Rasulullah ï·º melanjutkan hadits agung yang sedang kita pelajari dengan sebuah pernyataan yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan merenung dalam-dalam:
"...Al-Qur'an adalah hujjah bagimu atau bumerang bagimu." (HR. Muslim)
Hanya dua kemungkinan. Tidak ada yang ketiga.
Dua Pilihan, Tidak Ada Jalan Tengah
Para ulama — di antaranya Imam Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullahu ta'ala — menegaskan: Al-Qur'an tidak akan pernah bersikap netral terhadap kita. Ia tidak akan diam saja. Ia akan menjadi penolong dan pemberi syafaat, atau ia akan menjadi musuh yang memberatkan kita di hadapan Allah pada hari kiamat.
Rasulullah ï·º bersabda dalam hadits riwayat Muslim:
"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada para pembacanya."
Dan dalam hadits yang lain, disebutkan bahwa Al-Qur'an bisa menjadi mujadil — pihak yang mendebat dan menyudutkan kita — bersaksi tentang betapa kita telah mengabaikannya selama puluhan tahun kehidupan kita.
Dalam Hadits Imam Muslim dan Ahmad, Rasulullah ï·º bersabda: "Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini, dan merendahkan kaum yang lain dengannya pula." Satu kitab yang sama. Dua hasil yang berbeda. Tergantung bagaimana hubungan kita dengannya.
Al-Qur'an Adalah Ruh
Sebelum membahas lebih jauh tentang dua kemungkinan itu, kita perlu memahami satu hal mendasar: Al-Qur'an adalah ruh.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 52:
"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami..."
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa "ruh" dalam ayat ini adalah Al-Qur'an itu sendiri. Dan ruh, sebagaimana kita semua tahu, adalah sumber kehidupan. Ketika ruh berpisah dari jasad, semua fasilitas dunia menjadi tidak berarti — harta, kecantikan, jabatan, popularitas, semuanya bernilai nol.
Orang yang hidup jauh dari Al-Qur'an, tidak membacanya, tidak mempelajarinya, tidak berinteraksi dengannya — ia pada hakikatnya menjalani kehidupan seperti jasad tanpa ruh. Mungkin tampak hidup dari luar. Mungkin terlihat sukses dan bahagia. Tetapi di dalam, ada kekosongan yang tidak bisa diisi oleh apa pun selain cahaya firman Allah.
Usman bin Affan radhiyallahu 'anhu berkata: "Jika hati kita bersih, kita tidak akan pernah merasa puas dengan kalam Allah — selalu ingin menambah dan menambah lagi." Maka jika kita merasa berat dan malas berinteraksi dengan Al-Qur'an, itu adalah sinyal kondisi hati yang perlu kita perhatikan.
Jadikan Al-Qur'an sebagai Imam, Bukan Pengikut
Para ulama menggambarkan dua tipe hubungan manusia dengan Al-Qur'an. Yang pertama adalah orang yang menjadikan Al-Qur'an sebagai imamnya — ia mengikuti ke mana Al-Qur'an mengarahkan. Ke kanan ia ke kanan, ke kiri ia ke kiri, maju ia maju. Maka Al-Qur'an akan memimpin dan menuntunnya menuju surga.
Yang kedua adalah orang yang menaruh Al-Qur'an di belakang punggungnya — ia lebih mengikuti hawa nafsu, ambisi dunia, kepentingan pribadi, dan logika akalnya sendiri. Al-Qur'an ada, tapi tidak diikuti. Maka Al-Qur'an justru akan mengarahkannya ke neraka — bukan karena Al-Qur'an zalim, tetapi karena ia sendiri yang memilih untuk mengabaikannya.
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Barang siapa di antara kalian yang mampu mempelajari Al-Qur'an walaupun sedikit, pelajarilah. Karena Al-Qur'an adalah tali Allah, cahaya yang jelas dan nyata, obat yang bermanfaat, penjaga bagi yang berpegang teguh dengannya, dan jalan keselamatan bagi yang mengikutinya."
Al-Qur'an Meluruskan yang Bengkok
Salah satu keindahan berinteraksi dengan Al-Qur'an adalah ia memiliki kemampuan untuk meluruskan kita. Semakin banyak kita bersamanya, semakin banyak kekurangan dan kebengkokan dalam diri kita yang diluruskan. Semakin kita jauh darinya, semakin kita tidak menyadari bahwa kita sedang menyimpang.
Allah berfirman dalam Surah Fathir ayat 29:
"Sesungguhnya ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah..."
Mubarokun — diberkahi. Dan keberkahan itu mengalir kepada siapa saja yang berinteraksi dengannya dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar menyimpan mushaf di rak buku. Bukan sekadar membacanya tanpa memahami. Melainkan membaca, mempelajari, merenungkan, mengamalkan, dan mendakwahkan.
Membangun Hubungan Baik dengan Al-Qur'an Mulai Hari Ini
Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur'an. Mulailah dari langkah yang paling sederhana:
Pertama, baca Al-Qur'an setiap hari — walaupun hanya beberapa ayat. Yang penting konsisten dan istiqamah. Kedua, belajar membacanya dengan benar bagi yang belum bisa — ini adalah kewajiban yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Ketiga, pelajari maknanya agar bacaan kita bukan sekadar bunyi, melainkan pemahaman yang meresap ke dalam hati. Keempat, amalkan apa yang sudah dipahami — karena ilmu tanpa amal adalah beban. Dan kelima, dakwahkan dan dukung orang-orang di sekitar kita untuk juga berinteraksi dengan Al-Qur'an.
Semua orang yang dengan tulus menjalani hidup bersama Al-Qur'an — yang menghabiskan waktu dan energinya untuk membaca, mengkaji, dan membantu orang lain belajar Al-Qur'an — mereka semua bersaksi bahwa urusan-urusan dunia mereka dimudahkan oleh Allah. Bukan karena Al-Qur'an adalah jimat, melainkan karena Allah memberikan keberkahan kepada siapa yang mendekat kepada kalam-Nya.
Maka renungkanlah hari ini: seberapa dekat hubungan kita dengan Al-Qur'an? Berapa lama dalam sehari kita bersamanya? Apakah ia sedang dalam perjalanan menuju posisi sebagai penolong kita di hari kiamat, atau justru sebaliknya?
Al-Qur'an adalah ruh. Dan jiwa yang jauh dari ruhnya adalah jiwa yang lelah, hampa, dan tidak akan pernah benar-benar merasakan ketenangan — betapa pun banyak yang ia miliki dari dunia ini.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 75. AL QUR'AN ADALAH SYAFA'AT | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar