Pernahkah kita membayangkan seperti apa rasanya hari terbaik dalam hidup kita? Bagi sebagian orang, jawabannya adalah hari ketika mendapat kabar gembira, meraih kesuksesan, atau berkumpul bersama orang-orang tercinta. Namun Rasulullah ï·º memberikan jawaban yang jauh lebih dalam dan menggetarkan jiwa: hari terbaik seorang hamba sejak ia dilahirkan ibunya adalah hari ia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Inilah yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri dalam sesi ke-63 kajian Riyadhus Shalihin. Pada pertemuan kali ini, beliau menutup Bab Taubat (Kitab at-Taubah) dengan sebuah kesimpulan yang menyeluruh — merangkum makna taubat, hukumnya, syarat-syaratnya, hingga keindahan dan kenikmatan yang tersimpan di dalamnya. Sebuah penutup yang bukan sekadar rangkuman, melainkan sebuah undangan hangat bagi setiap jiwa untuk kembali kepada Rabb-nya.
Makna Taubat: Kembali kepada Allah
Para ulama bahasa sepakat bahwa taubat secara etimologi bermakna kembali (ruju'). Sederhana, namun penuh kedalaman. Dan secara istilah, Imam Ibnu Baththal mendefinisikannya sebagai: kembali dari maksiat, menyesali dosa yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak mengulanginya, serta menanggalkan seluruh perbuatan maksiat dari diri seseorang.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya Madarijus Salikin memperkaya pemahaman ini dengan menyatakan bahwa taubat adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah dan berpisahnya ia dari jalan dua golongan yang disebut dalam Surah Al-Fatihah: pertama, al-maghdhuubi 'alaihim — mereka yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya; dan kedua, adh-dhaalliin — mereka yang beramal namun tanpa ilmu.
Maka, esensi taubat adalah membuka lembaran baru yang isinya adalah ilmu dan amal. Ingin melangkah? Cari ilmunya. Sudah berilmu? Amalkan. Terjatuh? Bangkit, lalu taubat lagi. Begitulah roda kehidupan seorang Muslim yang sejati — tidak berhenti pada satu kejatuhan, tetapi terus bergerak dengan semangat yang diperbaharui.
Hukum Taubat: Wajib, Segera, Seumur Hidup
Salah satu poin penting yang ditegaskan dalam kajian ini adalah bahwa hukum taubat adalah wajib, dan mayoritas ulama menyatakan wajib dilakukan al-faur — sesegera mungkin setelah seseorang berbuat dosa.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam beberapa ayat yang tegas:
"Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh." (QS. At-Tahrim: 8)
"Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Hujurat: 11)
Perhatikan ayat terakhir itu. Orang yang tidak bertaubat disebut zalim. Artinya, menunda taubat bukan sekadar kelalaian biasa — itu adalah tambahan dosa di atas dosa. Berdosa lalu tidak bertaubat berarti menanggung dua kesalahan sekaligus: dosa perbuatannya dan dosa penundaan taubatnya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala menegaskan dalam Madarijus Salikin: kedudukan taubat itu ada di awal perjalanan seorang hamba, di tengah, dan di akhir. Seorang yang menempuh jalan menuju Allah tidak boleh berpisah dari taubat — bukan hanya di awal hijrahnya, melainkan sepanjang hidupnya. Taubat bukan stasiun yang kita singgahi sekali lalu kita tinggalkan. Taubat adalah teman perjalanan seumur hidup.
Syarat-Syarat Taubat yang Diterima
Ustadz Nuzul Dzikri merangkum enam syarat taubat yang perlu kita pahami dan amalkan:
Pertama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Taubat yang dilakukan karena takut ketahuan, atau karena malu di hadapan manusia, bukanlah taubat yang sesungguhnya.
Kedua, menyesal atas dosa yang telah dilakukan. Nabi ï·º bahkan menyebut penyesalan sebagai inti dari taubat itu sendiri.
Ketiga, meninggalkan dosa tersebut — bukan sekadar berucap, tetapi benar-benar menghentikan perbuatan itu.
Keempat, bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak kembali mengulangi dosa tersebut.
Kelima, bertaubat di waktu yang masih diterima — yaitu selama nyawa belum sampai di kerongkongan dan sebelum matahari terbit dari barat.
Keenam, jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka hak tersebut harus diselesaikan. Para ulama membaginya menjadi dua:
- Hak yang bersifat harta dan materi — wajib dikembalikan, kecuali jika si pemilik dengan tulus memaafkan.
- Hak yang bersifat non-materi, seperti ghibah dan fitnah — ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Imam Nawawi berpendapat harus diselesaikan langsung. Namun sebagian ulama mengecualikan dua kondisi: jika orang yang dighibah tidak mengetahuinya, atau jika pemberitahuan itu justru akan menimbulkan mudarat yang lebih besar.
Dalam kondisi pengecualian itu, yang harus kita lakukan adalah: pertama, doakan dia — di waktu-waktu mustajab, di sepertiga malam terakhir, di Arafah, di sujud-sujud kita; dan kedua, putihkan namanya — di hadapan orang-orang yang pernah kita ajak berghibah tentangnya, kembalikan kehormatannya dengan lisan kita.
Dan ingat: jika urusan hak manusia tidak diselesaikan di dunia, ia akan diselesaikan di akhirat — dengan cara yang jauh lebih berat. Pahala kita akan dipindahkan kepada mereka yang kita zalimi. Jika pahala habis sebelum utang lunas, dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepada kita. Naudzubillah min dzalik.
Teladan Terbaik: Rasulullah ï·º yang Beristighfar 100 Kali Sehari
Jika ada yang bertanya: siapa yang paling rajin bertaubat dan beristighfar di muka bumi ini? Jawabannya adalah Rasulullah ï·º — manusia terbaik yang diciptakan Allah, yang dijamin surga, yang akhlaknya sendiri adalah Al-Qur'an, sebagaimana kesaksian Aisyah radhiyallahu 'anha.
Beliau ï·º bersabda:
"Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Bukhari)
Dan dalam riwayat Muslim, beliau ï·º bersabda:
"Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan beristighfarlah kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali."
Seratus kali. Setiap hari. Dari seorang yang tidak pernah berbicara dengan hawa nafsu, yang wahyu Allah turun kepadanya, yang kakinya bengkak karena lamanya berdiri dalam shalat malam. Jika beliau yang demikian mulia masih beristighfar seratus kali sehari, lalu di manakah posisi kita?
Ini bukan untuk membuat kita berkecil hati, melainkan untuk membuka mata kita bahwa taubat dan istighfar bukan hanya untuk pendosa besar. Taubat adalah napas seorang mukmin — ia terus dibutuhkan selama hayat masih dikandung badan.
Taubat Adalah Kenikmatan, Bukan Kehilangan
Setan memiliki senjata yang sangat ampuh: ia membisikkan bahwa jika kita meninggalkan maksiat, kita akan kehilangan kesenangan. Bahwa hidup tanpa dosa adalah hidup yang hampa dan membosankan. Bahwa taubat berarti menutup pintu kebahagiaan.
Ini adalah kebohongan terbesar.
Ustadz Nuzul Dzikri menggambarkannya dengan perumpamaan yang mengena: bayangkan seseorang yang selama hidupnya hanya mengenal kuda dan keledai sebagai kendaraan. Lalu suatu hari, sebuah mobil tiba di desanya. Ia mencobanya dan berseru, "Inilah kendaraan terenak di dunia!" Padahal ia belum pernah merasakan kendaraan-kendaraan modern yang jauh lebih nyaman.
Begitulah orang yang mengira kenikmatan maksiat adalah puncak kesenangan. Ia belum pernah merasakan kenikmatan taubat — kenikmatan ketika hati yang selama ini keras menjadi lunak, ketika air mata mengalir di sepertiga malam terakhir, ketika seseorang tersungkur di hadapan Rabbul 'Alamin dan mengurai dosa-dosanya satu per satu, lalu dengan penuh harap memohon ampunan-Nya.
Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu memberikan kesaksian hidup untuk ini. Setelah 50 hari penantian yang menyiksa, ketika taubatnya diterima dan Rasulullah ï·º menyampaikan kabar gembira kepadanya, beliau berkata: "Bergembiralah dengan hari terbaik semenjak ibumu melahirkanmu." Dan Ka'ab sendiri menegaskan: tidak ada nikmat yang lebih besar dari kejujuran dan pertaubatannya pada hari itu.
Kita yang hanya mendengar kisahnya saja sudah merasakan getaran haru yang luar biasa. Bagaimana dengan Ka'ab yang merasakannya secara langsung?
Rahmat Allah yang Tak Terbatas
Penutup kajian ini adalah sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — hadits yang disahihkan oleh sejumlah ulama seperti Syaikh Al-Albani rahimahullahu ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu, apa pun yang telah engkau perbuat, dan Aku tidak peduli seberapa banyaknya."
"Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai ujung langit, lalu engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli sebanyak apa pun dosamu."
"Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku membawa dosa sebesar bumi ini, lalu engkau menemui-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan menghadirkan ampunan sebesar bumi itu pula untukmu."
Subhanallah. Inilah Allah — Rabb kita. Yang rahmat-Nya mengalahkan murka-Nya. Yang ampunan-Nya lebih luas dari seluruh dosa makhluk-Nya. Yang tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.
Bab Taubat dalam Riyadhus Shalihin telah kita selesaikan. Namun pelajaran yang kita ambil darinya bukan untuk disimpan sebagai ilmu semata — melainkan untuk dijadikan lentera dalam kehidupan kita sehari-hari.
Taubat adalah wajib. Taubat harus segera. Taubat adalah seumur hidup. Dan di balik semua itu, taubat adalah keindahan — keindahan yang belum pernah kita rasakan secara penuh jika kita belum pernah benar-benar kembali kepada Allah dengan segenap hati.
Maka bertaubatlah. Perjuangkan taubat itu. Jika terjatuh, bangkit dan taubat lagi. Jika terjatuh lagi, bangkit lagi dan taubat lagi. Karena selama kita terus kembali kepada-Nya, pintu rahmat-Nya tidak pernah tertutup. Dan kenikmatan yang kita rasakan dalam setiap perjalanan kembali kepada Allah itu — jauh lebih indah dari kenikmatan apa pun yang pernah ditawarkan dunia.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 63. TAUBAT ADALAH KEINDAHAN | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar