Ada nikmat yang begitu dekat dengan kita sehingga kita hampir tidak pernah menyadarinya — nikmat melihat. Kita membaca Al-Qur'an dengan mata kita, melihat wajah orang-orang yang kita cintai, menyaksikan matahari terbit dan terbenam, menatap wajah anak-anak kita saat mereka tidur. Semuanya ada di sana, setiap hari, tanpa kita benar-benar bersyukur.
Imam an-Nawawi rahimahullahu ta'ala memilih sebuah hadits qudsi yang sangat indah dalam Bab Sabar untuk mengingatkan kita tentang semua itu — hadits riwayat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang diabadikan dalam Shahih Bukhari.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua kesayangannya lalu ia bersabar, maka Aku akan menggantikan keduanya dengan surga." (HR. Bukhari)
Yang dimaksud "dua kesayangannya" adalah kedua matanya.
Mata: Nikmat yang Jarang Disyukuri
Allah menggunakan kata habibatain — dua kecintaan, dua kesayangan — untuk menggambarkan mata. Bukan sekadar "dua indera" atau "dua organ." Melainkan dua hal yang paling disayangi.
Dan betapa tepatnya pilihan kata itu. Coba tanyakan kepada orang tua yang anaknya hilang: apa yang paling mereka inginkan? Banyak yang menjawab: hanya ingin melihat anaknya kembali. Bukan harta, bukan jabatan. Hanya melihat. Satu kata itu sudah cukup untuk menggambarkan betapa besarnya kenikmatan penglihatan.
Allah berfirman dalam Surah Al-Balad ayat 8: "Bukankah Kami telah menjadikan baginya dua mata?" Pertanyaan retoris yang mengajak kita berhenti sejenak dan mengakui anugerah yang selama ini kita anggap biasa.
Berapa banyak dari kita yang, di antara daftar syukur hari ini, menyebutkan: alhamdulillah, hari ini aku masih bisa melihat?
Hanya sedikit. Sangat sedikit. Sebagaimana Allah firmankan dalam Surah Saba ayat 13: "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur."
"Jika Aku Menguji" — Bukan Kebetulan, Bukan Kesalahan
Sekali lagi, Allah memilih kata kerja yang sangat bermakna: "Apabila Aku menguji." Bukan "apabila ia kehilangan" atau "apabila terjadi sesuatu." Melainkan "apabila Aku menguji."
Allah yang melakukan. Allah yang mengambil. Dan siapakah Allah yang mengambil penglihatan seseorang? Ar-Rahman. Ar-Rahim. Al-Muhsin. Al-Karim. Dzat yang paling menyayangi hamba-Nya, yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi-Nya, yang keputusan-Nya tidak pernah dilandasi amarah atau dendam.
Ini bukan azab. Ini ujian. Dan perbedaan keduanya sangat besar.
Ketika kita tahu bahwa yang mengambil adalah yang paling sayang kepada kita, cara kita merespons pun berubah. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: "Jika kamu bersabar, apa yang telah ditakdirkan tetap akan terjadi dan kamu mendapat pahala. Jika kamu tidak bersabar, apa yang telah ditakdirkan tetap akan terjadi dan kamu berdosa." Pilihan ada pada kita, bukan pada kejadiannya.
Sabar yang Sesungguhnya: Bukan Sekadar Diam
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullahu ta'ala dalam Fathul Bari memberikan keterangan yang sangat berharga: sabar yang mendapat pahala bukan sekadar menahan diri secara fisik. Yang dimaksud adalah sabar muhtasib — sabar yang disertai dengan menghadirkan perasaan, keyakinan, dan harapan tentang apa yang Allah janjikan bagi orang-orang yang bersabar.
Beda antara orang yang diam karena tidak bisa berbuat apa-apa dengan orang yang diam karena ia yakin Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Tampilan luarnya sama — sama-sama tidak meledak-ledak. Namun kondisi hatinya sangat berbeda.
Sabar yang berbuah pahala adalah yang kedua: bukan karena tidak punya pilihan, melainkan karena kita punya harapan — harapan kepada Allah, keyakinan kepada janji-Nya, dan ketenangan yang lahir dari iman bahwa yang terjadi sudah direncanakan oleh Yang Maha Bijaksana.
Dan harapan itu tidak pernah putus. Bahkan ketika kita terjatuh ke dalam dosa sekalipun, masih ada harapan taubat dan ampunan. Selama nyawa belum di kerongkongan, pintu harapan itu masih terbuka.
Ganti yang Lebih Baik
Allah tidak hanya menjanjikan surga. Para ulama menjelaskan bahwa ketika Allah mengambil salah satu kelebihan fisik seseorang, Allah juga menggantinya di dunia ini — dengan menguatkan indera dan kemampuan yang lain.
Banyak catatan ilmiah yang menunjukkan bahwa ketika seseorang kehilangan penglihatannya, kemampuan pendengarannya dan kepekaan indera-indera lainnya sering kali meningkat secara signifikan. Ini bukan kebetulan. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang bekerja secara nyata dalam kehidupan.
Sejarah pun membuktikan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu ta'ala — salah satu ulama terbesar abad ini — mengalami kebutaan, namun kebijaksanaan dan ilmunya melampaui banyak orang yang bisa melihat. Allah mengambil matanya, lalu membuka hatinya dengan cahaya yang jauh lebih terang.
Inilah Allah yang Maha Baik: ketika mengambil sesuatu dari kita, Dia tidak pernah hanya mengambil. Dia selalu memberikan ganti — di dunia maupun di akhirat.
Jangan Terlalu Lama Meratapi yang Hilang
Ada bahaya yang perlu kita hindari: terlalu larut meratapi apa yang hilang sehingga kita lupa mensyukuri dan memaksimalkan apa yang masih ada.
Ketika Allah mengambil penglihatan, Dia membuka kemampuan lain. Pertanyaannya: apakah kita akan menggunakan kemampuan itu untuk ketaatan kepada Allah, atau justru untuk yang lain? Itu adalah pilihan yang tetap ada pada kita.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 83: "Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." Ending yang indah bukan untuk orang yang tidak pernah kehilangan — melainkan untuk orang yang tetap bertakwa di tengah kehilangannya.
Kehilangan penglihatan adalah ujian yang berat. Tidak ada yang meragukan itu. Namun ketika Allah mengambil dua kesayangan itu dan seorang hamba bersabar dengan menghadirkan keyakinan dan harapan kepada-Nya — Allah menjanjikan sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata mana pun, tidak pernah didengar oleh telinga mana pun, dan tidak pernah terbayangkan oleh hati mana pun: surga.
Itulah gantinya. Dan tidak ada yang lebih besar dari itu.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 91. KEHILANGAN PENGLIHATAN | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar