RS 100. Ketika Musibah Adalah Tanda Cinta

Ada kesalahpahaman yang sangat umum dan sangat berbahaya: bahwa lancarnya urusan dunia adalah tanda bahwa Allah mencintai kita, dan datangnya musibah adalah tanda bahwa Allah sedang marah. Kesalahpahaman ini membuat banyak orang salah membaca hidupnya sendiri — merasa dicintai Allah padahal sedang diulur, atau merasa ditinggal Allah padahal sedang dicintai.

Hadits ke-43 dalam Bab Sabar Riyadhus Shalihin karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala hadir untuk membongkar kesalahpahaman ini dari akarnya, dengan dua sabda Nabi ï·º yang saling melengkapi dan sangat mengubah cara kita memandang hidup.

Dua Sabda yang Membuka Mata

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ï·º bersabda:

"Apabila Allah menginginkan kebaikan untuk hambanya, Allah akan segera memberikan hukumannya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan untuk hambanya, Allah akan menahan hukumannya di dunia atas dosa-dosanya, sehingga Allah akan membalasnya dengan sempurna pada hari kiamat."

(HR. Tirmidzi — hadits hasan)

Lalu Rasulullah ï·º juga bersabda:

"Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, Allah akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah. Dan barang siapa yang murka (tidak ridha), maka baginya murka Allah."

(HR. Tirmidzi — hadits hasan)

Dua sabda ini membentuk sebuah gambaran yang sangat utuh tentang bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala bekerja dalam kehidupan seorang hamba-Nya.

Hukuman Dunia: Rahmat yang Menyamar

Poin pertama yang perlu kita pahami: Allah menyegerakan hukuman di dunia bagi orang yang Ia kehendaki kebaikannya. Artinya, musibah, kesulitan, dan rasa sakit yang kita alami di dunia bisa jadi adalah cara Allah membersihkan dosa-dosa kita sebelum kita menghadap-Nya.

Para ulama menjelaskan bahwa manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa — sebagaimana sabda Nabi ï·º: "Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan." Dosa-dosa itu membutuhkan pembersihan. Dan salah satu cara Allah membersihkannya adalah melalui musibah dan ujian di dunia. Bahkan para ulama menyebutkan bahwa sakratul maut yang dipersulit pun bisa menjadi penggugur dosa terakhir, sehingga seorang hamba bisa keluar dari dunia dalam keadaan bersih.

Rasulullah ï·º bersabda dalam hadits Tirmidzi: "Senantiasa bencana menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga dia bertemu Allah tanpa membawa dosa satu pun."

Bayangkan: seorang hamba yang menanggung ujian demi ujian sepanjang hidupnya, lalu menghadap Allah tanpa membawa beban dosa satu pun. Itulah rahmat yang tersembunyi di balik setiap musibah.

Istidraj: Kenikmatan yang Menipu

Sebaliknya, jika Allah menginginkan keburukan bagi seorang hamba, Ia akan menahan hukumannya di dunia dan membiarkan hamba itu terus bermaksiat sambil terus diberikan kenikmatan. Inilah yang disebut istidraj — diulur perlahan, mendekat ke tepi jurang tanpa sadar.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-An'am ayat 44:

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa."

(QS. Al-An'am: 44)

Dan dalam Surat Al-Mu'minun ayat 55-56, Allah menegaskan bahwa memberikan harta dan keturunan yang banyak bukan berarti Allah sedang berlomba memberikan kebaikan kepada mereka. Itu bisa jadi justru istidraj.

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu ta'ala menjelaskan: "Kami penuhkan mereka dengan nikmat dan fasilitas, dan kami buat mereka lupa bersyukur." Seseorang yang terus berbuat maksiat namun bisnis semakin lancar, karir semakin naik, fasilitas semakin bertambah — itu bukan tanda Allah sayang. Itu bisa jadi bom waktu yang sedang disiapkan.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu ta'ala berkata: "Betapa banyak orang yang tertipu karena Allah menutup aibnya dengan sangat rapi, sehingga ia merasa dirinya orang suci, padahal ia adalah pendosa yang Allah biarkan dalam kelalaiannya."

Maka parameter kebaikan seseorang bukan pada hartanya, jabatannya, atau popularitasnya. Parameter seseorang di sisi Allah ada pada imannya, ketakwaannya, kesabarannya saat diuji, dan syukurnya saat diberi nikmat.

Ujian adalah Tanda Cinta

Sabda kedua Nabi ï·º sangat mencerahkan: "Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, Allah akan menguji mereka." Ini bukan ungkapan simbolis. Ini adalah fakta tentang cara Allah mendidik hamba-Nya yang Ia cintai.

Mengapa ujian menjadi tanda cinta? Karena manusia tidak akan tumbuh, tidak akan menguat, tidak akan mencapai potensi terbaiknya jika hidupnya selalu berada di zona nyaman. Al-Imam Al-Mawardi rahimahullahu ta'ala berkata: "Kenyamanan tidak akan datang dari kenyamanan." Artinya, ketenangan dan kekuatan sejati hanya bisa diraih setelah melewati kesulitan dan ujian.

Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin kita kuat. Ia ingin kita bertumbuh dalam iman dan ketakwaan. Ia ingin dosa-dosa kita bersih sebelum kita menghadap-Nya. Dan semua itu tidak bisa terjadi tanpa ujian.

Maka ketika seseorang yang menjaga shalat, menuntut ilmu, mengamalkan sunnah, lalu masih juga tertimpa musibah — itu bukan tanda bahwa ibadahnya sia-sia. Itu tanda bahwa Allah sedang memperhatikannya dengan penuh cinta, sedang membersihkannya, sedang membesarkannya.

Dua Pilihan di Hadapan Ujian

Nabi ï·º menutup sabdanya dengan sebuah pernyataan yang sangat tegas: "Barang siapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah. Dan barang siapa yang murka (tidak ridha), maka baginya murka Allah."

Ini adalah dua pilihan, dan tidak ada yang ketiga. Ketika ujian datang, kita hanya punya dua opsi: ridha atau tidak ridha. Dan konsekuensinya berbeda bumi dan langit.

Orang yang ridha — yang menerima dengan lapang dada, yang yakin bahwa Allah Maha Bijaksana dan tidak pernah salah memilih ujian untuk hamba-Nya — ia akan mendapat keridhaan Allah. Hidupnya tenang, hatinya damai, bahkan di tengah badai sekalipun.

Sedangkan orang yang tidak ridha — yang marah kepada Allah, yang berontak, yang berburuk sangka kepada-Nya — ia justru akan menyiksa dirinya sendiri. Bukan Allah yang membuatnya hancur, melainkan sikapnya sendiri. Dan di atas itu semua, ia mendapat murka Allah.

Maka tidak ada pilihan yang lebih logis, tidak ada pilihan yang lebih menguntungkan, tidak ada pilihan yang lebih menyelamatkan, kecuali ridha. Ridha bukan berarti tidak merasakan sakit. Ridha adalah menerima dengan penuh keyakinan bahwa Allah yang mentakdirkan ini adalah Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Bijaksana — dan Ia tidak pernah salah dalam memilihkan yang terbaik untuk hamba-Nya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita hati yang ridha di setiap keadaan — ridha di saat lapang, ridha di saat sempit, ridha di saat sehat, ridha di saat sakit. Dan semoga Ia menjadikan setiap ujian yang kita lalui sebagai tanda cinta-Nya yang membersihkan, menguatkan, dan mendekatkan kita kepada surga-Nya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Sesi 100: Jika Allah Mencintaimu — Riyadhus Shalihin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar