Bayangkan seseorang berkata kepada kita: "Bersabarlah. Nanti aku akan memberikan balasanmu — berapa pun angka yang ada di kepalamu, aku akan beri lebih dari itu." Jika yang berkata demikian adalah manusia biasa, kita mungkin akan ragu. Namun jika yang berjanji adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala — Dzat yang memiliki langit dan bumi beserta seluruh isinya — lalu mengapa kita masih sering marah-marah dan tidak rela ketika musibah datang?
Inilah perenungan yang diajukan oleh ayat ketiga yang dibawakan Imam an-Nawawi rahimahullahu ta'ala dalam membuka Bab Sabar. Sebuah ayat yang singkat, namun mengandung janji yang tidak tertandingi oleh janji siapa pun di muka bumi ini.
Pahala yang Tidak Bisa Dihitung
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 10:
"Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)
Bighairi hisab — tanpa hisab, tanpa perhitungan, tanpa batas. Para ulama menegaskan bahwa ini bukan sekadar kiasan. Seluruh amal ibadah dalam Islam memiliki kelipatan yang disebutkan: satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, ada yang tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih. Namun untuk kesabaran, Allah tidak menyebut angka apa pun. Ia hanya berkata: Aku yang langsung mengganjarnya, dan ganjarannya tanpa batas.
Imam al-Qurthubi rahimahullahu ta'ala menyatakan bahwa semua pahala amal akan ditakar dan ditimbang di hari kiamat — kecuali pahala kesabaran. Ia dikecualikan karena sifatnya yang melampaui batas kalkulasi apa pun.
Lalu mengapa demikian? Karena sabar itu susahnya bukan main. Para ulama mengingatkan bahwa sabar adalah simbol kemenangan agama dan wahyu di atas hawa nafsu — dan hawa nafsu tidak pernah menyerah dengan mudah. Setiap kali kita berhasil menahan diri untuk tetap di atas ketaatan, untuk tidak jatuh ke dalam maksiat, untuk tidak berontak terhadap takdir Allah — itu adalah kemenangan yang harganya sangat mahal. Dan Allah membalasnya dengan nilai yang setimpal: tanpa batas.
Bumi Allah Itu Luas: Jangan Terkungkung oleh Ketakutan
Ayat Az-Zumar ayat 10 jika dibaca dari awalnya mengandung pesan lain yang tidak kalah penting. Allah berfirman:
"...Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kalimat "bumi Allah itu luas" adalah isyarat untuk berhijrah — meninggalkan lingkungan yang membuat kita sulit menjaga iman dan ketakwaan, menuju tempat yang lebih kondusif untuk pertumbuhan keimanan.
Pesan ini relevan bukan hanya dalam konteks perpindahan fisik, tetapi juga dalam sikap mental kita menghadapi pilihan hidup. Betapa banyak di antara kita yang bertahan dalam kondisi yang merusak iman — pekerjaan yang menuntut kita berbuat haram, lingkungan pergaulan yang terus menarik ke arah maksiat, komunitas yang memadamkan semangat kebaikan — hanya karena merasa tidak punya pilihan lain.
Padahal, ketakutan itu sendiri yang mempersempit pandangan kita. Bukan bumi Allah yang sempit — hati kita yang sempit, pemikiran kita yang sempit, keberanian kita yang mengecil. Allah sudah menjamin dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 22 bahwa rezeki kita ada di atas langit — bukan di tangan atasan kita, bukan di satu kota tertentu, bukan di komunitas yang selama ini kita kenal.
Maka bersabarlah dalam berjuang, dan jangan biarkan rasa nyaman di zona yang justru merugikan iman menjadi penjara bagi diri sendiri. Keluar, coba, berjuang — dan serahkan hasilnya kepada Allah. Orang-orang shalih pun pernah memulai dari nol, dan mereka tidak mati kelaparan.
Puasa dan Kesabaran: Dua Hal yang Satu Ruh
Ada hubungan yang sangat erat antara pahala puasa dan pahala kesabaran. Ketika Allah berbicara tentang puasa, Ia berfirman dalam hadits qudsi: "Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang langsung mengganjarnya." Para ulama menjelaskan bahwa ini karena puasa pada hakikatnya adalah kesabaran — bahkan kesabaran dalam tiga dimensinya sekaligus.
Puasa melatih kita bersabar dalam ketaatan: menjalankan ibadah yang panjang dari fajar hingga maghrib. Puasa melatih kita bersabar dari maksiat: menahan diri bahkan dari hal-hal yang pada dasarnya halal — makan, minum, dan hubungan suami istri. Dan puasa melatih kita bersabar menghadapi ketidaknyamanan: rasa lapar dan haus yang menghimpun seluruh ujian fisik dalam satu ibadah.
Maka tidak heran jika pahalanya pun tidak dibatasi angka. Karena puasa yang sejati adalah kesabaran yang sejati — dan kesabaran yang sejati tidak memiliki batas ganjaran di sisi Allah.
Jangan Mengeluh kepada yang Tidak Bisa Membantu
Ada sebuah ungkapan yang disampaikan oleh salah seorang ulama salaf ketika melihat seseorang mengeluhkan musibahnya kepada temannya:
"Sungguh aneh, engkau mengeluhkan musibahmu kepada orang yang tidak bisa menyayangimu, kepada pihak yang tidak punya kuasa atas kondisimu — padahal yang memberikan musibah itu adalah ar-Rahman, ar-Rahim, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Inilah ironi yang sering kita jalani tanpa sadar. Ketika musibah datang, kita curhat ke sesama manusia, kita mengeluh di media sosial, kita marah kepada keadaan. Padahal yang memberikan ujian itu adalah Allah — Dzat yang paling tahu kondisi kita, yang paling sayang kepada kita, yang telah menjanjikan pahala tanpa batas bagi yang bersabar.
Mengeluhkan musibah kepada manusia, pada hakikatnya, adalah mengeluhkan Allah kepada makhluk-Nya. Dan itu menunjukkan bahwa keyakinan kita kepada kebijaksanaan dan kasih sayang Allah masih perlu diperkuat.
Empat Puluh Tahun Tanpa Mengeluh
Imam Ahmad rahimahullahu ta'ala pernah menyampaikan bahwa salah satu matanya kehilangan penglihatan — dan selama empat puluh tahun, beliau tidak pernah mengeluhkan hal itu kepada siapa pun.
Empat puluh tahun. Kehilangan penglihatan di satu mata selama empat puluh tahun, tanpa satu pun keluhan kepada manusia.
Ini bukan kesombongan. Ini adalah buah dari keyakinan yang mendalam kepada janji Allah — bahwa ganjarannya bighairi hisab, tanpa batas. Bahwa setiap hari yang dijalani dengan kesabaran itu adalah hari yang tabungan pahalanya terus bertambah, tanpa terhenti, tanpa terpotong.
Imam Ahmad tahu bahwa mengeluh kepada manusia tidak akan mengembalikan penglihatannya. Tetapi bersabar karena Allah akan membuka sesuatu yang jauh lebih berharga di akhirat.
Tidak Sabar Berarti Menuduh Allah
Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala menyampaikan pernyataan yang sangat menggetarkan: tidak ada seorang pun yang tidak sabar menghadapi musibah — yang marah, kecewa, meledak-ledak, dan tidak rela — kecuali secara sadar atau tidak, ia telah menuduh Allah.
Menuduh bahwa Allah tidak adil. Menuduh bahwa keputusan-Nya keliru. Menuduh bahwa Ia tidak menyayangi. Padahal Allah adalah ar-Rahman, ar-Rahim, al-Hakim — Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan-Nya.
Sebaliknya, orang yang sabar adalah orang yang hatinya berkata: "Ini bukan milikku. Ini keputusan Allah yang Maha Tahu. Dan Ia akan mengganjarku dengan sesuatu yang jauh melampaui apa yang kukorbankan." Keyakinan itulah yang membuat kaki tetap melangkah, hati tetap teguh, dan bibir tetap bersih dari keluhan yang tidak pada tempatnya.
Maka, di tengah musibah yang terasa berat, ingatlah satu hal ini: Allah tidak menyebut angka untuk pahala orang yang sabar. Bukan sepuluh kali lipat. Bukan tujuh ratus kali lipat. Tapi tanpa batas — bighairi hisab. Dan janji itu datang dari Dzat yang memiliki segalanya, yang tidak pernah ingkar janji, yang kasih sayang-Nya melampaui seluruh kasih sayang makhluk-makhluk-Nya.
Cukuplah janji itu sebagai bahan bakar untuk terus bersabar, terus berjuang, dan tidak pernah menyerah.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 67. PAHALA UNLIMITED | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar