Kita semua menjual diri kita. Setiap hari, setiap jam, setiap pilihan yang kita buat — kita sedang menentukan kepada siapa jiwa ini kita serahkan. Kepada Allah, atau kepada selain-Nya. Kepada surga, atau kepada dunia yang sementara.
Inilah penggalan terakhir dari hadits agung Abu Malik al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu yang kita pelajari dalam Bab Sabar di Riyadhus Shalihin. Rasulullah ï·º menutupnya dengan kalimat yang sangat padat:
"Setiap manusia beraktivitas di pagi hari — ada yang membebaskan dirinya dan ada yang menghancurkan dirinya sendiri." (HR. Muslim)
Aset Paling Berharga yang Sering Kita Lupakan
Para ulama menegaskan bahwa diri kita — jiwa kita — adalah aset paling mahal di dunia ini. Lebih mahal dari rumah, lebih mahal dari kendaraan, lebih mahal dari harta berapa pun jumlahnya.
Imam Hasan al-Bashri rahimahullahu ta'ala berkata: "Wahai manusia, kalian beraktivitas siang dan malam mencari keuntungan. Maka jadikanlah dirimu sendiri sebagai fokus ambisi dan semangatmu — karena itulah keuntungan yang paling besar."
Sebagian ulama klasik, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullahu ta'ala, pernah menangis sambil berkata: "Aku hanya punya satu jiwa. Jika ia pergi dan lepas dariku, aku tidak punya penggantinya." Mobil hilang bisa dicari lagi. Rumah disita bisa dibangun lagi. Tetapi jiwa — satu-satunya yang kita miliki — jika habis dikorbankan untuk hal yang salah, tidak ada kesempatan untuk mengulang.
Semua Orang Menjual Dirinya — Pertanyaannya Kepada Siapa
Muhammad bin al-Hanafiyah rahimahullahu ta'ala berkata: "Barang siapa yang meyakini bahwa dirinya mulia, maka baginya dunia tidak ada harganya — dunia tidak mampu membeli dirinya."
Dan beliau melanjutkan dengan nasihat yang sangat tegas: "Janganlah kalian menjual diri kalian kecuali kepada Allah, dan jangan terima harga kecuali surga."
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 111:
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman diri-diri mereka dan harta-harta mereka dengan surga untuk mereka."
Transaksi terbesar dalam sejarah umat manusia. Allah yang Maha Kaya membeli jiwa kita — dan harga yang Ia tawarkan adalah surga. Tidak ada pembeli yang lebih kaya, tidak ada harga yang lebih tinggi, dan tidak ada penjual yang lebih tepercaya daripada-Nya.
Kisah Shuhaib ar-Rumi: Melepas Semua demi Allah
Ada kisah nyata yang menjadi latar turunnya Surah Al-Baqarah ayat 207 — kisah yang menggambarkan dengan sempurna apa artinya menjual diri kepada Allah.
Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu 'anhu masuk Islam di Kota Makkah. Ketika beliau hendak berhijrah ke Madinah mengikuti Rasulullah ï·º, orang-orang Quraisy mencegatnya. Mereka berkata: "Kamu datang ke sini dalam keadaan tidak punya apa-apa, lalu berdagang dan mengumpulkan harta di sini. Sekarang mau pergi membawa semua harta itu? Tidak bisa!"
Shuhaib berpikir sejenak, lalu berkata: "Jika aku serahkan seluruh hartaku kepada kalian, apakah kalian akan melepaskan aku?" Mereka setuju. Maka Shuhaib menyerahkan seluruh hartanya — tanpa keraguan, tanpa menyesal — lalu berjalan menuju Madinah dengan tangan kosong.
Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah ï·º, beliau bersabda: "Shuhaib telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar!" — Robihash-Shuhaib!
Mengapa untung? Karena Shuhaib tidak menyerahkan hartanya kepada orang-orang Quraisy. Ia sedang menjualnya kepada Allah. Dan Allah tidak pernah memberikan harga yang buruk kepada yang menyerahkan diri kepada-Nya.
Aktivitas Kita Setiap Hari Adalah Cermin Transaksi Ini
Penggalan hadits ini mengajarkan kita untuk mengevaluasi diri setiap hari dengan pertanyaan yang sederhana namun dalam: kepada siapa aku menjual diriku hari ini?
Apakah aktivitas kita hari ini membawa kita ke jalan Allah atau justru menjauh dari-Nya? Apakah pagi ini kita mulai dengan shalat Subuh dan dzikir, atau langsung meraih gadget dan larut dalam kesibukan dunia? Apakah bisnis yang kita bangun dijalankan di atas koridor halal, atau ada kompromis demi keuntungan sesaat? Apakah cara kita mendidik anak-anak membawa mereka mendekat kepada Allah, atau justru menanamkan kecintaan dunia yang menggeser posisi Allah dalam hati mereka?
Ini bukan pertanyaan untuk menghakimi, melainkan untuk menyadarkan. Karena kita yang menentukan. Tidak ada yang memaksa kita untuk menjual diri kepada hal-hal yang tidak pantas. Kita yang memilih.
Jangan Menyesal Seperti Orang yang Salah Jual
Ada orang yang selama sepuluh tahun hidupnya bisnis lancar, popularitas naik, fasilitas melimpah — tetapi semua itu diraih dengan mengorbankan shalat, puasa, dan kejujuran. Ia tertawa puas. Merasa telah berhasil.
Padahal ia sedang menjual dirinya dengan harga yang sangat murah. Seperti seseorang yang menjual tanah di lokasi paling strategis di kota seharga sepersepuluhnya — merasa senang karena angkanya terlihat besar, tidak sadar bahwa ia telah melepas sesuatu yang jauh lebih bernilai.
Jiwa kita terlalu mahal untuk dijual kepada dunia yang fana. Terlalu berharga untuk dihabiskan demi popularitas yang sementara, kenyamanan yang cepat berlalu, atau kenikmatan yang hanya bertahan sebentar.
Sabar adalah Harga yang Harus Dibayar
Transaksi dengan Allah tidak selalu mudah. Ia membutuhkan kesabaran — sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menahan diri dari kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi takdir yang tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.
Tetapi ingatlah janji Allah dalam Surah Hud ayat 115:
"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang berbuat baik."
Setiap momen ketika kita memilih Allah di atas dunia — setiap kali kita menahan hawa nafsu, setiap kali kita memilih jalan yang benar walaupun lebih sulit, setiap kali kita bersabar dalam ujian — itu semua adalah bagian dari transaksi terbesar dalam hidup kita. Dan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Maka mulai hari ini, tanyakan kepada diri sendiri setiap pagi: kepada siapa aku menjual jiwaku hari ini? Pastikan jawabannya selalu sama: kepada Allah, dengan harga surga.
Karena tidak ada transaksi yang lebih menguntungkan dari itu. Dan tidak ada penyesalan yang lebih pahit daripada menyadari kita telah menjual sesuatu yang paling berharga — dengan harga yang jauh di bawah nilainya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 76. MENJUAL DIRI | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar