RS 93. Dipukul, Dilukai, Lalu Berdoa untuk Pengampunan Mereka

Ada sebuah kisah yang disampaikan oleh Rasulullah ï·º tentang seorang nabi dari umat terdahulu. Nabi itu dipukul oleh kaumnya. Disakiti. Bahkan dilukai hingga berdarah. Dan apa yang dilakukannya? Ia mengusap darah dari wajahnya, lalu mengangkat tangannya sambil berdoa, "Allahummaghfirli qaumi fa innahum laa ya'lamun. Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu."

Bukan amarah yang keluar dari mulutnya. Bukan kutukan. Bukan doa keburukan. Melainkan permohonan ampun — untuk mereka yang baru saja melukai tubuhnya.

Inilah kisah yang disampaikan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat terbaik Rasulullah ï·º yang dikenal sebagai pakar Al-Qur'an. Beliau berkata, "Seakan-akan aku melihat Rasulullah ï·º sedang menceritakan kisah seorang nabi dari para nabi Allah, yang dipukul dan dilukai oleh kaumnya. Lalu ia mengusap darah dari wajahnya sambil berkata, 'Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak tahu.'"

Kisah sederhana. Tak sampai satu menit untuk dibaca. Namun jika direnungkan, ia mampu menjadi obat bagi kekecewaan kita ketika disakiti orang lain, obat bagi amarah kita ketika dizalimi, obat bagi hati yang terluka.

Sabar, Memaafkan, Lalu Mendoakan

Banyak orang bicara tentang sabar. Tapi sabar yang seperti apa? Dalam hadits ini, Rasulullah ï·º mengajarkan level kesabaran yang luar biasa tinggi. Bukan sekadar menahan diri dari membalas. Bukan hanya diam dan mengikhlaskan. Melainkan:

Pertama, bersabar — menahan diri dari amarah dan balas dendam.

Kedua, memaafkan — melepaskan hak untuk menuntut balas.

Ketiga, mendoakan kebaikan bagi mereka — bahkan memohonkan ampunan Allah untuk orang yang menyakitinya.

Keempat, memberikan udzur — mencari alasan yang meringankan kesalahan mereka: "Karena mereka tidak tahu."

Subhanallah. Untuk sabar saja sudah susahnya minta ampun. Apalagi memaafkan. Kita sering mendengar orang berkata, "Saya sudah memaafkan kok. Tapi saya tidak mau ketemu dia lagi." Atau, "Sudah saya maafkan. Tapi biar Tuhan yang membalas." Apakah itu benar-benar memaafkan?

Dan di hadits ini, tidak berhenti di memaafkan. Ada doa: "Allahummaghfirli qaumi — Ya Allah, ampunilah kaumku." Lalu ada udzur: "Fa innahum laa ya'lamun — karena mereka tidak tahu."

Bayangkan: kita ditonjok orang, lalu kita bilang, "Ah, mungkin dia tidak tahu." Susah, bukan? Tapi itulah level yang ditunjukkan oleh para nabi 'alaihimussalam. Itulah akhlak yang dibawa oleh Rasulullah ï·º. Dan itulah level yang diinginkan oleh agama ini dari diri kita.

Allah berfirman dalam surat Al-Qalam ayat 4, "Wa innaka la'ala khuluqin 'azhim" — dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung. Inilah akhlak agung itu.

Bukan Hanya Engkau yang Disakiti

Salah satu hikmah dari kisah ini adalah penghiburan. Allah ï·» menghibur Nabi Muhammad ï·º — dan kita semua — dengan menjelaskan bahwa beliau bukan orang pertama yang disakiti oleh kaumnya sendiri. Para nabi sebelumnya juga mengalami hal yang sama, bahkan lebih berat.

Allah berfirman dalam surat Fathir ayat 4, "Wa in yukadzdzibuka faqad kuddzibat rusulun min qablik" — dan jika mereka mendustakanmu (Muhammad), maka sesungguhnya rasul-rasul sebelummu pun telah didustakan. Ini bukan hal baru. Kamu bukan satu-satunya.

Dan dalam surat Al-An'am ayat 34, Allah menjelaskan tentang para rasul yang didustakan dan disakiti, lalu mereka bersabar — hingga datang pertolongan Allah. Mereka sabar sampai kapan? Sampai Allah memberikan pertolongan. Tidak ada batas waktu. Tidak ada jaminan "besok pagi sudah selesai". Mereka sabar, titik.

Ini sangat membantu kita secara psikologis. Ketika seorang istri merasa, "Saya sendirian menghadapi suami yang egois, tidak peka, tidak mengerti perasaan," maka kisah ini mengingatkan: bukan kamu saja. Bahkan istri Firaun — Asiyah radhiyallahu 'anha — menghadapi suami yang jauh lebih buruk, namun ia tetap sabar dan menjadi ahli surga.

Ketika seorang suami merasa, "Saya sudah kehilangan akal menghadapi istri yang terus membantah, tidak ada shalihahnya," maka kisah ini mengingatkan: bukan kamu saja. Nabi Nuh 'alaihissalam berjuang selama ratusan tahun menghadapi istri yang tidak beriman, namun beliau tetap teguh.

Kamu bukan orang pertama. Kamu bukan satu-satunya. Dan jika para nabi mampu bersabar, maka kita pun — dengan pertolongan Allah — juga mampu.

Mereka Layak Mengemban Risalah

Mengapa para nabi mampu bersabar di level seperti ini? Salah satu jawabannya: karena memang mereka layak untuk menjadi nabi.

Allah berfirman dalam surat Al-An'am ayat 124, "Allahu a'lamu haytsu yaj'alu risalatah" — Allah Maha Mengetahui ke mana Dia meletakkan risalah-Nya. Allah tidak mungkin salah dalam memilih. Para nabi dipilih bukan secara acak, melainkan karena mereka memang punya kapasitas untuk mengemban amanat berat itu.

Dan terbukti: dipukul, dilukai, lalu berdoa untuk pengampunan mereka. Subhanallah. Mereka berhak mendoakan keburukan bagi kaumnya — karena dizalimi. Namun mereka tidak melakukannya. Mereka justru mendoakan kebaikan. Ini menunjukkan bahwa Allah memang tidak salah pilih.

Prinsip yang sama berlaku untuk kita. Jika Allah mentakdirkan kita menghadapi ujian yang berat, tanggung jawab yang besar, atau amanat yang sulit — yakinlah, itu berarti kita mampu. Allah Yang Maha Bijaksana (Al-Hakim) tidak mungkin salah. Allah Yang Maha Mengetahui (Al-'Alim) pasti tahu batas kemampuan kita.

Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 286, "Laa yukallifullahu nafsan illa wus'aha" — Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Jadi jika beban itu datang, berarti kita mampu memikulnya. Tinggal: mau atau tidak?

Yang jadi masalah bukan ujiannya. Yang jadi masalah adalah: kita pesimis, kita tidak mau berjuang, kita tidak minta pertolongan Allah, kita buruk sangka kepada Allah, kita lebih percaya bisikan setan daripada firman Allah.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 268, "Asy-syaythanu ya'idukumul faqra" — setan menjanjikan kemiskinan dan kegagalan kepada kalian. Setan membombardir kita dengan isu negatif, ketakutan, keputusasaan. Sedangkan Allah — Yang Maha Mengetahui — sudah menjamin: kamu mampu.

Kisah Itu Penting

Mengapa Rasulullah ï·º menceritakan kisah ini? Karena kisah itu penting. Kisah mengandung pelajaran, penghiburan, inspirasi, dan motivasi.

Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 111, "Laqad kaana fii qashashihim 'ibratun li ulil albaab" — sungguh, dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.

Al-Qur'an penuh dengan kisah. Kisah para nabi, kisah kaum-kaum terdahulu, kisah orang-orang beriman dan orang-orang kafir. Semua itu bukan hiburan semata, melainkan pelajaran nyata yang bisa kita terapkan dalam kehidupan.

Maka di zaman sekarang, kisah tetap penting. Kisah yang penuh hikmah sangat membantu kita dalam mendidik keluarga, membangun rumah tangga, dan menghadapi tantangan hidup. Sampaikan kisah-kisah yang real terjadi dan sarat makna kepada anak-anak kita, kepada pasangan kita, kepada lingkungan kita.

Hati yang Bersih

Pertanyaan terakhir: bagaimana seseorang bisa bermain di level seperti ini — dipukul lalu mendoakan kebaikan bagi yang memukul?

Jawabannya: hanya dengan hati yang bersih. Hati yang dipenuhi dengan dzikrullah — mengingat Allah ï·».

Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 127, "Washbir wa maa shabruka illa billah" — dan bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan (pertolongan) Allah. Sabar sejati hanya bisa dicapai dengan Allah. Dengan mengingat-Nya, bergantung kepada-Nya, dan meyakini janji-janji-Nya.

Lalu Allah melanjutkan, "Wa laa tahzan 'alayhim wa laa taku fii dhayyiqin mimma yamkurun" — dan janganlah engkau bersedih terhadap (kekafiran) mereka, dan janganlah engkau bersempit dada terhadap tipu daya mereka.

Jangan bersedih. Jangan sesak dada. Jangan baper. Jangan emosional. Inilah petunjuk Allah.

Dan salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad ï·º adalah yang disebutkan dalam surat Asy-Syarh ayat 1: "Alam nasyroh laka shadraka" — bukankah Kami telah melapangkan dadamu?

Dada yang lapang. Hati yang lega. Tidak sesak. Tidak sempit. Tidak mudah tersinggung. Tidak cepat marah. Itulah salah satu kunci kesuksesan beliau ï·º dalam menyampaikan risalah.

Maka bagi kita — khususnya penuntut ilmu, ahli dakwah, dan siapa saja yang ingin menjalani hidup dengan tenang — kuncinya adalah: bersihkan hati. Bersihkan dengan iman, dengan tauhid, dengan dzikrullah. Jika hati bersih dan selalu ingat kepada Allah, maka semua akan terurai. Kesabaran akan datang. Kemaafan akan mudah. Bahkan doa untuk orang yang menyakiti pun akan mengalir.

Karena hati yang ingat kepada Sang Pencipta tidak akan terlalu terganggu oleh makhluk.

Hasil Akhir untuk Orang Bertakwa

Allah berfirman dalam surat Hud ayat 49, "Fashbir innal 'aaqibata lilmuttaqiin" — maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Bersabarlah. Karena hasil akhirnya untuk orang yang bertakwa. Bukan untuk yang paling keras suaranya, bukan untuk yang paling banyak hartanya, bukan untuk yang paling tinggi jabatannya. Melainkan untuk yang paling bertakwa.

Seberapa yakin kita dengan ayat ini? Keyakinan itu yang menentukan seberapa besar kesabaran kita di hadapan Allah.

Dipukul, dilukai, lalu berdoa, "Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu." Itulah level akhlak yang dicontohkan oleh para nabi 'alaihimussalam. Itulah ajaran yang dibawa oleh Rasulullah ï·º. Dan itulah yang diharapkan dari kita sebagai umatnya.

Semoga Allah membersihkan hati kita, memberikan kita ilmu yang bermanfaat, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang sabar, yang memaafkan, dan yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: 93. YA ALLAH, AMPUNILAH MEREKA | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar