RS 94. Tidak Ada Rasa Sakit yang Sia-sia

Hidup tidak pernah berjalan lurus sesuai rencana. Ada hari-hari di mana kelelahan menumpuk tanpa jeda, ada malam-malam yang dihabiskan dalam kekhawatiran tentang masa depan, ada momen-momen ketika kesedihan datang tiba-tiba tanpa permisi. Dan dalam semua itu, sering kali muncul pertanyaan yang mengganggu: apakah semua ini bermakna? Apakah penderitaan ini ada gunanya?

Al-Qur'an dan Sunnah Nabi ï·º menjawab pertanyaan itu dengan tegas dan penuh kasih. Bukan dengan janji bahwa hidup akan menjadi mudah, melainkan dengan kabar yang jauh lebih berharga: bahwa tidak ada satu pun rasa sakit, satu pun air mata, satu pun kegelisahan yang berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas kebaikan bagi seorang mukmin.

Hadits yang Memberi Harapan

Dari Abu Sa'id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma, Nabi ï·º bersabda:

"Tidaklah seorang muslim ditimpa rasa lelah, rasa sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, dan kegundahan — bahkan duri yang menusuknya — kecuali Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal-hal tersebut."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah salah satu kabar gembira terbesar yang pernah disampaikan Rasulullah ï·º kepada umatnya. Di balik setiap ujian yang terasa menghancurkan, tersimpan rahmat Allah yang bekerja diam-diam — menggugurkan dosa demi dosa, membersihkan catatan amal, mempersiapkan hamba untuk surga-Nya.

Turunkan Ekspektasi, Naikkan Kesiapan

Pelajaran pertama yang harus kita tanamkan adalah: kehidupan dunia ini tidak pernah dirancang untuk selalu menyenangkan. Para ulama menegaskan bahwa mustahil seorang manusia melewati hidupnya tanpa pernah bertemu sesuatu yang tidak ia sukai — orang yang menyebalkan, kabar yang menyakitkan, kondisi yang tidak sesuai harapan, bahkan duri kecil yang tanpa sengaja menusuk telapak kaki.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Ankabut ayat 2:

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan 'kami beriman', dan mereka tidak diuji?"

(QS. Al-Ankabut: 2)<

Banyak orang kecewa setelah berhijrah karena ekspektasinya terlalu tinggi — mengira bahwa setelah memilih jalan kebaikan, semuanya akan menjadi mudah dan menyenangkan. Seorang mahasiswa yang diterima di kampus impiannya terkejut dengan tugas yang menumpuk dan senioritas yang menekan. Seseorang yang akhirnya mendapat pekerjaan terkejut dengan atasan yang sulit dan rekan kerja yang tidak bersahabat. Pasangan yang baru menikah terkejut bahwa kehidupan bersama jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan saat masih menjomblo.

Yang perlu diluruskan bukan kondisi hidupnya — melainkan ekspektasinya. Allah dan Rasul-Nya ï·º tidak pernah menjanjikan hidup tanpa kesulitan. Yang dijanjikan adalah bahwa setiap kesulitan itu bermakna.

Tiga Rasa yang Berbeda, Satu Ganjaran yang Sama

Para ulama, di antaranya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala dan Al-Imam Ibnu Hajar rahimahullahu ta'ala, menjelaskan perbedaan antara tiga kondisi batin yang disebutkan dalam hadits ini.

Huzn atau hazan adalah kesedihan yang bersumber dari sesuatu yang telah terjadi di masa lalu. Anak yang meninggal tahun lalu, kesalahan fatal yang menghancurkan rumah tangga, ucapan kasar yang terucap dan tak bisa ditarik kembali — semua yang membuat hati menangis karena kenangan masa lampau, itulah hazan.

Hamm adalah kegelisahan dan kekhawatiran tentang sesuatu yang belum terjadi, tentang masa depan yang belum pasti. Seorang ibu yang anaknya akan dioperasi minggu depan dan belum ada biaya. Seorang suami yang kontraknya hampir habis dan belum ada kepastian perpanjangan. Seorang istri yang mendapat vonis dokter tentang penyakit suaminya dan mulai membayangkan hari-hari ke depan — itulah hamm.

Ghamm adalah ketidaknyamanan yang menyerang di saat sesuatu sedang terjadi. Telepon dari sekolah bahwa anak mengalami kecelakaan. Kabar mendadak yang memukul hati seketika itu juga — itulah ghamm.

Masa lalu, masa depan, masa kini — Allah meliputinya semua. Tidak ada satu pun rasa tidak nyaman yang lepas dari perhatian dan ganjaran-Nya.

Dua Keuntungan Sekaligus

Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ta'ala memberikan penjelasan yang sangat membekas. Beliau menyatakan bahwa ketika seseorang tertimpa musibah atau rasa sakit, lalu ia mengingat pahala yang dijanjikan Allah dan mengharapkannya dengan tulus — maka ia mendapatkan dua hal sekaligus: gugurnya dosa dan tambahan pahala.

Sedangkan jika seseorang tertimpa musibah namun terlupa atau lalai untuk mengharapkan pahala dari Allah, maka ia tetap mendapatkan pengguguran dosa — tetapi tidak mendapat tambahan pahala. Tetap untung, namun tidak maksimal.

Maka bayangkan: seorang ibu yang menangis sepanjang perjalanan menuju rumah sakit karena anaknya kecelakaan. Di tengah air matanya, ia mengucapkan dalam hatinya, "Ya Allah, semoga aku mendapat pahala dari ujian ini." Sepanjang perjalanan itu, dosa-dosanya berguguran dan pahala terus bertambah. Air matanya tidak sia-sia. Kesedihannya tidak terbuang percuma.

Inilah yang dimaksud bahwa tidak ada rasa sakit yang gratisan. Semuanya akan dibayar oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala — dengan cara yang paling indah dan paling kita butuhkan: gugurnya dosa yang membebankan, dan bertambahnya kebaikan yang mendekatkan kita kepada surga-Nya.

Al-Qur'an: Obat yang Tidak Pernah Habis

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan dengan serius. Rasa sakit, kesedihan, dan kegelisahan memang bisa hilang karena sebab-sebab duniawi — diterima kerja, sembuh dari sakit, masalah terselesaikan. Tapi hilangnya kesedihan karena sebab duniawi itu bersifat sementara. Begitu sebab itu lenyap, kesedihan akan kembali. Begitu kondisi berubah, guncangan pun datang lagi.

Berbeda dengan Al-Qur'an. Ketika Al-Qur'an yang menjadi obat, kesembuhan yang dihasilkannya bersifat mendasar — menyentuh akar, bukan hanya menghilangkan gejala. Rasulullah ï·º mengajarkan sebuah doa yang diriwayatkan Imam Ahmad, untuk orang yang sedang dilanda hamm dan hazan:

"Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu (laki-laki), dan anak dari hamba-Mu (perempuan)... jadikanlah Al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dalam dadaku, pengangkat kesedihanku, dan penghilang kekhawatiranku."

Doa ini tidak meminta agar masalahnya lenyap. Ia meminta agar Al-Qur'an hadir di dalam hati, sehingga hati itu kuat menghadapi apapun yang datang. Dan Rasulullah ï·º menjanjikan bahwa siapa yang membaca doa ini, Allah akan menghilangkan kekhawatirannya dan mengganti kesedihannya dengan kegembiraan.

Maka pertanyaan yang paling jujur untuk kita tanyakan kepada diri sendiri adalah: bagaimana hubungan kita dengan Al-Qur'an selama ini? Di saat-saat kesedihan datang, apakah Al-Qur'an yang pertama kita jangkau? Ataukah kita lebih dulu mencari hiburan, mencari pelarian, mencari orang yang bisa kita jadikan sandaran?

Selama Al-Qur'an belum menjadi tempat kembali yang pertama, maka hidup akan terus terasa seperti roller coaster — naik turun mengikuti kondisi dunia yang tidak pernah stabil. Tapi bersama Al-Qur'an, ada ketenangan yang tidak bergantung pada kondisi luar. Ada kekuatan yang tidak habis dimakan waktu.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan setiap rasa lelah yang kita tanggung, setiap kesedihan yang kita rasakan, dan setiap kegelisahan yang menghampiri kita sebagai penggugur dosa dan penambah kebaikan di sisi-Nya. Semoga Ia mempertemukan hati kita dengan Al-Qur'an dalam ikatan yang kuat dan mesra, sehingga dalam setiap guncangan kehidupan, hati kita tetap kokoh berdiri di atas cahaya-Nya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Sesi 94: Kesedihan adalah Penggugur Dosa — Riyadhus Shalihin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar