RS 80. Kesabaran Fatimah: Pelajaran Agung dari Hari Paling Memilukan dalam Sejarah Islam

Ada hari-hari dalam sejarah yang beratnya tak tertandingi. Hari itu adalah hari ketika Rasulullah ï·º menghadapi sakaratul maut — sosok yang paling dicintai oleh seluruh penghuni langit dan bumi, manusia paling mulia yang pernah berjalan di atas bumi ini. Dan di sisi beliau, ada seorang putri yang menyaksikan semua itu dengan hati yang hancur namun keimanan yang tak goyah: Fatimah radhiyallahu 'anha.

Imam an-Nawawi rahimahullahu ta'ala membawakan hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dalam Bab Sabar untuk menunjukkan kepada kita bagaimana para generasi terbaik menanggung musibah terbesar yang pernah menimpa umat ini.


Sakit yang Paling Berat

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ketika penyakit Rasulullah ï·º sudah sangat parah — penyakit yang mengantarkan beliau kepada wafatnya — seorang sahabat bertanya kepada beliau tentang sakitnya. Rasulullah ï·º menjawab:

"Aku merasakan demam dan kelelahan seperti dua orang di antara kalian."

Dua orang. Bukan satu. Ketika demam tinggi seorang manusia saja sudah membuatnya berbaring tak berdaya, menggigil, dan tidak tenang — bayangkan menanggung beban demam dan kelelahan dua orang sekaligus. Namun beliau ï·º menanggungnya dengan sabar.

Dan mengapa beliau mendapat porsi yang dua kali lipat itu? Karena ganjarannya pun dua kali lipat: "Itulah sebabnya engkau mendapat dua pahala." Beliau ï·º tidak sekadar menanggung sakit — beliau menanggungnya dalam kerangka ketaatan dan pengorbanan untuk umatnya.


Fatimah di Sisi Ayahnya

Pada hari-hari terakhir itu, Fatimah radhiyallahu 'anha berada di sisi Rasulullah ï·º. Ketika beliau menyaksikan ayahnya menahan sakit yang begitu luar biasa, ia berucap: "Waa karobaaha! — Betapa menderitanya Ayahku."

Perkataan itu keluar dari seorang anak perempuan yang bukan anak manja. Fatimah adalah wanita yang hidupnya penuh perjuangan, yang tumbuh bersama perjuangan dakwah ayahnya, yang menyaksikan peperangan demi peperangan, yang mengenal luka dan pengorbanan. Namun hari itu berbeda dari semua hari sebelumnya.

Rasulullah ï·º yang sedang menahan sakit itu, begitu melihat kesedihan putrinya, segera menghiburnya dengan kalimat yang sangat personal:

"Tidak ada rasa sakit yang akan dialami oleh ayahmu setelah hari ini."

Perhatikan pilihan kata beliau ï·º. Bukan "tidak ada sakit yang akan Aku rasakan" — melainkan "ayahmu." Satu kata yang begitu intim, begitu hangat, tepat di momen yang paling memilukan. Di saat tubuhnya sedang menahan beban yang luar biasa, hati beliau ï·º masih memikirkan bagaimana cara terbaik untuk menghibur putrinya.


Dua Bisikan yang Membuat Menangis, Lalu Tertawa

Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan dalam hadits Bukhari bahwa ketika Fatimah datang menjenguk, Rasulullah ï·º menyambutnya dengan penuh kasih sayang dan mendudukkannya di sisinya. Kemudian beliau membisikkan sesuatu kepadanya — dan Fatimah menangis sejadi-jadinya.

Lalu beliau membisikkan sesuatu lagi — dan Fatimah langsung tertawa.

Aisyah yang penasaran bertanya. Fatimah menjawab: "Aku tidak akan membocorkan rahasia Rasulullah ï·º." Dan ia menepati janjinya, tidak menceritakannya sampai setelah Rasulullah ï·º wafat.

Barulah kemudian Fatimah mengungkapkan isi kedua bisikan itu:

Bisikan pertama: Rasulullah ï·º memberitahukan bahwa Jibril biasanya menyimak bacaan Al-Qur'an beliau sekali dalam setahun, namun di tahun ini dua kali — dan beliau melihat itu sebagai tanda bahwa ajalnya sudah sangat dekat. "Maka bertakwalah kepada Allah wahai anakku, dan bersabarlah. Sebaik-baik pendahulu bagimu adalah aku." Kalimat itulah yang membuat Fatimah menangis.

Bisikan kedua: "Tidaklah engkau rida menjadi pemimpin wanita orang-orang beriman di umat ini? Dan engkau adalah anggota keluargaku yang pertama kali akan menyusulku." Kalimat itu membuat Fatimah tertawa — bukan karena ia divonis akan meninggal dunia, melainkan karena ia akan segera berjumpa kembali dengan ayah yang paling ia cintai. Ia akan menjadi yang pertama menyusul beliau.

Bayangkan kedalaman iman itu. Vonis kematian yang disambut dengan senyum, karena kematian baginya bukan akhir — melainkan pintu menuju pertemuan kembali dengan sang ayah di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Saat Rasulullah ï·º Wafat

Ketika Rasulullah ï·º benar-benar wafat, Fatimah berkata:

"Duhai Ayahku, Engkau telah menyambut panggilan Rabb-mu. Duhai Ayahku, tempat kembalimu adalah surga Firdaus. Duhai Ayahku, kepada Jibril kami sampaikan kabar duka ini."

Tiga kalimat. Tidak ada kalimat kemarahan. Tidak ada protes kepada takdir. Yang ada adalah lapisan keimanan di atas lapisan keimanan: ini adalah panggilan Allah, tempatnya surga Firdaus, dan wahyu kini telah selesai diturunkan.

Inilah gambaran hati yang hancur namun tidak roboh — hati yang mencintai dengan luar biasa namun tidak terhanyut melampaui batas yang Allah tetapkan.


Kesabaran Para Sahabat yang Mengubur Beliau ï·º

Ketika pemakaman Rasulullah ï·º berlangsung, Fatimah bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu: "Apakah jiwa kalian tenang ketika menimbun tanah di atas jasad Rasulullah ï·º?"

Anas diam. Ia tidak menjawab — bukan karena tidak punya jawaban, tetapi karena ia menjaga perasaan Fatimah yang sedang berduka sangat dalam.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang mewakili menjawab: "Jiwa kami tidak tenang — kecuali karena kami terpaksa, mengikuti perintah dan tuntunannya ï·º."

Dan dalam riwayat lain disebutkan: "Ketika tangan kami menguburkan beliau, hati kami mengingkari hal itu." Artinya, hati mereka menolak dan sangat berat. Namun kesabaran di atas ketaatan membuat tangan mereka tetap bergerak melakukan apa yang harus dilakukan.

Inilah gambaran sabar yang paling dalam: bukan tidak merasakan sakit, bukan tidak bersedih — melainkan tetap berada di atas ketaatan kepada Allah walaupun hati remuk redam.


Dari kisah Fatimah radhiyallahu 'anha dan para sahabat pada hari paling memilukan dalam sejarah Islam, kita belajar bahwa kesabaran yang sejati bukan tentang tidak merasakan sakit. Rasulullah ï·º sendiri merasakan sakit yang melebihi dua orang. Fatimah menangis sejadi-jadinya. Para sahabat hatinya hancur ketika menguburkan beliau.

Tapi di tengah semua kepedihan itu, iman mereka tidak goyah, lisan mereka tidak melampaui batas, dan langkah mereka tetap di atas jalan Allah.

Itulah kesabaran. Dan itulah teladan terbaik yang mereka wariskan untuk kita.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: 80. KESEDIHAN FATIMAH -radhiyallahu 'anha- SAAT NABI ï·º WAFAT | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar