Kisah Ka'ab bin Malik terus bergulir. Sementara beliau tertinggal di Madinah dengan perasaan bersalah yang terus menghantui, di tempat yang jauh — di Tabuk — Nabi ﷺ baru bertanya tentang beliau. Dan di sela-sela kisah itu, muncul dua pelajaran besar yang sangat relevan untuk kehidupan kita: bagaimana membela kehormatan saudara kita, dan bagaimana tetap beramal shalih di tengah tekanan dan celaan.
Ka'ab Menyaksikan Siapa yang Tertinggal Bersamanya
Setelah pasukan Nabi ﷺ berangkat, Ka'ab bin Malik mulai mengitari kota Madinah. Dan apa yang beliau saksikan membuatnya semakin sedih dan galau: yang tertinggal di Madinah hanyalah orang-orang tua, orang-orang sakit, orang-orang miskin yang memang tidak punya kemampuan untuk berangkat — dan orang-orang yang terduga munafik.
Tidak ada Rasulullah ﷺ. Tidak ada Abu Bakar. Tidak ada Umar. Tidak ada Utsman. Tidak ada Abdurrahman bin Auf. Tidak ada nama-nama besar yang menjadi simbol keimanan. Semua sudah berangkat ke Tabuk.
Ini adalah sinyal yang seharusnya membuat siapapun tersentak. Coba kita renungkan dalam kehidupan kita: ketika kita melakukan sebuah kesalahan atau berada di lingkungan yang salah, coba lihat siapa yang ada di sekeliling kita. Apakah orang-orang yang mengingatkan kita kepada Allah, yang membicarakan ilmu, yang mendorong kita kepada kebaikan? Atau justru sebaliknya?
Sensor keimanan Ka'ab bin Malik masih bekerja — dan itu pertanda baik. Beliau merasakan bahwa ada yang tidak beres. Beliau tidak nyaman dengan kondisinya. Dan ketidaknyamanan itu adalah awal dari taubat yang luar biasa.
Di Tabuk: Nabi ﷺ Bertanya tentang Ka'ab
Ratusan kilometer dari Madinah, Nabi ﷺ tiba di Tabuk bersama 30.000 pasukan. Dan di sana, di saat beliau sedang duduk bersama para sahabat, beliau bertanya: "Apa yang sedang dilakukan Ka'ab bin Malik? Di mana dia?"
Seseorang dari Bani Salimah — kabilah Ka'ab sendiri — menjawab: "Ya Rasulullah, ia tertahan oleh pakaian Burdah-nya dan sibuk melihat kedua sisi tubuhnya."
Ini adalah jawaban yang penuh makna isyarat: Ka'ab terpesona oleh dirinya sendiri, terlena oleh perhiasan dunia, mengandalkan kemampuannya sendiri. Ada kebenaran dalam kalimat itu — itulah yang sesungguhnya membuat Ka'ab tertinggal.
Pembelaan Mu'adz bin Jabal: Pelajaran tentang Membela Kehormatan Saudara
Mendengar kalimat yang menyudutkan itu, Mu'adz bin Jabal radhiyallahu anhu — seorang alim besar yang paling tahu tentang halal dan haram di kalangan sahabat — langsung angkat bicara:
"Buruk sekali yang kau ucapkan! Demi Allah, Ya Rasulullah, kami tidak pernah mengetahui tentang Ka'ab kecuali kebaikan."
Lalu Nabi ﷺ pun terdiam.
Ini adalah teladan yang sangat indah tentang bagaimana seorang sahabat membela sahabatnya. Mu'adz bin Jabal tidak membiarkan kehormatan Ka'ab dijatuhkan begitu saja di hadapan Nabi ﷺ. Ia langsung membela — bukan dengan membabi buta, bukan dengan menutup-nutupi kebenaran, tapi dengan menyatakan apa yang ia ketahui: selama ini yang ia ketahui tentang Ka'ab hanyalah kebaikan.
Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya ketika saudaranya tidak ada di sana, maka Allah akan selamatkan dia dari api neraka pada hari kiamat." — HR. Tirmidzi dan Ahmad, dihasankan al-Albani.
Dan dalam riwayat lain: "Barangsiapa yang membela nama baik temannya, maka Allah pastikan Allah akan bebaskan dia dari api neraka."
Inilah yang Mu'adz bin Jabal lakukan — dan itulah yang seharusnya kita lakukan. Ketika sahabat kita dijatuhkan, direndahkan, dighibah, atau difitnah di hadapan kita — jangan diam. Belanya. Karena diam saat itu adalah kelemahan, dan membela adalah sunnah Nabi ﷺ yang berbuah surga.
Cara Mu'adz Membela: Terarah, Tidak Membabi Buta
Yang menarik adalah cara Mu'adz bin Jabal membela. Beliau tidak berkata: "Ka'ab pasti punya alasan yang baik." Beliau tidak mengarang-ngarang pembelaan. Beliau hanya mengatakan apa yang ia ketahui: "Kami tidak pernah mengetahui tentang Ka'ab kecuali kebaikan."
Inilah pembelaan yang tepat: berbaik sangka, tanpa sok tahu, tanpa membabi buta. Mu'adz tidak tahu persis apa yang terjadi dengan Ka'ab. Tapi track record Ka'ab selama ini selalu baik — dan itulah yang beliau sampaikan.
Para ulama mengingatkan: potensi buruk sangka di antara sesama muslim itu besar. Bahkan ibunda kita Aisyah radhiyallahu anha pun pernah difitnah dan tuduhan itu sempat berhembus kuat di Madinah. Ini menunjukkan betapa mudahnya api fitnah menyebar jika kita tidak menjaga lisan dan tidak membela kehormatan saudara kita.
Maka tugas kita adalah menjaga kehormatan saudara-saudara kita. Kalau memang ada masalah yang perlu disampaikan, sampaikan langsung kepada yang bersangkutan — empat mata, dengan niat yang tulus. Bukan disebarkan kepada orang lain. Bukan dijadikan bahan obrolan.
Abu Khaitsamah: Yang Datang dari Kejauhan
Di tengah suasana di Tabuk itu, tiba-tiba Nabi ﷺ melihat seseorang dari kejauhan — seorang laki-laki berpakaian putih yang terlihat bergerak di antara fatamorgana padang pasir. Nabi ﷺ berkata: "Mudah-mudahan itu Abu Khaitsamah." Dan benar — itu adalah Abu Khaitsamah al-Anshari radhiyallahu anhu.
Siapa Abu Khaitsamah? Beliau adalah sahabat yang pernah menyumbangkan satu sak kurma — sekitar dua setengah kilo — untuk perjuangan di jalan Allah. Dan saat itu ia dicela oleh orang-orang munafik: "Allah tidak butuh sedekahmu yang sedikit itu."
Namun Abu Khaitsamah tidak mundur. Ia tetap menyumbang dengan apa yang ia punya. Dan kini, ia menyusul pasukan Nabi ﷺ seorang diri — menembus ratusan kilometer padang pasir — untuk bergabung dengan perjuangan.
Pelajaran Besar: Beramal di Tengah Tekanan
Kisah Abu Khaitsamah dan para sahabat yang berinfak di Perang Tabuk membuka sebuah pelajaran yang sangat penting: beramal shalih itu pasti akan menghadapi tekanan dan celaan.
Para sahabat yang berinfak banyak — seperti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Abu Bakar, Umar — dicela oleh orang-orang munafik sebagai orang yang riya, cari muka, dan cari panggung.
Para sahabat yang berinfak sedikit — seperti Abu Khaitsamah dengan dua setengah kilo kurmanya — dicela sebagai orang yang pelit, yang hartanya tidak berguna, yang Allah tidak butuh sedekahnya.
Allah mengabadikan ini dalam Surah at-Taubah ayat 79: "Orang-orang munafik adalah orang-orang yang mencela orang-orang beriman yang bersedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak mendapatkan kecuali sesuai kemampuan mereka, maka Allah membalas ejekan mereka dan bagi mereka azab yang pedih."
Semua kena — yang banyak dicela, yang sedikit pun dicela. Ini bukan hal baru. Ini adalah pola yang sudah berlangsung sejak dulu.
Maka jangan biarkan celaan manusia menghentikan kita dari amal shalih. Maju terus. Berinfak terus. Berjuang terus. Karena celaan itu justru adalah ujian keikhlasan.
Ikhlas: Ketika Pujian dan Celaan Terasa Sama
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah dan para ulama menjelaskan: salah satu tanda keikhlasan adalah ketika pujian manusia dan celaan manusia terasa sama bagi seseorang. Tidak terbang ketika dipuji, tidak tumbang ketika dicela.
Mengapa? Karena motif orang yang ikhlas bukan pujian manusia. Yang mereka cari adalah wajah Allah. Maka pujian tidak menambah semangat mereka melebihi batas, dan celaan tidak mengurangi tekad mereka sama sekali.
Para sahabat — Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdurrahman bin Auf, Abu Khaitsamah — tetap berinfak dan berjuang meski dicela. Karena motif mereka bukan manusia. Motif mereka adalah Allah subhanahu wa ta'ala.
Sebaliknya, orang yang terpukul ketika dicela — biasanya karena ia memang mengharapkan pujian. Kekecewaan berbanding terbalik dengan ekspektasi: semakin besar harapan dipuji manusia, semakin dalam rasa sakit ketika dicela.
Maka obatnya adalah memperbaiki niat. Luruskan motif. Kembalikan semuanya kepada Allah.
Penutup
Dua pelajaran besar dari sesi ini: belilah kehormatan saudaramu ketika ia tidak ada — karena itu adalah sunnah yang berbuah pembebasan dari neraka. Dan jangan biarkan celaan menghentikan amal shalihmu — karena itulah ujian keikhlasan yang sesungguhnya.
Kisah Ka'ab bin Malik masih terus berlanjut. Semakin ke sini, pelajarannya semakin dalam dan semakin menyentuh.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjaga lisan kita, memurnikan niat kita, dan menjadikan kita orang-orang yang beramal karena mengharapkan wajah-Nya semata.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 48: Beramal di Tengah Tekanan Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=TbK2Fa_qKRA
0 Komentar