Suatu hari, seseorang tiba-tiba berkata tentang Rasulullah ï·º — manusia paling mulia, paling bertakwa, paling dermawan yang pernah ada di muka bumi — "Pembagian ini tidak adil. Dan ini tidak mengharapkan wajah Allah." Tuduhan itu bukan dari musuh di luar. Bukan dari orang kafir Quraisy. Bukan dari pihak yang sedang berhadapan dalam medan perang. Ia datang dari orang yang berada di dalam — dari tengah-tengah shaf para sahabat.
Hadits ke-42 dalam Bab Sabar Riyadhus Shalihin karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala ini adalah salah satu hadits yang paling menyentuh — bukan karena membahas musibah yang menimpa dari luar, melainkan karena memperlihatkan bagaimana seorang Nabi ï·º yang akhlaknya diabadikan dalam Al-Qur'an pun tidak luput dari penilaian negatif, bahkan dari orang-orang yang berada di dekatnya.
Konteks: Pembagian Harta Setelah Perang Hunain
Peristiwa ini terjadi setelah Perang Hunain. Rasulullah ï·º mendapatkan harta rampasan yang sangat besar dan membagi-bagikannya. Beliau memberikan kepada sebagian tokoh Arab — termasuk Aqra' bin Habis dan Uyainah bin Hishn — masing-masing seratus unta. Tujuannya bukan pilih kasih, melainkan strategi dakwah yang sangat dalam: melembutkan hati para pemuka yang baru saja masuk Islam atau yang sedang diharapkan keislamannya.
Ini adalah konsep muallaf yang diabadikan dalam Surat At-Taubah ayat 60 — golongan yang berhak menerima zakat, salah satunya, untuk melembutkan hati mereka kepada Islam. Rasulullah ï·º pernah memberi seseorang kambing yang memenuhi dua lembah gunung, dan orang itu pulang kepada kaumnya seraya berkata: "Wahai kaumku, masuk Islamlah! Muhammad memberi seperti orang yang tidak takut miskin." Satu kaum pun masuk Islam.
Inilah metode Nabi ï·º yang sangat luar biasa: menggunakan dunia untuk membuka pintu menuju akhirat.
Ketika Nabi ï·º Dinilai Tidak Adil
Namun di tengah pembagian yang penuh hikmah itu, tiba-tiba ada yang berkata: "Pembagian ini tidak adil dan tidak mengharapkan wajah Allah."
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu menyampaikan ucapan itu kepada Rasulullah ï·º. Wajah beliau memerah. Lalu beliau bersabda:
"Siapa yang bisa adil jika Allah dan rasul-Nya tidak adil? Semoga Allah merahmati Nabi Musa 'alaihissalam. Beliau telah disakiti dengan hal yang lebih banyak dari ini, namun beliau bersabar."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dua hal yang sangat indah dari respons Rasulullah ï·º ini. Pertama, beliau tidak membela diri panjang lebar, tidak membuktikan keadilan beliau satu per satu, tidak marah berlebihan. Beliau hanya menegaskan dengan satu kalimat yang membalikkan logika: siapa yang bisa adil kalau Allah dan Rasul-Nya tidak adil? Artinya, jika seseorang mengklaim Rasulullah ï·º tidak adil, konsekuensinya ia sedang menuduh Allah tidak adil — dan itu adalah kebodohan yang telanjang. Kedua, beliau mengangkat Nabi Musa 'alaihissalam sebagai contoh — sosok yang disakiti jauh lebih berat, namun tetap bersabar.
Nabi Musa 'Alaihissalam: Disakiti dari Dalam
Penyebutan Nabi Musa 'alaihissalam bukan tanpa alasan. Beliau adalah nabi yang paling banyak menerima gangguan dari kaumnya sendiri — dari dalam, bukan dari luar.
Kita masih ingat kisah dalam Surat Al-Maidah ayat 21-24, ketika Nabi Musa 'alaihissalam memerintahkan kaumnya untuk memasuki Baitul Maqdis yang telah Allah jaminkan untuk mereka. Jawabannya:
"Wahai Musa, kami tidak akan masuk ke sana selama mereka masih ada di sana. Pergilah engkau bersama Tuhanmu, berperanglah kalian berdua. Kami akan duduk menunggu di sini."
Nabi mereka sendiri! Memerintahkan sesuatu yang sudah dijamin kemenangan oleh Allah, dijawab dengan penolakan yang terang-terangan, bahkan dengan kalimat yang sangat tidak beradab. Dan Nabi Musa 'alaihissalam bersabar — bersabar dengan gangguan dari dalam, dari kaumnya sendiri.
Rasulullah ï·º mengisyaratkan dengan elegan: apa yang terjadi pada-ku ini belum apa-apanya dibanding apa yang dialami Nabi Musa. Beliau tidak mengagungkan diri sendiri, tidak membandingkan secara eksplisit — hanya memberikan perspektif yang luas dan mendalam.
Gangguan dari Dalam: Sunatullah yang Perlu Dipahami
Salah satu pelajaran terpenting dari hadits ini adalah bahwa gangguan dan komentar negatif itu tidak selalu datang dari luar. Seringkali — bahkan lebih menyakitkan — ia datang dari dalam. Dari lingkaran terdekat.
Ini adalah sunatullah. Nabi ï·º sendiri mengalaminya. Nabi Musa 'alaihissalam mengalaminya. Orang-orang munafik berada di tengah-tengah para sahabat — bahkan di samping Rasulullah ï·º sendiri. Maka jangan heran, dan jangan berharap bahwa komunitas kita, lingkaran kita, majelis kita, akan selalu steril dari oknum yang berbicara tidak baik.
Ini bukan berarti kita tidak perlu memperbaiki diri atau tidak perlu berbenah. Justru sebaliknya: mengetahui bahwa ini adalah sunatullah membuat kita tidak hancur ketika hal itu terjadi, tidak berhenti berjuang, tidak memilih mundur hanya karena ada suara negatif dari dalam.
Menjaga Marwah Ahli Ilmu
Ada satu poin yang disampaikan dengan sangat serius: menghancurkan karakter seorang ahli ilmu atau ulama dosanya jauh lebih besar dari menggibahi orang biasa. Karena menggibahi orang biasa berarti kita merusak dirinya secara personal. Namun menggibahi seorang ulama atau ahli ilmu berarti kita sedang merusak kepercayaan umat kepada ilmu yang ia bawa — kepada Al-Qur'an dan Sunnah yang ia sampaikan.
Ketika karakter seorang ulama hancur di mata masyarakat, maka ucapan-ucapannya tidak akan didengar lagi. Kajian-kajiannya akan ditinggalkan. Dan yang terjadi adalah kekosongan figur — siapa yang akan membimbing umat kepada jalan Allah? Di situlah setan-setan dan orang-orang sesat masuk mengisi kekosongan tersebut.
Para ulama klasik mengatakan: "Daging ulama itu beracun." Maksudnya, menggibahi ulama ibarat makan bangkai yang beracun — bukan hanya merusak diri sendiri, melainkan merusak sesuatu yang jauh lebih besar dari diri sendiri.
Ridha Manusia: Cita-cita yang Mustahil
Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullahu ta'ala berkata: "Ridha manusia adalah cita-cita yang tidak mungkin terwujud."
Tidak ada seorang pun — bahkan Rasulullah ï·º sekalipun — yang bisa membuat semua orang puas. Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu 'anhu pun dicaci-maki. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pun dimaki. Husain bin Ali radhiyallahu 'anhu bahkan dibunuh. Dan sampai hari ini, ada orang yang mencela Rasulullah ï·º tanpa pernah membaca satu baris pun tentang kehidupan beliau.
Maka mengejar ridha manusia adalah mengejar yang mustahil. Namun anehnya, banyak dari kita justru menghabiskan energi untuk hal yang mustahil ini, sementara yang nyata dan bisa diraih — ridha Allah — justru sering diabaikan.
Solusi yang diajarkan oleh ulama kita sangat sederhana namun sangat kuat: fal-yazum maa yushlihu ka — wajib atas dirimu untuk memilih dan melangkah kepada apa yang memperbaiki iman dan ketaqwaanmu. Pegang erat-erat, jangan dilepas, jangan menjauh dari jalan itu. Bertawakallah kepada Allah. Dan biarkan komentar orang menjadi urusan mereka dengan Allah.
Karena tidak ada jalan menuju ridha seluruh manusia. Satu-satunya jalan yang pasti, yang nyata, yang bisa kita kejar hingga nafas terakhir, adalah ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita kesabaran Rasulullah ï·º dan Nabi Musa 'alaihissalam dalam menghadapi komentar dan penilaian manusia. Semoga Ia menjadikan hati kita kokoh di atas ketaatan kepada-Nya, tidak goyah oleh suara-suara yang datang dari dalam maupun dari luar. Dan semoga Ia menjadikan ridha-Nya satu-satunya tujuan yang kita kejar dalam setiap langkah kehidupan ini.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Sesi 99: Sabar Ketika Dinilai Orang Lain — Riyadhus Shalihin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar