Kebodohanku, Kamu, dan Dia

Sepuluh Kebodohan yang Sering Kita Lakukan Tanpa Menyadarinya


Pembuka: Manusia Itu Memang Jahil

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 72:

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Mereka enggan memikulnya dan khawatir tidak sanggup menunaikannya. Namun manusia memikulnya. Sesungguhnya manusia itu zalum (suka berbuat zalim) dan jahul (sering berbuat kebodohan).”

Kata jahul — bukan sekadar jahil, tetapi sangat sering berbuat kebodohan. Ini bukan penghinaan, ini adalah gambaran asal manusia yang perlu kita sadari agar kita bisa menghindarinya.

Lalu, apa saja kebodohan yang sering kita lakukan setiap hari? Ustadz Firanda Andirja merinci sepuluh di antaranya dalam kajian yang sangat jujur dan menyentuh ini.


1. Bermaksiat: Kebodohan yang Paling Mendasar

Allah menyebut pelaku maksiat sebagai orang yang jahil dalam beberapa ayat Al-Quran. Di antaranya Surah An-Nisa ayat 17: “Sesungguhnya tobat yang Allah terima adalah tobat orang-orang yang melakukan keburukan dengan kebodohan.” Kata bijahalah di sini bukan syarat, melainkan sifat yang melekat — artinya siapa pun yang bermaksiat, ia pasti sedang jahil.

Nabi Yusuf alaihissalam pun mengisyaratkan ini dalam doanya: “Ya Allah, jika Engkau tidak palingkan aku dari rayuan para wanita itu, aku akan condong kepada mereka dan aku akan termasuk orang-orang yang jahil.”

Mengapa orang yang bermaksiat disebut bodoh? Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dengan sangat tepat: orang yang bermaksiat sedang menukar kelezatan yang sedikit, tidak sempurna, dan sementara — dengan mengorbankan kelezatan yang abadi, beraneka ragam, dan sempurna di surga kelak. Siapa yang lebih bodoh dari orang seperti itu?

Kebodohan orang yang bermaksiat juga terlihat dari beberapa sisi lain:

  • Maksiat mencabut kelezatan yang halal. Seseorang yang sering melihat yang haram akan kehilangan hasrat dan kenikmatan bersama pasangan halalnya. Yang haram tidak bisa diraih, yang halal sudah tidak terasa. Ia menderita di dua sisi sekaligus.
  • Dampak pertama maksiat langsung menghantam hati, bukan fisik. Banyak yang menyangka dampak maksiat baru terasa nanti — sakit, rugi, atau celaka. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap kali seorang hamba bermaksiat, hatinya diberi noktah hitam.” Dampak itu langsung, tersembunyi, dan terakumulasi. Ibnu Qayyim menyebutnya seperti racun — sedikit demi sedikit, hingga suatu hari meledak.
  • Menunda tobat adalah kebodohan tersendiri. Orang bermaksiat sering berkata, “Nanti saja tobat.” Ia tidak tahu bahwa kematian tidak menunggu jadwal tobatnya. Semua anak Adam bersalah, kata Nabi, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang segera bertobat.
Bayangkan seseorang yang menghabiskan 1 jam sehari untuk hal yang haram. Dalam setahun, 365 jam terbuang. Seandainya waktu itu digunakan untuk membaca Al-Quran, berdzikir, berbakti kepada orang tua — betapa besar pahala yang telah ia sia-siakan.

2. Menghukumi Seseorang Hanya dari Satu Pihak

Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka cross check-lah terlebih dahulu. Jangan sampai kalian menimpakan keburukan kepada suatu kaum dengan kebodohan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib ketika diutus menjadi hakim di Yaman: “Jika ada dua orang yang bersengketa duduk di hadapanmu, jangan keluarkan hukum sampai kau mendengar dari pihak kedua sebagaimana kau mendengar dari pihak pertama.”

Ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mendengar keluhan seorang istri tentang suaminya, kita langsung simpulkan suaminya buruk. Ketika kita mendengar versi suaminya, kesimpulan bisa berbalik. Orang yang pandai berbicara bisa membuat kesimpulan yang sangat meyakinkan — padahal belum tentu benar.

Jika kita tidak bisa mendengar dari kedua belah pihak, maka jangan masuk ke tengah-tengah untuk memberi hukum. Diam adalah pilihan yang lebih bijak.


3. Hasad: Menzalimi Diri Sendiri

Orang yang hasad kepada orang lain disebut bodoh karena yang pertama ia zalimi bukan orang yang ia dengki, melainkan dirinya sendiri. Ada dua kerugian besar yang ia tanggung:

  1. Hasad membakar pahala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah hasad, karena hasad memakan pahala-pahala seperti api memakan kayu bakar.” Api membakar kayu — cepat, habis, tidak tersisa.
  2. Hasad menyiksa dirinya sendiri. Orang yang hasad semakin menderita ketika orang yang ia dengki semakin sukses. Temannya beli mobil baru, ia makin sakit hati. Temannya naik jabatan, ia makin tersiksa. Yang bahagia adalah orang yang ia dengki. Yang menderita adalah dirinya sendiri.

Lebih jauh lagi, orang hasad sejatinya sedang memprotes pembagian Allah. Allah berfirman (QS. Az-Zukhruf: 32): “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?” Allah yang membagi kecantikan, kekayaan, kecerdasan, dan kesehatan — sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya yang sempurna. Orang hasad seolah berkata kepada Allah yang Maha Tahu: “Kamu salah bagi.” Mana mungkin si bodoh memprotes Yang Maha Bijaksana?

Seorang salaf membaca ayat tentang Allah yang membagi rezeki, lalu berkata: “Sudah, yang bagi adalah Allah. Ngapain aku protes? Aku ridha dengan apa yang Allah berikan kepadaku.”

4. Meratapi Masa Lalu yang Tidak Bisa Kembali

Dalam Al-Quran dan hadits, kata “bersedih” hampir selalu dilarang atau dicela. La tahzan — jangan bersedih — muncul berulang kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan memohon perlindungan kepada Allah dari hamm (kegelisahan masa depan) dan hazan (kesedihan masa lalu).

Setan pun memanfaatkan celah ini. Allah berfirman: “Sesungguhnya bisik-bisikan setan adalah untuk membuat orang beriman bersedih.” Dan pintu yang setan gunakan adalah kata “seandainya”. Rasulullah bersabda: “Jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan ‘seandainya aku begini tentu tidak akan begini.’ Karena kata ‘seandainya’ membuka pintu-pintu setan.”

Imam Syafi’i bahkan melarang takziah lebih dari tiga hari — karena setelah itu, berkunjung kembali hanya memperbarui kesedihan. Seorang mukmin tidak boleh larut lama dalam duka, karena banyak kemaslahatan hidup yang akan terbengkalai.

Yang bijak adalah: jika kenangan buruk melintas tanpa sengaja, ucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un dan dapat pahala. Tapi jangan sengaja mengundang kembali kenangan pahit itu. Itu hanya menyiksa diri sendiri — dan itulah kebodohan.


5. Mengharapkan Semua Orang Menyukaimu

Imam Syafi’i berkata: “Keridaan seluruh manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai. Adapun keridaan Allah, itu bisa kau raih.”

Allah sendiri tidak selamat dari cacian makhluk-Nya. Orang-orang Yahudi mengatakan Allah fakir, tangan-Nya terbelenggu. Sebagian manusia menisbatkan anak kepada Allah. Padahal Allah Maha Suci dari semua itu. Jika Allah pun tidak selamat dari omongan manusia, mengapa kita berharap bisa lolos?

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam — manusia dengan akhlak paling sempurna yang pernah ada — pun dicaci, dituduh pembohong, penyihir, dan orang gila. Lalu kita yang penuh kekurangan ini ingin semua orang suka?

Bahkan dalam hadits disebutkan: “Siapa yang mencari keridaan Allah dengan mengundang kemurkaan manusia, Allah akan meridhainya. Dan siapa yang mencari keridaan manusia dengan mengundang kemurkaan Allah, Allah akan murka kepadanya.”

Di dunia ada pertarungan antara hak dan batil. Tidak mungkin kita bisa membuat dua kubu yang saling bertentangan sama-sama puas. Maka carilah keridaan Allah — itulah satu-satunya yang mungkin dan abadi.

6. Mengharapkan Kesempurnaan di Dunia

Allah berfirman (QS. Al-Balad: 4): “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam kepayahan.” Ini bukan kebetulan. Allah sengaja menjadikan dunia tidak sempurna agar kita tidak berhenti merindukan akhirat.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini: pasangan tidak sempurna, anak tidak sempurna, teman tidak sempurna, hafalan tidak sempurna, akal pun tidak sempurna. Siapa yang berharap kesempurnaan dari dunia, ia sedang menyiksa dirinya sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ada satu perangai yang tidak disukainya, pasti ada perangai lain yang disukainya.”

Syekh Albani mengibaratkan: ingin teman tanpa kekurangan seperti ingin kayu gaharu yang mengeluarkan asap harum tanpa asap sama sekali. Mustahil. Turunkan ekspektasi, dan kamu akan jauh lebih mudah menemukan kebahagiaan.

Kebahagiaan tidak harus berarti sempurna. Kalau kamu mendapat 70% dari apa yang kamu harapkan dari pasanganmu — syukuri. Karena sempurna hanya ada di surga. Di sana, istri atau suami yang bersamamu akan benar-benar sempurna.

7. Mengumbar Pandangan kepada yang Haram

Al-Qurthubi berkata: “Pandangan adalah pintu terbesar yang mengantarkan informasi kepada hati — dan itulah jalur yang paling ramai dan paling kuat pengaruhnya.”

Ibnu Qayyim mengibaratkan pandangan haram seperti anak panah yang menembus hewan buruan: jika tidak membunuhnya, ia pasti melukainya. Demikian pula pandangan haram terhadap hati. Dan begitu panah itu menancap, racunnya sulit dicabut — bahkan setelah bertobat pun, bekas lukanya masih terasa selama puluhan tahun.

Yang membuat ini menjadi kebodohan ganda: orang yang mengumbar pandangan tidak bisa memiliki apa yang ia lihat, namun ia kehilangan kelezatan apa yang ia miliki. Ia tidak bisa mencicipi yang haram, tapi yang halal sudah menjadi hambar. Menderita di dua sisi.

Seorang penyair berkata: “Betapa banyak pandangan haram yang menghabisi hati pemiliknya, seperti anak panah yang menancap tanpa busur dan tanpa senar.”

Dan setan berperan besar di sini. Iblis bersumpah dalam Al-Quran: “Sungguh aku akan menghiasi kemaksiatan bagi mereka di muka bumi.” Yang haram dihiasi setan agar tampak lebih indah dari yang halal. Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau — padahal itu ilusi. Kalau bisa dicoba pun, hasilnya neraka jahanam.


8. Memperpanjang Umur tapi Membuang Waktunya

Banyak orang berusaha keras menjaga kesehatan: olahraga teratur, makan bergizi, hindari gorengan. Semua itu baik. Tapi untuk apa umur panjang jika kemudian dihabiskan untuk hal yang sia-sia atau bahkan maksiat?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang terbaik adalah yang paling panjang umurnya dan paling baik amalnya.” Dan sebaliknya, orang yang diberi umur panjang namun membuangnya untuk hal yang tidak bermanfaat — ia sedang merugi.

Hasan Al-Bashri berkata: “Engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap hari yang pergi, pergi pula sebagian darimu.” Setiap menit yang lewat adalah nikmat yang akan dihisab. Allah berfirman: kalian akan ditanya tentang nikmat-nikmat yang Allah berikan, termasuk waktu luang dan kesehatan.

Allah memuji orang beriman dalam Al-Quran (QS. Al-Mu’minun: 3): “Dan orang-orang yang berpaling dari hal yang sia-sia.” Berpaling — bukan sekadar tidak melakukan, tapi secara aktif meninggalkan. Karena mereka sadar: setiap detik yang terbuang adalah bagian dari diri mereka yang sirna.


9. Mengurusi yang Bukan Urusannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang bukan urusannya.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan)

Setiap kali kita sibuk mengurusi yang bukan urusan kita, urusan yang benar-benar penting bagi kita pasti terbengkalai. Orang yang terlalu sibuk mengikuti berita dan gosip — tidak sempat membaca Al-Quran, tidak sempat mengajari anak, tidak sempat berbicara dengan istri.

Di era media sosial, fitnah ini semakin besar. Informasi berseliweran setiap detik. Berita tentang orang yang bukan urusanmu, komentar yang tidak ada faedahnya, analisa tentang hal-hal di luar kemampuanmu — semua menyita waktu dan energi yang seharusnya untuk hal yang bermakna.

Ada rumah di pojok jalan dicat warna ungu. Apa urusanmu? Mau dia cat merah, kuning, atau pelangi — bukan urusanmu. Kamu yang belum punya rumah, lebih baik fokus cari rumah. Jangan habiskan energi untuk urusan orang lain yang tidak memberimu manfaat apa pun.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan berkata kepada para sahabat: “Janganlah ceritakan kepadaku tentang orang lain. Aku ingin keluar dengan hati yang bersih.” Beliau tidak mau mendengar hal yang bisa mengotori hatinya terhadap orang lain.


10. Menyiksa Diri dengan Cacian Orang Lain

Syekh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya: “Di antara sebab kebahagiaan adalah engkau tahu bahwa gangguan orang lain kepadamu — berupa kata-kata buruk — tidak akan memberi mudarat kepadamu. Justru mereka sendiri yang akan mendapat mudarat — kecuali jika kamu sibuk menggubrisinya.”

Orang yang marah-marah tentangmu, yang membuat berita palsu tentangmu, yang mencacimu di media sosial — mereka yang menderita. Hati mereka sakit. Mereka yang tersiksa. Kamu aman — kecuali jika kamu membuka dan membacanya. Karena saat itu kamu mengizinkan kata-kata buruk itu masuk ke hatimu. Dan manusia itu lemah — sekuat apa pun kita, cacian orang tetap bisa mengusik.

Maka jangan baca. Jangan dengar. Jangan gubris. Bukan karena kita tidak peduli pada kebenaran, tapi karena menjaga ketenangan hati adalah pilihan yang lebih cerdas.

Ustadz Firanda bercerita: ketika ada yang mengirim kepadanya cacian tentang dirinya, ia langsung hapus. Dan berkata kepada pengirimnya: “Kirim lagi, saya blok.” Bukan karena sombong — tapi karena ia tahu, membacanya hanya akan merusak kebahagiaannya sendiri. Dan itu bodoh.

11. Mengumpulkan Harta tapi Tidak untuk Dirinya Sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membaca ayat (QS. At-Takatsur: 1-2): “Kalian telah terlalaikan oleh bermegah-megahan hingga kalian masuk ke dalam kubur.” Lalu beliau bersabda:

“Berkata anak Adam: ‘Hartaku, hartaku.’ Wahai anak Adam, apa yang benar-benar milikmu dari hartamu? Hanyalah apa yang kamu makan lalu habis, apa yang kamu pakai lalu lusuh, dan apa yang kamu sedekahkan lalu terus mengalir pahalanya. Selain itu, hartamu hanyalah titipan yang akan kamu tinggalkan untuk orang lain.”

Orang yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya namun tidak menyedekahkan untuk akhirat hanya menambah beban hisab di hari kiamat. Ia capek mencarinya, pusing memikirkannya, lalai dari mengingat Allah — dan di akhirat, ternyata yang ia nikmati hanya sebagian kecil saja.

Syekh As-Sa’di menyebutkan: Allah menyebut harta orang munafik sebagai azab bagi mereka (QS. At-Taubah: 55) — karena tanpa iman, harta hanya menjadi beban, bukan berkah. Mencarinya melelahkan, memikirkannya menyiksa, kehilangannya menyengsarakan.

Yang benar adalah: nikmati dunia, tapi jadikan akhirat sebagai orientasi utama. Niatkan harta untuk beribadah, untuk bersedekah, untuk membangun pahala yang menemani di kubur. Karena harta yang kita sedekahkan itulah yang benar-benar milik kita.


Penutup: Jangan Jadi Orang Bodoh

Semua kebodohan yang disebutkan di atas tidak lahir dari musuh luar. Ia lahir dari dalam diri kita sendiri — dari syahwat yang mengalahkan akal, dari ego yang mengalahkan iman, dari kelemahan yang tidak kita akui.

Manusia memang jahulan — sering berbuat kebodohan. Itu fitrah. Yang membedakan adalah: apakah kita menyadarinya dan berusaha berubah, atau kita terus tenggelam dalam kebodohan itu.

Semoga Allah menjauhkan kita dari kebodohan-kebodohan tersebut, menganugerahi kita hikmah dalam setiap pilihan, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang benar-benar cerdas — cerdas dalam arti yang sesungguhnya: yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan diri untuk bertemu Allah.

“Orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan diri untuk menghadapinya.” — Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
Berdasarkan kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
Sumber: youtube.com/watch?v=G8YuOD2bfi4 



Posting Komentar

0 Komentar