RS 81. Ketika Nabi ﷺ Menangis: Sabar dan Kasih Sayang Bukan Dua Hal yang Bertentangan

Ada kesalahpahaman yang sering beredar di tengah kita: bahwa orang yang benar-benar sabar tidak akan menangis. Bahwa air mata adalah tanda kelemahan, tanda tidak rela dengan takdir, tanda tidak menerima ketetapan Allah. Hadits Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu yang dibawakan Imam an-Nawawi dalam Bab Sabar ini datang untuk meluruskan pemahaman tersebut dengan cara yang sangat indah — melalui teladan langsung dari Rasulullah ﷺ.


Pesan Kesabaran yang Dikirim, Lalu Beliau Datang Sendiri

Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu adalah sahabat besar, anak dari Zaid bin Haritsah dan Ummu Aiman — keduanya sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bahkan bersabda: "Barang siapa mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia harus mencintai Usamah." Di usia delapan belas tahun, beliau sudah dipercaya memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat nama-nama besar seperti Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma.

Suatu hari, salah seorang putri Rasulullah ﷺ — Zainab radhiyallahu 'anha — mengirim utusan kepada beliau mengabarkan bahwa cucunda beliau sedang menghadapi sakaratul maut dan meminta beliau untuk hadir.

Rasulullah ﷺ membalas dengan mengutus utusan, menyampaikan salam, dan memberikan pesan yang penuh dengan hikmah iman dan tauhid:

"Sesungguhnya apa yang Allah ambil adalah milik-Nya, dan apa yang Dia berikan pun milik-Nya. Segala sesuatu di sisi-Nya ada waktunya yang telah ditentukan. Maka bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah."

Perhatikan isi pesan ini. Rasulullah ﷺ tidak sekadar berkata "bersabarlah" — beliau memberikan landasan tauhid dari kesabaran itu. Kenapa kita harus sabar? Karena semua yang ada pada kita bukan milik kita. Allah yang punya. Yang Allah ambil adalah milik-Nya. Yang Allah berikan pun milik-Nya. Dan setiap pemberian itu ada durasinya — likulli ummatin ajal — setiap sesuatu ada ajalnya yang tidak bisa dimundurkan atau dimajukan walau sesaat.

Namun putrinya tidak cukup dengan pesan itu. Ia mengirim utusan kembali, kali ini bersumpah memohon ayahnya untuk hadir langsung. Maka Rasulullah ﷺ pun bangkit dan berangkat bersama beberapa sahabat — Sa'ad bin Ubadah, Mu'adz bin Jabal, Ubay bin Ka'ab, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhum.


Nabi ﷺ Menangis

Ketika tiba, cucunya diberikan kepada beliau. Rasulullah ﷺ mendudukkannya di pangkuannya — dan pada saat itu nafas sang cucu sudah tersendat-sendat.

Lalu Rasulullah ﷺ menangis.

Sa'ad bin Ubadah radhiyallahu 'anhu yang menyaksikan itu terkejut. Ia bertanya: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis?"

Selama ini Sa'ad selalu mengenal Rasulullah ﷺ sebagai sosok yang paling sabar, yang paling mengajarkan penerimaan terhadap takdir. Maka ketika melihat beliau menangis, ia menduga ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

Rasulullah ﷺ menjawab dengan indah:

"Ini adalah rahmat yang Allah masukkan ke dalam hati hamba-hamba-Nya. Dan sesungguhnya Allah hanya menyayangi dari hamba-hamba-Nya yang penuh kasih sayang."

Satu kalimat yang membuka cakrawala pemahaman. Air mata itu bukan tanda tidak sabar. Air mata itu adalah rahmat. Allah yang memasukkan kasih sayang ke dalam hati, dan air mata adalah ekspresi alaminya.


Menangis dan Sabar Bisa Hadir Bersamaan

Inilah pelajaran besar dari hadits ini: dalam menghadapi musibah, seorang mukmin dituntut untuk mengamalkan lebih dari satu amalan sekaligus.

Di satu sisi, ia harus bersabar — menahan diri agar tetap menerima takdir dengan ridha, tidak mengucapkan kalimat yang mencederai keimanan, tidak protes kepada Allah. Di sisi lain, ia boleh — bahkan seharusnya — menangis sebagai ekspresi kasih sayang, bukan sebagai bentuk penolakan terhadap ketetapan Allah.

Ketika putra Rasulullah ﷺ, Ibrahim, wafat, beliau juga menangis. Para sahabat bertanya dengan heran: "Wahai Rasulullah, engkau menangis?" Beliau menjawab: "Ini adalah rahmat." Lalu beliau bersabda: "Mata ini meneteskan air mata, hati ini bersedih. Dan kita tidak akan mengucapkan kecuali yang diridhoi oleh Allah. Kami benar-benar bersedih dengan perpisahan darimu, wahai Ibrahim."

Tiga hal berjalan bersamaan: air mata, hati yang sedih, dan lisan yang terjaga. Itulah kesabaran yang sesungguhnya — bukan kesabaran yang mengeringkan air mata dan membekukan hati, melainkan kesabaran yang menjaga lisan dan sikap tetap dalam batas yang diridhai Allah, sementara hati tetap boleh merasakan kepedihan sebagai bukti cinta dan kasih sayang.

Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullahu ta'ala memberikan catatan yang sangat tepat: "Jika Nabi ﷺ menangis dalam kondisi seperti ini, maka yang aib justru adalah yang tidak menangis — karena ketidakmampuan menangis adalah bukti kerasnya hati."


Semangat Menghibur Orang Lain Sesuai Kadar Iman

Ada satu pelajaran lagi dari hadits ini yang sangat penting untuk kita renungkan. Rasulullah ﷺ tidak sekadar mengirim pesan — beliau datang langsung ketika diminta. Beliau mengangkat sang cucu ke pangkuannya, hadir secara fisik, memberikan sentuhan dan kedekatan.

Sebagian ulama menjelaskan: semangat seseorang untuk menghibur, mendukung, dan menguatkan saudaranya yang sedang berduka itu sesuai dengan kadar keimanannya. Semakin kuat iman seseorang, semakin besar semangatnya untuk hadir, menguatkan, dan mengangkat moril orang lain.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala pernah berkata bahwa ketika ia memiliki banyak masalah yang berat, ia pergi menemui gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah — bukan untuk bertanya atau berkonsultasi, melainkan hanya untuk melihat wajah beliau. Dan semata-mata dengan melihat wajah sang guru yang penuh ketenangan dan keimanan, beban di hatinya sudah terasa ringan.

Itulah keberkahan kehadiran orang-orang shalih. Dan itulah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ — hadir, dekat, menyentuh, bukan hanya mengirim pesan dari jauh.


Sabar bukan berarti kering dari air mata. Sabar bukan berarti hati yang beku dan tidak merasakan kepedihan. Sabar yang sesungguhnya adalah hati yang boleh bersedih, mata yang boleh menangis, namun lisan dan sikap yang tetap dijaga dalam batas yang Allah ridhai.

Rasulullah ﷺ menangis. Dan air mata beliau adalah rahmat — pelajaran terbaik tentang bagaimana seorang mukmin menghadapi musibah dengan sepenuh kemanusiaan dan sepenuh keimanan sekaligus.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: 81. MAKA NABI ﷺ MENANGIS | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar