RS 60. Taubatnya Cukup untuk 70 Orang — Hadits Kedua Puluh Dua Riyadhus Shalihin

Setelah menyelesaikan kisah Ka'ab bin Malik yang panjang dan sarat hikmah, kita kini memasuki hadits ke-22 dalam Bab Taubat Riyadhus Shalihin. Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Nabi ﷺ yang bernama Imran bin Hushain radhiyallahu anhu — dan kisah yang beliau bawakan adalah salah satu kisah yang paling menggetarkan tentang kekuatan taubat yang tulus.


Mengenal Imran bin Hushain

Sebelum masuk ke haditsnya, al-Imam an-Nawawi rahimahullah memperkenalkan sahabat yang meriwayatkan kisah ini: Imran bin Hushain bin Ubaid bin Khalaf al-Khuza'i, dengan kuniyah Abu Nujaid. Beliau masuk Islam di tahun yang sama dengan Abu Hurairah — tahun ketujuh Hijriah, tahun Perang Khaibar.

Yang menarik adalah: masuk Islamnya beliau terbilang "terlambat" dibanding sahabat-sahabat senior. Tapi keterlambatan itu tidak menghalanginya untuk menjadi salah satu ulama pakar fikih terbaik di kalangan sahabat. Al-Imam adz-Dzahabi menyebut beliau sebagai al-qudwah — teladan. Dan Hasan al-Bashri rahimahullah bersumpah: "Tidak ada seorangpun yang lebih baik yang pernah menginjak tanah Bashrah daripada Imran bin Hushain."

Umar bin Khattab radhiyallahu anhu pun memilih beliau sebagai utusan untuk berdakwah dan mengajarkan agama kepada penduduk Bashrah. Dan dari tangan dingin beliau lahirlah nama-nama besar seperti Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin.

Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat bertakwa, sangat khusyuk, zuhud terhadap dunia, dan sangat takut kepada Allah. Suatu hari beliau berkata tentang dirinya sendiri: "Andai saja aku hanya gumpalan pasir yang tertiup angin — bukan siapa-siapa — sehingga tidak perlu dihisab oleh Allah." Itulah tanda ilmu yang benar-benar menancap di hati: melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.

Beliau juga sosok yang sangat sabar. Beliau pernah terbaring di tempat tidurnya selama tiga puluh tahun karena sakit — tapi tetap berjuang, tidak pasif. Beliau wafat di Bashrah pada tahun 52 Hijriah.

Pelajaran dari profil beliau: jangan pernah putus asa walaupun kita merasa terlambat memulai. Imran bin Hushain membuktikan bahwa terlambat masuk Islam tidak menghalangi seseorang untuk meninggalkan warisan besar bagi umat.


Kisah Wanita dari Juhainah

Imran bin Hushain radhiyallahu anhu menceritakan: ada seorang wanita dari kabilah Juhainah yang datang kepada Rasulullah ﷺ dalam kondisi hamil — hamil karena zina.

Yang terjadi selanjutnya di luar dugaan banyak orang. Kita mungkin mengira wanita ini akan mencari alasan, membangun pembelaan diri, atau berusaha lolos dari hukuman. Tapi tidak. Wanita ini langsung berkata dengan tenang dan tegas:

"Ya Rasulullah, aku telah melakukan sebuah kesalahan yang konsekuensinya adalah hukuman hadd. Maka eksekusilah aku."

Tidak ada alibi. Tidak ada justifikasi. Tidak ada cari pembenaran. Hanya kejujuran yang telanjang, yang lahir dari kesadaran mendalam dan rasa takut kepada Allah.


Respons Nabi ﷺ yang Penuh Hikmah

Nabi ﷺ tidak langsung mengeksekusi. Beliau memanggil wali wanita tersebut dan berkata: "Perlakukanlah beliau dengan baik. Apabila sudah melahirkan, bawalah kembali kepadaku."

Mereka pun pulang. Setelah wanita itu melahirkan, ia kembali kepada Nabi ﷺ. Tapi Nabi ﷺ kembali meminta untuk menunggu — sampai bayi itu disapih dan ada yang bisa mengasuhnya. Barulah setelah semua itu terpenuhi, hukuman dijalankan.

Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sesungguhnya menginginkan wanita ini bertaubat kepada Allah saja tanpa harus melaporkan diri. Dalam riwayat-riwayat lain tentang kasus serupa, Nabi ﷺ bahkan berusaha menghindar agar seseorang tidak melaporkan diri — karena hukum asalnya, menutup aib diri sendiri dan cukup bertaubat kepada Allah adalah yang lebih diutamakan.


Taubat yang Nilainya Luar Biasa

Setelah hukuman dijalankan dan wanita itu wafat, Nabi ﷺ pun menshalatinya. Umar bin Khattab radhiyallahu anhu merasa heran: "Ya Rasulullah, engkau menshalati dia padahal dia telah berzina?"

Maka Nabi ﷺ menjawab dengan kalimat yang sangat menggugah:

"Sungguh wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang kalau dibagikan kepada tujuh puluh penduduk Madinah, maka akan mencukupi mereka semua."

Subhanallah. Tujuh puluh penduduk Madinah — tujuh puluh orang dari kalangan sahabat Nabi ﷺ yang rajin shalat, rajin berpuasa, rajin berjihad, rajin berinfak. Taubat satu orang wanita ini nilainya setara dengan atau bahkan melebihi amal tujuh puluh orang dari kalangan terbaik umat.

Kemudian Nabi ﷺ melanjutkan: "Apakah engkau melihat ada amalan yang lebih baik daripada seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah?"

Inilah pelajaran terbesar dari hadits ini: jangan pernah meremehkan taubat. Taubat yang tulus, yang lahir dari kejujuran hati dan ketulusan menyerahkan diri kepada Allah — nilainya luar biasa besar di sisi-Nya.


Pelajaran Pertama: Orang Bertakwa Pun Bisa Jatuh

Hadits ini membuka mata kita bahwa orang-orang yang bertakwa pun bisa tergelincir ke dalam dosa — bahkan dosa besar. Wanita ini bukan orang munafik. Ia adalah seorang mukminah yang sudah menikah, yang pernah berada di lingkungan Nabi ﷺ, yang hidupnya selama ini dijalani di atas keimanan.

Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 133-135 — dan yang menarik adalah siapa yang Allah bicarakan di sana. Allah membicarakan al-muttaqin — orang-orang bertakwa. Dan di antara sifat mereka disebutkan: "Dan orang-orang yang apabila melakukan fahisyah atau menganiaya diri sendiri, mereka segera mengingat Allah dan memohon ampunan atas dosa-dosa mereka."

Artinya: melakukan kesalahan bukan berarti seseorang sudah bukan orang bertakwa lagi. Yang membedakan orang bertakwa dari yang lain adalah bagaimana mereka merespons kesalahan itu — apakah mereka bertaubat dan kembali kepada Allah, atau mereka bangga dengan dosanya dan terus melanjutkan.


Pelajaran Kedua: Tutup Aib, Jangan Buka

Dari kisah ini, kita belajar bahwa hukum asalnya adalah menutup aib diri sendiri, bukan memperlihatkannya. Nabi ﷺ bersabda: "Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang yang menempatkan — yang melakukan dosa lalu menceritakannya kepada orang lain."

Dan dalam hadits lain, beliau bersabda: "Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim di dunia, Allah akan menutup aibnya di hari kiamat."

Allah berfirman dalam Surah al-Hujurat ayat 12: "Janganlah kalian tajassus" — jangan mencari-cari kesalahan dan aib orang lain. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa tajassus adalah mencari-cari kekeliruan dan aurat orang-orang beriman.

Maka bila kita tahu kesalahan seseorang: nasihati secara empat mata, tutup aibnya, doakan, dan dukung dia untuk bertaubat kepada Allah. Bukan disebarkan, bukan diviralkan, bukan dijadikan bahan obrolan.


Pelajaran Ketiga: Jangan Berkecil Hati dengan Dosa Kita

Kisah wanita dari Juhainah ini adalah kabar gembira bagi kita semua yang banyak melakukan dosa. Nabi ﷺ berkata tentang taubatnya: nilainya setara dengan tujuh puluh penduduk Madinah.

Ini bukan berarti dosa-dosa besar itu ringan. Tapi ini menunjukkan betapa besarnya pintu taubat yang Allah buka. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni oleh Allah — selama taubat itu tulus, jujur, dan benar-benar menyerahkan diri kepada Allah.

Bisa jadi pintu surga kita bukan dari pintu shalat sunnah, bukan dari pintu puasa Nabi Daud, bukan dari pintu infak sedekah — tapi dari pintu taubat nasuha. Sebagaimana wanita ini masuk surga bukan dari pintu amal yang banyak, tapi dari pintu taubat yang luar biasa tulusnya.

Nabi ﷺ bersabda: "Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan. Dan yang terbaik dari mereka adalah yang paling banyak bertaubat." Maka teruslah bertaubat. Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah.


Penutup

Kisah wanita dari Juhainah ini adalah salah satu kisah paling mengharukan tentang kejujuran dan taubat. Seorang wanita yang tergelincir ke dalam dosa besar — tapi tidak mencari alasan, tidak membangun pembelaan, tidak berdusta. Ia datang, jujur, dan menyerahkan dirinya kepada Allah.

Dan hasilnya? Nabi ﷺ menshalatinya. Taubatnya dinilai cukup untuk tujuh puluh orang. Dan Nabi ﷺ berkata: "Apakah ada amalan yang lebih baik dari seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah?"

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan kita orang-orang yang berani jujur kepada-Nya, yang segera bertaubat ketika tergelincir, dan yang tidak pernah berputus asa dari luasnya rahmat-Nya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 60: Taubatnya Cukup untuk 70 Orang Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=rketD87WPjY



Posting Komentar

0 Komentar