Kita memasuki hadits ke-23 dalam Bab Taubat Riyadhus Shalihin. Hadits ini diriwayatkan oleh dua sahabat besar — Abdullah bin Abbas dan Anas bin Malik radhiyallahu anhuma — dan meski singkat susunan katanya, ia membuka mata kita tentang sebuah hakekat diri manusia yang sangat dalam.
Hadits yang Singkat tapi Menggugah
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia menginginkan lembah yang kedua. Dan tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya — atau rongga perutnya — kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat."
— HR. Bukhari dan Muslim.
Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Abbas, Nabi ﷺ menambahkan: kalau ia sudah punya dua lembah emas, ia akan mencari lembah yang ketiga. Dan demikianlah seterusnya — tidak pernah berhenti, tidak pernah kenyang.
Hakekat Pertama: Manusia Tidak Pernah Kenyang terhadap Harta
Al-Imam Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyimpulkan: "Manusia tidak akan pernah kenyang terhadap harta dunia."
Lembah emas bukan sekadar uang receh. Coba kita bayangkan skalanya. Salah satu tambang emas besar di dunia memiliki cadangan sekitar 47,5 juta ons — kalau dihitung, nilainya kurang lebih 1,19 kuadriliun rupiah. Angka 15 digit. Tapi manusia yang mendapatkan sebesar itu pun — menurut hadits ini — masih akan mencari lembah yang kedua.
Kita tidak perlu contoh yang jauh. Kita saksikan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Yang suka koleksi tas: setelah satu, ada lagi yang limited edition. Yang suka jam tangan: setelah genap delapan, ada alasan untuk mencari yang ke-sembilan. Yang suka sepeda, motor, mobil, sneakers — polanya sama. Selalu ada yang berikutnya. Selalu ada alasan untuk menambah.
Mengapa? Karena Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 14: "Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap syahwat — dari wanita, anak-anak, harta emas dan perak, kendaraan yang bagus, hewan ternak, dan ladang pertanian. Itulah perhiasan kehidupan dunia." Allah sendiri yang menyatakan bahwa kita diciptakan dengan kecenderungan ini. Bukan berarti kita harus menyerah padanya — tapi kita harus mengenalnya agar bisa mengelolanya.
Dan Allah berfirman dalam Surah al-Fajr ayat 20: "Kalian benar-benar mencintai harta dengan kecintaan yang luar biasa." Ini bukan tuduhan — ini kenyataan tentang spesifikasi manusia. Kita diciptakan dengan DNA yang menyukai harta.
Maka satu-satunya yang bisa mengenyangkan — yang bisa menghentikan ambisi itu — adalah tanah. Ketika kita dikubur. Hatta zurtumul maqabir — sampai kalian masuk ke dalam kubur. Baru selesai.
Apa Solusinya?
Para ulama menjelaskan bahwa solusinya bukan membenci harta secara mutlak, bukan melarang diri dari menjadi kaya, bukan menganggap harta itu haram seluruhnya. Bukan itu.
Nabi ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Imam Ahmad: "Sebaik-baik harta yang shalih adalah di tangan orang yang shalih." Orang shalih yang memegang harta banyak — itu justru bagus. Karena ia tahu bagaimana mengalokasikannya ke jalan yang diridhoi Allah. Abu Bakar ash-Shiddiq kaya. Umar bin Khattab kaya. Utsman bin Affan sangat kaya. Ali bin Abi Thalib ketika menjadi khalifah punya harta. Nabi Sulaiman, Nabi Daud, Nabi Yusuf — semuanya diberikan kekayaan oleh Allah.
Solusinya adalah tiga hal yang perlu kita jaga bersama.
Pertama: Dapatkan harta dari jalan yang halal. Tolak segala tawaran yang haram, walaupun menggiurkan. Karena kalau kita sudah mencicipi yang haram, ambisi itu akan semakin berat untuk ditinggalkan.
Kedua: Alokasikan harta di jalan yang diridhoi Allah. Dari mana kita dapatkan dan ke mana kita keluarkan — dua pertanyaan inilah yang akan ditanyakan di hari kiamat. Allah berfirman dalam Surah at-Takatsur ayat 8: "Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan." Dan Nabi ﷺ bersabda bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser di hari kiamat sampai ditanya tentang hartanya — dari mana ia dapatkan dan ke mana ia alokasikan.
Ketiga: Letakkan harta di tangan, bukan di hati. Inilah kunci yang paling dalam. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata: "Harta itu harus diletakkan di tangan seseorang, bukan di hatinya." Artinya: kita gunakan harta sebagaimana fungsinya — sebagai alat, bukan sebagai tujuan. Kita tidak merasa tinggi ketika punya, tidak merasa rendah ketika tidak punya.
Hadits Hakim bin Hizam: Harta yang Berkah
Nabi ﷺ pernah berkata kepada Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu — setelah beberapa kali Hakim meminta bantuan finansial kepada Nabi ﷺ:
"Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan hati yang tidak tertarik padanya — yang merasa biasa saja ketika mendapatkannya — maka hartanya akan diberkahi. Tapi barangsiapa mengambilnya dengan hati yang bangga dan terpukau — maka hartanya tidak diberkahi."
Ini adalah tolok ukur yang sangat praktis. Bukan soal jumlahnya. Tapi soal bagaimana hati kita merespons harta itu.
Ketika kita memakai barang bagus karena kebutuhan dan hati kita biasa saja — itu bagus. Tapi ketika hati kita merasa tinggi karena barang bagus yang kita pakai, atau merasa rendah ketika tidak memakainya — itu tanda bahwa harta sudah masuk ke hati kita, dan itu berbahaya.
Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan." Jadi memakai yang bagus bukan masalah — selama motivasinya bukan kesombongan, bukan agar dipandang, bukan untuk meremehkan orang lain.
Semenjak Hakim mendengar nasehat Nabi ﷺ itu, beliau tidak pernah lagi meminta-minta kepada siapapun hingga akhir hayatnya.
Harta yang Sesungguhnya Menjadi Milik Kita
Nabi ﷺ bersabda: "Wahai anak Adam, sesungguhnya milikmu yang sebenarnya dari hartamu adalah: apa yang kau makan hingga habis, apa yang kau pakai hingga usang, dan apa yang kau sedekahkan hingga kekal." — HR. Muslim.
Tiga hal ini saja yang benar-benar menjadi milik kita. Selebihnya — yang kita tumpuk, yang kita simpan, yang kita koleksi — itu semua akan menjadi warisan orang lain, atau menjadi beban hisab di hari kiamat.
Maka infakkanlah di jalan Allah. Bukan hanya ketika lapang — justru disinilah ujian itu hadir.
Mengapa Hadits Ini Ada di Bab Taubat?
Ada hikmah besar mengapa al-Imam an-Nawawi memasukkan hadits tentang ambisi harta ini ke dalam Bab Taubat. Karena salah satu jebakan terbesar yang membuat manusia meninggalkan taubat dan terlambat kembali kepada Allah adalah cinta dunia yang tidak terkelola.
Ketika harta menguasai hati kita, kita sibuk mengejar lembah yang kedua, yang ketiga, yang keempat — dan melupakan taubat, melupakan Allah, melupakan akhirat. Maka pesan di akhir hadits ini sangat tepat: "Dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat."
Betapapun kita telah terlena oleh dunia, betapapun lama kita terbuai oleh ambisi harta — pintu taubat masih terbuka. Allah masih menerima. Bertaubatlah kepada-Nya. Dan begitu kita jatuh lagi dalam ambisi yang berlebihan, bertaubat lagi. Begitu seterusnya — karena nafsu itu harus terus dilatih dan diperjuangkan sepanjang hayat.
Penutup
Hadits ke-23 ini menampar kita dengan jujur: kita tidak akan pernah kenyang terhadap dunia selama kita hidup. Yang bisa mengenyangkan hanyalah tanah — ketika kita dikubur.
Maka selagi masih ada waktu, kelola harta dengan benar: dapatkan dari jalan halal, keluarkan di jalan Allah, dan jangan biarkan ia masuk ke hati. Jadilah orang shalih yang memegang harta — bukan orang yang dipegang oleh harta.
Dan selalu kembalilah kepada Allah dengan taubat yang tulus — karena Allah Maha Penerima Taubat, dan pintu-Nya tidak pernah tertutup bagi siapapun yang mau kembali.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 61: Dunia Tak Pernah Mengenyangkan Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=bkpyZ9tZQ1A
0 Komentar