Hadits ke-24 dalam Bab Taubat Riyadhus Shalihin ini singkat susunannya — tapi dalam sekali maknanya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sahabat yang meski baru masuk Islam di tahun ke-7 Hijriah, menjadi perawi hadits terbanyak di antara seluruh sahabat Nabi ﷺ. Semangat beliau yang luar biasa dalam menuntut ilmu, ditopang dengan amal yang tiada henti — beliau bertasbih kurang lebih 12.000 kali setiap harinya — menjadikan beliau sosok yang diberkahi Allah dengan cara yang luar biasa.
Haditsnya
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Allah tertawa ketika ada dua orang — yang satu membunuh yang lain — keduanya masuk surga. Yang pertama berjuang di jalan Allah lalu terbunuh. Kemudian yang membunuhnya bertaubat, masuk Islam, berjuang di jalan Allah, lalu ia pun mati syahid."
— HR. Bukhari dan Muslim.
Pelajaran Pertama: Allah Tertawa — Sifat yang Kita Tetapkan Tanpa Menyerupakan
Hadits ini dibuka dengan pernyataan yang sangat unik: "Allah tertawa." Ini adalah sifat yang ditetapkan oleh Nabi ﷺ untuk Allah subhanahu wa ta'ala — dan Nabi ﷺ adalah orang yang paling tahu tentang Allah, dan beliau tidak berbicara dari hawa nafsunya melainkan dari Wahyu (QS. an-Najm: 3-4).
Maka kita menetapkan sifat tertawa bagi Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana yang ditetapkan oleh Nabi ﷺ — tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya, tanpa mempertanyakan bagaimananya. Allah berfirman: "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. asy-Syura: 11). Seluruh sifat Allah sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya yang tidak terbatas.
Pelajaran Kedua: Pintu Taubat Tidak Pernah Tertutup
Di sinilah inti hadits ini: seorang pembunuh — yang membunuh orang beriman di medan perang, yang memerangi agama Allah — akhirnya masuk surga setelah bertaubat, masuk Islam, dan berjuang di jalan Allah hingga mati syahid.
Ini bukan dosa biasa. Ini adalah pembunuhan terhadap orang beriman dalam konteks memerangi Islam. Dosanya berlapis. Tapi taubatnya diterima. Dan ia masuk surga.
Allah berfirman dalam Surah az-Zumar ayat 53: "Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri — jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa."
Maka siapapun kita, seberat apapun dosa yang pernah kita lakukan — pintu taubat tetap terbuka. Jangan pernah pesimis. Jangan pernah merasa tidak berhak untuk kembali kepada Allah.
Pelajaran Ketiga: Jangan Vonis Orang Lain Tidak Punya Harapan
Saat si pembunuh itu membunuh orang beriman, siapapun yang menyaksikannya pasti berpikir: "Orang ini tidak punya harapan baik. Dia sudah habis." Tapi lihat akhir ceritanya — ia wafat sebagai syahid, memperjuangkan keyakinan yang dulu ia perangi.
Ini adalah peringatan keras bagi kita untuk tidak memvonis orang lain tidak punya masa depan yang baik. Bisa jadi orang yang hari ini paling keras menentang kebenaran — dua tahun lagi menjadi pembela kebenaran yang paling gigih.
Lihat sejarah: Abu Sufyan memimpin pasukan kafir Quraisy di Perang Uhud. Khalid bin Walid belum masuk Islam saat itu dan justru menjadi salah satu faktor yang membalikkan keadaan sehingga banyak syuhada gugur. Tapi kemudian keduanya masuk Islam dan menjadi pahlawan besar umat.
Allah berfirman dalam Surah Fussilat ayat 34: "Balaslah yang buruk dengan yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan, seolah-olah menjadi teman yang sangat setia."
Al-Imam Ibnu Syahnun rahimahullah memberikan teladan yang sangat indah dalam hal ini. Ketika seseorang datang dan mencaci-maki beliau di depan mukanya, beliau hanya menjawab satu kalimat: "Jazakallahu khairan." Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Beberapa waktu kemudian, orang yang sama datang kembali — kali ini dalam kondisi mendesak dan membutuhkan bantuan. Dan Ibnu Syahnun membantunya tanpa syarat, tanpa menyinggung kejadian lalu sama sekali.
Orang itu pulang dengan perasaan yang campur aduk — terharu, malu, dan takjub. Balasan dari celaan-celaan yang pernah ia lontarkan adalah bantuan yang tulus dan tanpa pamrih.
Pelajaran Keempat: Keutamaan Wafat di Jalan Allah
Al-Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menukil keterangan al-Imam Ibnu Abdil Barr: hadits ini memberikan faedah bahwa semua orang yang terbunuh di jalan Allah — dengan syarat ikhlas karena Allah — masuk surga.
Mengapa? Al-Imam Izzuddin bin Abdissalam rahimahullah menjelaskan dengan kaidah yang sangat indah: "Kualitas pengorbanan seseorang ditentukan oleh apa yang ia korbankan." Dan hal tertinggi yang bisa dikorbankan oleh seorang manusia adalah dirinya sendiri — nyawanya, kehidupannya. Maka wajar bila Allah subhanahu wa ta'ala memberikan balasan yang tertinggi pula.
Pelajaran Kelima: Dosa yang Berkaitan dengan Hak Manusia
Hadits ini juga menyentuh persoalan yang sudah kita bahas dalam kisah pembunuh 100 nyawa: bagaimana dengan dosa yang berkaitan dengan hak orang lain?
Pembunuhan adalah dosa yang paling berat berkaitan dengan hak manusia — karena ada tiga hak yang dilanggar sekaligus. Pertama, hak Allah yang melarang kita membunuh. Kedua, hak hidup korban yang paling dasar. Ketiga, hak keluarga korban — istri, anak, dan orang tua yang kehilangan tulang punggung mereka.
Tapi hadits ini membuktikan: kalau kejujuran dan kesungguhan taubat itu nyata — dibuktikan dengan mengorbankan seluruh kehidupan, berhijrah, dan berjuang hingga mati syahid — maka Allah subhanahu wa ta'ala akan mengurus sisa urusan yang belum terselesaikan di hari kiamat. Allah tidak akan mendzalimi korban — tapi Allah juga tidak akan menghalangi pintu surga bagi hamba yang benar-benar bertaubat dan berjuang.
Kuncinya selalu sama: jujur kepada Allah, berjuang habis-habisan, dan serahkan semua kepada-Nya.
Penutup: Kabar Gembira untuk Kita Semua
Allah tertawa — itulah pembuka hadits ini. Dan Allah tertawa karena keajaiban takdir-Nya: dua orang yang berposisi sebagai pembunuh dan korban, yang awalnya di kutub yang berlawanan, akhirnya berdampingan di surga.
Ini adalah kabar gembira yang luar biasa bagi siapapun yang pernah merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni. Jangan pernah putus asa. Jangan pernah berpikir pintu surga sudah tertutup untukmu. Selama nyawa belum di kerongkongan, selama matahari belum terbit dari barat — bertaubatlah. Dan Allah akan menerima.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubat kita, memberikan kita kekuatan untuk berjuang di jalan-Nya, dan mengakhiri hidup kita dengan Husnul Khatimah.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 62: Pembunuh dan Korbannya Masuk Surga Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=6TIh4drd2QA
0 Komentar