti memutuskan silaturahim.

Bahkan disebutkan dalam hadits bahwa api neraka tidak akan membakar bekas sujud seseorang — menandakan ada penghuni neraka yang pernah shalat di dunia. Maka jangan pernah merasa cukup aman hanya karena sudah beribadah, sementara di sisi lain masih ada rahim yang kita putuskan.


Rahim Mengadu kepada Allah

Imam Bukhari kembali menegaskan dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: bahwa rahim — ikatan kekerabatan — akan berdiri dan mengadu kepada Allah. "Ya Rabb, aku dizalimi. Ya Rabb, aku diputuskan." Lalu Allah berkata kepadanya: "Tidakkah engkau ridha jika Aku memutuskan kebaikan dari orang yang memutuskanmu, dan Aku menyambung kebaikan untuk orang yang menyambungmu?"

Jawaban rahim: "Tentu, ya Rabb."

Allah berfirman: "Itulah yang Aku tetapkan untukmu."

Ini bukan kiasan semata. Allah Subhanahu wa Ta'ala mampu mewujudkan hal yang abstrak menjadi konkret — sebagaimana kematian akan dihadirkan dalam wujud domba yang disembelih, sebagaimana amal shalih akan hadir dalam wujud manusia berwajah tampan di alam kubur, sebagaimana Surat Al-Baqarah dan Ali Imran akan hadir seperti dua awan yang menaungi pada hari kiamat. Rahim pun akan hadir dengan lisan yang fasih, berbicara, dan kelak membela atau menyerang — tergantung bagaimana kita memperlakukannya di dunia.

Siapa yang menyambung silaturahim, Allah janjikan sambungan kebaikan dari segala arah yang mungkin tidak kita sangka-sangka: rezeki yang lapang, umur yang panjang, hati yang tenang, hidayah yang terjaga. Siapa yang memutuskannya, Allah akan mencabut berbagai kebaikan dari hidupnya — meski ia kaya raya, meski jabatannya tinggi, ia tidak akan pernah benar-benar merasakan ketenangan dan kebahagiaan sejati.


Masih adakah silaturahim yang kita tunda? Masih adakah kerabat di ring pertama yang lama tidak kita sapa — orang tua, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek — yang bahkan mungkin sudah dua tahun, atau lebih, kita biarkan tanpa tegur sapa?

Jangan tunggu momen yang sempurna. Jangan tunggu ego turun sendiri. Dalam banyak kasus, kita tahu bahwa kitalah yang harus melangkah pertama — bukan karena kita yang salah, tetapi karena kita yang lebih paham nilai ibadah ini. Yang merugi bukan hanya hubungan yang terputus, tetapi seluruh amal ibadah kita yang mungkin sedang tertolak di sisi Allah, setiap Senin dan Kamis, tanpa kita sadari.

Telepon sekarang. Kunjungi sekarang. Kirimkan hadiah sekarang. Karena setiap sambungan yang kita jalin, Allah janjikan kebaikan yang berlipat — di dunia, sebelum di akhirat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memudahkan kita untuk menyambung silaturahim dengan penuh keikhlasan, memaafkan kesalahan kerabat kita, dan mengalahkan ego kita demi kemaslahatan yang jauh lebih besar — keselamatan kita di akhirat kelak.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Al-Adab Al-Mufrad Sesi 16 — Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. | https://www.youtube.com/watch?v=Y0JLMNLkhHw



Posting Komentar

0 Komentar