RS 68. Sabar dan Memaafkan: Jalan Para Jiwa yang Berkelas

Tidak ada manusia yang hidupnya bebas dari orang-orang yang menyakitinya. Tidak ada. Sebaik apa pun kita bersikap, sepanjang apa pun kita berusaha berlaku adil — akan selalu ada pihak yang tidak suka, yang mencela, yang berusaha menjatuhkan. Ini bukan pesimisme. Ini adalah sunnatullah dalam kehidupan yang sudah Allah kabarkan jauh-jauh hari.

Imam an-Nawawi rahimahullahu ta'ala membawakan ayat keempat dalam Bab Sabar dari Surah Asy-Syura, sebuah ayat yang berbicara tentang dimensi kesabaran yang paling berat: bersabar menghadapi orang-orang yang menyakiti kita, lalu memaafkan mereka.

"Dan sungguh, barang siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang diutamakan." (QS. Asy-Syura: 43)


Tidak Mungkin Disukai Semua Orang — dan Itu Bukan Salahmu

Sebelum berbicara tentang bagaimana bersabar menghadapi orang yang menyakiti kita, kita perlu membangun satu fondasi pemahaman yang sangat penting: ridha seluruh manusia adalah cita-cita yang mustahil.

Imam asy-Syafi'i rahimahullahu ta'ala pernah berkata: "Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin terwujud. Karena itu, fokuslah pada hal-hal yang bermanfaat bagimu dan perbaiki kualitas dirimu."

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang para nabi-Nya dalam Surah Al-An'am ayat 112:

"Dan demikianlah, Kami jadikan bagi setiap nabi musuh-musuh dari golongan setan manusia dan setan jin, yang satu sama lain membisikkan perkataan yang indah-indah untuk menipu." (QS. Al-An'am: 112)

Setiap nabi — tanpa terkecuali — memiliki musuh. Nabi Ibrahim 'alaihissalam dilempar ke dalam api. Nabi Musa 'alaihissalam dikejar oleh Fir'aun. Nabi Nuh 'alaihissalam diperangi oleh kaumnya sendiri selama ratusan tahun. Nabi Isa 'alaihissalam dicoba untuk dibunuh. Dan Rasulullah ï·º menghadapi musuh dari luar — kaum musyrik Quraisy — sekaligus musuh dari dalam, yaitu orang-orang munafik yang berdiri satu saf bersamanya.

Jika lima manusia terbaik sepanjang sejarah — para Rasul Ulul Azmi — menghadapi permusuhan dan penolakan, siapa kita yang berharap akan diterima dan dicintai oleh semua orang?

Bahkan ada ungkapan para ulama klasik yang terasa keras namun mengandung kebenaran yang dalam: "Apabila engkau melihat seseorang yang disukai oleh seluruh pihak di sekitarnya, ketahuilah ia adalah orang yang buruk." Bukan karena ia jahat — melainkan karena untuk bisa menyenangkan semua pihak, seseorang terpaksa mengorbankan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan itu adalah pertukaran yang paling merugi.


Sabar dan Memaafkan: Pilihan Para Jiwa yang Besar

Ketika seseorang menyakiti kita, Islam memberikan dua pilihan yang sah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 194:

"Barang siapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadapmu."

Membalas dengan setimpal adalah hak yang diizinkan. Namun — dan inilah yang ditekankan oleh para ulama — membalas itu jauh lebih sulit dari yang terlihat. Harus benar-benar setimpal, tidak berlebihan sedikit pun. Syarat itu sangat ketat dan membutuhkan penilaian yang sangat teliti.

Maka para ulama mengatakan: mengapa tidak kembali saja kepada pilihan yang lebih mudah, lebih luas, dan lebih mulia — yaitu memaafkan?

Rasulullah ï·º bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim:

"Tidaklah Allah menambahkan sesuatu kepada seorang hamba yang memaafkan saudaranya, kecuali kemuliaan."

Memaafkan tidak akan membuatmu diinjak-injak. Justru sebaliknya — ia akan meninggikan derajatmu di dunia dan di akhirat. Orang-orang yang berpikir bahwa memaafkan adalah kelemahan, sesungguhnya belum mampu melihat apa yang orang-orang berkelas lihat: bahwa di balik memaafkan tersimpan kemuliaan yang tidak bisa dibeli dengan pembalasan.

Imam al-Kiya al-Harrasi rahimahullahu ta'ala menyimpulkan makna ayat Asy-Syura ini: "Ayat ini memberikan pesan kepada kita bahwa yang mampu melakukan sabar dan memaafkan hanyalah para ahli sabar — mereka yang memiliki sifat-sifat mulia, orang-orang besar, orang-orang yang punya akal sehat dan hati yang baik." Ini bukan jalan orang biasa. Ini adalah jalan para jiwa yang berkelas.


Malaikat Membela Orang yang Diam Karena Allah

Ada sebuah kisah yang sangat indah yang terjadi di hadapan Rasulullah ï·º langsung — dan ia memberikan gambaran paling nyata tentang apa yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang memilih untuk bersabar dan tidak membalas.

Suatu hari, seseorang terus-menerus mencela dan mencaci Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu di hadapan Rasulullah ï·º. Abu Bakar diam. Orang itu mencela lagi. Abu Bakar tetap diam. Dicela ketiga kali — Abu Bakar masih memilih untuk tidak merespons. Selama itu, Rasulullah ï·º tersenyum — karena beliau melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh yang lain.

Kemudian ketika Abu Bakar akhirnya menjawab untuk membela kehormatannya, Rasulullah ï·º beranjak pergi dengan raut yang tidak nyaman. Abu Bakar segera mengejar dan bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah ada sikapku yang membuatmu tidak berkenan?"

Maka Rasulullah ï·º menjawab — dan inilah inti dari seluruh pelajaran ini:

"Selama engkau diam dan bersabar, ada malaikat yang turun dari langit membelamu — mendustakan dan membantah setiap ucapan buruk yang dilemparkan kepadamu. Namun ketika engkau membalas, setan pun hadir. Dan aku tidak mau duduk bersama setan."

Subhanallah. Ketika kita memilih diam karena Allah — bukan karena takut, bukan karena tidak punya kata-kata, tetapi karena sabar dan berharap ridha Allah — malaikat turun membela kita. Setiap tuduhan, setiap celaan, setiap fitnah yang ditujukan kepada kita — dibantah dan didustakan oleh malaikat-malaikat Allah.

Namun begitu kita membalas dengan emosi, setan yang hadir. Dan Rasulullah ï·º menegaskan bahwa beliau tidak mau berada di tempat yang sama dengan setan.


Orang yang Memaafkan Bisa Tidur Nyenyak

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu ta'ala menyampaikan sebuah hikmah yang sangat praktis: orang yang gemar memaafkan bisa tidur nyenyak setiap malam di atas kasurnya. Sementara orang yang memendam dendam dan ingin membalas — ia susah tidur, pikirannya dikuasai oleh kesal, marah, dan emosi. Belum balas, sudah tersiksa duluan.

Maka siapa sebenarnya yang rugi ketika tidak memaafkan? Kita sendiri. Kita yang tidak bisa makan dengan tenang, tidak bisa tidur dengan damai, tidak bisa menikmati hari karena hati terus dipenuhi oleh amarah. Sementara orang yang menyakiti kita mungkin sudah tidur pulas sejak lama.

Ini bukan berarti kita harus pura-pura tidak terluka. Luka itu nyata. Sakit itu nyata. Namun membiarkan luka itu menggerogoti kedamaian hidup kita — itulah yang menjadi pilihan. Dan Allah memberikan kita kekuatan untuk memilih yang lebih baik.


Mengapa Ini Sangat Sulit — dan Mengapa Tetap Harus Diperjuangkan

Kita perlu jujur: ini sangat sulit. Memaafkan orang yang telah benar-benar menyakiti, mengkhianati, atau mendzalimi kita — itu bukan perkara ringan. Para ulama pun mengakuinya dengan tegas.

Namun ingatlah bahwa Rasulullah ï·º tidak pernah membalas dendam untuk urusan pribadinya. Beliau memafkan Abu Sufyan dan Khalid bin Walid — dua tokoh yang bertanggung jawab atas kekalahan di Perang Uhud dan gugurnya 70 sahabat termasuk Hamzah, paman yang sangat beliau cintai. Beliau memafkan mereka, dan keduanya akhirnya masuk Islam lalu menjadi pembela Islam yang gigih.

Bayangkan jika Rasulullah ï·º menyimpan dendam dan menutup pintu bagi mereka — sejarah Islam akan berbeda. Inilah dampak nyata dari memaafkan: ia membuka pintu kebaikan yang tidak bisa dibayangkan oleh logika pembalasan.

Dan kita tidak bisa melakukan ini dengan kekuatan diri sendiri. Kita manusia yang lemah. Nafsu kita mudah terpancing, emosi kita mudah tersulut. Maka mintalah pertolongan kepada Allah. Tanamkan iman dan tauhid yang kuat. Yakinlah bahwa Allah tidak akan diam — Ia akan membela orang-orang yang bersabar dan memaafkan karena-Nya, melalui malaikat-malaikat-Nya, melalui cara-cara yang kita bahkan tidak bisa membayangkannya.


Sabar dan memaafkan bukan jalan yang mudah. Tapi ia adalah jalan para nabi dan rasul, jalan para sahabat terbaik, jalan orang-orang yang Allah muliakan. Dan setiap langkah kecil yang kita ambil menuju ke sana — setiap kali kita memilih diam ketika ingin membalas, setiap kali kita memilih mendoakan ketika ingin mencela — adalah kemenangan jiwa yang pahalanya tersimpan rapi di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: 68. SABAR DAN MEMAAFKAN | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri




Posting Komentar

0 Komentar