RS 102. Bukan Punya Kita: Kunci Ketenangan di Tengah Kehilangan

Ketika Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu pulang dari aktivitasnya, ia tidak tahu bahwa anaknya telah wafat. Ia disambut oleh istrinya seperti biasa. Makan malam dihidangkan. Kebutuhan lahir dan batin dipenuhi. Dan baru setelah semua itu selesai, setelah suaminya benar-benar tenang dan siap, Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha membuka percakapan — bukan dengan tangisan, melainkan dengan sebuah pertanyaan sederhana tentang pinjaman.

Kisah ini adalah lanjutan dari sesi sebelumnya, masih dalam Bab Sabar Riyadhus Shalihin karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala, dan hari ini kita sampai pada inti paling dalam dari keseluruhan kisah yang luar biasa ini: bagaimana cara terbaik menenangkan seseorang yang sedang tertimpa musibah.

Cara Ummu Sulaim Menyampaikan Kabar Duka

Setelah suaminya kenyang dan kebutuhan batinnya terpenuhi, Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha berkata:

"Wahai Abu Thalhah, boleh aku bertanya? Bagaimana menurutmu jika ada kaum yang meminjamkan sesuatu kepada sebuah keluarga, lalu mereka mengambil kembali pinjaman itu — bolehkah keluarga itu menolak?"

Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu menjawab tanpa curiga: "Tidak boleh. Itu bukan milik mereka."

Maka Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha berkata:

"Maka bersabarlah dan harapkan pahala dari Allah. Sesungguhnya anakmu telah meninggal dunia."

Inilah masterclass dalam komunikasi yang sesungguhnya. Sebelum menyampaikan berita pahit, Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha terlebih dahulu membangun kerangka pikir yang benar di benak suaminya. Ia membuat suaminya sendiri yang menyimpulkan bahwa menolak titipan yang diambil kembali oleh pemiliknya adalah sesuatu yang tidak boleh. Setelah kerangka itu tertanam, barulah ia menyampaikan bahwa anak mereka bukan milik mereka — ia adalah titipan Allah yang hari ini diambil kembali oleh pemilik-Nya.

Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu pun tidak bisa menolak logika yang telah ia sendiri setujui.

Akar dari Ketenangan: Rasa Tidak Memiliki

Pertanyaan terbesar adalah: bagaimana Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha bisa bersikap setenang dan secerdas itu, padahal hatinya pasti hancur sebagai seorang ibu?

Jawabannya ada pada konsep yang sangat mendasar dalam tauhid: ia tidak merasa memiliki. Anak itu bukan miliknya. Ia hanya dititipkan untuk sementara waktu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 26:

"Katakanlah: 'Wahai Allah, Pemilik segala kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki...'"

(QS. Ali Imran: 26)

Segala sesuatu yang kita miliki — anak, harta, kesehatan, pasangan — sesungguhnya adalah pinjaman dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang bisa diambil kembali kapan saja. Ketika seseorang benar-benar menghayati konsep ini, kehilangan tidak lagi terasa seperti perampasan. Ia terasa seperti pengembalian sesuatu yang memang bukan milik kita.

Coba perhatikan ilustrasi sederhana berikut: ketika seseorang kehilangan sandal jepit di masjid, ia marah dan sedih karena ia merasa itu miliknya. Tapi ketika seseorang lain kehilangan kendaraan yang jauh lebih mahal dan ia justru tenang, bisa jadi karena di dalam hatinya ia sudah tidak merasakan kepemilikan itu. Yang pertama lebih menderita bukan karena kehilangan lebih besar, tapi karena rasa kepemilikannya lebih kuat.

Cara Terbaik Menenangkan Orang yang Tertimpa Musibah

Pelajaran lain yang sangat berharga dari kisah ini adalah tentang cara menenangkan pasangan atau orang-orang terdekat kita yang sedang dalam kesedihan.

Banyak dari kita mencoba menenangkan orang yang berduka dengan cara-cara yang berpusat pada makhluk: "Sudah, nanti kita beli yang baru... Sudah, kita pergi jalan-jalan... Sudah, kamu mau apa?" Cara seperti ini mungkin memberikan ketenangan sesaat, tapi tidak menyelesaikan akarnya. Begitu hiburan dunia itu habis, kesedihan kembali.

Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha tidak menenangkan suaminya dengan cara itu. Ia menenangkan suaminya dengan tauhid — dengan menghadirkan keyakinan tentang siapa Allah, tentang kepemilikan yang hakiki, tentang bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 155-157:

"...dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: 'Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.' Mereka itulah yang mendapat shalawat dan rahmat dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk."

(QS. Al-Baqarah: 155-157)

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un — sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali. Inilah kalimat yang mengandung seluruh konsep ketenangan. Kita ini milik Allah. Segala sesuatu yang ada pada kita milik Allah. Dan kepada-Nyalah semua akan kembali.

Ketika seseorang benar-benar menghayati kalimat ini — bukan sekadar mengucapkannya — maka tuma'ninah itu hadir. Ketenangan yang tidak bergantung pada kondisi luar, yang tidak bisa diruntuhkan oleh musibah apapun.

Sabar dan Mengharapkan Pahala

Satu lagi prinsip yang diajarkan Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha dalam cara ia berbicara kepada suaminya: "Bersabarlah dan harapkan pahala dari Allah." Dua hal ini tidak bisa dipisahkan.

Sabar tanpa mengharapkan pahala akan terasa seperti menahan beban yang semakin lama semakin berat, tanpa ada harapan yang menguatkan. Tapi ketika sabar itu disertai dengan keyakinan bahwa setiap detik yang kita lalui dalam kesabaran itu ada pahala yang mengalir, ada dosa yang gugur, ada derajat yang diangkat — maka beban itu menjadi lebih ringan.

Banyak orang yang jatuh — bahkan ada yang sampai putus asa dan tidak mau hidup lagi — bukan karena ujiannya terlalu berat, melainkan karena mereka tidak punya harapan. Islam memberikan harapan itu dengan sangat nyata dan terukur: setiap kesabaran diganjar oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Hud ayat 115.

Keberkahan yang Menggantikan Kehilangan

Ketika Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu menceritakan apa yang dilakukan istrinya kepada Rasulullah ï·º, beliau bersabda:

"Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua."

(HR. Bukhari)

Dan doa Rasulullah ï·º itu terwujud. Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha hamil dari malam itu, melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdullah. Dan Ibnu Uyainah rahimahullah menyebutkan bahwa ia melihat sembilan cucu dari Abdullah ini — dan semuanya adalah pembaca Al-Qur'an.

Seorang anak yang wafat, digantikan oleh seorang anak yang melahirkan sembilan pembaca Al-Qur'an. Inilah gambaran nyata dari janji Allah: kesabaran tidak pernah sia-sia. Apa yang dilepaskan dengan ikhlas kepada Allah akan digantikan dengan sesuatu yang jauh lebih baik — mungkin tidak dalam bentuk yang sama, mungkin tidak dalam waktu yang kita inginkan, tapi pasti dalam cara yang Allah anggap paling baik untuk kita.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita tauhid yang meresap hingga ke dasar hati — yang menjadikan kita tidak terlalu berat memegang apa yang ada, dan tidak terlalu hancur ketika Allah mengambil kembali apa yang pernah Ia titipkan kepada kita. Dan semoga Ia menjadikan setiap kesabaran kita sebagai jalan menuju keberkahan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Sesi 102: Tips Menenangkan Pasangan Kita — Riyadhus Shalihin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar